Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Umat Beriman Lama

Umat Beriman Lama atau Umat Ritus Lama adalah sebutan umum bagi beberapa kelompok umat beragama yang mempertahankan amalan-amalan liturgis dan ritual lama Gereja Ortodoks Rusia, yakni amalan-amalan sebelum pembenahan yang diupayakan Batrik Nikon dari tahun 1653 hingga 1657. Ritus lama maupun para pengikut ritus lama dianatema Gereja Ortodoks Rusia pada tahun 1667, dan Umat Beriman Lama berangsur-angsur tumbuh dari skisma akibat anatema ini.

Orang-orang Kristen Ortodoks Timur yang menentang usaha pembenahan yang diprakarsai oleh Batrik Nikon antara tahun1652 hingga 1666, gerakan keagamaan di Kekaisaran Rusia
Diperbarui 20 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Umat Beriman Lama
Umat Beriman Lama
староверы, старообрядцыcode: ru is deprecated
Dua anggota komunitas Umat Beriman Lama di Nikolaevsk, Alaska, berpakaian adat Rusia
JenisOrtodoks Rusia
Popovtsi
  • Gereja Ritus Lama Ortodoks Rusia
  • Gereja Ortodoks Lama Rusia
  • Gereja Ritus Lama Ortodoks Lipovani
  • Gereja Ortodoks Lama Ukraina
  • Yedinoveriye
Bespopovtsi
  • Gereja Ortodoks Lama Pomoria
  • Gereja Ortodoks Lama Pomoria (Feodosievtsi)
WilayahBekas Uni Sovyet, perantauan di dunia Barat
BahasaRusia, Slavia Gereja
LiturgiRitus Bizantin ragam Rusia tradisional
PendiriPara pembangkang antipembenahan
DidirikanPada awal dasawarsa 1700-an
di Kekaisaran Rusia
Terpisah dariGereja Ortodoks Rusia
Nama lainUmat Ritus Lama, Umat Ortodoks Lama

Umat Beriman Lama atau Umat Ritus Lama (bahasa Rusia: староверы, staroveri atau старообрядцы, staroobriadtsi) adalah sebutan umum bagi beberapa kelompok umat beragama yang mempertahankan amalan-amalan liturgis dan ritual lama Gereja Ortodoks Rusia, yakni amalan-amalan sebelum pembenahan yang diupayakan Batrik Nikon dari tahun 1653 hingga 1657. Ritus lama maupun para pengikut ritus lama dianatema Gereja Ortodoks Rusia pada tahun 1667, dan Umat Beriman Lama berangsur-angsur tumbuh dari skisma akibat anatema ini.

Para pendahulu gerakan ini menganggap pembenahan Batrik Nikon sebagai tanda-tanda kiamat, serta menganggap Gereja dan negara Rusia sebagai hamba-hamba Antikristus. Untuk menghidari aniaya pemerintah, mereka pindah ke daerah terpencil atau berhijrah ke negeri tetangga. Ciri khas komunitas-komunitas mereka adalah tata susila dan ketaatan beragama yang ketat, termasuk mematuhi bermacam-macam pantangan yang dibuat dengan maksud untuk memisahkan mereka dari dunia luar. Mereka menolak usaha-usaha pembaratan Tsar Pyotr Agung, dan memelihara adat-istiadat Rusia, misalnya memelihara janggut bagi kaum pria.

Ketiadaan organisasi yang terpusat membuat Umat Beriman Lama terbelah menjadi kaum popovtsi atau kaum "berpadri" yang relatif konservatif, dan kaum bespopovtsi atau kaum "tak berpadri" yang lebih radikal. Kaum popovtsi bersedia menampung padri-padri pelarian dari Gereja negara, sehingga dapat melanggengkan ibadat dan sakramen-sakramen, sementara kaum bespopovtsi mendustakan keabsahan imamat padri-padri yang ditahbiskan oleh Batrik Nikon, sehingga tidak menerima mereka maupun sakramen-sakramen dari tangan mereka, dan malah mengangkat pemimpin yang bukan rohaniwan. Aneka polemik melahirkan banyak pecahan yang disebut "kerukunan". Umat Beriman Lama merupakan suatu rumpun besar yang merangkum aneka ragam kelompok, mulai dari organisasi "berpadri" Gereja Ritus Lama Ortodoks Rusia yang hierarkis dan mapan sampai dengan paguyuban-paguyuban pelarian "tak berpadri" yang anarkis.

Mulai dari pertengahan abad ke-18, pada masa pemerintahan Tsarina Yekaterina Agung, Umat Beriman Lama mendapatkan toleransi yang nyaris mutlak, dan muncul pusat-pusat perkotaan Umat Beriman Lama yang melahirkan pelopor-pelopor di bidang ekonomi dan kemasyarakatan di Rusia. Mulai tahun 1825, pada masa pemerintahan Tsar Nikolai I, Umat Beriman lama kembali dianiaya dan didiskriminasi. Kebebasan beragama dan kesetaraan hak yang mutlak baru mereka dapatkan sesudah Revolusi Rusia tahun 1905, diikuti suatu abad keemasan yang berlangsung singkat. Pada permulaan abad ke-20, para demograf memperkirakan bahwa jumlah Umat Beriman Lama bertengger di kisaran 10 juta sampai 20 juta jiwa. Aniaya rezim Stalin menghancurkan komunitas-komunitas Umat Beriman Lama, menyisakan segelintir komunitas yang masih memegang teguh adat-istiadat mereka, dan menimbulkan gelombang pengungsi yang mendirikan pusat-pusat baru di Barat. Umat Beriman Lama kembali bangkit di negara-negara pasca-Sovyet, dan pada permulaan abad ke-21, ada lebih dari 1 juta jiwa Umat Beriman Lama yang kebanyakan menetap di Rusia, Latvia, Lituania, Rumania, Ukraina, Belarusia, Estonia, dan Amerika Serikat.

Keyakinan dan amalan

Ritus Lama

Ritus lama (kiri) ditandingkan dengan ritus baru (kanan), ilustrasi dari abad ke-19. Perhatikan cara merapatkan jari-jari saat membuat tanda salib, bentuk salib, dan jumlah prosfora.

