Munjungan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang terletak di kawasan pantai selatan. Pusat Kecamatan Munjungan berada di sebuah lembah yang subur di tepian Teluk Sumbreng dan dikelilingi perbukitan dan hutan lebat. Munjungan merupakan kecamatan yang terisolir, karena selain jarak yang jauh dari pusat kota, juga sulit diakses dari kecamatan lain karena jalan dengan tanjakan dan tikungan yang tajam serta rawan banjir dan longsor.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Munjungan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Trenggalek | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Yusuf Widharto, S.STP | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 54.441 jiwa | ||||
| Kode pos | 66365 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.03.02 | ||||
| Kode BPS | 3503020 | ||||
| Luas | 154,80 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 11 | ||||
| |||||
Munjungan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang terletak di kawasan pantai selatan. Pusat Kecamatan Munjungan berada di sebuah lembah yang subur di tepian Teluk Sumbreng dan dikelilingi perbukitan dan hutan lebat. Munjungan merupakan kecamatan yang terisolir, karena selain jarak yang jauh dari pusat kota, juga sulit diakses dari kecamatan lain karena jalan dengan tanjakan dan tikungan yang tajam serta rawan banjir dan longsor.[1][2]
Munjungan memiliki banyak pantai yang indah seperti Pantai Blado, Ngampiran, dan Kebo. Kecamatan ini merupakan salah satu sentra perikanan di Trenggalek dengan ikan asap sebagai salah satu produknya. Selain itu, Munjungan juga merupakan penghasil durian dan kelapa.[3] Warga di sekitar Teluk Sumbreng mengadakan upacara adat Longkangan tiap tahunnya untuk mensyukuri hasil bumi yang melimpah.[4]

Munjungan adalah kecamatan di pesisir selatan Trenggalek. Wilayahnya terisolir di kawasan Pegunungan Kidul. Sebagian besar wilayahnya merupakan daerah perbukitan dengan hutan yang lebat, tetapi juga ada dataran rendah di tepi pantai seperti Desa Munjungan dan Masaran yang juga dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Akses ke Munjungan cukup sulit dan jauh dari pusat kota. Salah satunya jalur dari arah Kecamatan Kampak yang terkenal curam terutama di tanjakan bernama Rengkek-rengkek.[2] Untuk mempermudah akses ke Munjungan, pemerintah merencanakan pembangunan Jalan Lintas Selatan Jawa (JLS) yang menghubungkan kawasan pesisir Watulimo (Prigi), Munjungan, hingga ke Panggul.[5]
Batas wilayah Kecamatan Munjungan adalah sebagai berikut:[6]
| Utara | Kecamatan Kampak dan Kecamatan Dongko |
| Timur | Kecamatan Watulimo |
| Selatan | Samudera Hindia |
| Barat | Kecamatan Panggul |
Kecamatan Munjungan terdiri dari 11 desa yang terbagi menjadi beberapa dusun atau dukuh. Yakni sebagai berikut:[6]
| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Bangun | Bangunsari, Banjar, Bendeleg, Grening, Jajar, Kandut, Ketok, Lancur, Mendut, Ngrampal, Pakel, Parang, Pathuk, Silap, Tambak, Tempel, Tempuran, Tuagung | [6] |
| 2 | Bendoroto | Botorawe, Doiso, Pagergunung, Podang, Pojok, Puthuk, Tenggong | [6] |
| 3 | Besuki | Krajan, Bangsore, Kaliatal, Kayuputih, Kebon, Mbedi, Pakuran, Ponggok, Tanggok, Torongan | [6] |
| 4 | Craken | Krajan, Duren, Gentungan, Ngadipuro, Peden | [6] |
| 5 | Karangturi | Krajan, Jati, Kalibening, Kebonsari, Nayu | [7] |
| 6 | Masaran | Krajan, Galih, Gembes, Kajang, Ngaliman, Ngaliran, Singgihan, Taman | [8] |
| 7 | Munjungan | Krajan, Bungur, Gebyog, Karangtuwo, Krosok, Pucung | [9] |
| 8 | Ngulungkulon | Ngadi, Ngrejo, Weru | [6] |
| 9 | Ngulungwetan | Krajan, Kempong, Tengahan | [6] |
| 10 | Sobo | Ngledok, Ngondo, Tenggar | [6] |
| 11 | Tawing | Tawing Krajan, Domerto, Duren Ijo, Gabahan, Gunung Kembar (Gemiring), Ketro, Njanti, Temboro | [10] |


Longkangan adalah upacara adat yang dilakukan warga sekitar Teluk Sumbreng sebagai rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Tradisi berupa sedekah bumi yang memiliki kemiripan dengan Larung Sembonyo di Prigi. Acara ini diawali dengan tumpeng besar yang diarak dari Kantor Kecamatan Munjungan dan berakhir di Pantai Blado. Prosesi dilanjutkan dengan hajatan dan pembacaan sejarah Longkangan. Selanjutnya tumpeng dilarung ke laut dengan ditarik perahu nelayan dan terhanyut ke laut. Acara ini dilaksanakan tiap tahunnya dan cukup meriah karena didatangi banyak pengunjung dari berbagai daerah.[4]