Nyi Mas Gandasari atau Nyi Ratu Mas Ayu Gandasari adalah seorang putri Sayyid Sholeh/Mbah Datuk Sholeh atau bernama sebenarnya Sultan Shalahuddin dari Kesultanan Samudera Pasai, Aceh. Menurut sejarah yang beredar, Nyi Mas Gandasari merupakan salah seorang perempuan yang memiliki kehebatan di atas manusia biasa. Ia berasal dari daerah Aceh yang ditugaskan untuk menyebarkan ajaran agama Islam di wilayah Cirebon. Ada beberapa versi tentang tokoh Nyi Mas Gandasari ini. Salah satunya menyebutkan bahwa Nyi Mas Gandasari merupakan keponakan Fatahillah, dan puteri Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghafur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Nyi Mas Gandasari atau Nyi Ratu Mas Ayu Gandasari adalah seorang putri Sayyid Sholeh/Mbah Datuk Sholeh (dalam Babad Cirebon) atau bernama sebenarnya Sultan Shalahuddin (berkuasa 1438 - 1462 M) dari Kesultanan Samudera Pasai, Aceh (Fekri Juliansyah: Napak Tilas Para Puyang: 2023). Menurut sejarah yang beredar, Nyi Mas Gandasari merupakan salah seorang perempuan yang memiliki kehebatan di atas manusia biasa. Ia berasal dari daerah Aceh yang ditugaskan untuk menyebarkan ajaran agama Islam di wilayah Cirebon.[1] Ada beberapa versi tentang tokoh Nyi Mas Gandasari ini. Salah satunya menyebutkan bahwa Nyi Mas Gandasari merupakan keponakan Fatahillah, dan puteri Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghafur.[2]
Nyi Mas Gandasari ikut ke Cirebon bersama Mbah Kuwu Cirebon alias Pangeran Cakrabuana semasa pulang dari Mekkah.[3] Nyi Mas Gandasari diangkat menjadi anak hingga dewasa, oleh Mbah Kuwu Cirebon. Kemudian Nyi Mas Gandasari mengikuti jejak Mbah Kuwu Cirebon menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Cirebon.[1] Nyi Mas Gandasari selama hidupnya pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Cirebon, ia merupakan satu-satunya panglima perang wanita dalam sejarah berdirinya Kesultanan Cirebon.[4]
Dimasa lalu, tokoh ulama dan pendatang dari Timur Tengah dianjurkan untuk menyesuaikan nama panggilannya, begitu pula Nyi Mas Gandasari yang memiliki nama Siti Maemunah atau Nyi Mutmainah.[5] Menurut legenda yang berkembang, Gandasari merupakan julukan, karena Nyi Mas Gandasari dikisahkan sebagai seorang wanita yang bersih, dan suka sekali menggunakan wawangian, sehingga harum tubuhnya itu semerbak berlipat-lipat (ganda), serta sari yang berarti mewangi.[4] Nyi Mas Gandasari dikenal juga sebagai Nyi Ageng Panguragan. Panguragan sendiri merupakan nama Desa/padukuhan dimana beliau tinggal. Panguran juga merupakan wilayah kekuasaannya yang dihadiahkan oleh Sultan Cirebon atas jasa-jasanya.[4]
Nyi Mas Gandasari memiliki tugas untuk memobilisasi, menyusun, menggerakkan Wira Pertiwi (prajurit perempuan) apabila negara membutuhkan.[5] Dalam mengislamkan Kerajaan Talaga (sebuah kerajaan kecil di sebelah barat daya Cirebon) saat berada di bawah kekuasaan Prabu Pucuk Umun, Nyi Mas Gandasari tampil sebagai panglima. Hal ini untuk menandingi senapati Kerajaan Talaga yang juga seorang wanita, yakni Nyi Tanjung Rarangan puteri dari Prabu Pucuk Umun.[3]
