Oseanografi kimia juga dikenal sebagai kimia oseanografi atau kimia laut, merupakan cabang ilmu yang mempelajari komposisi kimia, sifat fisikokimia, serta proses kimia yang terjadi di lautan. Bidang ini menelusuri bagaimana berbagai unsur, ion, dan senyawa berinteraksi di dalam air laut serta bagaimana perubahan tersebut memengaruhi keseimbangan lingkungan laut secara keseluruhan. Kajian oseanografi kimia meliputi interaksi kompleks antara air laut, atmosfer, dasar laut, serta organisme laut, yang bersama-sama membentuk sistem kimia yang dinamis. Topik penelitian dalam bidang ini mencakup siklus karbon, nitrogen, dan fosfor, perilaku logam jejak, serta distribusi dan peran gas serta nutrien dalam ekosistem laut.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Oseanografi kimia juga dikenal sebagai kimia oseanografi (ocean chemistry) atau kimia laut (marine chemistry), merupakan cabang ilmu yang mempelajari komposisi kimia, sifat fisikokimia, serta proses kimia yang terjadi di lautan.[1] Bidang ini menelusuri bagaimana berbagai unsur, ion, dan senyawa berinteraksi di dalam air laut serta bagaimana perubahan tersebut memengaruhi keseimbangan lingkungan laut secara keseluruhan. Kajian oseanografi kimia meliputi interaksi kompleks antara air laut, atmosfer, dasar laut, serta organisme laut, yang bersama-sama membentuk sistem kimia yang dinamis. Topik penelitian dalam bidang ini mencakup siklus karbon, nitrogen, dan fosfor, perilaku logam jejak (trace metals), serta distribusi dan peran gas serta nutrien dalam ekosistem laut.[2][3]
Penelitian di bidang ini berperan dalam menjelaskan bagaimana aktivitas manusia, seperti pencemaran laut, peningkatan keasaman air laut akibat peningkatan CO₂ atmosfer, dan perubahan iklim global, memengaruhi sistem oseanik.[4] Sebagai ilmu interdisipliner, oseanografi kimia menggabungkan prinsip kimia, geologi, biologi kelautan, dan oseanografi fisik untuk memahami siklus biogeokimia global dan mekanisme sirkulasi laut.[5][6]
Bahan organik terlarut (DOM) merupakan komponen penting dari cadangan karbon laut dan terdiri atas berbagai molekul, seperti asam amino, gula, dan lipid. DOM mencakup sekitar 90% dari total karbon organik di lingkungan laut.[7] Salah satu bentuknya yaitu bahan organik terlarut berwarna (Colored Dissolved Organic Matter, CDOM), diperkirakan menyumbang antara 20–70% kandungan karbon laut, dengan konsentrasi yang lebih tinggi di wilayah muara sungai dan lebih rendah di laut terbuka.[8]
DOM memiliki kemampuan untuk didaur ulang dan dimasukkan kembali ke dalam jaring makanan laut melalui proses yang disebut siklus mikroba, yang berperan penting dalam siklus nutrien serta mendukung produktivitas primer di laut.[9] Selain itu, DOM memainkan peran penting dalam pengaturan global penyimpanan karbon laut, karena beberapa bentuk DOM tahan terhadap degradasi mikroba dan dapat bertahan di laut selama berabad-abad.[10] Secara biokimia, organisme laut memiliki kesamaan dengan organisme darat, dan lautan merupakan sumber utama senyawa organik yang terhalogenasi secara alami.[11]
Bahan organik partikulat (POM) terdiri atas partikel organik berukuran besar seperti organisme mikroskopis, pelet feses,[12][13] dan detritus, yang bergerak turun melalui kolom air laut. POM merupakan komponen utama dari pompa biologis, yaitu proses di mana karbon dipindahkan dari permukaan laut ke laut dalam. Selama proses penurunan, POM mengalami dekomposisi oleh aktivitas bakteri, yang melepaskan kembali nutrien dan karbon dioksida ke dalam air. Fraksi POM yang bersifat refrakter atau sulit terurai dapat mengendap di dasar laut dan berkontribusi secara signifikan terhadap penyimpanan karbon jangka panjang di lautan.[14]