Bakar diri atau imolasi diri adalah tindakan menyulut api pada diri sendiri. Tindakan tersebut banyak dipakai untuk alasan politik atau agama, sering kali sebagai bentuk protes atau tindakan kemartiran, dan dikenal karena unsur menganggu dan kekerasannya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Bakar diri atau imolasi diri adalah tindakan menyulut api pada diri sendiri. Tindakan tersebut banyak dipakai untuk alasan politik atau agama, sering kali sebagai bentuk protes atau tindakan kemartiran, dan dikenal karena unsur menganggu dan kekerasannya.
Istilah Inggris immolation (imolasi) awalnya memiliki arti (1534) "membunuh korban pengurbanan; pengorbanan" dan kemudian berubah arti menjadi (1690) "penghancuran, khususnya dengan memakai api". Etimologinya berasal dari kata berbahasa Latin immolarecode: la is deprecated yang memiliki arti "untuk ditabur dengan hidangan pengorbanan (mola salsa); untuk penghorbanan" dalam konteks agama Romawi kuno.[1][2]

Terdapat beberapa contoh terkenal tindakan bakar diri dari zaman kuno sampai zaman modern. Kalanos, yang juga disebut Calanus (bahasa Yunani Kuno: Καλανὸςcode: grc is deprecated )[3] (ca 398 – 323 SM), adalah seorang gimnosofis India kuno,[4][5][6][7] dan filsuf dari Taxila[8] yang menyertai Aleksander Agung ke Persis dan kemudian, setelah jatuh sakit, membakar dirinya dengan cara masuk ke sebuah pyre, di depan Aleksander dan tentaranya. Diodorus Siculus menyebutnya Caranus (bahasa Yunani Kuno: Κάρανοςcode: grc is deprecated ).[9]


Zarmanochegas adalah biarawan dari tradisi Sramana (kemungkinan, tetapi bisa jadi bukan Buddhis) yang, menurut para sejarawan kuno seperti Strabo dan Dio Cassius, bertemu Nikolas dari Damaskus di Antiokia pada sekitar tahun 22 SM dan membakar dirinya sampai mati di Athena tak lama setelahnya.[10][11]
Pada Skisma Besar Gereja Rusia, seluruh desa Pemercaya Lama membakar diri mereka sendiri sampai mati dalam sebuah tindakan yang dikenal sebagai "baptisan api" (pembakar diri: samosozhigateli).[12] Sebuah kajian tahun 1973 oleh seorang dokter penjara berpendapat bahwa orang-orang yang memilih bakar diri sebagai bentuk bunuh diri lebih seperti berada dalam "keadaan kesadaran yang terganggu", seperti epilepsi.[13]
Krisis Buddhis di Vietnam Selatan menyebabkan penindasan agama mayoritas negara tersebut di bawah pemerintahan presiden Katolik Ngô Đình Diệm. Banyak biksu Buddha, termasuk kasus terkenal Thích Quảng Đức, membakar diri mereka sendiri sebagai bentuk protes.[14]
Contoh yang dilakukan oleh pembakar diri pada pertengahan abad ke-20 menyebarkan tindakan serupa antara 1963 dan 1971, kebanyakan terjadi di Asia dan AMerika Serikat bertepatan dengan protes melawan Perang Vietnam. Para peneliti mencatat nyaris 1000 pembakaran diri diliput oleh The New York Times dan The Times.[15]
Pada 2 November 1965, Norman Morrison, seorang aktivis anti-perang, melumuri dirin ya dengan kerosin dan menyulut dirinya dengan api di bawah kantor Menteri Pertahanan Robert McNamara di Pentagon, untuk memprotes keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam.[16]
Topp ... suggested that such individuals ... have some capacity for splitting off feelings from consciousness. ... One imagines that shock and asphyxiation would probably occur within a very short space of time so that the severe pain ... would not have to be endured for too long.