Metafisika adalah cabang filsafat yang menelaah struktur paling mendasar dari realitas. Secara tradisional ia dipahami sebagai kajian mengenai ciri-ciri dunia yang bertahan tanpa bergantung pada pikiran, namun sejumlah pemikir memandangnya sebagai penyelidikan atas kerangka konseptual yang membentuk pemahaman manusia. Beberapa filsuf, termasuk Aristoteles, menyebut metafisika sebagai filsafat pertama untuk menegaskan bahwa ia lebih mendasar dibanding bentuk penyelidikan filosofis lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Metafisika adalah cabang filsafat yang menelaah struktur paling mendasar dari realitas. Secara tradisional ia dipahami sebagai kajian mengenai ciri-ciri dunia yang bertahan tanpa bergantung pada pikiran, tetapi sejumlah pemikir memandangnya sebagai penyelidikan atas kerangka konseptual yang membentuk pemahaman manusia. Beberapa filsuf, termasuk Aristoteles, menyebut metafisika sebagai filsafat pertama untuk menegaskan bahwa ia lebih mendasar dibanding bentuk penyelidikan filosofis lainnya.
Metafisika mencakup spektrum topik yang luas, bersifat umum dan amat abstrak. Ia menyelidiki hakikat keberadaan, sifat-sifat yang dimiliki segala entitas, dan bagaimana entitas tersebut terbagi ke dalam berbagai kategori keberadaan. Salah satu pembagian berpengaruh adalah antara partikular dan universal. Partikular adalah entitas tunggal yang unik, seperti sebuah apel tertentu. Universal adalah sifat-sifat umum yang dimiliki oleh berbagai partikular, seperti warna merah. Metafisika modal menelaah makna dari kemungkinan dan keniscayaan. Para metafisikawan juga menelusuri konsep ruang, waktu, dan perubahan, serta keterkaitannya dengan kausalitas dan hukum-hukum alam. Topik lainnya menyangkut hubungan antara jiwa dan raga, apakah segala sesuatu di dunia ini telah ditentukan sebelumnya, dan apakah kehendak bebas itu benar-benar ada.
Para metafisikawan menggunakan beragam metode dalam penyelidikan mereka. Secara tradisional, mereka bertumpu pada intuisi rasional dan penalaran abstrak, tetapi dalam perkembangan mutakhir turut memasukkan pendekatan empiris yang berkaitan dengan teori-teori ilmiah. Karena sifat kajiannya yang sangat abstrak, metafisika kerap dikritik terkait keandalan metodenya maupun kebermaknaan teori-teorinya. Meski demikian, metafisika memiliki relevansi mendalam bagi banyak ranah penyelidikan yang secara implisit bertumpu pada konsep dan asumsi metafisik.
Akar metafisika dapat ditelusuri hingga masa kuno melalui perenungan mengenai hakikat dan asal mula alam semesta, seperti yang ditemukan dalam Upanishad di India kuno, Taoisme di Tiongkok kuno, dan filsafat pra-Sokrates di Yunani kuno. Pada periode abad pertengahan di Barat, perdebatan mengenai hakikat universal dipengaruhi oleh filsafat Plato dan Aristoteles. Zaman modern menyaksikan lahirnya berbagai sistem metafisika yang luas dan komprehensif, banyak di antaranya mengusung idealisme. Pada abad ke-20, metafisika tradisional secara umum, dan idealisme secara khusus, menghadapi berbagai kritik yang kemudian memicu lahirnya pendekatan-pendekatan baru dalam penyelidikan metafisik.
