Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiNeurokognitif
Artikel Wikipedia

Neurokognitif

Fungsi Neurokognitif adalah fungsi kognitif yang berkaitan erat dengan keutuhan sistem otak tertentu—yakni wilayah kortikal dan subkortikal tertentu, jalur saraf, serta jejaring berskala besar—sehingga gangguan pada substrat saraf tersebut menghasilkan pola khas gangguan kognitif. Konsep ini merupakan inti dari neuropsikologi dan neurosains kognitif, yang mengaitkan struktur dan fungsi sistem saraf dengan kognisi dan perilaku.

Wikipedia article
Diperbarui 10 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Fungsi kognitif yang terkait dengan sistem saraf tertentuTemplat:SHORTDESC:Fungsi kognitif yang terkait dengan sistem saraf tertentu

Fungsi Neurokognitif (bahasa Inggris: Neurocognitioncode: en is deprecated ) adalah fungsi kognitif yang berkaitan erat dengan keutuhan sistem otak tertentu—yakni wilayah kortikal dan subkortikal tertentu, jalur saraf, serta jejaring berskala besar—sehingga gangguan pada substrat saraf tersebut menghasilkan pola khas gangguan kognitif. Konsep ini merupakan inti dari neuropsikologi dan neurosains kognitif, yang mengaitkan struktur dan fungsi sistem saraf dengan kognisi dan perilaku.[1]

Defisit neurokognitif adalah penurunan atau gangguan pada satu atau lebih domain kognitif yang dapat diatribusikan pada disfungsi otak (misalnya strok, cedera otak traumatis, penyakit neurodegeneratif, epilepsi, infeksi HIV, atau gangguan penggunaan zat), yang umumnya ditunjukkan melalui pengujian objektif dan sering disertai dengan penurunan fungsi sehari-hari.[2][3]

Definisi dan kerangka diagnostik

Dalam DSM-5, gangguan neurokognitif (neurocognitive disorders, NCD) didefinisikan sebagai penurunan dari tingkat kinerja sebelumnya pada satu atau lebih domain kognitif—perhatian kompleks, fungsi eksekutif, pembelajaran dan memori, bahasa, fungsi perseptual–motorik, serta kognisi sosial—berdasarkan kekhawatiran dari individu yang bersangkutan, informan yang memahami kondisi tersebut, atau klinisi, dan idealnya didokumentasikan melalui pengujian neuropsikologis terstandar.[2] DSM-5 membedakan NCD berat dan NCD ringan berdasarkan tingkat keparahan gangguan kognitif dan fungsional, serta menyediakan penanda etiologis (misalnya akibat penyakit Alzheimer, penyakit vaskuler, penyakit Parkinson, cedera otak traumatis, penyakit Huntington, penyakit prion, infeksi HIV, atau berbagai etiologi).[4]

ICD-11 juga mengelompokkan gangguan dengan defisit kognitif primer yang didapat ke dalam kategori “Gangguan neurokognitif”, dengan menekankan adanya penurunan dari tingkat kemampuan yang sebelumnya telah dicapai serta pemisahannya dari kondisi perkembangan saraf.[5][6]

Signifikansi klinis

Defisit neurokognitif merupakan konsekuensi yang umum dari berbagai penyakit neurologis dan sistemik, serta menjadi penentu utama kemandirian, kualitas hidup, dan beban perawatan bagi pendamping atau pengasuh. Karakterisasi yang akurat terhadap domain yang terdampak dapat membantu memperkirakan etiologi yang mungkin (misalnya profil amnestik pada penyakit lobus temporal medial; defisit fungsi eksekutif dan kecepatan pemrosesan pada sindrom subkortikal–vaskular) serta memandu penatalaksanaan dan rehabilitasi.[1][2]

Pemeriksaan

Pemeriksaan neuropsikologis menggunakan tes-tes terstandar dengan reliabilitas dan norma yang telah ditetapkan untuk mengukur kinerja spesifik tiap domain serta mendeteksi perubahan dari waktu ke waktu.[7] Instrumen skrining singkat sering digunakan dalam praktik klinis:

  • Mini-Mental State Examination (MMSE) adalah alat skrining 30 poin yang banyak digunakan untuk menilai status kognitif global.[8]
  • Montreal Cognitive Assessment (MoCA) adalah alat skrining 30 poin yang dikembangkan untuk mendeteksi gangguan kognitif ringan, mencakup perhatian, fungsi eksekutif, memori, bahasa, kemampuan visuospasial, dan orientasi.[8]

Evaluasi komprehensif biasanya mencakup baterai multi-tes yang disesuaikan dengan pertanyaan rujukan, dengan interpretasi yang mempertimbangkan sifat psikometrik tes, pengujian usaha, riwayat medis, pencitraan, serta penilaian fungsi.[9][1]

