Mongush Buyan-Badyrgy adalah seorang politikus dan negarawan Tuva. Diadopsi oleh seorang noyon setelah kelahirannya, ia menggantikan ayah angkatnya dalam jabatan tersebut antara 1907 dan 1909. Ia menjadi noyon untuk kozhuun-nya kala wilayah Tuva beralih dari kendali Tiongkok menjadi protektorat Rusia p[ada 1914, yang dikenal sebagai Krai Uryankhay. Ia adalah tokoh utama di protektorat tersebut dan kemudian mengetuai Dewan Permusyawaratan Seluruh Tuva pada 1921, yang menghimpun wilayah tersebut sebagai negara merdeka, Republik Rakyat Tannu Tuva.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Mongush Buyan-Badyrgy | |
|---|---|
| |
| Ketua Dewan Pusat Umum | |
| Masa jabatan 16 Agustus 1921 – Februari 1922 | |
| Ketua Dewan Menteri | |
| Masa jabatan ca Oktober 1923 – 1924 atau 1925 | |
| Sekretaris Jenderal Partai Revolusioner Rakyat Tuva | |
| Masa jabatan Oktober 1925 – September 1927 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1892-04-25)25 April 1892 Ayangaty, Barun-Khemchik, Tuva |
| Meninggal | 22 Maret 1932(1932-03-22) (umur 39) |
| Partai politik | Partai Revolusioner Rakyat Tuva |
| Pekerjaan |
|
Mongush Buyan-Badyrgy (bahasa Tuva: Моңгуш Буян-Бадыргыcode: tyv is deprecated , bahasa Rusia: Монгуш Буян-Бадыргыcode: ru is deprecated ; 25 April 1892 – 22 Maret 1932) adalah seorang politikus dan negarawan Tuva. Diadopsi oleh seorang noyon (kepala suku) setelah kelahirannya, ia menggantikan ayah angkatnya dalam jabatan tersebut antara 1907 dan 1909. Ia menjadi noyon untuk kozhuun-nya (divisi administratif) kala wilayah Tuva beralih dari kendali Tiongkok menjadi protektorat Rusia p[ada 1914, yang dikenal sebagai Krai Uryankhay. Ia adalah tokoh utama di protektorat tersebut dan kemudian mengetuai Dewan Permusyawaratan Seluruh Tuva pada 1921, yang menghimpun wilayah tersebut sebagai negara merdeka, Republik Rakyat Tannu Tuva (kemudian Republik Rakyat Tuva).
Sebagai pejabat papan atas dalam pemerintahan Partai Revolusioner Rakyat Tuva, Buyan-Badyrgy menjadi kepala negara dari negara baru tersebut pada 1921. Memegang jabatan tersebut sampai 1922, ia kemudian menjabat sebagai kepala pemerintahan, sekretaris jenderal Partai Revolusioner Rakyat Tuva, dan memegang sejumlah jabatan penting lainnya di neagra tersebut. Dianggap sebagai diplomat terampil, ia memimpin negosiasi dengan neagra sekitar terkait berbagai masalah dan membantu Tuca meraih pengakuan resmi dari Uni Soviet dan Mongolia.
Namun, pada akhir 1920an, peningkatan promosi teokratik Buddhis oleh beberapa orang Tuva utama termasuk Buyan-Badyrgy memicu keresahan pemerintah Uni Soviet. Sebagai tanggapannya, Soviet membantu beberapa pemuda Tuva untuk menggulingkan pemerintahan pada 1929. Ini berujung pada penangkapan Buyan-Badyrgy dan beberapa orang lainnya, dan ia dieksekusi tanpa pengadilan pada 1932. Setelah keruntuhan Uni Soviet, Buyan-Badyrgy menjadi figur yang dimuliakan di kalangan orang Tuva, dengan banyak monumen dibangun untuknya dan penghargaan tertinggi kedua Republik Tuva diambil dari namanya.
Buyan-Badyrgy lahir pada 25 April 1892, di Ayangaty, dekat sungai Ovaalyg-Khemchigesh,[1] yang terletak di kozhuun (divisi administratif) Barun-Khemchik, Tuva.[2] Ia lahir dari keluarga Arat yang besar tetapi miskin,[3] putra dari Mongush Nomchug, seorang gembala.[4][5] Saat masih bayi, dengan izin orangtuanya,[6] ia diadopsi oleh noyon (kepala suku) kozhuun Khemchik, Khaidyp Uger-Daa, yang menguasai sepertiga wilayah Tuva.[2][5] Terdapat sejumlah legenda soal adopsi Buyan-Badyrgy.[3] Dalam sebuah legenda, Khaidyp dikatakan bermimpi bahwa di dekat yurt-nya akan lahir seorang anak yang ditakdirkan untuk menjadi kepala negara.[3] Legenda lainnya menyatakan bahwa pada hari kelahiran Buyan-Badyrgy, Khaidyp "mengetahui soal kelahiran anak dengan takdir luar biasa ... saat membaca kitab-kitab suci."[3] Ia datang untuk melihat jika ada anak yang baru lain siapapun di kalangan warganya dan menemukan Buyan-Badyrgy, kemudian mengadopsinya dengan "ditukar"[a] teh hijau dan sejumlah sapi.[3] Khaidyp sendiri tak memiliki anak dan kemudian membesarkan Buyan-Badyrgy sebagai pewaris gelar noyon.[5] Ia dibesarkan dalam keadaan mewah.[5]
Khaidyp menunjukkan perhatian besar dalam pengasuhan Buyan-Badyrgy, menyediakannya dengan pendidikan yang baik.[7] Buyan-Badyrgy menonjolkan kecerdasannya kala ia dibesarkan dan dikenal karena memiliki "pikiran yang tajam, esensi besar terhadap keuntungan diri, perilaku sempurna dan penekanan untuk [membuat] kompromi masuk akal."[2][8][9] Menurut catatan paling umum, yang diberikan oleh Mongush Kenin-Lopsan, ayah angkat Buyan-Badyrgy mengundang banyak pakar papan atas dalam berbagai bahasa untuk mengajarinya dan memberikannya sejumlah bidang pelajaran yang meliputi sejarah, astrologi, pengobatan, matematika, psikologi dan filsafat.[1][7] Ia diajari bahasa Tibet dan Mongolia sejak usia lima tahun dan telah "menguasainya" dari usia muda;[2][7] ia juga lancar berbahasa Sanskerta, Rusia dan tionghoa, selain bahasa Tuva.[10] Sebagai Buddhis, ia menjadi murid di bawah bimbingan lama Oskal Urjut.[11]
Ayah angkat Buyan-Badyrgy dipuji atas "sifat mulia, pengetahuan mendalam, dan kemampuan[nya] untuk memerintah," dengan gelar Uger-Daa yang artinya "Promotor Kesucian".[11] Khaidyp mulai memandang tetangga Rusia dengan perasaan tidak suka setelah Perang Rusia-Jepang.[11] Antara 1907 dan 1909,[b] ia diundang ke kota Usinsk untuk negosiasi dengan Rusia, kala ia diyakini diracun.[11] Ia ditawari minuman yang tak diketahui kala ia meninggalkan kota tersebut dan kala ia pulang ke rumah, menurut catatan saksi mata, "gigi putihnya menjadi hitam akibat penyakit tak diketahui" dan ia meninggal tak lama setelahnya.[5] Lama Daryn Shuluu, yang memeriksa Khaidyp, menyatakan bahwa ia telah diracun.[5]
Setelah kematian ayah angkatnya, Buyan-Badyrgy diberi gelar gun dan menggantikan ayahnya sebagai noyon.[7][11] Ia dilantik menjadi noyon di ibukota Mongolia Uliastai dan antara usia 15 dan 17 tahun[c] pada waktu itu.[7] Ia menjadi orang paling berkuasa kedua di Tuva, hanya setelah amban-noyon (penguasa seluruh wilayah), dan memegang otoritas atas wilayah kozhuun Khemchik.[d][7][2] Menurut Salimaa Khovalyg dalam Bulletin of Eurasia, memoir dari masyarakat sezaman di bawah kekuasaannya, serta dari pejabat politik kozhuun, menggambarkannya sebagai "orang yang menyenangkan, cerdas, perhatian yang menghimpun tugasnya untuk mengatur masyarakat seturut hukum dan adat. Ia berbed adengan noyon lainnya dalam hal kualitas seperti toleransi, keinginan terhadap pengetahuan, [dan] penghormatan terhadap orang-orang berpengetahuan – para ahli dari kerajinan mereka."[7]