Meskipun sangat berlainan satu sama lain, semua kelompok Umat Beriman Lama menolak pembenahan liturgi dan ritus Gereja Ortodoks Rusia yang diupayakan Batrik Nikon dari tahun 1653 sampai 1657, dan memelihara dengan saksama upacara dan adat-istiadat Rusia prapembenahan.[1] Batrik Nikon mencangkan pembenahan tersebut dengan maksud untuk menghilangkan semua ketidaksamaan adat kebiasaan Gereja Rusia dari adat kebiasaan Gereja Yunani. Apabila cara lokal dalam melakukan sesuatu didapati melenceng dari cara yang dipakai Gereja Yunani, maka cara lokal itu akan dibetulkan supaya sejalan dengan cara Gereja Yunani. Lantaran pembenahan Batrik Nikon tidak menyentuh ranah teologi, tidak ada perbedaan nyata di antara Umat Beriman Lama dan Gereja Ortodoks yang resmi. Meskipun demikian, pembenahan ini memang menyentuh banyak sekali perkara tata cara, yang rinciannya memenuhi ratusan halaman buku.[2]

Beberapa dari perubahan-perubahan itu dapat diindrai dan mudah dikenali sebagai pembeda cara-cara Umat Beriman Lama dari cara-cara yang mereka sifatkan sebagai "ritus Nikon". Perubahan paling terkenal, yang menjadi lambang pertentangan, adalah sikap jari-jari tangan saat membuat tanda salib. Cara Rusia prapembenahan yang dipertahankan Umat Beriman Lama adalah cara "dua jari", yaitu dengan jari telunjuk bersama jari tengah sembari merapatkan ibu jari dengan jari manis dan jari kelingking, sedangkan cara "ritus baru" adalah cara "tiga jari", yaitu dengan jari telunjuk bersama jari tengah dan ibu jari sembari menekuk jari manis dan jari kelingking. Umat Beriman Lama hanya membenarkan pembaptisan dengan cara benam tiga kali, dan menolak pembaptisan dengan cara dirus yang dibenarkan dalam ritus baru; hanya menggunakan salib ragam Ortodoks yang berujung delapan, dan menolak semua ragam lain; dua kali alih-alih tiga kali mendaraskan Alleluia sesudah mazmur; serta menggunakan tujuh alih-alih lima prosfora dalam Liturgi Kudus. Arak-arakan mengitari gereja dilakukan searah alih-alih berlawan arah dengan putaran jarum jam. Umat Beriman Lama banyak kali merukuk dan bersujud, serta menggunakan sajadah yang disebut podrucik, kebanyakan ditiadakan dalam ritus baru.[1]

Umat Beriman Lama mengeja nama Kristus dalam bahasa Rusia dengan satu alih-alih dua huruf "i", yaitu Isus alih-alih Iisus. Frasa "selama-lamanya" menggunakan bentuk datif, veki vekom, bukan bentuk genitif, veki vekov, yang digunakan dalam ritus baru. Dalam Syahadat Nikea, frasa "Allah benar", Boga istinnago, disusuli kalimat "Tuhan dan Pemberi Hidup", dan kata "kerajaan-Nya" diikuti frasa "tak berakhir" (nest konstsa) alih-alih "takkan berakhir" (ne budet konstsa). Masih banyak lagi perbedaan liturgis dan ritual, antara lain nama-nama para kudus dan penguasa yang dilisankan dalam pelaksanaan Liturgi Persiapan, serta susunan kalimat ektenia bagi arwah.[3]

Lantaran memisahkan diri dari Gereja resmi sehubungan dengan penolakan terhadap pembenahan Batrik Nikon, Umat Beriman Lama menutup mata terhadap semua inovasi dan keputusan yang dikeluarkan Gereja Ortodoks Rusia mulai dari pertengahan abad ke-17. Umat Beriman Lama tidak menghormati orang-orang kudus yang dikanonisasi Gereja resmi sesudah mereka memisahkan diri, misalnya Serafim dari Sarov, dan menghormati orang-orang kudus mereka sendiri, misalnya Protopresbiter Awakum. Di bidang seni musik gerejawi, mereka mempertahankan kidung unisono monofononik Znameni, yang memiliki notasi sendiri yang khas, dan tidak menggunakan nyanyian banyak suara yang diimpor dari Gereja Yunani.[1] Di bidang seni lukis ikon, seniman-seniman Umat Beriman Lama dengan cerman melestarikan ragam tak-membumi dari ikon Ortodoks Abad Pertengahan, dan menolak perspektif realistis maupun warna-warna alami yang dipengaruhi seni rupa Barat. Gambar satwa-satwa yang melambangkan orang-orang kudus tertentu maupun ragam-ragam tertentu dalam menggambar sosok Yesus, yang diharamkan oleh Gereja resmi, tetap muncul dalam ikon-ikon Umat Beriman Lama.[4] Vestimentum rohaniwan Umat Beriman Lama tidak mencakup unsur-unsur yang terlazimkan sejak masa jabatan Batrik Nikon, misalnya klobuk dan kamilavka khas Yunani.[5]

Tradisionalisme

Idealisasi dan penyucian masa lampau Rusia merupakan salah satu tiang penting bagi fikrah Umat Beriman Lama, karena menopang penolakan mereka terhadap pembenahan Batrik Nikon. Adat-istiadat lama orang Moskwa sarat dengan ketaatan beragama dan semangat antiasing. Orang asing maupun adat kebiasaan asing dicap biadab dan najis. Sudah menjadi keyakinan umum pada masa itu bahwa Rusialah satu-satunya pengusung agama Kristen yang tulen, sesudah umat Katolik maupun umat Ortodoks non-Rusia terjerumus ke dalam bidat, Moskwa menjadi Roma yang ketiga dan yang terakhir. Skisma abad ke-17 ini menandai keterbukaan berangsur Rusia terhadap pengaruh Eropa, sekularisasi bangsa, dan penerimaan adat kebiasaan asing, manakala negara mengetepikan gagasan "Roma Ketiga". Polemik-polemik Umat Beriman Lama cenderung mencitrakan para tsar, tokoh-tokoh Gereja dan masyarakat Rusia praskisma sebagai orang-orang kudus yang mengamalkan cara hidup suci, bertakwa, lagi bersahaja, yang dirusak oleh pembenahan Batrik Nikon, dan tinggal Umat Beriman Lama saja yang masih melestarikannya. Itulah sebabnya ritus lama, yang diamalkan oleh orang-orang mulia itu, sarat dibumbui dengan kesucian istimewa dan nostalgia.[6]