Metafisika adalah telaah atas ciri-ciri paling mendasar dari realitas, meliputi eksistensi, objek serta sifat-sifatnya, kemungkinan dan keniscayaan, ruang dan waktu, perubahan, sebab-akibat, serta hubungan antara materi dan pikiran. Ia merupakan salah satu cabang tertua dalam filsafat.[1][a]
Hakikat metafisika yang tepat masih diperdebatkan, dan caranya dipahami telah berubah sepanjang sejarah. Sebagian pendekatan melihat metafisika sebagai satu bidang yang terpadu dan mendefinisikannya secara luas sebagai studi atas "pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakikat realitas" atau sebagai penyelidikan atas hakikat terdalam sesuatu. Pendekatan lain meragukan bahwa berbagai bidang dalam metafisika memiliki ciri dasar yang sama, sehingga menawarkan pemahaman yang lebih rinci dengan membuat daftar topik-topik utama yang dikaji para metafisikawan.[4] Beberapa definisi bersifat deskriptif, menggambarkan apa yang sesungguhnya dilakukan para metafisikawan; sementara definisi lain bersifat normatif, merumuskan apa yang seharusnya mereka lakukan.[5]
Dua definisi berpengaruh dalam filsafat kuno dan filsafat abad pertengahan memahami metafisika sebagai ilmu tentang sebab-sebab pertama dan sebagai kajian atas keberadaan sebagai keberadaan, yakni pertanyaan tentang apa yang sama-sama dimiliki segala yang ada dan ke kategori dasar apa semuanya itu termasuk. Pada periode modern, cakupan metafisika berkembang mencakup topik-topik seperti pembedaan antara jiwa dan raga serta kehendak bebas.[6] Sejumlah filsuf mengikuti Aristoteles dalam menyebut metafisika sebagai "filsafat pertama", mengisyaratkan bahwa ia adalah penyelidikan paling dasar tempat cabang-cabang filsafat lain bergantung dalam suatu cara tertentu.[7][b]

Secara tradisional, metafisika dipahami sebagai kajian atas ciri-ciri realitas yang berdiri bebas dari pikiran. Sejak Immanuel Kant dan filsafat kritisnya, berkembang sebuah konsepsi alternatif yang menitikberatkan skema-konseptual alih-alih realitas eksternal. Kant membedakan metafisika transenden, yang berupaya menggambarkan fitur objektif realitas di luar pengalaman indrawi, dari perspektif kritis mengenai metafisika, yang menyingkap asas dan struktur yang mendasari seluruh pemikiran serta pengalaman manusia.[9] Filsuf P. F. Strawson memperluas kajian mengenai peran skema-konseptual ini, membedakan metafisika deskriptif—yang merumuskan skema yang biasanya kita gunakan untuk memahami dunia—dari metafisika revisi, yang bertujuan menghadirkan skema yang lebih baik.[10]
Metafisika berbeda dari ilmu-ilmu khusus karena mempelajari aspek realitas yang paling umum dan paling abstrak. Ilmu-ilmu lain, sebaliknya, menelaah ciri-ciri yang lebih khusus dan konkrit, serta membatasi diri pada kelas entitas tertentu, misalnya fokus pada benda fisik dalam fisika, makhluk hidup dalam biologi, dan kebudayaan dalam antropologi.[11] Masih diperdebatkan sejauh mana perbedaan ini merupakan dikotomi yang benar-benar tegas atau lebih menyerupai suatu kontinum yang bertahap.[12]
Kata metafisika berakar dari bahasa Yunani kuno, yakni metá (μετάcode: grc is deprecated , bermakna 'sesudah', 'di atas', dan 'melampaui') serta phusiká (φυσικάcode: grc is deprecated ), sebagai bentuk ringkas dari ungkapan ta metá ta phusiká, yang berarti 'apa yang datang setelah fisika'. Ungkapan ini kerap ditafsirkan bahwa metafisika membicarakan persoalan-persoalan yang, karena keluasan dan tingkat keumumannya, terletak di luar cakupan fisika dan fokusnya pada pengamatan empiris.[13]
Namun, nama metafisika juga mungkin lahir dari suatu kebetulan sejarah ketika buku Aristoteles tentang tema ini, Metafisika, diterbitkan.[14] Aristoteles sendiri tidak pernah menggunakan istilah metafisika; tetapi seorang penyunting karya-karyanya sekitar dua abad kemudian, kemungkinan besar Andronikos dari Rodos, menciptakannya sebagai judul, barangkali untuk menandai bahwa buku ini perlu dibaca setelah karya Aristoteles yang berjudul Fisika: secara harfiah, 'setelah fisika'. Istilah tersebut kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris melalui kata Latin metaphysicacode: la is deprecated .[13] Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia "metafisika".[butuh rujukan]
