Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiNyonya Cui (Cao Wei)
Artikel Wikipedia

Nyonya Cui (Cao Wei)

Nyonya Cui (崔氏) adalah seorang bangsawan Tiongkok dari keluarga Cui dari Qinghe pada masa Akhir Dinasti Han. Ia merupakan istri dari Cao Zhi, putra dari Cao Cao dan pangeran Cao Wei selama Zaman Tiga Negara. Ia paling dikenal dalam sebuah insiden yang berujung terhadap kematiannya: setelah sengketa putra mahkota antara Cao Zhi dan kakaknya, Cao Pi telah usai, Nyonya Cui memakai sebuah busana yang hanya diperbolehkan untuk istri putra mahkota di sebuah upacara dan ia ketahuan oleh Cao Cao. Cao Cao yang sangat geram memaksanya membunuh dirinya sendiri sebagai hukuman melanggar kode busana.

Istri Cao Zhi
Diperbarui 5 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nyonya Cui
崔氏
PasanganCao Zhi
WangsaKeluarga Cui dari Qinghe
AyahKakak Cui Yan

Nyonya Cui (崔氏) adalah seorang bangsawan Tiongkok dari keluarga Cui dari Qinghe pada masa Akhir Dinasti Han. Ia merupakan istri dari Cao Zhi, putra dari Cao Cao dan pangeran Cao Wei selama Zaman Tiga Negara. Ia paling dikenal dalam sebuah insiden yang berujung terhadap kematiannya: setelah sengketa putra mahkota antara Cao Zhi dan kakaknya, Cao Pi telah usai, Nyonya Cui memakai sebuah busana yang hanya diperbolehkan untuk istri putra mahkota[a] di sebuah upacara dan ia ketahuan oleh Cao Cao. Cao Cao yang sangat geram memaksanya membunuh dirinya sendiri sebagai hukuman melanggar kode busana.[1]

Biografi

Nyonya Cui terlahir di keluarga Cui di Komanderi Qinghe.[2] Keluarga Cui merupakan keluarga terkemuka yang mengabdi di pemerintahan pusat Tiongkok dengan anggota mereka kerap menduduki jabatan tinggi selain menjadi cedekiawan Konghucu. Ia merupakan keponakan perempuan dari Cui Yan, seorang politikus yang mengabdi kepada Yuan Shao dan kemudian Cao Cao, seorang raja perang yang menjadi wali penguasa untuk Kaisar Xian dari Han. Ia menikahi Cao Zhi, seorang penyair terkemuka yang saat itu sedang bersaing melawan kakaknya, Cao Pi dalam posisi putra mahkota.[3] Cao Cao pernah memanggil pamannya, Cui Yan untuk bertanya mengenai siapa yang cocok menjadi ahli warisnya. Cao Cao awalnya berharap bahwa Cui Yan akan mendukung Cao Zhi, mengingat bahwa Cui Yan merupakan paman dari Nyonya Cui dan ia pasti akan mendukung Cao Zhi atas nama Nyonya Cui. Namun Cui Yan mengejutkan Cao Cao dengan menyebut bahwa Cao Pi lebih layak menggantikan Cao Cao karena ia merupakan putra tertua yang masih hidup.[b][4]

Pada tahun 216, di sebuah insiden yang dianggap sebagai ketidakadilan yang mengerikan, Cui Yan dituduh telah memfitnah Cao Cao di sebuah surat dan berakhir dirinya dipecat, dijebloskan ke penjara, dan diminta untuk bunuh diri.[5] Berdasarkan Fuzi, Cui Yan dijebak oleh Ding Yi, seorang pendukung Cao Zhi.[6]

Pada saat itu juga, Cao Cao sudah kesal dengan kelakuan buruk Cao Zhi, seperti dalam sebuah insiden dimana Cao Zhi sangat mabuk dan berjalan ke sebuah gerbang yang hanya dikhususkan kepada kaisar saja. Saat yang sama, Yang Xiu, pendukung Cao Zhi, dituduh telah menyinggung Cao Zhang.[7] Cao Cao yang mendengar insiden tersebut kemudian menghukum Yang Xiu mati saat kampanye militer Hanzhong melawan Liu Bei.[8]

Shishuo Xinyu mencatat bahwa Cao Cao pernah menangkap basah Nyonya Cui yang mengenakan pakaian yang terlalu ekstravagan seharusnya dipakai oleh seorang wanita dengan status yang lebih tinggi, membuatnya melanggar peraturan dan sebagai hukuman Cao Cao memerintahnya untuk bunuh diri. Menurut sumber ini, Nyonya Cui berbusana seperti seorang istri putra mahkota yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap hasil keputusan Cao Cao untuk menetapkan Cao Pi sebagai penerusnya. Jadi Nyonya Cui harus terpaksa mati agar dapat mematikan oposisi dengan dalih bahwa Nyonya Cui telah menyinggung Zhen Ji. Peraturan yang dilanggar Nyonya Cui adalah salah satu undang-undang yang dirancang untuk melawan korupsi politik, karena banyak pejabat berbusana bahkan lebih tinggi daripada jabatan mereka supaya dapat jatah jabatan tinggi.[1]

