Museum Kehutanan Ir. Djamaludin Suryohadikusumo adalah sebuah museum bertema kehutanan yang berada di Gedung Manggala Wanabakti Blok VI, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Indonesia. Museum ini memiliki luas bangunan 5.254 m².
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Koordinat: 6°12′24.82463″S 106°47′54.66743″E / 6.2068957306°S 106.7985187306°E / -6.2068957306; 106.7985187306Lihat peta diperbesar Koordinat: 6°12′24.82463″S 106°47′54.66743″E / 6.2068957306°S 106.7985187306°E / -6.2068957306; 106.7985187306Lihat peta diperkecil | |
| Didirikan | 1983 |
|---|---|
| Jenis | Museum |
| Situs web | https://museum.co.id/directory-museum/listing/museum-kehutanan-manggala-wanabakti/ |
Museum Kehutanan Ir. Djamaludin Suryohadikusumo adalah sebuah museum bertema kehutanan yang berada di Gedung Manggala Wanabakti Blok VI, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Indonesia. Museum ini memiliki luas bangunan 5.254 m².
Pembangunan museum telah dimulai sejak 18 September 1978 atas inisiatif Korps Rimbawan Angkatan '45 yang dipelopori oleh Menteri Kehutanan pertama, Soedjarwo. Para rimbawan mengusulkan pendirian sebuah forestry center yang berfungsi sebagai pusat pembinaan kegiatan kehutanan serta sarana komunikasi antara instansi pemerintah maupun swasta.
Museum ini diresmikan pada 24 Agustus 1983 oleh Presiden Soeharto dengan nama Museum Kehutanan Manggala Wanabakti.[1][2][3] Sejak 5 Juni 2015, pengelolaannya beralih kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan namanya resmi berubah menjadi Museum Kehutanan Ir. Djamaludin Suryohadikusumo sebagai penghormatan kepada tokoh kehutanan Indonesia Djamaloedin Soeryohadikoesoemo. Tujuan utama museum ini adalah menjadi pusat informasi dan dokumentasi kehutanan di Indonesia.[4]
Museum memiliki dua lantai dengan total 736 koleksi,[5] terdiri dari 524 koleksi yang dipamerkan di ruang pameran, 208 koleksi di ruang penyimpanan, dan 4 koleksi yang ditempatkan di luar ruangan. Koleksi tersebut berasal dari Dinas Kehutanan, Perum Perhutani, kantor-kantor kehutanan, hibah, serta sumbangan perseorangan, termasuk sejumlah besar sumbangan dari Dr. Soedjarwo.[6]
Di lantai pertama, pengunjung dapat melihat fosil kayu jati berusia 336 tahun, patung penjaga hutan dari Suku Dayak, lukisan dan foto Pasukan Wanara, alat ukur peta kehutanan, peralatan eksplorasi hutan, serta foto-foto pengangkutan kayu pada masa lalu. Selain itu terdapat diorama berbagai jenis hutan, seperti hutan alam, hutan jati, hutan pinus, hutan agathis, hutan bakau, dan hutan payau, yang dibuat menyerupai kondisi aslinya.[7] Museum ini juga menampilkan artefak pemanfaatan kayu oleh industri, aneka biji-bijian, beragam hama, koleksi kerajinan dari bambu, serta peralatan yang digunakan untuk kegiatan di hutan.
Di lantai kedua, koleksi yang ditampilkan berupa infografis dan foto-foto mengenai hutan Indonesia, meliputi manfaat, fungsi, tipe, dan peranan hutan. Ruangan ini juga memuat dokumentasi sejarah kehutanan beserta foto-foto bertema lingkungan dan kehutanan lainnya.[8]
Selain koleksi utama di dalam ruangan, museum juga menyimpan sebuah pohon jati berusia 139 tahun di area pintu masuk. Ragam koleksi lainnya mencakup berbagai jenis kayu (seperti jati, meranti, dan kampar) serta produk-produk turunan dari kulit kayu, getah, bunga, dan daun, seperti kapur barus, kertas, bahan pelitur, minyak cendana, dan kayu manis. Produk olahan tersebut ditampilkan dalam bentuk ukiran, peralatan rumah tangga tradisional, peralatan berburu, pakaian, serta kerajinan berbahan sutera alam dengan corak dan warna yang beragam.
Senin-Jumat: 09.00-15.00 WIB,[9] sedangkan hari libur nasional tutup.[10] Untuk kunjungan rombongan agar konfirmasi sebelumnya.[9]