Muhidin M. Dahlan atau terkadang disapa dengan panggilan Gus Muh adalah penulis dan pegiat literasi Indonesia. Ia merupakan penulis novel berjudul Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh Hanung Bramantyo dengan judul adaptasi Tuhan, Izinkan Aku Berdosa. Sejak lama, ia dikenal sebagai pengkliping koran. Ia merupakan pengelola lapak dokumentasi dan kliping digital Indexpress, di bawah Indonesia Buku sejak 2006. Lapak itu lalu berubah nama menjadi Warung Arsip di Sewon, Bantul, Yogyakarta dan beralamatkan di Warungarsip.co. Sebagian hasil klipingnya juga diterbitkan menjadi sebuah buku yang bertajuk Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998 dan terbit pada 2023.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

(2017) | |
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 12 Mei 1978 Donggala |
| Data pribadi | |
| Agama | Islam |
| Pendidikan | Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (2000–2001) Universitas Negeri Yogyakarta (1997–2000) |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | penulis, novelis |
| Karya kreatif | |
Karya terkenal | |
Muhidin M. Dahlan (lahir 12 Mei 1978) atau terkadang disapa dengan panggilan Gus Muh adalah penulis dan pegiat literasi Indonesia. Ia merupakan penulis novel berjudul Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh Hanung Bramantyo dengan judul adaptasi Tuhan, Izinkan Aku Berdosa.[1] Sejak lama, ia dikenal sebagai pengkliping koran. Ia merupakan pengelola lapak dokumentasi dan kliping digital Indexpress, di bawah Indonesia Buku sejak 2006.[2] Lapak itu lalu berubah nama menjadi Warung Arsip di Sewon, Bantul, Yogyakarta dan beralamatkan di Warungarsip.co.[2] Sebagian hasil klipingnya juga diterbitkan menjadi sebuah buku yang bertajuk Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998 dan terbit pada 2023.[3]
Muhidin lahir pada 12 Mei 1978 di Pantai Barat, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, orang tuanya bekerja sebagai pekebun cengkih. Sejak remaja, Muhidin dikenal sebagai pribadi yang kritis. Ia sering mengikuti diskusi-diskusi sosial politik di tempat keagamaan dan hal itu mendorongnya untuk rajin membaca koran. Ia mengaku sering menggunakan pengetahuan yang diperolehnya untuk mendebat guru, misalnya perihal penerapan asas tunggal Pancasila.[2]
Muhidin menyelesaikan sekolah menengah di STM Negeri Palu pada 1996.[2] Ia kemudian merantau ke Yogyakarta dan sempat kuliah di jurusan Teknik Bangunan IKIP Yogyakarta dan Sejarah Peradaban Islam IAIN Sunan Kalijaga, tapi tidak sampai selesai.[4] Semasa menjadi pelajar dan mahasiswa, ia pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).[4] Saat menuju kota perantauannya, Yogyakarta, ia sempat singgah di Surabaya untuk bertemu aktivis pergerakan Islam di kota pahlawan itu.[2] Selama masa kuliah, Muhidin tinggal di asrama pelajar dan mahasiswa asal Sulawesi Tengah di Bintaran.[2] Pada tahun pertama, ia mengikuti persiapan ujian masuk perguruan tinggi dan baru pada 1997 ia mengikuti ujian dan dinyatakan lulus di IKIP Yogyakarta. Di kampus pertama ini, ia berkuliah dari 1997 hingga 2000. Pada 2000-2001, ia berkuliah di kampus IAIN Sunan Kalijaga.[2]
Saat masih kuliah, Muhidin aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Ekspresi, tepatnya dari 1997 sampai 2000. Kemudian, setelah memutuskan berhenti kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, ia menerbitkan sejumlah buku, yaitu Mencari Cinta (2002), Di Langit Ada Cinta (2003), dan Terbang Bersama Cinta (2003). Ketiga novel tersebut bertema psikologi. Selanjutnya, ia menulis novel yang dianggap kontroversial oleh sebagian orang, Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2003) dan Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta (2003).[2] Pada 2003, ia mulai bekerja sebagai editor di penerbit Lentera Dipantara yang dirintis oleh keluarga Pramoedya Ananta Toer. Muhidin bekerja dengan keluarga Pram berkat kontaknya dengan Astuti Ananta Toer, salah satu anak Pram. Mereka menghubunginya setelah membaca novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Dari sana, ia mulai mengenal Pram lebih dekat dan memahami cara kerjanya, termasuk pengarsipan dan kliping koran yang dilakukannya sejak dulu. Muhidin bertugas untuk menuliskan keterangan di bagian sampul depan dan belakang buku terbitan Lentera Dipantara.[2]
Muhidin menerima ancaman dan teror usai merilis novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! yang dipandang kontroversial. Ia pernah disidang oleh 100-an orang di auditorium sebuah kampus. Ia dibebaskan setelah kurang dari 20 menit memberikan penjelasan.[5] Ia kemudian melanjutkan dengan dua novel lain yang juga tak kalah kontroversial, Kabar Buruk dari Langit dan Adam & Hawa. Muhidin akhirnya memutuskan berhenti menulis fiksi setelah melihat kontroversi yang ditimbulkan oleh novel-novelnya di masyarakat.[5]
Pada 2009, buku yang ia tulis bersama Rhoma Dwi Aria Yuliantri yang berjudul Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Akibat pelarangan ini, ia mengaku sulit bergerak karena tulisan-tulisannya banyak ditolak oleh media.[6]
Pada awal 2024, Muhidin sempat dilaporkan oleh Ketua Umum kelompok advokat LISAN, Hendarsam Mantoko ke Bawaslu karena bukunya Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998. Mantoko menudingnya melakukan kampanye hitam dan menggiring opini bahwa Prabowo Subianto terlibat kekerasan dan kerusuhan Mei 1998 lewat buku yang terbit pada 2023 tersebut.[7]
| Tahun | Judul | Catatan |
|---|---|---|
| 2023 | Tuhan, Izinkan Aku Berdosa | Adaptasi dari novel karya Muhidin M. Dahlan |
Muhidin cukup produktif menulis novel dan buku, sebagian di antaranya adalah: