Miko adalah istilah dalam agama Shinto di Jepang, merujuk pada wanita kuil (jinja) atau pendeta-wanita pendamping yang dulu pernah dipandang sebagai dukun tetapi dalam budaya Jepang modern pekerjaan tersebut dikenali sebagai peran secara adat dalam kehidupan di kuil sehari-hari, terlatih untuk mengerjakan tugas mulai dari melakukan penyucian hingga melakukan Kagura, suatu tarian suci.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Miko (巫女code: ja is deprecated ) adalah istilah dalam agama Shinto[1] di Jepang, merujuk pada wanita kuil (jinja)[2] atau pendeta-wanita pendamping[3] yang dulu pernah dipandang sebagai dukun[4] tetapi dalam budaya Jepang modern pekerjaan tersebut dikenali sebagai peran secara adat[5] dalam kehidupan di kuil sehari-hari, terlatih untuk mengerjakan tugas mulai dari melakukan penyucian[6] hingga melakukan Kagura,[7] suatu tarian suci.
Pakaian tradisional miko adalah hakama (sejenis celana panjang longgar) berwarna merah atau rok panjang berlipat, dengan haori (jaket kimono) putih, serta pita rambut putih atau merah. Dalam agama Shinto, warna putih melambangkan kesucian.
Peralatan miko tradisional meliputi azusayumi (梓弓 atau "busur kayu azusa")[8] tamagushi (玉串 atau "persembahan cabang pohon sakaki")[9] dan gehōbako (外法箱 atau "kotak supernatural yang berisi boneka, tengkorak manusia dan hewan ... [dan] tasbih Shinto").[10]
Miko juga menggunakan "lonceng, gendang, lilin, dan semangkuk nasi"[11] dalam upacara.
Miko atau fujo — "dukun wanita; gadis kuil"[12] — dalam bahasa Jepang biasanya ditulis 巫女[12] yang merupakan gabungan huruf kanji 巫 "dukun; medium", dan 女 "wanita; perempuan".[12] Miko dahulu ditulis 神子 (secara harfiah berarti "anak dewa")[12] dan 巫子 ("anak dukun").