Meskipun berusia muda, Buyan-Badyrgy dideskripsikan oleh sejarawan Tyntchtykbek Tchoroev sebagai "seorang diplomat alami yang cerdik, percaya diri, luwes, dan dapat membuat kesepakatan."[11] Pada tahun-tahun pertamanya sebagai noyon, Buyan-Badyrgy meneruskan kebijakan ayah angkatnya dan berniat untuk menjalin hubungan persahabatan dengan Tiongkok.[12] Kebijakannya disebut sebagai "umumnya anti-Rusia dan pro-Tiongkok."[13] Ini dibuktikan olehnya dengan berupaya untuk menghentikan perdagangan dengan Rusia, dan pengerahan 2.000 pasukan yang melindungi pelabuhan-pelabuhan dagang Tiongkok di Tuva.[14] Pada 1911, sebuah revolusi terjadi di Tiongkok yang berujung pada penggulingan Dinasti Qing, dan ini mengakibatkan pertanyaan timbul soal nasib wilayah Tuva (yang berada di bawah kekuasaan Tiongkok pada masa dinasti tersebut).[14] Pada akhir tahun, para penguasa setiap kozhuun di Tuva memutuskan untuk mengadakan sebuah kongres.[14] Kongres tersebut diadakan pada Januari 1912, dan mendapatkan berbagai wacana soal apa yang harus dilakukan kepada Tuva.[14] Amban-noyon mempromosikan gagasan untuk bergabung dengan Rusia, dengan faksinya menyatakan kesepakatan karena barang-barang yang dibawa oleh para pedagang Rusia, berlawanan dengan Tiongkok yang "tak mensuplai penduduk dengan barang-barang konsumen" yang meninggalkan rakyat Tuva dalam kemiskinan.[14]

Meskipun Buyan-Badyrgy awalnya membela Tiongkok sepanjang akhir 1911, usai kejatuhan dinasti tersebut, serta deklarasi kemerdekaan Mongolia Luar, ia secara signifikan mengubah pandangannya.[13] Ia mulai mempromosikan gagasan agar Tuva dianeksasi ke Mongolia.[15] Kongres tersebut menghasilkan deklarasi Tuva sebagai Republik Uryankhay yang independen.[13] Kemudian, para pemimpin dari beberapa kozhuun mengajukan petisi untuk kewarganegaraan Mongolia.[16] Namun, dengan pemerintahan Tiongkok baru berharap untuk mengintegrasikan kemabli Tuva dan Mongolia sebagai bagian dari wilayahnya, mayoritas pemimpin Tuva, termasuk Buyan-Badyrgy,[17] memutuskan untuk berbalik ke Rusia untuk perlindungan.[18] Pada 26 Oktober 1913, Buyan-Badyrgy mengirim sebuah surat kepada Nikolas II, Kaisar Rusia:
Sekitar tiga ratus tahun lalu (pada 1616), di bawah tsar Rusia pertama dari Wangsa Romanov yang berkuasa saat ini, Mikhail Fedorovich, leluhur kami, yang mengembara di sepanjang Sungai Khemchik, bersumpah setia kepada Rusia melalui utusan Rusia pertama untuk kawasan ini, Vasily Tyumenets. Kini, dengan peniadaan dinasti Manchu (Qing) di Tiongkok dan dengan proklamasi kemerdekaan Mongolia, aku dan kozhuun-ku telah ditinggalkan tanpa perlindungan, dan kami, orang-orang Uriankh, masih belum mampu untuk berdiri secara independen karena jumlah kami yang kecil. Sehingga, aku dan para pejabat spiritual dan sekulerku beserta seluruh rakyat, setelah diskusi menyeluruh dan panjang soal situasi yang telah timbul, secara tanpa ragu memutuskan untuk meminta Tsagan Khan agung untuk menerima seluruh kozhuun di bawah tangan dan perlindungan kedaulatan tingginya...[17]
