Nyimas Babadan atau Nyi/Nyai Babadan adalah putri dari Maulana Huda atau lebih dikenal Ki Gedeng Babadan dan salah satu istri dari Syarif Hidayatullah raja dari Kasultanan Cirebon sekaligus menjadi salah satu wali sanga. Merujuk kepada Carita Purwaka Caruban Nagari, menyebutkan bahwa Sunan Gunung Jati baru berkeluarga setelah tiba di Cirebon. Perempuan pertama yang menjadi istri Sunan Gunung Jati bernama Nyimas Babadan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Nyimas Babadan atau Nyi/Nyai Babadan adalah putri dari Maulana Huda atau lebih dikenal Ki Gedeng Babadan (seseorang yang membangun pedukuhan Babadan dan menyebarkan Islam diwilayah Banten, menurut Naskah Kuningan Ki Gedeng Babadan disebut sebagai anak dari Sykeh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati[1]) dan salah satu istri dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) raja dari Kasultanan Cirebon sekaligus menjadi salah satu wali sanga. Merujuk kepada Carita Purwaka Caruban Nagari, menyebutkan bahwa Sunan Gunung Jati baru berkeluarga setelah tiba di Cirebon. Perempuan pertama yang menjadi istri Sunan Gunung Jati bernama Nyimas Babadan.[2]
Mengutip dari Naskah Mertasinga, disebutkan bahwa perjumpaan Sunan Gunung Jati dengan Nyimas Babadan berawal dari perjalanan Sunan Gunung Jati ke arah barat Cirebon. Disebutkan, di daerah Babadan (sekarang Babadan Tenajar, Indramayu, versi lain menyebutkan Babadan di daerah Banten Girang) dan aktif mengajarkan Islam di daerah Babadan tersebut.[3][2] Suatu ketika Sunan Gunung Jati melewati tanaman cempaka putih yang layu, berpenyakit, dan kering. Tanaman itu ternyata milik Ki Gedeng Babadan penguasa di wilayah itu. Ki Gedeng Babadan sudah pasrah dengan tanamannya yang akan mati itu. Namun demikian Ki Gedeng Babadan sempat berujar: ”Siapa yang bisa menolong tanamanku yang kering ini, dan ia bisa membuatnya menjadi sehat kembali, menjadi segar seperti semula, maka anakku yang cantik akan kuberikan kepadanya dan tidak kepalang, ia pun akan kujungjung dan kuangkat menjadi jungjunganku”. Selang beberapa waktu, tanaman cempaka putih itu tumbuh segar kembali. Orang yang berhasil menyembuhkan tanaman cempaka putih tersebut adalah Sunan Gunung Jati. Singkat cerita, Ki Gedeng Babadan memenuhi ucapannya dengan menikahkan putrinya Nyimas Babadan dengan Sunan Gunung Jati. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, pernikahan keduanya dilangsungkan pada 1471 M.[2]
Namun demikian, usia perkawinan mereka tidak berlangsung lama. Nyimas Babadan wafat pada 1477 M. Menurut Babad Tanah Sunda dan Naskah Mertasinga, selama perkawinannya mereka tidak dikaruniai keturunan.[2] Setelah Nyimas Babadan meninggal, Syarif Hidayatullah kemudian menikah lagi dengan Nyimas Pakungwati (puteri Raden Walangsungsang) dan Nyai Lara Baghdad (puteri sahabat Syekh Datuk Kahfi).[3]