Umat Beriman Lama menolak usaha pembaratan yang dilakukan sejak masa pemerintahan Tsar Pyotr Agung. Mereka mempertahankan pemakaian penanggalan Bizantin, yang diganti Tsar Pyotr Agung dengan penanggalan Yulian. Model pakaian dan potongan rambut ala Eropa dipandang hina, sementara cara berpakaian lama orang Rusia dipertahankan tengah-tengah kehidupan masyarakat perkotaan (rakyat tani di desa-desa melanggengkan cara berpakaian lama sampai tahun 1917). Kaum pria Umat Beriman Lama meneruskan kebiasaan memelihara janggut, mengenakan baju bersuji tanpa menyisipkan ujung bawahnya ke dalam celana, serta mengenakan mantel kaftan yang selutut panjangnya. Kaum wanitanya tetap mengenakan gaun sarafan yang tak berlengan dan tengkuluk kokosynik, rambut mereka dikepang tunggal sebelum kawin dan dikerudungi sesudah kawin. Meskipun ada banyak perbedaan antardaerah, kaidah-kaidah pokoknya tetap sama. Ketika semakin banyak anggota jemaat Umat Beriman Lama yang beralih ke model pakaian modern, pakaian adat Rusia tetap wajib dikenakan, setidaknya pada saat menghadiri ibadat di gereja. Dewasa ini, pemanfaatan pakaian model lama sebagai pakaian sehari-hari lebih sering dijumpai di daerah pedesaan dan permukiman-permukiman terpencil di Eropa Timur, serta di lingkungan komunitas-komunitas perantau di dunia Barat yang masih sangat kuat memegang tradisi.[7][8]

Semua komunitas Umat Beriman Lama melarang kaum prianya mencukur janggut dan mengisap tembakau, dua pantangan lama orang Rusia yang tidak lagi dipatuhi secara luas pada masa pemerintahan Tsar Pyotr Agung.[1] Banyak komunitas Umat Beriman Lama juga menghindari kentang, teh hitam, kopi, dan aneka bahan pangan lain yang diimpor pada masa pemerintahan Tsar Pyotr Agung, lantaran dianggap sebagai "tanam-tanaman iblis".[9] Dewasa ini, adat-istiadat lama orang Rusia yang berkaitan dengan perkawinan, batasan antara pria dan wanita, dan berbagai aspek kehidupan rumah tangga masih terlihat di desa-desa Umat Beriman Lama. Lantaran mencurigai dampak dari segala macam hal baru, sekte-sekte yang lebih ketat sering kali menjauhi dan lamban membuka diri terhadap perkembangan teknologi modern. Pada dasawarsa 1990-an, seorang antropolog yang mengunjungi sebuah komunitas Umat beriman Lama di Udmurtia mencermati bahwa mula-mula mereka tidak dibenarkan berdoa di dalam rumah yang dipasangi instalasi listrik, tetapi belakangan boleh saja asalkan barang-barang yang menggunakan tenaga listrik sudah dikeluarkan dari rumah serta ditutupi dengan kain, dan pada akhirnya pemimpin komunitas memasang sebuah pesawat televisi di rumahnya.[10] Keteguhan memegang tradisi membuat mereka dianggap sebagai kaum primitif, obskurantis yang terbelakang, dan sebagai orang asli Rusia yang melestarikan saripati pusaka bangsa.[9]

Apokaliptisisme

Salah satu halaman Apokalipsis Morozov, naskah golongan Pomortsi dari sekitar tahun 1820 yang pembuatannya didanai oleh keluarga Morozov, berisi lukisan adegan-adegan dari Kitab Wahyu

Pihak-pihak penentang pembenahan Batrik Nikon pada abad ke-17, yang dipandang sebagai para leluhur oleh Umat Beriman Lama, berkeyakinan bahwa ritus baru adalah tipu daya setan, pertanda kiamat, dan bahwa mereka hidup pada akhir zaman. Pihak-pihak yang menerima "ritus Nikon" dianggap sudah menyimpang dari Kekristenan yang sejati, dan negara serta Gereja Rusia maupun seluruh dunia sudah tunduk kepada Antikristus.[11][12]

Anggapan tentang hidup pada akhir zaman tersebut sudah mendarah daging di dalam fikrah Umat Beriman Lama. Ada dua macam pemahaman tentang hakikat Antikristus, yaitu doktrin "jasmaniah" dan doktrin "rohaniah". Menurut doktrin jasmaniah, yang lebih sejalan dengan teologi Kristen konvensional, Antikristus adalah tokoh tertentu yang akan muncul jika sudah tiba saatnya, dan nantinya memenuhi semua kriteria yang termaktub di dalam Kitab Suci. Menurut doktrin rohaniah, Antikristus adalah kiasan bagi kedurjanaan yang sedang meracuni dunia. Kedua konsep tersebut tidak serta-merta saling menidakkan, karena komunitas-komunitas dan para pemikir Umat Beriman Lama menggunakan kedua-duanya secara leluasa. Pemahaman "rohaniah" lekat dengan sekte-sekte yang lebih radikal, lantaran memungkinkan mereka untuk membenarkan sikap-sikap keagamaan ekstrem, yang mereka sifatkan sebagai langkah darurat menghadapi Armagedon, tanpa batasan waktu. Pemahaman "jasmaniah" memungkinkan golongan moderat untuk bersikap pragmatis pada kala kini, sebab tak seorangpun yang dapat diidentifikasi sebagai Antikristus; tetapi pada masa-masa penuh perjuangan dalam sejarah gerakan ini, gelar "Antikristus" memang disematkan kepada pribadi tententu, terutama Nikon, Tsar Aleksey, atau Tsar Pyotr Agung.[13]