Dalam surat Buyan-Badyrgy, ia juga meminta pelestarian gelar, pangkat dan jabatan Tuva, agar orang-orang Rusia takkan campur tangan dengan agama Buddha dan pengecualian orang Tuva dari penugasan dalam militer.[17] Permintaannya diterima. Pada 17 April 1914, Krai Uryankhay didirikan sebagai protektorat Rusia.[17] Di protektorat baru tersebut, terdapat tujuh kozhuun yang dibentuk, yang dipimpin oleh ukherid, dengan kepala seluruh wilayah adalah amban-noyon; terdapat juga Komisar, "yang secara efektif menjadi perwakilan Rusia, pejabat Kementerian Urusan Dalam Negeri, yang bertugas dalam penempatan pemukim Rusia."[18] Pada 1917, 12.000 orang Rusia telah pindah ke Tuva, dengan kebanyakan bermukim di pusat baru protektorat tersebut, kota Belotsarsk (kini Kyzyl).[17][18] Rencana untuk pembangunan Belotsarsk dikoordinasikan oleh Buyan-Badyrgy.[17]
Meskipun Tuva kini menjadi protektorat Rusia, beberapa orang tuva utama masih memiliki sentimen pro-Mongol atau pro-Tiongkok. Meskipun Mongolia maupun Tiongkok menarik klaim sebelumnya terhadap wilayah tersebut, mereka masih memiliki pengaruh.[18] Keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia I memicu pandangan lebih skeptis terhadap Rusia di kalangan elit Krai Uryankhay, dan mendorong figur-figur di protektorat tersebut yang mengupayakan hubungan politik yang lebih dekat dengan Tiongkok.[18] Setelah Revolusi Februari, Pemerintahan Sementara yang baru terus mempertahankan status Krai Uryankhay sebagai protektorat. Pada Agustus 1917, Pemerintahan Sementara mendirikan serangkaian pemerintahan lokal yang dirombak di Siberia.[18] Namun, kekuasaan Tsaris di Krai Uryankhay Krai tak berlangsung lama, dan Uni Soviet merebut wilayah tersebut pada Maret 1918.[19] Tak lama setelah itu, pasukan Soviet memulai program redistribusi ambisius di Krai Uryankhay, meredistribusikan para gembala ternak dan harta benda pedagang Rusia berpengaruh.[19]
Namun, keputusan tersebut mendatangan pemberontakan di kalangan elit protektorat tersebut, yang mengindang pasukan dan diplomat Mongolia dan Tiongkok ke wilayah tersebut dan mulai memperdalam hubungan politik dan ekomnomi dengan dua negara tersebut.[19] Kehadiran pasukan Tiongkok dan Mongolia di wilayah tersebut memicu potensi konfrontasi besar antar pasukan dua negara tersebut dan pasukan Tentara Merah lokal. Namun, Pemerintahan Siberia Sementara di Omsk memutuskan untuk menghindari konfrontasi apapun dengan menegosiasikan pengeluaran pasukan dua negara tersebut tak lama setelahnya.[19] Kemudian, upaya anti-Soviet di wilayah tersebut menghasilkan kesuksesan, dan pemerintahan Soviet lokal runtuh pada Juli 1918, digantikan oleh Pemerintahan Siberia Sementara yang dipimpin oleh Pyotr Vologodsky.[20] Di tengah-tengah peristiwa tersebut, Buyan-Badyrgy berupaay untuk memperdalam hubungan dengan Tiongkok.[15] Ia juga menjadi salah satu negosiator utama di Tuva, mengadakan pertemuan khusus dengan pemerintahan sementara soal masa depan wilayah tersebut.[15] Meskipun kebanyakan elit politik dan spiritual Tuva mengharapakan aneksasi ke Mongolia , Buyan-Badyrgy mulai mengadvokasikan kemerdekaan Tuva dan hak kedaulatan untuk rakyatnya.[15] Ia mengadakan pertemuan antara kepala-kepala suku Tuva yang berujung pada perancangan konstitusi untuk kemerdekaan Tuva pada masa depan.[11]
Dalam Kongres Rusia di Krai Uryankhay yang diadakan pada musim panas 1918, mereka memutuskan agar pihak Soviet yang akan berdiri bakal mengakui bangsa Tuva dan memperkenankan mereka untuk membentuk negara kebangsaan mereka sendiri.[21] Namun, di tengah-tengah Perang Saudara Rusia, banyak konflik terjadi yang menunda kemerdekaan Krai Uryankhay.[20] Pasukan Tiongkok berkirab ke protektorat tersebut pada musim gugur 1918, menduduki sebagian besar belahan selatan dan barat dari wilayah tersebut.[20] Pasukan Mongolia menyusul tak lama setelahnya, menduduki wilayah tambahan di selatan.[20] Kerusuhan anti-Rusia, yang dipimpin oleh para pejabat Tuva, pecah pada awal 1919 yang mengusir Pemerintahan Siberia Sementara.[22] Ini memperkenankan Tiongkok dan Mongolia untuk mengambil kekuasaan atas wilayah tersebut. Namun, pada 1921, Soviet mengalahkan Alexander Kolchak, pemimpin gerakan Putih dalam Perang Saudara, mengusir pasukan Tiongkok dan Mongolia di wilayah tersebut, dan mengambil alih kekuasaan.[23]
