Na IX-X adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan ini mayoritas dihuni oleh suku Batak Toba sebagai penduduk asli, dan sisanya adalah suku Jawa, Minangkabau, Melayu, dan Batak Angkola.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Na IX-X | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Peta lokasi Kecamatan Na IX-X | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Sumatera Utara | ||||
| Kabupaten | Labuhanbatu Utara | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Sukur Pasaribu | ||||
| Populasi | |||||
| • Total | 59.761 jiwa | ||||
| Kode pos | 21454 | ||||
| Kode Kemendagri | 12.23.06 | ||||
| Kode BPS | 1223010 | ||||
| Luas | 554 km² | ||||
| Kepadatan | 97 jiwa/km² | ||||
| Desa/kelurahan | 13 | ||||
| Situs web | naixx | ||||
| |||||
Na IX-X adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan ini mayoritas dihuni oleh suku Batak Toba sebagai penduduk asli, dan sisanya adalah suku Jawa, Minangkabau, Melayu, dan Batak Angkola.[1]
Nama Na IX-X berasal dari sebuah cerita yang diceritakan oleh seorang tokoh di kecamatan Na IX-X, Sahbuddin Munte. Ia menjelaskan bahwa nama Na IX-X merupakan gabungan dari kata Na dan angka Romawi IX (9) dan X (10). Di mana Na adalah kata dari bahasa Batak Toba, yang berarti 'kita'. Sementara itu, angka 9 dan 10 adalah jumlah raja (pemimpin lokal) yang memimpin wilayah di kecamatan Na IX-X. Terdapat 9 raja di hilir dan 10 raja di hulu.[2]
Mereka yang disebut sebagai raja, adalah gelar untuk pemimpin yang pernah memerintah di wilayah yang sekarang menjadi kecamatan Na IX-X. Selain menjadi pemimpin rakyat mereka, mereka juga pejuang yang melawan pemerintah kolonial Belanda. Ia berkata, "Selama periode kolonial, Na IX-X tidak pernah bisa dikuasai oleh Belanda dalam waktu lama. Jika Belanda masuk, raja-raja di hilir akan memilih perang atau bersembunyi di hutan. Jika terjadi perang, raja di hulu akan membantu, jika ia bersembunyi di hutan, raja di hulu juga akan membantu. Nantinya, ketika raja di hulu jatuh, raja di hilirlah yang akan membantu. Bersikap ramah dan saling membantu adalah hal yang memperkuat persatuan mereka".[2]
Bukti perjuangan melawan penjajah oleh raja-raja di Na IX-X adalah monumen perjuangan yang dibangun oleh pemerintah di Aek Kota Batu (ibu kota kecamatan Na IX-X). Monumen ini dibangun untuk menghormati jasa ke-19 raja dalam membela kedaulatan rakyat mereka melawan penjajah Belanda. Selain monumen, ke-19 raja tersebut juga diberi hak untuk menamai wilayah mereka. Setelah berdiskusi, mereka menyepakati nama Na IX-X, yang masih digunakan hingga saat ini.[2]
Menurut Sahbuddin, 19 raja di Na IX-X memiliki nama keluarga (marga) Batak Toba, terdiri dari 15 raja bermarga Munte, 2 raja bermarga Pohan, 1 raja bermarga Ritonga, dan 1 raja bermarga Sipahutar. Menurut Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, monumen perjuangan di Aek Kota Batu, didedikasikan untuk 19 raja yang berjuang melawan Belanda.[2]
Berikut adalah nama-nama dari 19 raja di kecamatan Na IX-X:[2]
| Desa/Kelurahan | Luas (km2) | Jarak ke ibu kota kecamatan (km) | Tinggi DPL (m) |
|---|---|---|---|
| Pematang | 78,00 | 45 | 119 |
| Batu Tunggal | 62,50 | 12 | 53 |
| Sungai Raja | 57,50 | 9 | 5 |