Semangat akhir zaman ini meluap pada masa-masa aniaya dan surut pada masa-masa toleransi tetapi tidak pernah padam. Kerelaan atau semangat menggebu-gebu untuk melawan dunia yang bejat memunculkan ledakan radikalisme dari waktu ke waktu, yang paling menonjol adalah tindakan bunuh diri massal, khususnya dengan cara mengorbankan nyawa sendiri (sering kali pemimpin-pemimpin karismatik membunuh pengikut yang ragu-ragu mengorbankan nyawanya), yang dianggap sebagai mati syahid melawan kekuasaan Antikristus. Ketidakpercayaan terhadap pemerintah sudah mendarah daging di kalangan Umat Beriman Lama, dan sekte-sekte yang lebih radikal melarang anggotanya untuk masuk tentara, membawa-bawa dokumen resmi, bahkan menyentuh uang, yang mereka anggap sudah ditandai dengan meterai Antikristus.[11] Pada tahun 1820, sesudah setengah abad lamanya Umat Beriman Lama mengenyam toleransi resmi, dalam penggeledahan yang dilakukan di kampung saudagar Umat Beriman Lama di Moskwa, polisi menemukan sebuah potret Tsar Aleksander I dengan sepasang tanduk, ekor, dan angka 666 di dahi.[14] Pada dasawarsa 1980-an, seorang antropolog yang mengunjungi sebuah desa kecil Umat Beriman Lama di Kanada mendapati warga desa itu setiap hari sibuk berspekulasi tentang identitas Antikristus.[15]

Ketakwaan

Umat Beriman Lama memandang diri mereka sebagai orang-orang yang dipilih Allah untuk melestarikan agama Kristen yang sejati di tengah-tengah dunia yang sudah terpuruk. Mereka menjauhi masyarakat, acap kali hidup di permukiman-permukiman terpencil, dan mengamalkan segudang aturan tata susila dan ketaatan beragama yang ketat.[16] Beberapa sekte radikal mengadopsi tata tertib biara, serta menganjurkan selibat dan matiraga.[17] Ibadat-ibadat mereka berlangsung lama dan dipersiapkan dengan saksama. Mereka juga tekun memelihara banyak hari besar maupun hari puasa yang ditetapkan di dalam penanggalan liturgi.[18] Pelajaran agama dan keterlibatan dalam acara-acara keagamaan jauh lebih intens di lingkungan Umat Beriman Lama ketimbang di lingkungan rata-rata paroki Gereja resmi. Kanak-kanak dididik untuk menguasai Bahasa Slav Gereja supaya dapat membaca Kitab Suci dan buku-buku doa,[19] dan umat awam memiliki peran yang lebih aktif dan lebih maju.[1]

Komunitas-komunitas Umat Beriman Lama diatur dengan seperangkat tata susila, menitikberatkan moderasi, pengekangan hawa nafsu, sikap bersungguh-sungguh, kerja keras, dan tolong-menolong. Hiburan sekuler dan hal-hal duniawi yang dapat mengalihkan perhatian dipandang keji kalau tidak diharamkan. Kehidupan berguyub yang akrab, bahkan di pusat-pusat perkotaan, dan pengalaman menjadi golongan minoritas yang teraniaya memupuk rasa solidaritas internal yang kuat, juga rasa keterasingan dari masyarakat. Tata tertib komunitas ditegakkan oleh para tetua, dan anggota yang tidak mematuhinya akan dikenai penitensi, sanksi, dan akhirnya ekskomunikasi. Dalam sekte-sekte yang lebih keras, kawin dengan orang luar sama saja dengan minta diekskomunikasi, dan orang luar yang ingin bergabung harus dibaptis ulang, sebab baptisan yang sudah mereka terima dianggap tidak sah. Anggota-anggota yang baru pulang merantau luar harus mentahirkan diri dengan berpuasa dan berdoa sebelum sepenuhnya diterima kembali. Ada peranti makan minum yang disiapkan khusus untuk dipakai oleh "orang-orang pagan" yang datang berkunjung.[20]

Umat Beriman Lama memelihara banyak sekali larangan. Larangan-larangan yang bervariasi dari sekte ke sekte ini kian mengukuhkan keterasingan mereka dari masyarakat umum Rusia maupun pihak-pihak luar lainnya. Beberapa larangan berakar pada tradisi atau disarikan dari kitab suci, sementara larangan-larangan selebihnya muncul secara spontan. Para anggota biasanya sangat menjaga kebersihan dan sering mandi, serta menghindari vodka – di banyak komunitas pedesaan, sudah menjadi adat untuk memajang vodka sebotol penuh di rumah sebagai isyarat bahwa vodka dibiarkan tak tersentuh[21] (minuman beralkohol ringan seperti Kvass dan Bragha bisa saja dibenarkan untuk diminum).[22] Sekte-sekte garis keras secara khusus memandang cairan sebagai unsur yang dekat dengan pencemaran. Di beberapa sekte, setitik air yang jatuh dari bejana baptis bisa membuat sebuah kapel harus diberkati ulang. Mereka memantangkan daging hewan-hewan tertentu, dan menganggap darah serta daging yang berdarah sebagai sesuatu yang keji dan terlarang.[23] Pantangan-pantangan itu tidak lagi diikuti secara luas pada zaman Sovyet, dan hanya sesekali diamalkan.[24] Pada dasawarsa 1990-an, di sebuah komunitas di Udmurtia yang biasanya bersikap luwes dalam banyak perkara lain, ada orang yang diekskomunikasi hanya gara-gara menyirami taman dengan menggunakan selang.[10]

Subdivisi

Kerukunan

Lantaran tidak mengakui keabsahan hierarki Gereja Ortodoks Rusia, Umat Beriman Lama tidak pernah memiliki organisasi terpusat sendiri. Gerakan Umat Beriman Lama merupakan suatu jaringan longgar komunitas-komunitas yang tidak seragam, yang dipertalikan oleh semacam rasa kesetiakawanan dan kesamaan jati diri sebagai kelompok minoritas di lingkungan yang tak ramah, tetapi hanya bekerja sama secara sporadis, dan jarang sekali bersentuhan satu sama lain.[25]