Pada Juni 1921, sebuah pertemuan diadakan antara Buyan-Badyrgy, yang mewakili dua kozhuun, dan seorang delegasi Rusia yang dipimpin oleh I. G. Safyanov, seorang perwakilan Komite Revolusioner Siberia.[2] Merek membahas pertanyaan terhadap kemerdekaan untuk Tuva, dengan Buyan-Badyrgy menaytakan:
"}},"i":0}}]}' id="mwAcE"/>Pertanyaan terhadap kemerdekaan wilayah tersebut adalah titik penekanan yang bertahan lama nan panjang ... Rakyat Uryankhay telah berjuang demi pembebasan mereka selama beberapa tahun, tetapi karena kelemahan mereka, mereka tak dapat meraih emansipasi penuh dan sebagai akibat dari perjuangan sulit, yang menggulingkan beberapa orang, mereka bahkan menghadapi para pemerkosa yang lebih kuat, yang lebih dibenci. Pada masa saat ini, kala rakyat Uryankhay merasakan perlindungan kuat dari pihak pemerintahan Soviet Rusia, kondisi untuk penentuan nasib sendiri dari masyarakat lebih memungkinkan ketimbang sebelumnya.[2]
Diskusi tersebut dihasilkan dalam rencana untuk pertemuan berikutnya pada Agustus 1921 untuk memutuskan masa depan Tuva.[24] Ini terjadi dengan pembentukan Khural Permusyawaratan Seluruh Tuva dari 13 sampai 16 Agustus 1921, yang disebut oleh Khovalyg sebagai "secara tanpa meragukan merupakan persitiwa paling signifikan dalam sejarah orang Tuva."[25] Kongres tersebut menghadirkan 63 perwakilan asal tujuh dari sembilan kozhuun, 17 perwakilan Rusia yang meliputi Safyanov, tiga perwakilan Mongolia, dan satu perwakilan dari Sekretariat Timur Jauh Comintern.[25] Buyan-Badyrgy, yang dianggap sebagai sosok paling "otoritatif dan melek huruf di kalangan penguasa Tuva," dipilih menjadi ketua kongres.[2][25] Kongres tersebut menghasilkan deklarasi Republik Rakyat Tannu Tuva sebagai negara merdeka, "sebuah negara merdeka dari rakyat merdeka, merdeka dari pihak manapun dalam urusan dalam negerinya."[25] Setelah mengikuti Soviet, Tannu Tuva menjadi negara komunis, salah satu dari hanya tiga di dunia pada tahun-tahun awalnya.[26]
Di kongres, Buyan-Badyrgy "menunjukkan dirinya menjadi politikus perhatian, sopan, secara moderat demokratis," menurut Khovalyg. Ia menjadi "pendukung tak terkondisional dari Tuva yang merdeka dan memberdayakan diri."[25] Atas jasanya dalam pengadaan kongres tersebut, ia dianggap sebagai salah satu pendiri negara Tuva.[24] Kongres tersebut juga membuat konstitusi pertama untuk Republik Rakyat yang baru.[25] Buyan-Badyrgy "menganggapnya dibutuhkan untuk menghimpun keberlanjutan tertentu dengan adat dan hukum sebelumnya."[25] Bagian paling diperdebatkan dari usulan konstitusi tersebut adalah dukungan Rusia untuk meniadakan pemakaian siksaan dalam interogasi, yang ditentang oleh Buyan-Badyrgy, tetapi kemudian mengumumkan bahwa ia akan menerimanya.[27] Ia juga memainkan peran penting dalam menghimpun konstitusi yang memberikan kesetaraan pada setiap warga negara; Tuva.Asia menyebutnya sebagai "pengabdian besar – hak dari sistem feodal menjadi masyarakat bernorma demokratis."[27]
