Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Nyadâr

Nyadâr adalah upacara adat yang dilakukan oleh para petani garam di desa Pinggirpapas di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Tradisi ini dilakukan di sekitar komplek makam leluhur — disebut juga asta, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama bujuk gubang. Dalam setahun, nyadâr dilakukan tiga kali berturut-turut dengan rentang waktu satu bulan berselang. Penyelenggaraan yang ketiga biasa mereka sebut dengan nyadâr bengko. Lokasi upacara adat tersebut berada di dusun Kolla, desa Kebundadap Barat yang terletak 13 km dari Kota Sumenep, ibu kota kabupaten.

Wikipedia article
Diperbarui 1 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nyadâr
Adat Nyadar Pertama, di Buju Gubang, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep

Nyadâr adalah upacara adat yang dilakukan oleh para petani garam di desa Pinggirpapas di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Tradisi ini dilakukan di sekitar komplek makam leluhur — disebut juga asta, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama bujuk gubang. Dalam setahun, nyadâr dilakukan tiga kali berturut-turut dengan rentang waktu satu bulan berselang. Penyelenggaraan yang ketiga biasa mereka sebut dengan nyadâr bengko.[butuh rujukan] Lokasi upacara adat tersebut berada di dusun Kolla, desa Kebundadap Barat yang terletak 13 km dari Kota Sumenep, ibu kota kabupaten.

Waktu

Penentuan waktu pelaksanaan Nyadar berdasar musyawarah para pemuka adat, yang masih merupakan keturunan dari leluhur Anggasuta. Jika dihubungkan dengan kalender Masehi, biasanya dilaksanakan sekitar bulan Juli, Agustus, dan September dan hari pelaksanaan selalu Jumat dan Sabtu.[butuh rujukan]

Ada beberapa syarat sehubungan dengan pelaksanaan Nyadar jika acara tersebut bertepatan di bulan Rabiul Awal/Maulid.Yang pertama, pelaksanaan upacara tidak diperkenankan diadakan sebelum tanggal 12 Maulid. Kedua, selamatan yang tidak boleh melebihi besarnya selamatan yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan syarat yang lain adalah para peserta upacara Nyadar terlebih dahulu diwajibkan untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.[butuh rujukan]

Dari syarat tersebut selain mengindikasikan bahwa Nyadar tumbuh dan berkembang setelah Islam masuk. Selain itu juga mengimplikasikan bahwa penghormatan terhadap leluhur mereka tidak boleh melebihi penghormatan terhadap Rasulullah.[butuh rujukan]

Tempat pelaksanaan

Nyadar pertama dan kedua dilakukan di Buju Gubang (makam Syeh Anggasuto, Syeh Kabasa, Syeh Dukun, dan Syeh Bangsa) yang ada di Desa Kebundadap Barat, pada Nyadar ketiga dilakukan di desa Pinggir Papas. Konon hal ini juga berangkat dari nadar Syeh Dukun, yang juga ingin melakukan syukur tetapi hanya di lingkungan rumahnya (dalam Bahasa Madura disebut bengko) atau di antara keluarganya sendiri. Namun ada yang khas dari pelekasanaan Nyadar ketiga ini.[butuh rujukan]

Di Nyadar ketiga ini, pada malam harinya biasanya diikuti dengan kesenian mocopat/mamaca pada pembacaan lontar. Dimana tulisannya masih menggunakan tulisan Jawa kuno dengan media daun lontar. Jalannya cerita dalam mocopat tersebut, yang pertama adalah Jatiswara. Cerita Jatiswara ini mengisahkan pengembaraan Jatiswara mencari saudaranya bernama Ki Sajati. Kemudian yang kedua ceritanya Sampurnaning Sembah. Yang kedua ini lebih mengisahkan jalannya bakti manusia kepada sang Pencipta, atau hal Syari’at Islam. Lontar Jatiswara adalah salah satu lontar bergenre santri lelana, sejenis dengan serat Centini. Lontar Jatiswara juga dibaca tiap 3 tahun sekali pada perayaan Mangayu-ayu di Desa Sembahlun Bumbung di Kaki Gunung Rinjani. Tampaknya ada hubungan antara orang Pinggirpapas dan orang Sasak. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut.[butuh rujukan]

Sejarah awal mula Nyadar

Mbah Anggasuto adalah salah satu tokoh masyarakat yang menyelamatkan prajurit kerjaan Bali yang terdesak ketika kalah perang melawan Pasukan Karaton Sumenep. Tidak jelas kerajaan Bali mana yang berperang dengan Sumenep, tetapi dipercaya kejadian ini berlangsung oafa pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Timur di Sumenep. Asal Mbah Anggasuto juga kontroversial, ada yang mengisahkan beliai adalah Ulama pendatang dari Banten, beliai adalah Brawijaya V yang menyamar, bahkan ada yang menganggap beliau adalah panhlima pasukan Bali. Dikisahkan, pada suatu malam melakukan Istikharah. Memohon kepada Tuhan yang maha Esa, jika dia memang ditakdirkan hidup di daerah tersebut. Apa yang bisa dijadikannya sebagai sumber hidup atau mata pencaharian baginya. Sebab di daerah tersebut adalah daerah pesisir pantai. Yang bisa dibayangkan bagaimana kondisinya. Konon, Tuhan mengabulkan dan memberinya petunjuk. Pangeran Anggasuto semacam diminta untuk berjalan menuju pesisir pantai. Pada suatu waktu, Pangeran Anggasuto berjalan ke arah pantai. Karena tanah di pantai itu begitu lembek, hingga membentuk tapak kakinya. Selang waktu berjalan, bekas tapak kaki tersebut terisi oleh air laut.[butuh rujukan]