Satuan dasar Umat Beriman Lama disebut "kerukunan", soglasie, mengacu kepada berapa komunitas yang mengakui kewenangan dan menerima keputusan-keputusan pemimpin rohani yang sama. Keunikan identitas, sejarah, dan amalan-amalan dari banyak kerukunan memperumit penyifatan Umat Beriman Lama sebagai sebuah gerakan, sehingga membuat beberapa sejarawan untuk berkonsentrasi pada perlakuan yang terpisah bagi masing-masing kerukunan.[26] Beberapa kerukunan memiliki ratusan ribu anggota di seluruh Rusia, sementara kerukunan-kerukunan lain hanya terbatas pada satu desa. Ketiadaan hierarki, dan keseriusan ekstrem Umat Beriman Lama dalam menangani polemik-polemik keagamaan, mengakibatkan keretakan internal yang tak terhitung banyaknya, menciptakan cabang-cabang baru, atau memunculkan kubu moderat dan kubu radikal di dalam saru kerukunan yang sama, yang mengadopsi amalan-amalan yang berlainan kendati teguh mempertahankan hubungan. Banyak kerukunan yang hilang tanpa sisa, khususnya pada zaman Stalin, dan kerukunan-kerukunan lainnya nyaris tak mampu bertahan. Dari 30 kerukunan yang eksis pada awal abad ke-20, hanya 10 kerukunan yang masih bertahan di Uni Sovyet pada dasawarsa 1960-an. Beberapa kerukunan bergabung membentuk gereja-gereja yang resmi terdaftar. Keterbelahan utama di kalangan Umat Beriman Lama, yang sudah ada sejak permulaan sejarah gerakan ini, adalah keterbelahan antara golongan popovtsi, "berpadri", yang memiliki padri; dan golongan Bespopovtsi, "tak berpadri", yang tidak memiliki padri.[27]

Keterbelahan antara golongan berpadri dan golongan tidak berpadri tidak mesti bersifat definitif. Casovenye (jemaat kapel), kerukunan terbesar di Siberia dan daerah pegunungan Ural, mula-mula termasuk golongan berpadri, tetapi gagal merekrut rohaniwan dalam jangka waktu yang lama pada awal abad ke-19. Lantaran tidak punya pilihan lain, mereka mulai menyelenggarakan kebaktian-kebaktian seperti golongan tak berpadri, sekalipun tidak menganggap dirinya termasuk golongan tak berpadri.[28] Jemaat Luzkov, sebuah sekte berpadri yang bersikukuh mengisolasi diri dan memusuhi pemerintah maupun masyarakat (menolak mendaftarkan kelahiran anak dan membawa-bawa dokumen), pada umumnya mengadopsi orientasi tak berpadri. Komunitas-komunitas Umat Beriman Lama di negara-negara Barat terlahir dari campuran para pengungsi yang kehilangan ikatan-ikatan pra-Sovyet mereka, dan bukan popovtsi maupun Bespopovtsi dalam arti sempit.[29] Di kalangan Umat Beriman Lama di Oregon dan Alaska pada dasawarsa 1980-an, banyak pemimpin kaum tak berpadri memutuskan untuk bergabung dengan denominasi berpadri dan ditahbiskan menjadi rohaniwan, sehingga menimbulkan skisma lokal ketika beberapa pengikut mereka membentuk komunitas-komunitas baru.[30]

Golongan berpadri

Artikel utama: Popovtsi
Metropolitan Meletius dari Gereja Ritus Lama Rusia, tahun 1929

Golongan berpadri (popovtsi) pada umumnya adalah orang-orang yang lebih konservatif dan moderat. Meskipun menganggap pembenahan Batrik Nikon sebagai bidat kelas berat, mereka tidak berkeyakinan bahwa Gereja yang resmi sudah kehilangan seluruh rahmat Allah, dan sakramen-sakramennya tidak sah. Tidak ada uskup yang memihak mereka,[31] dan lantaran mencari legitimasi, muncul riwayat yang diyakini kebenarannya oleh golongan berpadri dan disampaikan dari mulut ke mulut bahwa gerakan mereka dicetuskan oleh Uskup Paulus dari Kolomna, seorang tokoh yang tidak jelas hal-ihwalnya dan konon tewas dihukum mati Batrik Nikon. Riwayat ini ditambah lagi dengan banyak bumbu cerita di dalam hagiografi Umat Beriman Lama.[32] Lantaran tidak memiliki sarana untuk menahbiskan padri-padri baru, golongan popovtsi harus puas menampung padri-padri pengangguran atau padri-padri buangan dari Gereja resmi, asalkan mereka bersedia mendustakan pembenahan Nikon, menjalani semacam "pelurusan akidah" yang rata-rata berupa krisma, dan mengadopsi ritus lama. Dengan cara ini golongan berpadri dapat mempertahankan liturgi lengkap liturgy dan sebagian besar dari stuktur kehidupan bergeraja praskisma. Mereka memilih sikap berhati-hati dalam menerapkan doktrin antikristus pada masa sekarang, dan dipandang pemerintah tidak begitu mengancam. Komunitas-komunitas mereka relatif hierarkis, kendati umat awam tetap menonjol dan berperan aktif, acap kali memperlakukan padri-padri "pelarian" seperti karyawan biasa.[31]

Kerukunan-kerukunan golongan berpadri yang bersejarah antara lain adalah Onufrit, Diakonit, dan Sofontit. Onufrit adalah kelompok yang menerima beberapa surat kontroversial yang ditulis oleh Awakum, berisi pernyataan-pernyataan teologis yang tidak lazim, sebagai pernyataan-pernyataan yang benar. Diakonit adalah kelompok yang tidak mewajibkan padri-padri "pelarian" mereka untuk menerima sakramen krisma (sebab menyiapkan minyak krisma tanpa berkat dari uskup bertentangan dengan kanon Gereja), dan menerima salib berujung empat sebagai salib yang benar, dan oleh sebab itu mengayunkan wiruk dalam ibadat dengan gerakan sekali melintang dan sekali membujur, alih-alih dengan gerakan dua kali melintang dan sekali membujur seperti sekte-sekte lain. Sofontit adalah kelompok yang mewajibkan padri untuk menerima sakreamen krisma, hanya mengakui salib berujung delapan, dan oleh sebab mengayunkan wiruk dengan gerakan dua kali melintang dan sekali membujur, serta menolak tulisan-tulisan Awakum yang kontroversial.[33]

Sejak pertengahan abad ke-19, golongan berpadri berhasil merekrut uskup-uskup, sehingga dapat membentuk dua hierarki kepemimpinan yang terpisah, yaitu hierarki Belokrinitskaya yang terbentuk pada tahun 1846, dan hierarki Novozibkov yang terbentuk pada tahun 1923.[34] Penyelesaian lain bagi masalah golongan berpadri muncul dalam bentuk edinoverie, yaitu "iman bersatu". Sejak tahun 1800, Gereja negara mengizinkan Umat Beriman Lama untuk masuk bergabung tanpa harus melepaskan ritus-ritus mereka. Edinoverie, yang sebenarnya adalah alat negara untuk mengontrol Umat Beriman Lama, hanya diikuti segelintir orang.[35]

Golongan tak berpadri

Artikel utama: Bespopovtsi
Para anggota kerukunan Pomoria, abad ke-19

Golongan tak berpadri atau Bespopovtsi adalah sayap radikal dari Umat Beriman Lama.