Setelah Tannu Tuva berdiri sebagai negara merdeka, pemerintahan dibentuk, yang disebut Dewan Pusat Umum.[24] Dewan tersebut mendatangkan satu perwakilan dari setiap kozhuun, dan Buyan-Badyrgy, atas nasihat dari I. G. Safyanov, diangkat menjadi ketua dewan.[24] Kemudian, dimulai pada 16 Agustus 1921, ia menjadi kepala negara Tuva, serta bertindak sebagai kepala pemerintahan.[24][12] Ia juga menjadi salah satu Partai Revolusioner Rakyat Tuva yang mengendalikan pemerintah.[24][26][28]
Tannu Tuva menjalin hubungan dekat dengan Uni Soviet setelah kemerdekaan.[11] Dalam buku Sejarah etnopolitik Tuva pada abad ke-20, Buyan-Badyrgy dikatakan menjadi "salah satu dari sedikit politikus Tuva yang dengan semangat mendukung kedaulatan republik muda tersebut" pada tahun-tahun pertamanya.[28] Ia masih menjadi kepala negara dan pemerintahan sampai Februari 1922.[12] Kemudian pada tahun tersebut, ia menjadi wakil ketua Dewan Menteri (kabinet) dan menghadiri pertemuan Komite Pusat Partai Revolusioner Rakyat Tuva.[29] Partai Revolusioner Rakyat Tuva, yang didirikan olehnya, dibubarkan pada 1922, tetapi kemudian dibentuk kembali pada 1923, dengan Buyan-Badyrgy bergabung kembali pada 25 Mei 1923.[24] Ia mengkontribusikan pembentukan Konstitusi Tannu Tuva baru pada 1923.[11]
Pada 20 September 1923, Buyan-Badyrgy menghadiri Khural Besar Pertama (Kongres Rakyat) Tannu Tuva yang diadakan di Kyzyl.[30] Pertemuan tersebut menghasilkan pembagian wilayah baru uintuk negara tersebut, yang dibagi menjadi enam kozhuun.[30] Pertemuan tersebut juga menghasilkan peniadaan gelar dan pangkat feodal, pembentukan sistem keuangan dan biaya Tannu Tuva, dan penggelontoran pajak untuk mendanai biaya.[30] Pertemuan tersebut mendirikan kabinet baru Tannu Tuva yang mengangkat Buyan-Badyrgy menjadi Ketua Dewan Menteri, kepala pemerintahan dan jabatan setara perdana menteri.[24][12] Dewan Menteri juga meliputi Danzyn-ool, wakil ketua untuk Buyan-Badyrgy; Oyun Sodunam-Balchyr, Menteri Kehakiman; Soyon Oruygu, Menteri Urusan Luar Negeri; Khertek Anandy, Menteri Keuangan; dan Danzyryn, Menteri Urusan Dalam Negeri.[24] Selain menjabat sebagai Ketua Dewan Menteri, Buyan-Badyrgy juga menambahkan jabatan Menteri Urusan Luar Negeri.[2]
Dari Juli sampai Agustus 1924, Buyan-Badyrgy menghadiri konferensi tripartit di Kyzyl yang mendatangkan orang-orang Tuva, Rusia, dan Mongolia, yang diketahui oleh.[29][9] Pertemuan tersebut menyoroti konflik bersenjata di kozhuun Khemchik dan membahas proposal oleh dua pemimpin Tuva agar negara tersebut dianeksasi ke Mongolia.[29] Buyan-Badyrgy dengan teguh mengadvokasikan agar Tannu Tuva tetap merdeka dan pertemuan tersebut menyatakan agar konflik kozhuun dipadamkan dan Tannu Tuva tetap merdeka. Setelah pertemuan tersebut, Uni Soviet memutuskan untuk secara resmi mengakui negara tersebut.[29][2][11][31] Ini kemudian berujung pada pendirian hubungan persahabatan dengan Uni Soviet pada 1925, dan Mongolia secara resmi mengakui negara tersebut pada 1926.[29][11] Pada September 1924, Buyan-Badyrgy mengkontribusikan Konstitusi Tannu Tuva baru lainnya.[9] Diadopsi di Khural besar Kedua, konstitusi tersebut memproklamasikan bahwa negara tersebut akan berkembang seturut jalur non-kapitalis dengan Partai Revolusioner Rakyat Tuva menjadi satu-satunya partai dan cabang Tuva dari Komunis Internasional.[21]
