Nyimas Kawunganten atau Nyai Ratu Kawunganten merupakan istri kedua Sunan Gunung Jati yang berasal dari keluarga kerajaan Banten, dari perkawinan keduanya kelak melahirkan Maulana Hasanuddin yang kemudian dinobatkan menjadi Sultan Banten pertama. Kisah cinta ini tercatat dalam beberapa naskah sejarah Cirebon, salah satunya dalam Naskah Mertasinga Pupuh XVIII.11-16.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Nyimas Kawunganten atau Nyai Ratu Kawunganten merupakan istri kedua Sunan Gunung Jati yang berasal dari keluarga kerajaan Banten, dari perkawinan keduanya kelak melahirkan Maulana Hasanuddin yang kemudian dinobatkan menjadi Sultan Banten pertama. Kisah cinta ini tercatat dalam beberapa naskah sejarah Cirebon, salah satunya dalam Naskah Mertasinga Pupuh XVIII.11-16.[1]
Diceritakan bahwa hubungan mereka dimulai ketika Ratu Krawang, seorang bangsawan yang datang ke Banten untuk masuk Islam, memperkenalkan Nyimas Kawunganten kepada Sunan Gunung Jati. Nyimas Kawunganten, yang saat itu berada dalam masa kecantikannya, berhasil menarik perhatian sang Sunan.Dalam pertemuan tersebut, Sunan Gunung Jati menanyakan asal-usul Nyimas Kawunganten kepada Ratu Krawang. Ratu Krawang menjelaskan bahwa Nyimas Kawunganten adalah putri dari Raja Cangkuang, keturunan Pakuan Pajajaran. Sunan Gunung Jati kemudian menyampaikan niatnya untuk meminang Nyimas Kawunganten kepada ayahnya, Permadi Puti. Dengan izin dan restu dari keluarga, perkawinan tersebut pun berlangsung. Perkawinan Sunan Gunung Jati dan Nyimas Kawunganten melahirkan dua anak, yakni Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingkin. Pangeran Sebakingkin inilah yang kelak dikenal sebagai Sultan Hasanudin, Sultan Banten pertama yang berjasa dalam menaklukkan Pajajaran dengan bantuan putranya, Maulana Yusuf.[1]
Situs keramat Nyimas Kawunganten Subang terletak di Desa Kawunganten, Kecamatan Cikaum, Kabupaten Subang, namanya pula yang menjadi nama Desa Kawunganten. Situs ini yang dipercayai oleh para peziarah bahwa ini merupakan makam asli dari salah satu istri Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa tempat keramat ini hanyalah petilasan, tempat persinggahan Nyimas Kawunganten saat melakukan perjalanan antara Cirebon dan Banten. Selain dipercaya sebagai petilasan seorang tokoh yang memiliki peranan besar dalam sejarah Kerajaan Sunda, tak dipungkiri keberadaannya telah menjadi tempat yang dikeramatkan dalam kepercayaan masyarakat. Meski begitu, situs ini dalam kedudukannya dalam pengakuan cagar budaya belum dikaji secara akademis, sehingga masih diduga sebagai potensi situs cagar budaya oleh Bidang Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang.[2]
Selain di Kabupaten Subang, di Desa Kedokanbunder, Kecamatan Kedokanbunder, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Terdepat situs Nyimas Ratu Ayu Kawunganten. Beliau diduga merupakan sosok yang membuka hutan Lebak Sungsang saat itu, yang kini menjadi wilayah Kedokanbunder. Nyimas Kawunganten diduga dimakamkan di Desa Kedokanbunder. Situs makam tersebut tidak pernah sepi dan selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari dalam daerah maupun luar Kabupaten Indramayu. Selain area makam, di tempat ini juga terdapat situs Sumur Gede peninggalan Nyimas Kawunganten. Dalam sejarahnya, sumur tersebut merupakan penyelamat bagi warga untuk kebutuhan air minum, mandi, berwudhu, bercocok tanam maupun kebutuhan lainnya ketika musim kering tiba.[3]