Muqatil bin Sulaiman adalah seorang cendekiawan Muslim abad ke-8 dalam bidang Al-Qur'an, yang kontroversial karena pandangan antropomorfismenya. Ia menulis salah satu, jika bukan yang pertama, tafsir Al-Qur'an yang paling awal yang masih tersedia hingga saat ini.
Muqatil bin Sulaiman (bahasa Arab:أبو الحسن مقاتل بن سليمان البلخىcode: ar is deprecated , translit.Abul Ḥassan Muqātil bin Sulaimān al-Balkhī) (w. 767 M) adalah seorang cendekiawan Muslim abad ke-8 dalam bidang Al-Qur'an, yang kontroversial karena pandangan antropomorfismenya.[3] Ia menulis salah satu, jika bukan yang pertama, tafsir Al-Qur'an yang paling awal yang masih tersedia hingga saat ini.[4][5]
Muqatil adalah penulis sebuah tafsir atas Al-Qur'an yang dianggap oleh John Wansbrough sebagai tafsir lengkap tertua yang masih bertahan dan dibahas secara cukup rinci olehnya.[5] Karya ini masih berbentuk manuskrip ketika Wansbrough menulisnya, tetapi sejak saat itu telah diterbitkan.[6]
Muqatil meyakini bahwa Allah adalah suatu wujud fisik dengan bagian-bagian tubuh, baik kecil maupun besar, seperti tangan, kaki, dan kedua mata.[7]
Biografi
Muqatil lahir di Balkh, tidak ada karya yang mencatat tahun kelahirannya, tetapi beberapa pihak memperkirakan bahwa ia lahir sekitar tahun 80 H. Ayahnya bernama Sulaiman, meskipun beberapa penulis kronik keliru menyebut bahwa ayahnya bernama Hayyan.α
Ia menghabiskan masa awal kehidupannya di Balkh dan Marw. Di Balkh, ia terpengaruh oleh keberagaman keagamaan yang ada pada masa pra-Islam. Ia kemudian bermigrasi ke Marw untuk menikah.[3] Pada masa kekhalifahan Marwan II, Muqatil terlibat dalam perang saudara antara Abbasiyah dan Umayyah.[8] Dengan berakhirnya kekuasaan Umayyah, ia bermigrasi ke Irak, menetap di Basra lalu pindah ke Bagdad. Karena kemungkinan pengaruh Zaidiyah, ia lebih mendukung Abbasiyah dibandingkan pemerintahan Umayyah sebelumnya, dan beberapa sumber menyebutkan bahwa ia sering mengunjungi istana Abbasiyah. Suatu ketika, saat mengunjungi Khalifah al-Mansur, seekor lalat hinggap di wajahnya. Muqatil berkomentar bahwa Allah menciptakan lalat untuk merendahkan para tiran.[3]
Ia kemudian kembali ke Basra dan wafat pada tahun 150 H (767 M).[3][9]
Penilaian
Pandangan antropomorfis yang dikaitkan dengan Muqatil b. Sulaiman
Tafsir Muqatil sangat dihargai oleh berbagai ulama klasik dalam tradisi pengajaran Islam.[10][11] Tafsirnya atas surah Al-Insyiqaq dalam Al-Qur'an telah dilestarikan hingga era modern dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Nicolai Sinai.[12]
Penafsiran sifat-sifat Ilahi
Muqatil dikenal karena penentangan teologisnya terhadap Muktazilah pada masanya, karena gagasannya berkaitan dengan aspek-aspek fisik dan penyerupaan Tuhan dengan rupa serta aktivitas manusia.[2] Pandangannya mengenai antropomorfisme Ilahi menjadi terkenal buruk di kalangan generasi-generasi berikutnya, namun meskipun memiliki kecenderungan korporealisme yang dianggap "ekstrem", ia tetap menggunakan takwil dalam tafsirnya bahkan pada ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah yang oleh banyak pihak diyakini menunjukkan adanya kontradiksi dalam pemikirannya.[13] Muqatil bin Sulaiman juga sangat mengaitkan konsep "amar makruf" dengan penguatan tauhid yang ia ajarkan,[meragukan][14] serta dengan pendekatan yang bersifat pasifis.