Hakikat metafisika juga dapat dipahami melalui cabang-cabang utamanya. Sebuah pembagian berpengaruh dari awal filsafat modern membedakan antara metafisika umum dan metafisika khusus atau spesifik.[15] Metafisika umum, yang juga disebut ontologi,[c] mengambil cakrawala paling luas dan menelaah aspek-aspek terdalam dari keberadaan. Ia menyelidiki ciri-ciri yang dimiliki semua entitas serta bagaimana entitas dapat dibagi ke dalam berbagai kategori. Kategori merupakan jenis-jenis paling mendasar, seperti substansi, sifat, relasi, dan fakta.[17] Para ontolog meneliti kategori mana yang ada, bagaimana kategori-kategori itu saling bergantung, dan bagaimana keseluruhannya membentuk suatu sistem yang sanggup menggolongkan seluruh entitas secara menyeluruh.[18]
Metafisika khusus memandang keberadaan dari perspektif yang lebih sempit dan terbagi ke dalam subdisiplin berdasarkan sudut pandangnya. Kosmologi metafisik mengkaji hal-hal yang berubah dan menyelidiki bagaimana semuanya terjalin membentuk sebuah dunia sebagai keseluruhan yang bentangannya merentang ruang dan waktu.[19] Psikologi rasional berfokus pada dasar-dasar metafisik dan persoalan mengenai jiwa, seperti hubungannya dengan materi serta kebebasan kehendak. Teologi alamiah menelaah yang ilahi dan perannya sebagai sebab pertama.[19] Batas-batas metafisika khusus kerap bertumpang tindih dengan disiplin filosofis lain, sehingga kadang tak jelas apakah suatu topik sepenuhnya termasuk ke dalamnya atau justru ke wilayah seperti filsafat pikiran dan teologi.[20]
Sejak paruh kedua abad ke-20, metafisika terapan berkembang sebagai ranah dalam filsafat terapan yang memeriksa implikasi dan kegunaan metafisika, baik di dalam filsafat maupun bidang-bidang lain. Dalam wilayah seperti etika dan filsafat agama, metafisika terapan mengulas fondasi ontologis klaim moral dan doktrin keagamaan.[21] Di luar filsafat, penerapannya mencakup penggunaan ontologi dalam kecerdasan buatan, ilmu ekonomi, dan sosiologi guna mengklasifikasi entitas.[22] Dalam psikiatri dan kedokteran, metafisika terapan menelaah status metafisik berbagai penyakit.[23]
Meta-metafisika[d] adalah metateori dari metafisika dan menyelidiki hakikat serta metode-metodenya. Ia memeriksa bagaimana metafisika berbeda dari disiplin filosofis dan ilmiah lainnya serta menilai relevansinya bagi bidang-bidang tersebut. Meski diskusi tentang tema ini memiliki sejarah panjang dalam metafisika, meta-metafisika baru belakangan berkembang menjadi suatu ranah penelitian yang sistematis.[25]
Para metafisikawan kerap memandang eksistensi atau keberadaan sebagai salah satu gagasan paling mendasar dan paling luas cakupannya.[26] Ada berarti menjadi bagian dari realitas, menjadi berbeda dari entitas-entitas yang hanya hidup dalam imajinasi.[27] Menurut pandangan tradisional yang berpengaruh, eksistensi adalah sifat milik sifat-sifat: suatu entitas dikatakan ada bila sifat-sifatnya terserupakan dalam kenyataan.[28] Pandangan lain menyatakan bahwa eksistensi adalah sifat individu, sehingga ia serupa dengan sifat-sifat lain, seperti bentuk atau ukuran.[29] Masih diperdebatkan apakah semua entitas memiliki sifat ini. Menurut filsuf Alexius Meinong, terdapat objek tak-eksisten, termasuk benda-benda yang sekadar mungkin ada, seperti Santa Claus dan Pegasus.[30][e] Pertanyaan yang berkaitan adalah apakah eksistensi itu sama bagi semua entitas ataukah ada beragam cara atau tingkatan eksistensi.[31] Misalnya, Plato berpendapat bahwa bentuk-bentuk Platonik, yakni gagasan-gagasan yang sempurna dan tak berubah, memiliki derajat eksistensi lebih tinggi daripada materi, yang hanya mampu memantulkan bentuk-bentuk tersebut secara tidak sempurna.[32][f]