Pada titik ini, Buyan-Badyrgy disebut oleh peneliti V. A. Dubrovsky berada pada "puncak karir politiknya," dengan Dubrovsky menyatakan bahwa "karena bakat alaminya dan pendidikan, kecerdikan dan keterdepanan ... Ia memegang otoritas yang digelar dengan baik di antara orang-orang Tuva, Rusia dan Mongol."[32] Menurut Khovalyg, ia dikenal di antara orang-orang sezamannya sebagai "pembela terampil dan berkepentingan dari kepentingan rakyatnya," dan dianggap menjadi diplomat terampil.[31] Pada Oktober 1925, Partai Revolusioner Rakyat Tuva mendirikan biro politik dan jabatan Sekretaris Jenderal Partai Revolusioner Rakyat Tuva; Buyan-Badyrgy menjadi orang pertama yang terpilih pada jabatan tersebut.[33] Pada Desember, ia memimpin pendirian sayap pemuda untuk Partai Revolusioner Rakyat Tuva, sebuah gagasan yang didukung olehnya beberapa tahun sebelumnya, dan memberikan pidato penyambutan di khural Persatuan Pemuda Revolusioner Seluruh Tuva.[2][33] Ia diangkat menjadi anggota pemuda revolusioner kehormatan dan menjadi bagian dari Komite Pusat sayap pemuda.[33]

Buyan-Badyrgy berkontribusi pada adopsi Konstitusi baru lainnya pada 1926,[32] yang menghasilkan penggantian nama Republik Rakyat Tannu Tuva menjadi Republik Rakyat Tuva dan adopsi bendera dan lambang resmi.[21] Setelah terpilih kembali sebagai Sekretaris Jenderal pada 1926, Buyan-Badyrgy mengundurkan diri pada September 1927.[e] Di samping pengunduran dirinya, seorang perwakilan Comintern, S. A. Natsov, masih mengusulkan namanya untuk pemilihan ulang, mendeklarasikan bahwa: "Kamerad Buyan-Badyrgy, yang bekerja dalam kepemimpinan partai [Partai Revolusioner Rakyat Tuva], telah dilakukan dan juga melakukan perkembangan partai lebih lanjut. Ini seharusnya secara khusus menyatakan bahwa hubungan dengan Komunis Internasional telah dibentuk, partai telah menjadi anggota Petani Internasional. Siapakah yang berjasa atas semua ini? Semua ini hanyalah jasa dari Kamerad Buyan-Badyrgy."[2] Ia diangkat menjadi Menteri Keuangan pada November 1926. Dalam jabatan tersebut, ia menandatangani kontrak untuk pemanfaatan emas dan pertambangan dengan Rusia pada Agustus 1927.[32] Ia juga menjabat sebagai sekretaris Khural Kecil dari 1928 sampai 1929. Pada waktu itu, ia juga bekerja untuk keamanan internal Tuva sebagai kepala departemen penyelidikan.[2]
Pada 1920an, Buyan-Badyrgy juga aktif merancang UU dalam legislatur.[12] Ia mengetuai komisi legislatif Tuva dan menjadi pembuat hukum negara terkait pernikahan dan keluarga.[8][34] Diplomat Soviet A. G. Starkov menyatakan bahwa dampak Buyan-Badyrgy di Tuva mirip dengan Vladimir Lenin di Rusia, sementara S. A. Natsov menyebutnya sebagai "tokoh terkenal" yang dikenal di beberapa neagra di laur Tuva yang meliputi Mongolia dan Tiongkok.[24] Seorang etnografer Rusia, M. G. Levin, yang mengunjungi negara tersebut pada 1926, menyatakan bahwa "menjamu setiap orang lainnya dengan sikap, perilaku dan wajah cerdiknya. Buyan-Badyrgy adalah mantan pangeran, kini kepala negara de facto dan pemimpin komunitas pertumbuhan pemuda."[24]
Buyan-Badyrgy adalah pendukung kuat Buddhisme dan partisipan aktif dalam Kongres Lama Seluruh Tuva.[8][34] Pada pertengahan dan akhir 1920an, kepala pemerintahan Tuva Donduk Kuular memulai upaya untuk mengubah negara tersebut menjadi teokrasi Buddhis. Upayanya makin mengusik pemerintah Soviet, termasuk Joseph Stalin.[26] Tindakan tersebut menimbulkan sengketa antara apa yang dipandang sebagai "sayap kanan" – orang-orang yang merupakan "mantan pangeran, pejabat tingkat tinggi, lama dan orang-orang Tuva kaya," seperti Buyan-Badyrgy – dan "sayap kiri" – orang-orang yang menentang tokoh-tokoh Tuva tersebut dan didukung oleh Soviet.[35] "Sayap kiri" mengharapkan penyingkiran "unsur-unsur asing" dalam Partai Revolusioner Rakyat Tuva dan menunjukkan "ketidakselarasan terhadap sikap" tokoh-tokoh seperti Kuular dan Buyan-Badyrgy.[35]