Muqatil dituduh menafsirkan sifat-sifat ilahi secara harfiah, terkadang dalam pengertian antropomorfis, dengan menegaskan Wajh Allah sebagai wajah secara harfiah, Ain Allah sebagai mata secara harfiah, dan Yad Allah sebagai tangan secara harfiah. Ia menyatakan bahwa Tuhan duduk di atas Arasy, menggambarkan istiwa sebagai istaqarra (bersemayam), meskipun ia menyebutkan bahwa hal itu terjadi sebelum penciptaan makhluk. Penelaahan yang lebih cermat terhadap tafsirnya menunjukkan bahwa ia cenderung kepada penafsiran antropomorfis terhadap Kursi (singgasana) dan sisi kanan Tuhan (serta tentang melihat Tuhan yang dipandang sebagai antropomorfis oleh Muktazilah, yang berpendapat bahwa Tuhan hanya dapat dilihat jika Ia merupakan jisim (tubuh)).[3] Pandangan lain yang dinisbatkan kepadanya adalah bahwa ia mengatakan Allah (Tuhan dalam Islam) berbicara melalui mulut-Nya kepada Musa, dan ia juga diriwayatkan menyampaikan hadis berikut:[2]
Di penghujung hari, seseorang (penyeru) berseru, 'Di manakah kekasih Allah?' Kemudian, sekelompok malaikat melangkah maju untuk duduk bersama-Nya di atas Arasy hingga mereka menyentuh bahu-Nya.[2]
Contoh lain dari dugaan pandangan antropomorfis Muqatil dinisbatkan pada pernyataannya bahwa Tuhan memiliki bagian-bagian tubuh seperti daging, darah, rambut, tulang, dan semacamnya. Beberapa ulama Muslim kontemporer meyakini adanya antropomorfisme ekstrem pada Muqatil sehingga mereka bahkan menciptakan istilah "Muqatiliyah" untuk menunjuk suatu golongan yang diduga mengikuti Muqatil dalam pandangan tersebut.[15] Selain itu, al-Asy'ari melaporkan bahwa Muqatil dan Dawud al-Jawabiri mengatakan bahwa Tuhan adalah suatu tubuh dan memiliki rupa seperti manusia dengan daging, darah, rambut, tulang, serta anggota tubuh seperti tangan, kaki, kepala, dan mata, meskipun ia menyebutkan bahwa keduanya juga mengatakan bahwa dengan semua itu Ia sama sekali tidak menyerupai makhluk, dan makhluk pun tidak menyerupai-Nya.[16]
Perdebatan dengan Jahm bin Shafwan
Telah terjadi perdebatan teologis dan politis yang sengit di masjid Marw antara Muqatil dan Jahm bin Shafwan (w. 128 H/746 M), mengenai sifat-sifat ilahi serta perselisihan antara dua tokoh politik yang masing-masing berafiliasi dengan Muqatil dan Jahm. Keduanya kemudian menulis kitab untuk membantah satu sama lain, dan Muqatil memanfaatkan hubungan politiknya untuk mengusir Jahm dari Balkh hingga ia dikirim ke Termez. Pada tahun 128 H, dalam perang berikutnya, Jahm terbunuh oleh pendukung Muqatil.[3] Tuduhan antropomorfisme terhadap Muqatil dipandang sebagai kebalikan logis dari mereka yang menganut pandangan penafian total terhadap Asmaulhusna beserta sifat-sifat ilahi-Nya oleh Jahm bin Shafwan, yang darinya dinisbatkan istilah Jahmiyah (sebagai kebalikan dari "Muqatiliyah"). Mayoritas ulama Suni kemudian menempatkan diri pada posisi tengah di antara kedua ekstrem tersebut, tidak menafikan sifat-sifat Allah dan tidak pula menyerupakannya dengan makhluk.[17]
Penerimaan
Reputasi Muqatil di kalangan ulama Islam abad pertengahan pada umumnya bersifat negatif, karena sejumlah ulama terkemuka dalam tradisi pengajaran Islam mencelanya, seperti:
Ath-Thabari (w. 310 H), meskipun mengutip pandangannya tentang huruf-huruf misterius dalam Al-Qur'an sebagai hitungan numerik, enggan menyebut Muqatil sebagai sumbernya, dengan menyatakan bahwa ia termasuk di antara mereka yang pandangannya tidak dapat dipercaya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa reputasi Muqatil telah menjadi begitu tercemar sehingga hanya sedikit orang yang bersedia dikaitkan dengannya pada masa Ath-Thabari.[18]