Saat yang sama, kematian Nyonya Cui merupakan sebuah upaya untuk menekan Cao Zhi, secara relatif melemahkan kekuatan dan dukungan politiknya. Tidak diketahui apakah bunuh diri Nyonya Cui terjadi tidak lama setelah kematian pamannya. Cao Zhi yang kemudian menjadi seorang penyair tersohor di Tiongkok menulis beberapa puisi yang berisi perkabungan untuk istrinya. Alasan kematian Yang Xiu dan Nyonya Cui kerap karena kedekatan dengan Cao Zhi; walaupun untuk alasan kematian Yang Xiu juga kerap dijawab karena Yang Xiu terlalu tahu isi pikiran Cao Cao dan ambisinya.[9]

Pada 220, Cao Cao meninggal dunia dan perselisihan warisan terjadi antara Cao Pi, Cao Zhi dan Cao Zhang (putra lain Cao Cao dan Janda Permaisuri Bian). Pada akhirnya Cao Pi menjadi penerus Cao Cao, seperti yang direkomendasikan oleh Cui Yan sebelumnya. Cao Zhi dilarang masuk ke politik dan Cao Zhang meninggal, kemungkinan diracuni oleh Cao Pi.[10]

Keluarga

Cao Zhi memiliki dua orang putra, Cao Zhi dan Cao Miao dan dua orang putri, Cao Jinhu dan Cao Xingnü. Tidak diketahui apakah tiga anak Cao Zhi merupakan anak Nyonya Cui atau bukan. Menurut biografi Cao Zhi di Kitab Jin, ibu Cao Zhi berasal dari seorang selir.[11]

Lihat pula

  • Daftar tokoh Kisah Tiga Negara

Catatan kaki

  1. ↑ Karena Cao Cao sudah menetapkan bahwa Cao Pi adalah penggantinya, istri yang dimaksud disini adalah Zhen Ji.
  2. ↑ Cao Pi merupakan putra tertua Cao Cao setelah meninggalnya Cao Ang di Pertempuran Wancheng.

Referensi

  1. 1 2 "Sanguozhi, vol 12". 世說新語 [Shishuo Xinyu]. Cuishi wore embroidered clothes to a ceremony and was seen by Cao Cao. Cao Cao later forced her to commit suicide because she violated a rule with her dress code.
  2. ↑ Nienhauser, William H (2010). Tang Dynasty Tales: A Guided Reader. World Scientific. hlm. 78. ISBN 9789814287289.
  3. ↑ (植,琰之兄女壻也。) Sanguozhi vol. 12.
  4. ↑ Luo, Guanzhong (1994). San Guo Yan Yi. Diterjemahkan oleh Roberts, Moss. University of California Press. hlm. 254. ISBN 978-0-520-22478-0.
  5. ↑ (琰本意譏論者好譴呵而不尋情理也。有白琰此書傲世怨謗者,太祖怒曰:「諺言『生女耳』,『耳』非佳語。『會當有變時』,意指不遜。」於是罰琰為徒隷,使人視之,辭色不撓。太祖令曰:「琰雖見刑,而通賔客,門若市人,對賔客虬鬚直視,若有所瞋。」遂賜琰死。) Sanguozhi vol. 12.
  6. ↑ (武皇帝,至明也。崔琰、徐奕,一時清賢,皆以忠信顯於魏朝;丁儀間之,徐奕失位而崔琰被誅。) Fuzi annotation in Sanguozhi, vol.12
  7. ↑ (人有白修与临淄侯植饮醉共载,从司马门出,谤讪鄢陵侯彰,太祖闻之大怒,故遂收杀之。时年四十五矣。) Xu Hanshu annotation in Houhanshu, vol.54.
  8. ↑ (《九州春秋》曰:时王欲还,出令曰“鸡肋”,官属不知所谓。主簿杨脩便自严装,人惊问脩:“何以知之?”脩曰:“夫鸡肋,弃之如可惜,食之无所得,以比汉中,知王欲还也。”) Jiuzhou Chunqiu annotation in Sanguozhi, vol.01
  9. ↑ Yi Zhongtian. Analysis of the Three Kingdoms. Vol. 2. (Vietnamese translation). Publisher of People's Public Security, 2010. Chapter 29: The truth of the notorious cases.
  10. ↑ "Cao Pi, Cao Zhang and Cao Zhi".
  11. ↑ Jin Shu, vol.50

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Biografi
  2. Keluarga
  3. Lihat pula
  4. Catatan kaki
  5. Referensi

Artikel Terkait

Cao Zhi

Pangeran dan penyair Cao Wei (192-232)

Cao Cao

Panglima perang Tiongkok (155-220)

Cao Pi

Kaisar Cao Wei (187-226)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026