Pandemi flu 1918–1920, yang juga dikenal sebagai epidemi Influenza Besar atau dengan sebutan keliru yang umum, flu Spanyol, adalah pandemi influenza global yang sangat mematikan yang disebabkan oleh subtipe H1N1 dari virus influenza A. Kasus pertama yang tercatat terjadi pada Maret 1918 di County Haskell, Kansas, Amerika Serikat, dengan kasus-kasus lain tercatat di Prancis, Jerman, dan Britania Raya pada April. Dua tahun kemudian, hampir sepertiga populasi global, atau sekitar 500 juta orang, telah terinfeksi. Perkiraan jumlah korban tewas berkisar antara 17 juta hingga 50 juta, dan mungkin mencapai 100 juta, menjadikannya pandemi paling mematikan dalam sejarah.
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
25–50 juta (umumnya diterima), perkiraan lain berkisar antara 17 hingga 100 juta[2][3][4]
‡Kasus yang dicurigai belum dikonfirmasi karena galur ini sedang diteliti di laboratorium. Beberapa galur lain mungkin telah dicegah.
Pandemi flu 1918–1920, yang juga dikenal sebagai epidemi Influenza Besar atau dengan sebutan keliru yang umum, flu Spanyol, adalah pandemi influenza global yang sangat mematikan yang disebabkan oleh subtipe H1N1 dari virus influenza A. Kasus pertama yang tercatat terjadi pada Maret 1918 di County Haskell, Kansas, Amerika Serikat, dengan kasus-kasus lain tercatat di Prancis, Jerman, dan Britania Raya pada April. Dua tahun kemudian, hampir sepertiga populasi global, atau sekitar 500 juta orang, telah terinfeksi. Perkiraan jumlah korban tewas berkisar antara 17 juta hingga 50 juta,[5][6] dan mungkin mencapai 100 juta,[7] menjadikannya pandemi paling mematikan dalam sejarah.
Pandemi ini merebak menjelang akhir Perang Dunia I, ketika sensor masa perang di negara-negara yang terlibat konflik menekan pemberitaan buruk demi menjaga moral masyarakat. Sebaliknya, surat kabar di Spanyol yang bersifat netral melaporkan wabah tersebut secara bebas, sehingga menimbulkan kesan keliru bahwa Spanyol merupakan pusat awal pandemi dan melahirkan sebutan "flu Spanyol". Keterbatasan data epidemiologis historis membuat asal geografis pandemi ini tidak dapat dipastikan, dengan berbagai hipotesis yang saling bersaing mengenai pola penyebaran awalnya.[1]
Sebagian besar wabah influenza biasanya menyebabkan kematian yang lebih tinggi pada kelompok usia muda dan lanjut usia, tetapi pandemi ini menunjukkan tingkat kematian yang tidak biasa pada orang dewasa muda.[8] Para ilmuwan menawarkan beberapa penjelasan terkait tingginya angka kematian tersebut, termasuk anomali iklim selama enam tahun yang memengaruhi migrasi vektor penyakit sehingga meningkatkan kemungkinan penularan melalui perairan.[9] Namun, klaim mengenai tingginya kematian pada orang dewasa muda masih diperdebatkan.[10] Kekurangan gizi, kepadatan kamp dan rumah sakit militer, serta buruknya kondisi kebersihan yang diperparah oleh perang, mendorong terjadinya superinfeksi bakteri, yang menyebabkan sebagian besar korban meninggal setelah menjalani masa sakit yang umumnya berkepanjangan.[11][12]
Etimologi
Meskipun asal geografinya tidak diketahui, penyakit ini disebut flu Spanyol sejak gelombang pertama pandemi.[13][14][15] Spanyol tidak terlibat dalam Perang Dunia I dan tetap netral. Pada saat yang sama, penyensoran pada masa perang juga tidak diberlakukan di sana.[16][17] Oleh karena itu, surat kabar bebas melaporkan dampak epidemi, seperti penyakit parah Raja Alfonso XIII dari Spanyol dan cerita yang tersebar luas ini seolah mengesankan bahwasanya Spanyol sangat terdampak oleh pandemi ini.[18]