Fokus pokok lain dalam metafisika adalah pengelompokan entitas ke dalam golongan-golongan yang berbeda berdasarkan ciri-ciri mendasar yang mereka persekutukan. Teori kategori berupaya menyusun sistem mengenai jenis-jenis paling fundamental atau genera tertinggi dari keberadaan, dengan merumuskan inventaris komprehensif tentang segala yang ada.[34] Salah satu teori kategori paling awal dikemukakan oleh Aristoteles, yang menguraikan sebuah sistem 10 kategori. Ia berpendapat bahwa substansi (misalnya manusia dan kuda) adalah kategori terpenting, sebab kategori lain seperti kuantitas (misalnya empat), kualitas (misalnya putih), dan tempat (misalnya di Athena) dikatakan tentang substansi dan bergantung padanya.[35] Kant memahami kategori sebagai prinsip-prinsip mendasar yang menopang pemahaman manusia dan mengembangkan sebuah sistem 12 kategori, yang terbagi ke dalam empat kelas: kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas.[36] Teori kategori yang lebih mutakhir dikemukakan oleh C. S. Peirce, Edmund Husserl, Samuel Alexander, Roderick Chisholm, dan E. J. Lowe.[37] Banyak filsuf mengandalkan perbedaan antara objek konkret dan objek abstrak. Menurut pandangan lazim, objek konkret—seperti batu, pohon, dan manusia—ada dalam ruang dan waktu, mengalami perubahan, serta saling memengaruhi dalam hubungan sebab-akibat. Mereka berlawanan dengan objek abstrak, seperti angka dan himpunan, yang tidak berada dalam ruang dan waktu, tidak berubah, dan tidak turut serta dalam hubungan kausal.[38]
Partikular atau partikularia adalah entitas-individual dan mencakup baik objek konkret, seperti Aristoteles, Menara Eiffel, atau sebuah apel spesifik, maupun objek abstrak, seperti angka 2 atau suatu himpunan tertentu dalam matematika. Mereka adalah entitas yang unik, tak-terulang, dan berkontras dengan universal, seperti warna merah, yang dapat hadir di banyak tempat sekaligus dan dapat mewarnai banyak partikularia.[39]
Pandangan yang luas dianut menyatakan bahwa partikular mewujudkan universal tetapi tidak diwujudkam oleh apa pun; artinya, partikularia memiliki keberadaan pada dirinya sendiri, sementara universal hanya ada di dalam sesuatu yang lain. Teori substratum, yang diasosiasikan dengan pemikiran John Locke, memahami setiap partikularia sebagai sebuah substratum—yang sering disebut "partikular telanjang", yang dipersatukan dengan beragam sifat. Substratum memberikan identitas individual pada partikularia; sifat-sifatnya menyingkapkan kualitas dan coraknya. Pendekatan ini ditolak oleh para penganut teori gugus. Terinspirasi oleh falsafah David Hume, mereka menyatakan bahwa partikularia hanyalah gugusan sifat-sifat tanpa substratum yang mendasarinya. Beberapa tokoh dalam teori gugus memasukkan ke dalam gugus itu suatu esensi individual, disebut haecceity dalam tradisi skolastik, demi menjamin keunikan setiap gugus. Usulan lain untuk partikularia konkret adalah bahwa yang mengindividualisasikannya adalah lokasi ruang-waktu yang membedakannya.[40]
Partikularia konkret yang kita jumpai sehari-hari, seperti batu, meja, dan organisme, adalah entitas kompleks yang terbentuk dari berbagai bagian. Sebuah meja, misalnya, tersusun dari permukaan dan kaki-kakinya, yang masing-masing sendiri terdiri dari tak terhitung banyak partikel. Hubungan antara bagian dan keseluruhan dipelajari dalam mereologi.[41][g]