Buyan-Badyrgy sebelumnya mengirim banyak pemuda Tuva ke Universitas Komunis Para Pekerja dari Timur.[36] Para pemuda tersebut kembali pada 1929 dan, dengan bantuan Soviet dan Comintern, meraih jabatan otoritas politik.[35][37][38] Dipengaruhi oleh Soviet, mereka kemudian memimpin sebuah kudeta, dengan Salchak Toka, salah satu dari mereka, menjadi pemimpin baru dan melaksanakan Sovietisasi Tuva.[26][36] Buyan-Badyrgy dilepaskan dari jabatan, diusir dari partainya, dan dipaksa berpindah ke kozhuun berbeda.[24][37]
Sebuah pemberontakan bersenjata terjadi di kozhuun Khemchik pada Maret 1930, yang diyakini "dipicu oleh para perwakilan mantan bangsawan dan rohaniwan Buddhis dengan tujuan mendiskreditkan pemerintahan baru."[37] Tak lama setelahnya, Buyan-Badyrgy ditangkap, tanpa penyelidikan apapun, atas dakwaan mendalanginya beserta pemberontakan lainnya pada 1924.[2] ia ditahan selama dua tahun, nampaknya di Kyzyl.[5] Saat di penjara, ia menulis serangkaian sembilan elegi, masing-masing meliputi kata "kesedihan" pada judulnya.[36] Ia menyatakan penyesalan terhadap orang-orang yang dikirim olehnya ke universitas tersebut berbalik padanya, menulis dalam sebuah puisi bahwa "Orang-orang yang aku ajari menjadi harimau."[11] Dalam puisi terakhirnya, yang diterbitkan pada akhir hidupnya, ia menulis "kesedihan namaku", menyadari eksekusi tertundanya, tetapi menyatakan bahwa "Hari pembongkaran kebohongan tentunya akan datang ... Dan akan ada waktunya untuk menyanjung kebaikanku."[12][36]
Pada 1932, Biro Politik Partai Revolusioner Rakyat Tuva menyebut Buyan-Badyrgy sebagai "musuh rakyat" dan menuduh keterlibatannya dalam "pencurian kontra-revolusioner."[11][39] Pada 22 Maret, ia dieksekusi oleh regu tembak tanpa pengadilan atau penyelidikan, pada usia 39 tahun saat kematiannya.[24] Donduk Kuular dan sejumlah mantan pemimpin Tuva berpengaruh lainnya dieksekusi bersama dengannya.[37]

Buyan-Badyrgy telah menikah, meskipun ia tak memiliki anak darinya sendiri.[36] Ia mengadopsi tiga anak,[36] termasuk seorang putri dari seorang kenalan, yang ia sebut Dembikei.[9] Ia tinggal dengan keluarnya di dekat Kuil Chadan Hulu pada tepi sungai.[32] Para keturunan anak angaktnya masih tinggal di Tuva.[39]
Republik Rakyat Tuva kemudian dilebur ke Uni Soviet pada 1944.[26] Para sejarawan pada zaman Soviet seringkali memandang Buyan-Badyrgy secara negatif. Namun, setelah keruntuhan Uni Soviet, ia menjadi figur dimuliakan di wilayah tersebut, dipandang atas kebajikannya dan sebagai "demokrat sebenarnya [dan] pembela kepentingan rakyat."[11][40] Ia menerima pengampunan sebagian pada 1994 dan pengampunan penuh pada 2007.[11]
Banyak jalan di Tuva diambil dari namanya, serta sebuah museum lokal.[11] Sebuah buku dua volume berdasarkan pada kehidupan Buyan-Badyrgy, Buyan-Badyrgy (bahasa Rusia: Буян-Бадыргыcode: ru is deprecated ), diterbitkan oleh Mongush Kenin-Lopsan pada 2000.[41] Sebuah opera drama musikal tiga bagian berdasarkan pada buku tersebut dikomposisikan oleh Sergey Badyraa dan pertama kali dipentaskan pada 2007.[42] Pada 2012,[39] pemerintah Tuva membuat Ordo Buyan-Badyrgy, penghargaan tertinggi kedua di wilayah tersebut (setelah Ordo Republik), dengan penerima pertamanya adalah Kenin-Lopsan.[43] Pada September 2014, sebuah monumen dibangun untuknya di ibukota Tuva, Kyzyl, dan monumen Buyan-Badyrgy lainnya didirikan pada 2015.[11][44] Ia dicantumkan dalam Buku Negara "Tokoh Kehormatan Tuva Abad ke-20", sebuah penghormatan setara dengan meraih Ordo Republik, penghargaan tertinggi Tuva.[45]