Pada 1557, sebuah jenis pandemi influenza muncul di Asia, kemudian menyebar ke Afrika, Eropa, dan kemudian Amerika. Flu tersebut sangat meular dan diperhatikan secara mendalam, terkadang dengan gejala-gejala mematikan. Para sejarawan medis seperti Thomas Short, Lazare Rivière dan Charles Creighton mengumpulkan deskripsi-deskripsi demam kataral yang dianggap sebagai influenza oleh para dokter modern yang menyerang populasi dengan intensitas terbesar antara 1557 dan 1559. Mungkin untuk pertama kalinya, flu tahun 1557 membuat memerintah mengundang para dokter untuk menghimpun organisasi birokratik sebagai tanggapan terhadap epidemi. Peristiwa tersebut juga merupakan pandemi pertama di mana secara patologi berhubungan dengan keguguran dan tercatat secara jelas karena tersebar secara global. Influenza menyebabkan tingkat penguruan yang lebih tinggi, infeksi yang nyaris universal, dan dampak ekonomi ketika pandemi tersebut kembali dalam gelombang-gelombang berulang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Penyakit | Influenza |
|---|---|
| Galur virus | tidak diketahui |
| Lokasi | Asia, Afrika, dan Eropa |
| Tanggal | 1557–1559 |
Kematian | tidak diketahui |
Pada 1557, sebuah jenis pandemi influenza muncul di Asia, kemudian menyebar ke Afrika, Eropa, dan kemudian Amerika. Flu tersebut sangat meular dan diperhatikan secara mendalam, terkadang dengan gejala-gejala mematikan. Para sejarawan medis seperti Thomas Short, Lazare Rivière dan Charles Creighton mengumpulkan deskripsi-deskripsi demam kataral yang dianggap sebagai influenza oleh para dokter modern[1][2][3][4][5] yang menyerang populasi dengan intensitas terbesar antara 1557 dan 1559.[6][7] Mungkin untuk pertama kalinya, flu tahun 1557 membuat memerintah mengundang para dokter untuk menghimpun organisasi birokratik sebagai tanggapan terhadap epidemi.[4] Peristiwa tersebut juga merupakan pandemi pertama di mana secara patologi berhubungan dengan keguguran[8] dan tercatat secara jelas karena tersebar secara global. Influenza menyebabkan tingkat penguruan yang lebih tinggi, infeksi yang nyaris universal, dan dampak ekonomi ketika pandemi tersebut kembali dalam gelombang-gelombang berulang.