Terminologi, penggunaan, dan kritik

Istilah neurokognitif mulai menonjol dalam klasifikasi klinis dengan diperkenalkannya kerangka NCD dalam DSM-5 pada tahun 2013,[2] meskipun para klinisi dan peneliti telah lama mengaitkan kinerja kognitif dengan sistem saraf dalam neuropsikologi dan neurologi perilaku.[1] Sebagian penulis berpendapat bahwa penambahan prefiks “neuro-” pada istilah kognitif bersifat pleonasme, sehingga dalam konteks klinis mereka lebih memilih penggunaan istilah yang lebih sederhana.[10]

Lihat pula

  • Kognisi
  • Neurosains kognitif
  • Neuropsikologi kognitif
  • Neuropsikologi
  • Tes neuropsikologi
  • Terapi rehabilitasi kognitif
  • Gangguan kognitif ringan
  • Demensia
  • Cedera otak traumatis

Referensi

  1. 1 2 3 4 Lezak, Muriel D.; Howieson, Daniel B.; Bigler, Erin D.; Tranel, Daniel (2012). Neuropsychological Assessment (Edisi 5th). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-539552-5.
  2. 1 2 3 4 Sachdev, Perminder S.; Blacker, Deborah; Blazer, Dan G.; Ganguli, Mary; Jeste, Dilip V.; Paulsen, Jane S.; Petersen, Ronald C. (2014). "Classifying neurocognitive disorders: the DSM-5 approach". Nature Reviews Neurology. 10 (11): 634–642. doi:10.1038/nrneurol.2014.181. hdl:1959.4/unsworks_39077. PMID 25266297.
  3. ↑ Blazer, Dan (2013). "Neurocognitive Disorders in DSM-5". American Journal of Psychiatry. 170 (6): 585–587. doi:10.1176/appi.ajp.2013.13020179.
  4. ↑ "DSM-5 Table of Contents (Neurocognitive Disorders section)" (PDF) (PDF). American Psychiatric Association. 2013.
  5. ↑ "ICD-11 Browser: Neurocognitive disorders (block)". World Health Organization. Diakses tanggal 11 November 2025.
  6. ↑ Gaebel, W. (2018). "Neurocognitive disorders in ICD-11: the debate and its outcome". World Psychiatry. 17 (1): 50–52. doi:10.1002/wps.20480. PMC 5980293. PMID 29352557.
  7. ↑ Strauss, Esther; Sherman, Elisabeth M.S.; Spreen, Otfried (2006). A Compendium of Neuropsychological Tests: Administration, Norms, and Commentary (Edisi 3rd). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-515957-8.
  8. 1 2 Folstein, Marshal F.; Folstein, Susan E.; McHugh, Paul R. (1975). ""Mini-Mental State": A practical method for grading the cognitive state of patients for the clinician". Journal of Psychiatric Research. 12 (3): 189–198. doi:10.1016/0022-3956(75)90026-6. PMID 1202204.
  9. ↑ Eramudugolla, R. (2017). "Evaluation of a research diagnostic algorithm for DSM-5 neurocognitive disorders". Journal of Alzheimer's Disease. 57 (2): 497–507. doi:10.3233/JAD-160702. PMC 5336665. PMID 28269776.
  10. ↑ van der Flier, Wiesje M.; Skoog, Ingmar; Schneider, Julie A.; Pantoni, Leonardo; Mok, Vincent; Chen, Christopher L. H.; Scheltens, Philip (2018). "Vascular cognitive impairment". Nature Reviews Disease Primers. 4: 18003. doi:10.1038/nrdp.2018.3. However, the disadvantage of the term vascular neurocognitive disorder is that neurocognitive is a pleonasm, and therefore, the use of this term has not gained momentum in the field.

Bacaan lebih lanjut

  • Green, K. J. (1998). Schizophrenia from a Neurocognitive Perspective. Boston: Allyn & Bacon.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Definisi dan kerangka diagnostik
  2. Signifikansi klinis
  3. Pemeriksaan
  4. Terminologi, penggunaan, dan kritik
  5. Lihat pula
  6. Referensi
  7. Bacaan lebih lanjut

Artikel Terkait

Skizofrenia

Gangguan jiwa yang ditandai dengan respons emosional dan disintegrasi proses berpikir

Disfungsi eksekutif

proses kognitif lainnya. Disfungsi eksekutif dapat merujuk pada defisit neurokognitif dan gejala perilaku. Gangguan ini terkait dengan berbagai psikopatologi

Dapoksetin

senyawa kimia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026