| Perkebunan Berangir | 34,00 | 9 | 38 |
| Pasang Lela | 5,00 | 13 | 45 |
| Silumajang | 67,50 | 13 | 77 |
| Hatapang | 76,75 | 22 | 238 |
| Meranti Omas | 62,25 | 15 | 103 |
| Bangun Rejo | 19,62 | 7 | 50 |
| Kampung Pajak | 22,88 | 4 | 41 |
| Aek Kota Batu | 31,30 | 2 | 36 |
| Simpang Merbau | 16,20 | 3 | 54 |
| Pulo Jantan | 17,50 | 4 | 33 |
| Total | 554,00 |
| Bulan | Jumlah curah hujan (mm) | Jumlah hari hujan (hari) |
|---|---|---|
| Januari | 144 | 12 |
| Februari | 105 | 7 |
| Maret | 156 | 12 |
| April | 239 | 15 |
| Mei | 235 | 10 |
| Juni | 176 | 8 |
| Agustus | 302 | 16 |
| September | 238 | 15 |
| Oktober | 210 | 11 |
| November | 330 | 16 |
| Desember | 227 | 10 |
| No. | Nama camat | Periode jabatan |
|---|---|---|
| 1 | Zuhri | 2010–2011 |
| 2 | Sakti Sormin | 2011–2015 |
| 3 | Samsul Tanjung | 2015–2017 |
| 4 | Sukamto | 2017–2018 |
| 5 | Jhon Ferry | 2018–2020 |
| 6 | Abdul Hariman | 2020–2022 |
| 7 | M. Adlin Rizky Matondang | 2022–2023 |
| 8 | Sukur Pasaribu | 2023–sekarang |
| Desa/kelurahan | Jumlah penduduk (jiwa) | ||
|---|---|---|---|
| Laki-laki | Perempuan | Jumlah | |
| Pematang | 1.011 | 950 | 1.961 |
| Batu Tunggal | 3.556 | 3.378 | 6.934 |
| Sungai Raja | 3.629 | 3.671 | 7.300 |
| Perkebunan Berangir | 1.240 | 1.156 | 2.396 |
| Pasang Lela | 1.717 | 1.675 | 3.392 |
| Simalujang | 3.164 | 2.951 | 6.115 |
| Hatapang | 578 | 568 | 1.146 |
| Meranti Omas | 1.641 | 1.560 | 3.201 |
| Bangun Rejo | 1.960 | 1.928 | 3.888 |
| Kampung Pajak | 2.715 | 2.637 | 5.352 |
| Aek Kota Batu | 3.443 | 3.407 | 6.850 |
| Simpang Merbau | 2.336 | 2.269 | 4.605 |
| Pulo Jantan | 3.330 | 3.291 | 6.621 |
| Total | 30.320 | 29.441 | 59.761 |
Agama yang paling banyak dipraktikkan oleh penduduk kecamatan Na IX-X adalah Islam (91%), sedangkan sisanya beragama Kristen Protestan (9%). Terdapat 86 masjid dan 5 gereja sebagai tempat ibadah di kecamatan ini.[1]
Bahasa yang digunakan oleh mayoritas penduduk kecamatan Na IX-X adalah bahasa Indonesia karena keragaman demografi penduduknya. Selain itu, penduduk aslinya menggunakan bahasa Batak Toba dan sebagian lainnya menggunakan bahasa Batak Angkola sebagai bahasa sehari-hari mereka. Sementara itu, bahasa lain yang cukup sering digunakan adalah bahasa Melayu (dialek Kualuh) dan bahasa Jawa.[1]
Suku bangsa asli dan mayoritas di kecamatan Na IX-X adalah suku Batak Toba, sebagian kecilnya adalah suku Batak Angkola. Sementara itu, terdapat juga sejumlah besar penduduk pendatang, terutama suku Jawa, Minangkabau, dan Melayu. Rinciannya pada tahun 2020 adalah Batak (83,35%), Jawa (14,28%), dan lainnya (2,37%).[1]
Di Kecamatan Na IX-X, terdapat objek wisata alam yang sangat terkenal, yaitu Aek Buru, sungai berbatu dengan air yang bersih, jernih, dan dingin yang terletak di desa Batu Tunggal.
Selain Aek Buru, terdapat juga banyak lokasi wisata alam di kecamatan ini, warga setempat menyebutnya Teluk Tangga, Teluk Salak, dan berbagai lokasi wisata alam lainnya, yang terletak di desa Silumajang, sekitar 10 km dari Jalan Raya Lintas Sumatera.
Sebagian besar pendapatan masyarakat di kecamatan Na IX-X berasal dari perkebunan dan sektor komoditas. Hasil perkebunan utama di kecamatan ini adalah kelapa sawit dan karet. Terdapat juga persawahan padi.[1]