Fungsi Neurokognitif adalah fungsi kognitif yang berkaitan erat dengan keutuhan sistem otak tertentu—yakni wilayah kortikal dan subkortikal tertentu, jalur saraf, serta jejaring berskala besar—sehingga gangguan pada substrat saraf tersebut menghasilkan pola khas gangguan kognitif. Konsep ini merupakan inti dari neuropsikologi dan neurosains kognitif, yang mengaitkan struktur dan fungsi sistem saraf dengan kognisi dan perilaku.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Fungsi Neurokognitif (bahasa Inggris: Neurocognitioncode: en is deprecated ) adalah fungsi kognitif yang berkaitan erat dengan keutuhan sistem otak tertentu—yakni wilayah kortikal dan subkortikal tertentu, jalur saraf, serta jejaring berskala besar—sehingga gangguan pada substrat saraf tersebut menghasilkan pola khas gangguan kognitif. Konsep ini merupakan inti dari neuropsikologi dan neurosains kognitif, yang mengaitkan struktur dan fungsi sistem saraf dengan kognisi dan perilaku.[1]
Defisit neurokognitif adalah penurunan atau gangguan pada satu atau lebih domain kognitif yang dapat diatribusikan pada disfungsi otak (misalnya strok, cedera otak traumatis, penyakit neurodegeneratif, epilepsi, infeksi HIV, atau gangguan penggunaan zat), yang umumnya ditunjukkan melalui pengujian objektif dan sering disertai dengan penurunan fungsi sehari-hari.[2][3]
Dalam DSM-5, gangguan neurokognitif (neurocognitive disorders, NCD) didefinisikan sebagai penurunan dari tingkat kinerja sebelumnya pada satu atau lebih domain kognitif—perhatian kompleks, fungsi eksekutif, pembelajaran dan memori, bahasa, fungsi perseptual–motorik, serta kognisi sosial—berdasarkan kekhawatiran dari individu yang bersangkutan, informan yang memahami kondisi tersebut, atau klinisi, dan idealnya didokumentasikan melalui pengujian neuropsikologis terstandar.[2] DSM-5 membedakan NCD berat dan NCD ringan berdasarkan tingkat keparahan gangguan kognitif dan fungsional, serta menyediakan penanda etiologis (misalnya akibat penyakit Alzheimer, penyakit vaskuler, penyakit Parkinson, cedera otak traumatis, penyakit Huntington, penyakit prion, infeksi HIV, atau berbagai etiologi).[4]
ICD-11 juga mengelompokkan gangguan dengan defisit kognitif primer yang didapat ke dalam kategori “Gangguan neurokognitif”, dengan menekankan adanya penurunan dari tingkat kemampuan yang sebelumnya telah dicapai serta pemisahannya dari kondisi perkembangan saraf.[5][6]
Defisit neurokognitif merupakan konsekuensi yang umum dari berbagai penyakit neurologis dan sistemik, serta menjadi penentu utama kemandirian, kualitas hidup, dan beban perawatan bagi pendamping atau pengasuh. Karakterisasi yang akurat terhadap domain yang terdampak dapat membantu memperkirakan etiologi yang mungkin (misalnya profil amnestik pada penyakit lobus temporal medial; defisit fungsi eksekutif dan kecepatan pemrosesan pada sindrom subkortikal–vaskular) serta memandu penatalaksanaan dan rehabilitasi.[1][2]
Pemeriksaan neuropsikologis menggunakan tes-tes terstandar dengan reliabilitas dan norma yang telah ditetapkan untuk mengukur kinerja spesifik tiap domain serta mendeteksi perubahan dari waktu ke waktu.[7] Instrumen skrining singkat sering digunakan dalam praktik klinis:
Evaluasi komprehensif biasanya mencakup baterai multi-tes yang disesuaikan dengan pertanyaan rujukan, dengan interpretasi yang mempertimbangkan sifat psikometrik tes, pengujian usaha, riwayat medis, pencitraan, serta penilaian fungsi.[9][1]
Istilah neurokognitif mulai menonjol dalam klasifikasi klinis dengan diperkenalkannya kerangka NCD dalam DSM-5 pada tahun 2013,[2] meskipun para klinisi dan peneliti telah lama mengaitkan kinerja kognitif dengan sistem saraf dalam neuropsikologi dan neurologi perilaku.[1] Sebagian penulis berpendapat bahwa penambahan prefiks “neuro-” pada istilah kognitif bersifat pleonasme, sehingga dalam konteks klinis mereka lebih memilih penggunaan istilah yang lebih sederhana.[10]
However, the disadvantage of the term vascular neurocognitive disorder is that neurocognitive is a pleonasm, and therefore, the use of this term has not gained momentum in the field.