Mikha 6 adalah pasal keenam Kitab Mikha dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Berisi Firman Allah yang disampaikan oleh nabi Mikha orang Moresyet, yakni berkenaan dengan yang dilihatnya tentang Samaria dan Yerusalem. Nabi ini hidup pada zaman raja Yotam, Ahas dan Hizkia dari Kerajaan Yehuda sekitar abad ke-8 SM.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Mikha 6 | |
|---|---|
Ilustrasi Mikha 6:15: "Engkau ini akan menabur, tetapi tidak menuai." (www.ordination.org). | |
| Kitab | Kitab Mikha |
| Kategori | Nevi'im |
| Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Lama |
| Urutan dalam Kitab Kristen | 33 |
Mikha 6 (disingkat Mik 6) adalah pasal keenam Kitab Mikha dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen.[1] Berisi Firman Allah yang disampaikan oleh nabi Mikha orang Moresyet, yakni berkenaan dengan yang dilihatnya tentang Samaria (ibu kota Kerajaan Israel Utara) dan Yerusalem (ibu kota Kerajaan Israel Selatan atau Yehuda).[2] Nabi ini hidup pada zaman raja Yotam, Ahas dan Hizkia dari Kerajaan Yehuda sekitar abad ke-8 SM.[3][4]
Di ayat ini Allah mengingatkan umat Israel akan perbuatan-Nya untuk melindungi dari kutuk orang (dalam hal ini dari Bileam bin Beor atas suruhan raja Balak bin Zipor dari Moab, seperti yang dicatat dalam Kitab Bilangan pasal 22-24) serta keajaiban yang dialami dalam perjalanan memasuki tanah Kanaan (seperti yang dicatat dalam Kitab Yosua pasal 3-4)
Mikha memberikan definisi lipat tiga mengenai standar kebaikan menurut Allah dan apa yang diperlukan dalam pengabdian umat kepada-Nya:
(1) umat harus bertindak dengan adil, yaitu tidak memihak dan jujur dalam memperlakukan sesama (bandingkan Matius 7:12);
(2) umat harus mengasihi kemurahan hati, yaitu, menunjukkan belas kasihan sejati dan kebaikan kepada mereka yang memerlukan bantuan;
(3) umat harus hidup dengan rendah hati di hadapan Allah, yaitu setiap hari merendahkan diri di hadapan-Nya dalam ketakutan dan kehormatan kepada kehendak-Nya (bandingkan Yakobus 4:6–10; 1 Petrus 5:5–6).
Ibadah umum hanya merupakan bagian kecil dari seluruh pengabdian umat kepada Allah dalam Yesus Kristus. Kasih yang sungguh-sungguh kepada Tuhan harus terungkap dalam kepedulian tak berkeputusan kepada mereka yang kekurangan.[10]