Sebagai bekas pemerintahan Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Rajagaluh yang pada saat itu dipimpin oleh raja Prabu Cakraningrat menuntut agar Cirebon tunduk dan mengirim upeti. Arya Kamuning (anak angkat Sunan Gunung Jati dari Ki Lurah Agung) dipercaya sebagai panglima Cirebon untuk menghadapi Aria Kiban Senapati Rajagaluh. Meskipun banyak pasukan Cirebon yang gugur, akan tetapi Rajagaluh akhirnya dapat juga ditundukkan dengan tewasnya Aria Kiban dan Prabu Cakraningrat sendiri. Dalam penaklukkan Rajagaluh itu selain Aria Kemuning dan Nyi Mas Gandasari, ikut serta juga seorang pemuda pendatang dari Bagdad yaitu Raden Magelung Sakti.[3]
Nyi Mas Gandasari ini merupakan murid dari Sunan Gunung Jati yang memiliki wajah yang cantik serta mewarisi ilmu agama dan kesaktian dari gurunya. Akan tetapi ia memilih hidupnya sebagai perawan sunti. Kebiasaan pada masa itu, seorang wanita yang memiliki ilmu dan kesaktian yang tinggi, maka menginginkan calon suami yang lebih daripada dirinya. Salah satu cara yang ditempuh untuk itu adalah dengan mengadakan sayembara. Bagi yang mampu mengalahkannya, imbalannya adalah menjadi suaminya. Akan tetapi tidak ada satupun para pembesar Cirebon yang mampu mengalahkan Nyi Mas Gandasari.[6]
Menurut cerita, sayembara tersebut tanpa sepengetahuan Sunan Gunung Jati. Mendengar sayembara yang diadakan Nyi Mas Gandasari, seluruh pendekar dan penguasa yang ada di wilayah Kesultanan Cirebon hadir untuk ikut ambil bagian. Mereka beradu kekuatan dan kesaktian untuk bisa mengalahkan Nyi Mas Gandasari. Namun tidak ada satu pun yang mampu menaklukkannya.[7]
Dari tempat yang jauh Sunan Gunung Jati melihat sayembara yang diadakan murid perempuannya itu. Pada saat yang bersamaan, muncul seorang pria yang memiliki rambut yang panjang hingga mencapai tanah. Pria tersebut adalah Syekh Magelung Sakti yang tanpa sengaja melewati arena sayembara tersebut. Dirinya sedang mencari Sunan Gunung Jati untuk dijadikan guru dan memotong rambutnya. Karena menurutnya, hanya seseorang yang bernama Sunan Gunung Jati yang mampu memotong rambut saktinya itu. Ketika Syekh Magelung Sakti sedang melihat sayembara yang sedang berlangsung, tanpa disadari rambut panjangnya dipotong oleh Sunan Gunung Jati dengan kedua jarinya. Syekh Magelung Sakti kaget melihat rambutnya sudah berserakan di tanah, sedangkan orang yang sebelumnya ada di samping itu, sudah tidak ada.[8]
Melihat kesaktian dan rupa jelita Nyi Mas Gandasari, Syekh Magelung Sakti maju untuk ikut menjajal ilmu Nyi Mas Gandasari. Namun rupanya kesaktian yang dimiliki Syekh Magelung Sakti lebih tinggi dari Nyi Mas Gandasari. Nyi Mas Gandasari akhirnya mengaku kalah, tetapi tidak mau menjadi istri Syekh Magelung Sakti sesuai dengan imbalan sayembara. Nyi Mas Gandasari menyebut Syekh Magelung Sakti bukan lawan yang diundang, oleh karena itu hadiah sayembara dianggap batal. Nyi Mas Gandasari hingga akhir hayatnya memilih menjadi perawan sunti, atau hidup tanpa suami.[9]
Makam Nyi Mas Gandasari menjadi salah satu destinasi religi penting di Cirebon. Makam ini berlokasi di Desa Panguragan, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon. Dulu, area ini dikenal sebagai Padepokan Mangkuragan, tempat Nyi Mas Gandasari memimpin sekaligus mengajarkan ilmu agama dan kehidupan spiritual kepada para santri dan pengikutnya.[10]
3. babad tanah Cirebon versih Klayan