Dewasa ini

Pada permulaan abad ke-21, organisasi terbesar Umat Beriman Lama adalah Gereja Ritus Lama Ortodoks Rusia (golongan berpadri), yang mengaku memiliki satu juta anggota jemaat. Organisasi ini memiliki 200 paroki di Rusia dana beberapa paroki lain di luar Rusia, yakni di Kazakstan, Kirgistan, Moldova, dan Belarusia, serta dua pusat misi yang baru-baru ini didirikan, yakni di Uganda dan Pakistan. Organisasi yang berdiri pada tahun 1850, ketika uskup-uskup hierarki Belokrinitskaya mengambil alih kepemimpinan jemaat-jemat di Rusia. Markas besarnya adalah Katedral Syafaat di Taman Makam Rogozskoye, Moskwa, dan primatnya sejak tahun 2005 adalah Metropolit Kornelius Titov.

Pada tahun 2022, menyusul invasi Rusia ke Ukraina, keuskupan Gereja Ritus Lama Ortodoks Rusia di Ukraina melepaskan diri dan menuntut status swakepala, membentuk Gereja Ritus Lama Ukraina, yang memiliki 54 paroki dan dikepalai oleh Uskup Agung Nikodim.[36] Sharing the same hierarchy, the Gereja Ritus Lama Ortodoks Lipovani di Rumania, yang juga dipimpin uskup-uskup hierarki Belokrinitskaya, dengan markas besar di Brăila dan Metropolit Leontie selaku primat, mengaku memiliki 35.000 anggota yang tersebar di 49 paroki.[37]

Organisasi kedua Umat Beriman Lama golongan berpadri adala Gereja Ortodoks Lama Rusia, dengan hierarki sendiri yang terbentuk pada tahun 1923, ketika uskup Nikola (salah seorang anggota kubu oposisi yang dibentuk pemerintah untuk melawan Batrik Tikhon) keluar dari Gereja Ortodoks Rusia. Organisasi ini memiliki 100 paroki terdaftar di Rusia pada tahun 2018. Primatnya adalah Batrik Aleksander.

Edinoverie dihidupkan kembali oleh Gereja Ortodoks Rusia pada tahun 2000. Pada tahun 2021, ada 40 paroki Umat Beriman Lama di dalam Gereja Ortodoks Rusia. Ketua komisi Gereja Ortodoks Rusia untuk paroki-paroki Umat Beriman Lama adalah Metropolit Antonius.

Denominasi golongan tak berpadri yang terbesar dan tertua adalah Gereja Ortodoks Lama Pomoria, yang resmi berdiri pada tahun 1909 sebagai kelanjutan dari kerukunan Pomoria lama yang muncul pada dasawarsa 1690-an. Gereja Ortodoks Lama Pomoria yang mengaku memiliki 400.000 anggota jemaat ini terdiri atas tujuh majelis nasional, dengan 200 paroki di Rusia (kurang dari setengahnya resmi terdaftar), 60 paroki di Latvia, 27 paroki di Lituania, 15 paroki di Estonia,[38] 35 paroki di Ukraina, 19 paroki di Belarusia,[39] dan 4 paroki di Polandia. Selain itu, masih ada lagi jemaat-jemaat Gereja Ortodoks Lama Pomoria di Kazakstan, Kirgizstan, Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Swedia, dan Finlandia.[38] Ketua majelis internasional Gereja Ortodoks Lama Pomoria sejak tahun 2022 adalah Grigori Boyarov, mantan nastavnik Pomoria di Vilnius.

Gereja Feodosievtsi Ortodoks Lama yang kecil, hasil penyatuan beberapa komunitas Feodosievtsi, dan resmi terdaftar pada tahun 2014. Organisasi ini hanya memiliki 8 paroki pada tahun 2018, dan diketuai oleh Konstantinus Kozhev. Di luar itu, masih ada lagi komunitas-komunitas kecil kerukunan tak berpadri lainnya yang muncul di Rusia pada dasawarsa 1990-an, antara lain Filipian, Spasovit, dan Pelarian.[40]

Persebaran

Kaum wanita Umat Beriman Lama di Tarbagatai, Buryatia

Komunitas-komunitas Umat Beriman Lama kerap dijumpai di daerah-daerah terpencil atau daerah-daerah yang sulit dijangkau di Rusia, sejauh mungkin dari jangkauan Gereja dan pemerintah, dan sedari awal cenderung berhijrah ke luar negeri. Pusat-pusat besar perdana berada di daerah lembah sungai Kerzhenets, tidak jauh dari Nizhny Novgorod, kota-kota di Starodub di daerah perbatasan Polandia-Lituania, dan Vetka, persis bersebelahan, daerah-daerah Don Cossacks, dan provinsi utara Karelia yang keras dan dingin membeku.

Sejarah

Skisma

Artikel utama: Skisma Gereja Rusia
Batrik Nikon dan Tsar Aleksey mencanangkan usaha pembetulan liturgi, lukisan karya Aleksey Kivshenko.

Sejak Konstantinopel tumbang pada tahun 1453, yang dipandang sebagai azab yang ditimpakan Allah kepada Gereja Romawi Timur lantaran bersatu kembali dengan Paus Gereja Katolik pada tahun 1439, orang-orang Rusia menganggap semua orang Kristen Ortodoks yang bukan Rusia sudah tercemar bidat, dan hanya mereka saja yang masih memeluk agama Kristen yang benar. Pada tahun 1551, Sinode Stoglav membakukan dan meluhurkan hal-hal yang mereka anggap sebagai amalan-amalan asli Rusia, misalnya amalan membuat tanda salib dengan dua jari dan amalan mendaraskan Aleluya sebanyak dua kali, serta mengutuk amalan membuat tanda salib dengan tiga jari dan amalan mendaraskan Aleluya sebanyak tiga kali sebagai amalan-amalan asing dan oleh sebab itu merupakan bidat.[41]

1917-sekarang

Dengan tumbangnya monarki dan terkecundangnya "golongan putih" pasca-Revolusi Oktober 1917, Umat Beriman Lama mula-mula mendapatkan sikap simpatik dari pemerintah Bolsyewik yang baru terbentuk. Kaum komunis, yang menyarikan pandangan-pandangan mereka dari diskursus radikal abad ke-19, memandang para pembangkang sebagai kekuatan demokratis rakyat yang memusuhi tatanan lama, dan salah satu sekutu melawan Gereja Ortodoks Rusia yang ketika itu sudah dicabut status resminya. Selama beberapa tahun pascaberdirinya Uni Sovyet, pihak berwenang cenderung mendukung Umat Beriman Lama dalam segala macam konflik dengan Gereja Ortodoks Rusia.