Nama lain juga digunakan semasa pandemi. Mirip dengan nama flu Spanyol, banyak di antaranya juga menyinggung asal mula penyakit tersebut. Di Senegal, penyakit ini dinamakan 'flu Brasil' dan di Brasil, penyakit ini dinamakan 'flu Jerman', manakala di Polandia, penyakit ini dikenal dengan 'penyakit Bolshevik'.[19] Di Spanyol sendiri, "Tentara Napoli" digunakan untuk menjuluki flu ini, setelah salah satu penulis libreto menyindir bahwa nomor musik paling populer dari sandiwara itu, Tentara Napoli, sama menariknya dengan flu tersebut; Tentara Napoli sendiri berpunca dari operet tahun 1916 berjudul The Song of Forgetting (La canción del olvido).[20] Kini, 'flu Spanyol' (Gripe Española) adalah nama yang paling banyak digunakan bagi pandemi ini di Spanyol.[21]
Istilah lain bagi virus ini di antaranya "pandemi influenza 1918", "pandemi flu 1918", atau variasi dari kedua istilah itu.[22][23][24]
Sejarah
Gelombang pertama: awal 1918
Pandemi ini pertama kali dimulai pada 4 Maret 1918 lewat kasus bernama Albert Gitchell, seorang juru masak tentara di Camp Funston, Kansas, United States, meskipun terdapat kemungkinan adanya kasus sebelum dirinya.[25] Penyakit ini telah diamati di Haskell pada Januari 1918 dan mendorong dokter setempat Loring Miner untuk memperingati jurnal akademik Dinas Kesehatan Masyarakat Amerika Serikat.[26] Dalam beberapa hari, 522 pria di kamp dilaporkan sakit.[27] Pada 11 Maret 1918, virus telah mencapai Queens, New York.[28] Kegagalan mengambil tindakan pencegahan pada bulan Maret atau April kemudian mendapat kritik.[29]
Karena Amerika Serikat bergabung dalam Perang Dunia I, penyakit ini menyebar dengan sangat cepat dari Kamp Funston, tempat pelatihan utama bagi Pasukan Ekspedisi Amerika, ke kamp-kamp Angkatan Darat Amerika Serikat lainnya dan Eropa, sehingga menjadi epidemi di kawasan Barat Tengah, Pantai Timur, dan pelabuhan di Prancis pada April 1918, serta mencapai Perang Dunia pada pertengahan April.[25] Penyakit ini kemudian menyebar dengan sangat cepat ke wilayah Prancis lainnya, Britania Raya, Italia, dan Spanyol, serta mencapai Breslau dan Odessa pada bulan Mei. Setelah menandatangani Perjanjian Brest-Litovsk (Maret 1918), Jerman mulai membebaskan tawanan perang Rusia, yang kemudian membawa penyakit itu ke tanah airnya.[30] Penyakit ini mencapai Afrika Utara, India, dan Jepang pada bulan Mei, serta setelah itu kemungkinan besar menyebar ke seluruh dunia seperti kasus yang dilaporkan di Asia Tenggara pada bulan April.[31] Pada bulan Juni, wabah dilaporkan di Tiongkok.[32] Setelah mencapai Australia pada bulan Juli, gelombang pertama mulai melandai.
Gelombang pertama flu berlangsung dari triwulan pertama 1918 dan cenderung ringan.[33] Tingkat kematian tidak terlalu jauh di atas biasanya;[34] sekira 75 ribu kematian yang berkaitan dengan flu dilaporkan pada enam bulan pertama tahun 1918 di Amerika Serikat, dibandingkan dengan sekira 63 ribu kematian selama tempo waktu yang sama pada 1915.[35] Kurang dari seribu orang meninggal karena influenza antara Mei dan Juni 1918 di Madrid, Spanyol.[36] Tiada karantina yang dilaporkan selama triwulan pertama 1918. Namun, gelombang pertama menyebabkan gangguan yang signifikan dalam operasi militer Perang Dunia I, dengan tiga perempat tentara Prancis, setengan pasukan Inggris, dan lebih dari 900,000 tentara Jerman menderita penyakit ini.[37]
Gelombang kedua: akhir 1918
Polisi Seattle mengenakan masker pada Desember 1918
Gelombang kedua bermula pada pertengahan akhir Agustus, mungkin menyebar ke Boston dan Freetown, Sierra Leone, dengan kapal dari Brest, tempat gelombang itu kemungkinan besar tiba dengan pasukan Amerika Serikat atau rekrutan Prancis bagi pelatihan angkatan laut.[37] Dari Boston Navy Yard dan Camp Devens (kemudian berganti nama menjadi Fort Devens), sekitar 30 mil barat Boston, situs militer Amerika Serikat lainnya segera terdampak, begitu pula pasukan yang diangkut ke Eropa.[38] Pergerakan pasukan membuat penyakit ini menyebar selama dua bulan ke depan ke seluruh Amerika Utara, dan kemudian ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan, juga mencapai Brasil dan Karibia lewat kapal..