Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian Universitas Airlangga atau Museum Kematian adalah sebuah museum yang terletak di Kampus B Universitas Airlangga, Jalan Airlangga, Nomor 4-6, Airlangga, Gubeng, Kota Surabaya, Jawa Timur. Museum ini khusus didirikan sebagai tempat mengoleksi benda-benda milik Departemen Antropologi, Universitas Airlangga.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Museum Kematian FISIP Universitas Airlangga | |
Koordinat: 7°16′21.00″S 112°45′34.20″E / 7.2725000°S 112.7595000°E / -7.2725000; 112.7595000Lihat peta diperbesar Koordinat: 7°16′21.00″S 112°45′34.20″E / 7.2725000°S 112.7595000°E / -7.2725000; 112.7595000Lihat peta diperkecil | |
| Didirikan | 25 September 2005 |
|---|---|
| Lokasi | Jl. Dharmawangsa Dalam, Airlangga, Kec. Gubeng, Surabaya, Jawa Timur 60286 |
| Koordinat | 7°16'20.7"S 112°45'34.3"E |
| Jenis | Museum Etnografi |
| Koleksi | Etnografi |
| Kepala Museum | Prof. Dr. phil. Toetik Koesbardiati, Dra. |
| Pemilik | Universitas Airlangga - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik |
| Situs web | https://museoetno.fisip.unair.ac.id |
Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian Universitas Airlangga atau Museum Kematian adalah sebuah museum yang terletak di Kampus B Universitas Airlangga, Jalan Airlangga, Nomor 4-6, Airlangga, Gubeng, Kota Surabaya, Jawa Timur.[1] Museum ini khusus didirikan sebagai tempat mengoleksi benda-benda milik Departemen Antropologi, Universitas Airlangga.
Didirkan pada tahun 2005, Museum dan Pusat Kajian Etnografi Universitas Airlangga adalah satu-satunya museum di Indonesia yang bercerita tentang kematian. Tema tersebut dipilih karena kematian merupakan salah satu bagian dari siklus hidup yang pasti dialami oleh setiap manusia. Tujuan dari museum ini untuk menghilangkan pandangan bahwa kematian merupakan hal yang tabu di masyarakat[2]. Kegiatan dan koleksi utama di dalam museum ini berkaitan dengan etnografi untuk menggambarkan kondisi sosial budaya tentang kematian dan perspektif ragawi atau biologi[3].
Peresmian museum terdapat pada tanggal 25 September 2005. Pengelolaan museum diserahkan kepada Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial dan Politik, Universitas Airlangga dengan mayoritas dari koleksi museum ini adalah barang-barang dari Departemen Antropologi, Universitas Airlangga dan berbagai sumbangan dengan aspek kajian etnografis dari berbagai latar belakang. Penggagas museum ini bernama Yusuf Ernawan. Pada saat perintisan museum, ia merupakan Kepala Departemen Antropologi.
Pada awalnya, Museum Etnografi terdaftar sebagai anggota Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) Provinsi Jawa Timur. Museum ini kemudian mengalami revitalisasi dengan adanya hibah dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Museum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan diresmikan kembali oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid pada tanggal 21 Maret 2015.
Pada tahun 2016, museum kembali mendapatkan hibah renovasi dengan fokus ruang-ruang koleksi dan ruang pertemuan serta lanskap luar dari museum etnografi, maka dengan adanya perkembangan ini, maka museum ini semakin terdepan dalam memberikan pemahaman edukasi etnografi di masyarakat.
Main Hall
Main hall merupakan ruangan pertama dalam museum. Ruangan ini memperkenalkan persebaran manusia hingga kebudayaan terkait kematian di Indonesia. Peta persebaran manusia modern menjelaskan sejarah Homo sapiens tersebar dari satu tempat ke tempat yang lain hingga mengisi dunia seperti sekarang ini.

Kemudian, terdapat berbagai macam budaya kematian dari Suku Toraja disertai dengan replika-replikanya. Pertama, replika dari budaya pemakaman Desa Trunyan, Bangli, Pulau Bali hadir dengan Ancak Saji dan kerangka di dalamnya, dibuat menyerupai budaya aslinya yang memang tidak mengubur mayat di dalam tanah. Kedua, terdapat replika dan informasi dari Makam Bayi Kambira, budaya penguburan bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi dalam pohon Tarra. Budaya ini dinamakan Passiliran, dan mengubur bayi dalam pohon merupakan simbolisasi dari mengembalikan bayi kepada perlindungan ibu.
Sebelum memasuki ruangan museum, sisi kiri pintu masuk museum menampilkan pajangan berisi replika dan informasi tentang ritual Ma'nene. Ritual ini merupakan ritual adat dari Suku Toraja. Informasi yang dijelaskan di dalamnya tentang cara membersihkan dan menggantikan pakaian pada jenazah leluhur keluarga Toraja. Tidak hanya itu saja, Main Hall juga menampilkan pameran temporer yang berganti setiap beberapa bulan sekali.
Ruang Antropologi Forensik
Ruang ini menjelaskan analisis osteologi yang dilakukan setelah sisa rangka dievakuasi, seperti penentuan jenis kelamin, estimasi usia berdasarkan pertumbuhan dan fusi tulang, perkiraan tinggi badan, serta identifikasi ciri khusus dan tanda trauma[4]. Melalui penjelasan tersebut, pengunjung memperoleh pemahaman mengenai metode ilmiah yang digunakan untuk mengidentifikasi individu ketika temuan yang tersedia hanya berupa kerangka.
Ruang Rekreasi
Ruangan kedua yaitu koridor yang berbentuk lorong dengan pencahayaan yang gelap. Suasana seperti kuburan diterapkan pada bagian samping kanan lorong disertai dengan replika mayat dengan budaya pemakaman Islam yang sedang dibaringkan. Ruang refleksi juga memberikan informasi tentang model pemakaman di Indonesia yang dapat dikubur langsung atau dengan wadah. Beberapa contohnya seperti Dolmen, Waruga, dan lain-lain.
Ruang Refleksi juga menampilkan infografis dan ilustrasi dari Upacara Tiwah. Upacara Tiwah merupakan ritual kematian tingkat akhir dari masyarakat Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah. Dalam Upacara Tiwah, terjadi penguburan kedua, yang mana tulang-belulang dari anggota keluarga yang sudah meninggal dipindahkan ke tempat khusus, yaitu Sandung[5].
Museum Etnografi dan Pusat Kajian kematian terbuka untuk umum di hari Senin-Jumat pukul 10.00-16.00 tanpa biaya untuk tiket, adapun museum membuka layanan lokakarya yang dapat diakses informasinya dengan menghubungi kontak museum. Lokakarya ini bertemakan tentang antropologi forensik; analisis tulang, penguatan pemahaman kerangka manusia, dan menguatkan pengertian tentang kesehatan manusia. Selain itu, museum juga aktif dalam pengabdian masyarakat dengan terlibat langsung dalam kajian etnografis dan riset dalam berbagai bidang.
Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian terletak di dalam area Kampus B Univerisitas Airlangga. Pengunjung harus memarkirkan kendaraan di gedung parkir Kampus B dan berjalan kaki untuk dapat menuju ke gedung museum. Selain itu, pengunjung dapat mengunjungi museum ini dengan opsi transportasi publik antara lain; Suroboyo Bus, Wara wiri, Trans Semanggi, Ojek online. Selain itu, menggunakan kereta api dari Stasiun Gubeng sejauh 2.6 km, menggunakan bus dari Terminal Bungurasih sejauh 12 km dan melalui arah Bandar Udara Internasional Juanda dengan jarak tempuh sejauh 21 km.[6]