Sejak sebelum revolusi, Umat Beriman Lama golongan berpadri yang menolak hierarki Belokrinitskaya menyatukan diri dalam satu serikat kerukunan, dan mengupayakan perundingan-perundingan dalam rangka mencari seorang uskup untuk dijadikan pimpinan. Pada tahun 1923, mereka menjumpai Uskup Nikola Pozdnev, salah seorang anggota golongan Renovasionis, gerakan pembenahan Gereja Ortodoks Rusia yang berseberangan dengan Batrik Moskwa, dan ketika itu sudah hanya tinggal menunggu waktu dipecat secara resmi. Sesudah memastikan bahwa dia dibaptis dengan cara benam tiga kali, yakni persoalan utama yang menyebabkan anggota-anggota kerukunan menolak Ambrosius pada dasawarsa 1850-an, sang uskup pun diurapi dengan minyak krisma. Beberapa uskup lain dari Gereja Ortodoks Rusia juga ikut bergabung. Para pemimpin awam kerukunan memaklumkan bahwa mereka menganggap hierarki praskisma sudah dipulihkan. Dengan demikian terbentuklah Gereja Ortodoks Lama Rusia, dan hampir semua padri Umat Beriman Lama memiliki gereja independen sendiri.

Aniaya rezim Stalin membuat pengungsian kembali terjadi pada awal dasawarsa 1930-an, kali ini ke luar Uni Sovyet dan ke Tiongkok. Sekian ribu Umat Beriman Lama yang hengkang dari daerah Ural dan wilayah Sovyet di Asia Tengah menetap di Xinjiang, dan sebuah komunitas besar pendatang asal Siberia Timur terbentuk di Harbin. Ketika kaum komunis menguasai pemerintahan Tiongkok selepas tahun 1949, sebagian besar Umat Beriman Lama terdorong untuk pindah ke negara lain. Organisasi-organisasi Kristen internasional membantu evakuasi komunitas-komunitas di Xinjiang dan Harbin ke Hong Kong. Dari Hong Kong, mereka berimigrasi dalam kelompok-kelompok kecil pada akhir dasawarsa 1950-an ke Brasil, Bolivia, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada, kemudian mendirikan permukiman-permukiman kecil. Ketika komunitas Umat Beriman Lama yang semakin mengecil di Turki menghadapi ancaman perkawinan antarkerabat dekat, sebagian besar memutuskan untuk pulang ke kampung halaman di Uni Sovyet, tetapi ada yang bergabung dengan saudara-saudari seiman mereka di Barat. Kendati tidak terlalu signifikan secara demografi (paling banyak hanya beberapa puluh ribu jiwa), pusat-pusat baru yang dibentuk oleh para pengungsi dari Tiongkok ini melestarikan cukup banyak tradisi Umat Beriman Lama, bebas dari sekularisasi drastis di Uni Sovyet.

Pada tahun 1971, Gereja Ortodoks Rusia mengumumkan pencabutan anatema-anatema terhadap ritus lama pada tahun 1667. Pada tahun 1974, atas permintaan Aleksandr Solzhenitsyn, Gereja Ortodoks Rusia di Luar Rusia mengambil langkah serupa. Sejak dijalankannya kebijakan glasnost dan tumbangnya Uni Sovyet pada tahun 1991, Umat Beriman Lama mengalami kebangunan rohani dan budaya di Rusia, negara-negara Baltik, dan negara-negara pasca-Sovyet lainnya. Pada tahun 2013, liturgi menurut ritus lama dirayakan di Katedral Uspenski untuk pertama kalinya sesudah 350 tahun berlalu. Pada tahun 2020, peringatan 400 tahun Awakum dirayakan secara resmi di Rusia.

Rujukan

  1. 1 2 3 4 5 Paert 2011.
  2. ↑ Meyendorff 1991, hlm. 32-33.
  3. ↑ Meyendorff 1991, hlm. 127-129, 178-179..
  4. ↑ Jefferson J. A. Gatrall, Douglas M. Greenfield. Alter Icons: The Russian Icon and Modernity. Penn State Press, 2010. hlmn. 11-14.
  5. ↑ Scheffel 1991, hlm. 31.
  6. ↑ Scheffel 1991, hlm. 18-25.
  7. ↑ Scheffel 1991, hlm. 49-50.
  8. ↑ Paert 2003, hlm. 43-44.
  9. 1 2 Scheffel 1991, hlm. 51.
  10. 1 2 Pozdeeva I.V., Russian Old Believers: Traditions and Innovations. Russian Journal of Church History, 2022. hlmn. 47-55.
  11. 1 2 Smirnov, Petr C. (1988). "Antichrist in Old Believer Teaching", dalam: The Modern Encyclopedia of Religions in Russia and the Soviet Union. Academic International Pres. hlmn. 28–35.
  12. ↑ Scheffel 1991, hlm. 45-47.
  13. ↑ Paert 2003, hlm. 31-34.
  14. ↑ Crummey 1970, hlm. 211..
  15. ↑ Scheffel 1991, hlm. 123-124.
  16. ↑ Crummey 2011, hlm. 99-101.
  17. ↑ Paert 2003, hlm. 40-42.
  18. ↑ Scheffel 1991, hlm. 134-138.
  19. ↑ Sonja Luehrmann (penyunting), Praying with the Senses: Contemporary Orthodox Christian Spirituality in Practice. Indiana University Press, 2018. hlmn. 38-39.
  20. ↑ Paert 2003, hlm. 36-38.
  21. ↑ Paert 2004, hlm. 208-209.
  22. ↑ Scheffel 1991, hlm. 176-177.
  23. ↑ Scheffel 1991, hlm. 155-156, 178-180.
  24. ↑ Lane 1978, hlm. 131-132.
  25. ↑ Crummey 2011, hlm. 19-22.
  26. ↑ Crummey 2011, hlm. 172-174.
  27. ↑ Lane 1970, hlm. 115-120.
  28. ↑ Scheffel 1991, hlm. 116.
  29. ↑ Scheffel 1991, hlm. 113-114.
  30. ↑ Richard dan Tamara Morris, Tatiana Osipovich. History of the Old Believers in Oregon. Dalam: Old Believers in North America, Online Web Bibliography
  31. 1 2 Paert 2003, hlm. 32.
  32. ↑ Scheffel 1991, hlm. 47.
  33. ↑ Н. Н. Покровский, Е. А. Агеева, БЕГЛОПОПОВЦЫ, Orthodox Encyclopedia, 2009.
  34. ↑ De Simone 2018, hlm. 86-88.
  35. ↑ White 2020, hlm. 13-14.
  36. ↑ Статистика Церков і релігійних організацій в Україні станом на 1 січня 2021 року. risa.ua.
  37. ↑ BISERICA ORTODOXĂ DE RIT VECHI DIN ROMÂNIA. borv.ro.
  38. 1 2 Е. М. Юхименко, А. И. Мальцев, Е. А. Агеева, ДРЕВЛЕПРАВОСЛАВНАЯ ПОМОРСКАЯ ЦЕРКОВЬ, Orthodox Encyclopedia, 2012.
  39. ↑ 11-й Собор Древлеправославной Поморской Церквив Республике Беларусь, pomorian.by.
  40. ↑
  41. ↑ Scheffel 1991, hlm. 14-15, 23-24.