[39] Pada Juli 1918, penyakit ini menjangkiti beberapa tentara Kekaisaran Utsmaniyah.[40] Dari Freetown, pandemi terus menyebar melalui Afrika Barat di sepanjang pantai, sungai, dan rel kereta api kolonia, serta dari rel kereta api ke masyarakat yang lebih terpencil, sementara penyakit tersebut menyebar ke Afrika Selatan pada bulan September lewat kapal yang membawa kembali anggota Korps Buruh Pribumi Afrika Selatan yang kembali dari Prancis.[39] Dari situ, penyakit ini menyebar ke seluruh bagian selatan Aftika dan di luar Zambezi. Penyakit ini mencapai Etiopia pada bulan November.[41] On September 15, New York City saw its first fatality from influenza.[42] Pada 15 November, kematian pertama akibat influenza dilaporkan di Kota New York.[43] Philadelphia Liberty Loans Parade yang diselenggarakan pada 28 September 1918 untuk memperomosikan obligasi pemerintah bagi Perang Dunia I mengakibatkan 12 ribu kasus kematian setelah wabah penyakit besar menyebar di antara orang-orang yang menghampiri parade.[44]
Gelombang kedua pandemi 1918 lebih mematikan daripada gelombang pertama. Gelombang pertama menyerupai wabah flu biasa ketika yang paling berisiko adalah pesakit dan orang lanjut usia, manakala orang yang lebih muda dan sehat dapat pulih dengan mudah. Oktober 1918 adalah bulan dengan tingkat kematian tertinggi dari seluruh pandemi.[47] Di Amerika Serikat, sekira 292 ribu kasus kematian dilaporkan antara September –December 1918, dibandingkan dengan sekira 26 ribu kasus kematian selama tempo waktu yang sama pada tahun 1915.[35] Belanda melaporkan lebih dari 40 ribu kasus kematian karena influenza dan penyakit pernapasan akut.[48]Pandemi Flu 1918 di India adalah yang paling mematikan, dengan estimasi 12,5-20 juta kematian dilaporkan pada kuartal akhir 1918.[33]
↑"The Memoirs of Herbert Hoover: Years of Adventure, 1874–1920. (New York: Macmillan Company. 1951. pp. xi, 496.) and Herbert Hoover and the Russian Prisoners of World War I: A Study in Diplomacy and Relief, 1918–1919. By Edward F. Willis. (Stanford: Stanford University Press. 1951. pp. viii, 67.)". The American Historical Review: 12. 2011. doi:10.1086/ahr/57.3.709. ISSN1937-5239.
↑Spinney, Laura (2018). Pale rider: the Spanish flu of 1918 and how it changed the world. Vintage. hlm.37. ISBN978-1-78470-240-3. OCLC1090305029.
↑Spinney, Laura. (2018). Pale rider: the Spanish flu of 1918 and how it changed the world. Vintage. hlm.40. ISBN978-1-78470-240-3. OCLC1090305029.
↑Barry, John M. (2005). The Great Influenza. United States: Penguin Books. hlm.270. ISBN0670894737. On September 15, New York City's first influenza death occurred.
↑Barry, John M. (2005). The Great Influenza. United States: Penguin Books. hlm.270. ISBN0670894737. On September 15, New York City's first influenza death occurred.
Oxford JS, Sefton A, Jackson R, Innes W, Daniels RS, Johnson NP (2002). "World War I may have allowed the emergence of "Spanish" influenza". The Lancet infectious diseases. 2 (2): 111–4. PMID11901642. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
Oxford JS, Sefton A, Jackson R, Johnson NP, Daniels RS (1999). "Who's that lady?". Nat. Med. 5 (12): 1351–2. doi:10.1038/70913. PMID10581070. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
Phillips, Howard (2003). The Spanish Flu Pandemic of 1918: New Perspectives. London and New York: Routledge.
Rice, Geoffrey W. (1993). "Pandemic Influenza in Japan, 1918-1919: Mortality Patterns and Official Responses". Journal of Japanese Studies. 19 (2): 389–420. ISSN0095-6848.
Rice, Geoffrey W. (2005). Black November: the 1918 Influenza Pandemic in New Zealand. Canterbury University Press. ISBN1-877257-35-4.Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)