Beberapa hari kemudian, Anggasuto kembali berjalan ke arah pantai. Dia memperhatikan sesuatu di bekas tapak kakinya itu. Dijumpainya bekas tapak kaki itu dipenuhi oleh benda yang berwarna putih. Anggasuto sempat bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan benda putih tersebut? Adakah benda putih itu adalah madduna sagara (Madunya Samudra, red)? Akhir kata, benda itu kemudian oleh Pangeran Anggasuto disebut dengan Buja, yang merupakan istilah bahasa Madura untuk garam. Maka, hingga sekarang benda itu dikenal dengan nama buja atau garam. Kabarnya kisah itu sudah tersiar ke segala penjuru daerah.[butuh rujukan]

Seiring perputaran zaman, temuannya itu ternyata memberi manfaat bagi seluruh manusia di penjuru Nusantara. Dimana pola mata pencaharian sebagai petani garam kemudian juga dilakukan oleh beberapa masyarakat di daerah lain seperti di Bali dan Sumatra. Dan waktu terus berjalan, orang-orang di daerah Pinggirpapas masa itu, dengan bimbingan Anggasuto terus mempelajari bagaimana memetak tanah untuk ladang garam. Selain itu juga cara memindah-mindah air laut.[butuh rujukan]

Dari air kesatu hingga air kedua puluh lima yang baru menjadi garam. Yang dimaksud disini adalah kadar air. Kemudian daerah tersebut disebut dengan padaran atau sekarang dikenal dengan talangan. Maka jadilah daerah tersebut dengan hamparan ladang garam, dan mayoritas masyarakatnya mempunyai mata pencaharian sebagai petani garam.[butuh rujukan]

Konon setelah garam-garam itu menunjukkan hasil, Anggasuto sebagai manusia yang senantiasa tidak lupa pada sang pemberi rejeki. Suatu ketika dia pun bernadar, setiap jatuh pada bulan dan tanggal panas matahari (masuk musim kemarau) akan melakukan Nyadar, semacam bakti syukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. Maka jadilah dilakukan upacara Nyadar pertama.[butuh rujukan]

Dalam perjalanan waktu adik dari Anggasuto, Kabasa, juga melakukan nadar yang sama. Maka jadilah upacara Nyadar yang kedua. Yang waktunya satu bulan berselang setelah Nyadar pertama dilakukan. Demikian halnya pada pelaksanaan Nyadar ketiga, yang merupakan nadar dari Dukun. Berdasar referensi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep menyebutkan Syeh Dukun ini adalah pembantu Anggasuto yang berasal dari Banten.[1]

Referensi

  1. ↑ http://lontarmadura.com/tradisi-nyadar-nadar-leluhur-dan-madu-samudra-2/

Bibliografi

  • Aneka Ragam Kesenian Sumenep, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep 2004
  • Panduan Wisata Kabupaten Sumenep 2011, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kab. Sumenep
  • l
  • b
  • s
Topik Sumenep
Bupati: Achmad Fauzi — Wakil Bupati: Dewi Khalifah
Politik & pemerintahan
  • Daftar Bupati Sumenep
  • Daftar Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep
  • DPRD Sumenep
Lambang Kabupaten Sumenep
Sejarah
  • Kadipaten Sumenep
  • Kabupaten Sumenep
  • Arti nama
Lokasi terkenal
  • Keraton Sumenep
  • Masjid Jamik Sumenep
  • Asta Tinggi Sumenep
  • Tanean Lanjhang
  • Pantai Lombang
  • Pantai Slopeng
  • Benteng VOC Kalimo'ok
  • Kepulauan Kangean
  • Kepulauan Masalembu
Transportasi
  • Bandar Udara Trunojoyo
  • Pelabuhan Batu Guluk
  • Pelabuhan Kalianget
  • Terminal Arya Wiraraja
Seni & budaya
  • Karapan Sapi
  • Tari Moang Sangkal
  • Tari Gambu
  • Saronen
  • Tan-pangantanan
  • Ojhung
  • Upacara Adat Nyadar
  • Upacara Adat Penganten Ngekak Sangger
  • Sape Sonok
  • Tong-tong
  • Mamapar Gigi
  • Alalabang
Pendidikan
  • Universitas Wiraraja
  • Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien
  • Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah
  • Daftar sekolah di Sumenep
  • Daftar Pondok Pesantren di Sumenep
Tempat ibadah
  • Masjid Jamik Sumenep
  • Tempat Ibadah Tri Dharma Pao Sian Lin Kong
  • Gereja Bethel Indonesia
  • Gereja Pantekosta di Indonesia
  • GPIB Pancaran Kasih
  • Gereja Pantekosta Serikat Indonesia
  • Gereja Sidang Persekutuan Injili Indonesia
  • Gereja Katolik Maria Gunung Karmel
Media
  • Madura Channel
  • TV SIS
  • S3TV
  • stasiun radio
Kecamatan
  • Ambunten
  • Arjasa
  • Batang Batang
  • Batuan
  • Batuputih
  • Bluto
  • Dasuk
  • Dungkek
  • Ganding
  • Gapura
  • Gayam
  • Giligenteng
  • Guluk-Guluk
  • Kalianget
  • Kangayan
  • Kota Sumenep
  • Lenteng
  • Manding
  • Masalembo
  • Nonggunong
  • Pasongsongan
  • Pragaan
  • Raas
  • Rubaru
  • Sapeken
  • Saronggi
  • Talango

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Waktu
  2. Tempat pelaksanaan
  3. Sejarah awal mula Nyadar
  4. Referensi
  5. Bibliografi

Artikel Terkait

Madura

pulau di Indonesia

Keraton Sumenep

bangunan kuil di Indonesia

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026