Kepustakaan

  • Bushnell, John (2017). Russian Peasant Women Who Refused to Marry: Spasovite Old Believers in the 18th–19th Centuries. Indiana University Press. ISBN 9780253030139.
  • Crummey, Robert O. (1970). The Old Believers & The World Of Antichrist: The Vyg Community & The Russian State, 1694-1855. University of Wisconsin Press. ISBN 9780299055608.
  • Crummey, Robert O. (2006). "The Orthodox Church and the Schism". The Cambridge History of Russia: Part III - Russia Under the First Romanovs (1613–1689). Cambridge University Press. hlm. 618–639. doi:10.1017/CHOL9780521812276.028.
  • Crummey, Robert O. (2011). Old Believers in a Changing World. Northern Illinois University Press. ISBN 9780875806501.
  • De Simone, Peter T. (2018). The Old Believers in Imperial Russia: Oppression, Opportunism and Religious Identity in Tsarist Moscow. I.B. Tauris. ISBN 9781838609535.
  • Lane, Christel (1978). Christian Religion in the Soviet Union: a Sociological Study. SUNY Press. ISBN 9780873953276.
  • Meyendorff, Paul (1991). Russia, Ritual, and Reform: The Liturgical Reforms of Nikon in the 17th Century. St Vladimir's Seminary Press. ISBN 9780881410907.
  • Michels, Georg (1999). At War with the Church: Religious Dissent in Seventeenth-Century Russia. Stanford University Press. ISBN 9780804733588.
  • Michels, Georg (2015). "From Persecuted Minority to Confessional Church: Some Thoughts on the Near Extinction and Ultimate Survival of Old Belief (1650s–1730s)". Canadian-American Slavic Studies. 49. Brill: 322–337.
  • Paert, Irina (2003). Old Believers: Religious Dissent and Gender in Russia, 1760-1850. Manchester University Press. ISBN 0719063221.
  • Paert, Irina (2004). "Memory and Survival in Stalin's Russia: Old Believers in the Urals during the 1930s–50s". On Living Through Soviet Russia. Routledge. hlm. 195–213. doi:10.4324/9780203410790-12.
  • Paert, Irina (2011). "Old Believers". The Encyclopedia of Eastern Orthodox Christianity. Wiley. hlm. 418–420. doi:10.1002/9781444392555.ch15.
  • Scheffel, David Z. (1991). In the Shadow of Antichrist: The Old Believers of Alberta. University of Toronto Press. ISBN 0921149735.
  • Smirnov, Petr C. (1988). "Antichrist in Old Believer Teaching". The Modern Encyclopedia of Religions in Russia and the Soviet Union. Academic International Press. hlm. 28–35.
  • White, James (2020). Unity in Faith?: Edinoverie, Russian Orthodoxy, and Old Belief, 1800–1918. Indiana University Press. ISBN 9780253049711.

Bacaan tambahan

  • Old Orthodox Prayer Book. Translated and edited by German Ciuba, Pimen Simon, Theodore Jorewiec (Edisi 2). Erie, Pennsylvania: Gereja Ortodoks Rusia Kelahiran Kristus (Ritus Lama). 2001. ISBN 9780961706210. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  • Pokrovsii, N. N. (1971). "Western Siberian Scriptoria and Binderies: Ancient Traditions Among the Old Believers". The Book Collector. 20: 19–32.
  • Scherr, Stefanie (2013). 'As soon as we got here we lost everything': the migration memories and religious lives of the old believers in Australia (PhD thesis). Universitas Teknologi Swinburne. doi:10.25916/sut.26285224.v1.
  • Smith Rumsey, Abby; Budaragin, Vladimir (1990). Living Traditions of Russian Faith: Books & Manuscripts of the Old Believers. Library of Congress. ISBN 9780844407104. LCCN 90020114.

Pranala luar

  • Media terkait Old Believers di Wikimedia Commons
  • Gereja Ritus Lama Ortodoks Rusia (dalam bahasa Rusia)
  • Pomorian Old-Orthodox Gereja Lituania (dalam bahasa Rusia)
  • Umat Beriman Lama di Amerika Utara — sebuah daftar pustaka Diarsipkan 2 March 2012 di Wayback Machine.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
  • FAST
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Jepang
  • Republik Ceko
  • Latvia
  • Israel
Lain-lain
  • Internet Encyclopedia of Ukraine
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Keyakinan dan amalan
  2. Ritus Lama
  3. Tradisionalisme
  4. Apokaliptisisme
  5. Ketakwaan
  6. Subdivisi
  7. Kerukunan
  8. Golongan berpadri
  9. Golongan tak berpadri
  10. Dewasa ini
  11. Persebaran
  12. Sejarah
  13. Skisma
  14. 1917-sekarang
  15. Rujukan
  16. Kepustakaan
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026