Abu Hanifah (w. 150 H/767 M) mengecam teologinya, Abdullah bin al-Mubarak (w. 181 H/797 M) mengecam metodologinya (terutama karena ia tidak meriwayatkan hadis dengan sanad), dan tuduhan sebagai pendusta dinisbatkan kepada Waki' bin al-Jarrah (w. 197 H/812 M).[19][20][21][γ] Selain itu, Abu Hanifah pernah memperingatkan Abu Yusuf (w. 182 H/798 M) terhadap dua mazhab pemikiran yang ia pandang sesat di Khorasan Raya; yaitu Jahmiyah dan Muqatiliyah.[22][23][19][24]
Ibnu Hazm juga menuduhnya karena dugaan pandangan antropomorfisnya.[25]
Ibnu Hajar al-Asqalani secara khusus juga mencela pemikiran Jahm dan Muqatil.[26] Meskipun demikian, Ibnu Hajar memuji Muqatil atas keahliannya dalam tafsir.[18]
Ibnu Rajab al-Hanbali menyatakan bahwa para ulama awal (as-salaf) menolak pandangan Muqatil setelah pandangannya tersebut menjadi dikenal luas seusai perdebatan dengan Jahm. Beberapa tradisionalis awal dikatakan melampaui batas, dengan Makki bin Ibrahim (w. 215 H), guru al-Bukhari, membolehkan pembunuhan terhadap Muqatil.[27][16] Sebagian lainnya, seperti Kharijah bin Mus'ab (w. 168 H/785 M), begitu murka hingga mengatakan bahwa mereka sendiri akan melakukannya jika mampu.[28][29][30]
Namun, sebagian ulama belakangan memiliki penilaian yang berbeda terhadap Muqatil:
Ibnu Taimiyah menolak kritik-kritik teologis terhadap Muqatil, dengan berpendapat bahwa mereka yang mengkritiknya mengambil materi dari para musuhnya, dan secara khusus menyalahkan al-Asy'ari karena mengambil informasi biografis dari karya-karya kaum Muktazilah. Ia juga menolak tuduhan antropomorfisme (tasybih)[31][32] terhadap Muqatil, dengan menyatakan bahwa ia tidak menemukan jejak apa pun yang dapat dianggapnya sebagai antropomorfis dalam karya-karya Muqatil,[δ] sehingga ia tidak dapat disebut sebagai antropomorfis.[10][33] Ia mengutip asy-Syafi'i yang mengatakan, "Barang siapa yang menginginkan tafsir, maka ia bergantung kepada Muqatil. Barang siapa yang menginginkan fikih, maka ia bergantung kepada Abu Hanifah."[10][e] Namun, Dr. Abdul Qadir al-Husain berpendapat bahwa kutipan ini secara keliru dinisbatkan kepada asy-Syafi'i.[34] Ibnu Taimiyah menggunakan kutipan tersebut untuk berargumen bahwa Muqatil seharusnya dipandang sebagai ahli dalam penafsiran Al-Qur'an, meskipun menurut Ibnu Taimiyah, orang-orang berbeda pendapat mengenai sebagian pandangannya yang lain.[10]
Ulama Saudi kontemporer Abdullah al-Ghunayman, penulis syarah atas Al-Aqidah Al-Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah, berpendapat bahwa ia tidak menemukan sesuatu pun yang dapat dianggapnya sebagai antropomorfis dalam karya-karya Muqatil. Ia menegaskan bahwa untuk menilai secara adil, pandangan seseorang harus diambil dari karya-karyanya sendiri, bukan dari tulisan para penentangnya. Al-Ghunayman kemudian menyatakan bahwa istilah Musyabbih telah menjadi semacam kata tuduhan yang digunakan untuk menuduh lawan karena perbedaan pandangan.[33][35]
Hadis
Dalam bidang tradisi hadis, Muqatil juga ditolak, karena dituduh meriwayatkan hadis dari orang-orang yang tidak pernah ia temui, dan dalam satu kasus, ia dilaporkan pernah bertanya kepada seorang penguasa setempat apakah ia menginginkan dirinya untuk memalsukan sebuah hadis.[3][36] Para ulama hadis yang mencela Muqatil sebagai berikut:
Abu Hanifah dari mazhab Hanafi menganggap Muqatil sebagai perawi hadis yang jujur, berbeda dengan Muqatil bin Hayyan yang dikenal karena pemalsuan hadis.[37]
Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Abi Hatim menyatakan bahwa hadis-hadis yang terdapat dalam karya Muqatil palsu, dan menurut Ahmad, sanad hadis-hadisnya pada hakikatnya tidak ada.[38]
Muhammad al-Bukhari (w. 256 H) menolaknya dengan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak memiliki sesuatu pun (yang dapat diriwayatkan).[39][40][41]
Ibnu Hibban (w. 354 H), penulis Sahih, merangkum pendapat generasi awal tentang Muqatil sebagai berikut: "Ia bersandar pada sumber-sumber Yahudi dan Kristen dalam penafsirannya atas Al-Qur'an; ia juga seorang antropomorfis yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk-Nya; dan selain itu ia biasa memalsukan hadis."[42][43][44][45][3]
Al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) adalah yang pertama menuduhnya sebagai pencerita kisah, dan sejarawan Ibnu Asakir (w. 571 H) adalah yang pertama secara tegas menyatakan hal tersebut.[15]
Ad-Daruquthni (w. 385 H) juga menganggap Muqatil sebagai pendusta dalam otoritas hadisnya.[46][47][48]
Ibnu Sa'ad (w. 230 H) melaporkan bahwa Muqatil dipandang secara negatif oleh komunitas keilmuan hadis.[49][50] Ibnu Sa'ad mengkritik bahwa Muqatil tidak menggunakan sanad (rantai periwayatan) dengan benar.[11] Namun, dalam catatannya tentang "biografi Muqatil", Ibn Sa'ad memujinya dengan menyatakan bahwa Muqatil adalah seorang ahli tafsir dengan sejumlah pengetahuan yang ditranskripsikan dari Al-Dahhak bin Muzahim dan Ata bin Abi Rabah, murid-murid Ibnu Abbas.[49][50] Di luar ilmu hadis, Ibnu Sa'ad menggambarkan Muqatil sebagai salah satu fukaha dan ulama hadis di Khorasan serta tidak mencantumkan tanggal wafatnya. Meskipun demikian, terdapat kesepakatan bulat bahwa Muqatil bukanlah seorang ulama hadis. Ia tidak menggunakan sanad dengan benar. Di kalangan ulama Islam, reputasi Muqatil adalah sebagai seorang pencerita kisah.[11][10]
Ibnu Taimiyah juga mengecam Muqatil dalam bidang hadis, meskipun mengakui keahliannya dalam tafsir.[10]
^α Topik ini ditulis oleh adz-Dzahabi dalam kitabnya, Mizan al-Itidal, mengenai kebingungan identitas ayah Muqatil; apakah Sulaiman atau Hayyan.[51]
^β Sebagaimana telah dibahas di atas – pihak lain seperti Ibnu Abdurrahman al-Malati (w. 377 H/987 M) dan Ibnu Taimiyah (w. 728 H/1328 M), tidak menganggapnya sebagai seorang antropomorfis.[52]
^γ Baik Ibnu Mubarak maupun Waki' adalah murid Abu Hanifah.[53]
^δ Ibnu Taimiyah sendiri pernah dituduh melakukan antropomorfisme, diadili, dinyatakan bersalah, dan dipenjara karena hal tersebut.[54]
^e Ini sedikit berbeda dari apa yang dilaporkan al-Mizzi, sezaman dengan Ibnu Taimiyah, dari as-Syafi'i: "Barang siapa yang ingin mempelajari tafsir maka ia harus bergantung kepada Muqatil; barang siapa yang ingin mempelajari hadis maka ia harus bergantung kepada Malik; dan barang siapa yang ingin mempelajari kalam maka ia harus bergantung kepada Abu Hanifah."[55]
Referensi
↑al-Dhahabi, M. Husein. "Israelitic Narratives in Exegesis and Tradition." The 4th Conference of the Academy of Islamic Research,(Cairo: Al-Azhar Academy of Islamic Research. 1968.
1234Much Hasan Darojat, Mohd Fauzi Hamat, and Wan Adli Wan Ramli. "Al-Baqillani’s Critique to Anthropomorphist’s Concept of The Attributes of God." (2016). pp. 6-7 "Another Anthropomorphist, Ibn al-Karram, also maintained his [referring to Muqatil bin Sulayman who was quoted above] theological belief relying on Christianity in terms of the concept of God"
12345678Sirry, M., 2012. Muqātil b. Sulaymān and anthropomorphism. Studia Islamica, 107(1), pp.38–64.
