Nyonya Cui (崔氏) adalah seorang bangsawan Tiongkok dari keluarga Cui dari Qinghe pada masa Akhir Dinasti Han. Ia merupakan istri dari Cao Zhi, putra dari Cao Cao dan pangeran Cao Wei selama Zaman Tiga Negara. Ia paling dikenal dalam sebuah insiden yang berujung terhadap kematiannya: setelah sengketa putra mahkota antara Cao Zhi dan kakaknya, Cao Pi telah usai, Nyonya Cui memakai sebuah busana yang hanya diperbolehkan untuk istri putra mahkota di sebuah upacara dan ia ketahuan oleh Cao Cao. Cao Cao yang sangat geram memaksanya membunuh dirinya sendiri sebagai hukuman melanggar kode busana.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Nyonya Cui 崔氏 | |
|---|---|
| Pasangan | Cao Zhi |
| Wangsa | Keluarga Cui dari Qinghe |
| Ayah | Kakak Cui Yan |
Nyonya Cui (崔氏) adalah seorang bangsawan Tiongkok dari keluarga Cui dari Qinghe pada masa Akhir Dinasti Han. Ia merupakan istri dari Cao Zhi, putra dari Cao Cao dan pangeran Cao Wei selama Zaman Tiga Negara. Ia paling dikenal dalam sebuah insiden yang berujung terhadap kematiannya: setelah sengketa putra mahkota antara Cao Zhi dan kakaknya, Cao Pi telah usai, Nyonya Cui memakai sebuah busana yang hanya diperbolehkan untuk istri putra mahkota[a] di sebuah upacara dan ia ketahuan oleh Cao Cao. Cao Cao yang sangat geram memaksanya membunuh dirinya sendiri sebagai hukuman melanggar kode busana.[1]
Nyonya Cui terlahir di keluarga Cui di Komanderi Qinghe.[2] Keluarga Cui merupakan keluarga terkemuka yang mengabdi di pemerintahan pusat Tiongkok dengan anggota mereka kerap menduduki jabatan tinggi selain menjadi cedekiawan Konghucu. Ia merupakan keponakan perempuan dari Cui Yan, seorang politikus yang mengabdi kepada Yuan Shao dan kemudian Cao Cao, seorang raja perang yang menjadi wali penguasa untuk Kaisar Xian dari Han. Ia menikahi Cao Zhi, seorang penyair terkemuka yang saat itu sedang bersaing melawan kakaknya, Cao Pi dalam posisi putra mahkota.[3] Cao Cao pernah memanggil pamannya, Cui Yan untuk bertanya mengenai siapa yang cocok menjadi ahli warisnya. Cao Cao awalnya berharap bahwa Cui Yan akan mendukung Cao Zhi, mengingat bahwa Cui Yan merupakan paman dari Nyonya Cui dan ia pasti akan mendukung Cao Zhi atas nama Nyonya Cui. Namun Cui Yan mengejutkan Cao Cao dengan menyebut bahwa Cao Pi lebih layak menggantikan Cao Cao karena ia merupakan putra tertua yang masih hidup.[b][4]
Pada tahun 216, di sebuah insiden yang dianggap sebagai ketidakadilan yang mengerikan, Cui Yan dituduh telah memfitnah Cao Cao di sebuah surat dan berakhir dirinya dipecat, dijebloskan ke penjara, dan diminta untuk bunuh diri.[5] Berdasarkan Fuzi, Cui Yan dijebak oleh Ding Yi, seorang pendukung Cao Zhi.[6]
Pada saat itu juga, Cao Cao sudah kesal dengan kelakuan buruk Cao Zhi, seperti dalam sebuah insiden dimana Cao Zhi sangat mabuk dan berjalan ke sebuah gerbang yang hanya dikhususkan kepada kaisar saja. Saat yang sama, Yang Xiu, pendukung Cao Zhi, dituduh telah menyinggung Cao Zhang.[7] Cao Cao yang mendengar insiden tersebut kemudian menghukum Yang Xiu mati saat kampanye militer Hanzhong melawan Liu Bei.[8]
Shishuo Xinyu mencatat bahwa Cao Cao pernah menangkap basah Nyonya Cui yang mengenakan pakaian yang terlalu ekstravagan seharusnya dipakai oleh seorang wanita dengan status yang lebih tinggi, membuatnya melanggar peraturan dan sebagai hukuman Cao Cao memerintahnya untuk bunuh diri. Menurut sumber ini, Nyonya Cui berbusana seperti seorang istri putra mahkota yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap hasil keputusan Cao Cao untuk menetapkan Cao Pi sebagai penerusnya. Jadi Nyonya Cui harus terpaksa mati agar dapat mematikan oposisi dengan dalih bahwa Nyonya Cui telah menyinggung Zhen Ji. Peraturan yang dilanggar Nyonya Cui adalah salah satu undang-undang yang dirancang untuk melawan korupsi politik, karena banyak pejabat berbusana bahkan lebih tinggi daripada jabatan mereka supaya dapat jatah jabatan tinggi.[1]
Saat yang sama, kematian Nyonya Cui merupakan sebuah upaya untuk menekan Cao Zhi, secara relatif melemahkan kekuatan dan dukungan politiknya. Tidak diketahui apakah bunuh diri Nyonya Cui terjadi tidak lama setelah kematian pamannya. Cao Zhi yang kemudian menjadi seorang penyair tersohor di Tiongkok menulis beberapa puisi yang berisi perkabungan untuk istrinya. Alasan kematian Yang Xiu dan Nyonya Cui kerap karena kedekatan dengan Cao Zhi; walaupun untuk alasan kematian Yang Xiu juga kerap dijawab karena Yang Xiu terlalu tahu isi pikiran Cao Cao dan ambisinya.[9]
Pada 220, Cao Cao meninggal dunia dan perselisihan warisan terjadi antara Cao Pi, Cao Zhi dan Cao Zhang (putra lain Cao Cao dan Janda Permaisuri Bian). Pada akhirnya Cao Pi menjadi penerus Cao Cao, seperti yang direkomendasikan oleh Cui Yan sebelumnya. Cao Zhi dilarang masuk ke politik dan Cao Zhang meninggal, kemungkinan diracuni oleh Cao Pi.[10]
Cao Zhi memiliki dua orang putra, Cao Zhi dan Cao Miao dan dua orang putri, Cao Jinhu dan Cao Xingnü. Tidak diketahui apakah tiga anak Cao Zhi merupakan anak Nyonya Cui atau bukan. Menurut biografi Cao Zhi di Kitab Jin, ibu Cao Zhi berasal dari seorang selir.[11]
Cuishi wore embroidered clothes to a ceremony and was seen by Cao Cao. Cao Cao later forced her to commit suicide because she violated a rule with her dress code.