↑Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Universitas Boston, 2015. p. 71
12John Wansbrough, "The Sectarian Milieu" 2006 (original 1978)
↑see John Wansbrough, "Quranic Studies" 2005 (original 1977) page xli
↑Noval, Fazan (Desember 2024). "Kritik Said Faudah Terhadap Antropomorfisme". Tanwir: Journal of Islamic Civilization (dalam bahasa Indonesia). 1 (1). Ezzitouna University Tunisia: 94. Diakses tanggal 10 November 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Williams, Wesley (2002). "Aspects of the Creed of Imam Ahmad ibn Hanbal: A Study of Anthropomorphism in Early Islamic Discourse". International Journal of Middle East Studies. 34 (3): 441–463. doi:10.1017/S0020743802003021.
↑Gordon, Sarah. "Governing by teh Hisba." Gender, Law, and Security (2019): 59.
12Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. p. 12
12Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. p. 33
↑Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. pp. 12, 34. At least, that's the way Ahl al-Sunna, in particular among them Ashʿarites, depict themselves. But this is discussed. See for instance (fr) Mohyddin Yahiya, La pensée classique arabe. 4, Le kalâm d'al-Ash'ari, p. 40, who quotes D. Gimaret: «À beaucoup d'égards, c'est un penseur radical, extrême»(On many points, he is a radical and extreme thinker), because his positions are close from those of Ibn Hanbal.
12Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. pp. 31, 37
↑Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. p. 17
↑Much Hasan Darojat, Mohd Fauzi Hamat, and Wan Adli Wan Ramli. "Al-Baqillani's Critique to Anthropomorphist’s Concept of The Attributes of God." (2016). p. 2
↑Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. p. 43
↑Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. pp. 15–16
↑العرش by Al-Dhahabi (died: 748 AH), editor: Muhammad bin Khalifa bin Ali Al-Tamimi, published by: Deanship of Scientific Research at the Islamic University – Medina, second edition (1424 AH/2003 AD), 143/1.
↑Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz Al-Dhahabi (2009). Al-Bajawi, Ali Muhammad (ed.). ميزان الاعتدال[Mizan al-I'tidal (Keseimbangan Moderasi dalam Kritik periwayat)] (dalam bahasa Arab). Beirut, Lebanon: Dar al-Ma'rifa. Diakses tanggal 18 April 2022.
↑Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. "Tarikh Al-Kabir." Vol 8. "Muqatil bin Sulaiman"
↑Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. p. 20
12Sa'd, Ibn. "Muhammad. Kitab al-tabaqat al-kabir." Vol. 7 "Muqatil bin Suleiman al-Balkhi"
12Aisha Bewley (trans) "The Men of Madina, volume 1" 1997 page 231
12Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Oktober 2004). "Kelemahan Hadits-Hadits Tentang Fadhilah Yaasiin / Weakness of the hadiths regarding Fadeela of Yaasiin". Almanhaj. Pustaka Abdullah. Diakses tanggal 19 November 2023. Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2887) dan ad-Darimi (II/456), dari jalan Humaid bin Abdurrahman, dari al-Hasan bin Shalih dari Harun Abu Muhammad dari Muqatil bin Hayyan (yang benar Muqatil bin Sulaiman) dari Qatadah dari Anas secara marfu'; 2. Muqatil bin Hayyan. Kata Ibnu Ma'in: "Dha'if." Kata Imam Ahmad bin Hanbal: "Aku tidak peduli kepada Muqatil bin Hayyan dan Muqatil bin Sulaiman."; ...Imam Ibnu Abi Hatim berkata dalam kitabnya, al-'Ilal (II/55-56): "Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits ini. Jawabnya: 'Muqatil yang ada dalam sanad hadits ini adalah Muqatil bin Sulaiman, aku mendapati hadits ini di awal kitab yang disusun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits Batill, tidak ada asalnya.'"; ...Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: "Apabila sudah jelas bahwa Muqatil yang dimaksud adalah Muqatil bin Sulaiman, sebagaimana yang sudah dinyatakan oleh Imam Abu Hatim dan diakui oleh Imam adz-Dzahabi, maka hadits ini Maudhu' (Palsu).
↑Tohe, Achmad. Muqatil ibn Sulayman: A neglected figure in the early history of Qur'ānic commentary. Diss. Boston University, 2015. pp. 40–42
↑Abasoomar, Muhammad; Abasoomar, Haroon (27 Februari 2018). "The Great Hanafi Muhaddithun". Hadith Answers. Diakses tanggal 29 September 2020.
↑Jackson, Sherman A. "Ibn Taymiyyah on trial in Damascus." Journal of Semitic Studies 39.1 (1994): 41–85.