"Masalah tentang yang banyak" adalah persoalan filosofis mengenai kondisi apa yang harus terpenuhi agar sejumlah entitas dapat membentuk suatu keseluruhan yang lebih besar. Misalnya, sebuah awan terdiri dari banyak tetesan yang tidak memiliki batas yang jelas, sehingga muncul pertanyaan: tetesan mana saja yang benar-benar merupakan bagian dari awan itu? Bagi kaum universalis mereologis, setiap himpunan entitas membentuk sebuah keseluruhan. Artinya, apa yang tampak sebagai satu awan sebenarnya adalah tumpang tindih dari tak terhitung banyak awan, satu untuk setiap kumpulan tetesan air yang "seperti-awan". Kaum moderatis mereologis menegaskan bahwa kondisi tertentu harus terpenuhi agar sekumpulan entitas membentuk keseluruhan, misalnya, bahwa entitas-entitas itu harus saling bersentuhan. Kaum nihilistis mereologis menolak sepenuhnya gagasan tentang keseluruhan, menyatakan bahwa tidak ada awan atau meja, melainkan hanya partikel-partikel yang tersusun membentuk pola seperti-awan atau seperti-meja.[43]
Masalah mereologis lain yang berkaitan adalah apakah terdapat entitas sederhana yang tidak memiliki bagian, sebagaimana yang diyakini para atomis, atau apakah segala sesuatu dapat dibelah tanpa batas ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sebagaimana diyakini para pendukung teori kontinum.[44]
Universal adalah entitas umum, melingkupi baik sifat maupun relasi, yang mengungkapkan bagaimana rupa partikularia dan bagaimana mereka saling menyerupai. Universal bersifat dapat-diulang, artinya ia tidak terpaku pada satu keberadaan tunggal, melainkan dapat mewujud dalam berbagai partikularia pada saat yang sama. Sebagai contoh, partikularia Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi mewujudkan universal kemanusiaan, sebagaimana stroberi dan rubi mewujudkan universal merah.[45]
Sebuah tema yang telah diperdebatkan sejak filsafat kuno, masalah universal berpusat pada upaya menyingkap status ontologis universal.[46] Kaum realis berpendapat bahwa universal itu nyata, entitas yang berdiri independen dari pikiran, yang ada selain partikularia. Menurut para realis Platonis, universal berada mandiri dari partikularia; implikasinya, universal merah tetap ada meski tak ada satu pun benda merah. Bentuk realisme yang lebih moderat, terilhami oleh Aristoteles, menyatakan bahwa universal bergantung pada partikularia: universal hanya nyata sejauh ia diwujudkan. Para nominalis menolak keberadaan universal dalam bentuk apa pun; bagi mereka, dunia tersusun semata-mata dari partikularia. Kaum konseptualis menawarkan jalan tengah: universal memang ada, tetapi hanya sebagai konsep dalam pikiran, sebagai perangkat untuk menata pengalaman dengan mengelompokkan entitas.[47][h]
Jenis alamiah dan jenis sosial sering dipahami sebagai bentuk-bentuk khusus dari universal. Entitas yang tergolong dalam jenis alamiah berbagi ciri-ciri mendasar yang mencerminkan struktur dunia alam. Dalam pengertian ini, jenis alamiah bukanlah klasifikasi buatan, melainkan sesuatu yang ditemukan, biasanya oleh ilmu-ilmu alam, dan mencakup jenis seperti elektron, H2O, dan harimau. Realis ilmiah dan anti-realis berselisih pendapat mengenai apakah jenis alamiah sungguh ada.[49] Jenis sosial, seperti uang dan bisbol,[50] dikaji oleh metafisika sosial dan dipandang sebagai konstruksi sosial yang berguna, bukan sepenuhnya fiktif, tetapi tidak mencerminkan struktur mendasar realitas yang independen dari pikiran.[51]
Konsep kemungkinan dan keniscayaan mengungkapkan apa yang dapat atau harus terjadi, sebagaimana tersirat dalam pernyataan-pernyataan modal seperti "mungkin saja ditemukan obat bagi kanker" atau "dua tambah dua haruslah sama dengan empat". Metafisika modal menyelidiki persoalan-persoalan metafisis seputar kemungkinan dan keniscayaan, misalnya mengapa sebagian pernyataan modal benar sementara yang lain tidak.[52][i] Sebagian metafisikawan beranggapan bahwa modalitas merupakan sisi fundamental dari realitas; artinya, selain fakta mengenai apa yang memang terjadi, terdapat pula fakta tentang apa yang dapat atau mesti terjadi.[54] Pandangan lain berpendapat bahwa kebenaran modal tidak merujuk pada aspek mandiri dari realitas, melainkan dapat direduksi menjadi karakteristik non-modal, misalnya fakta tentang kompatibilitas sifat-sifat tertentu atau deskripsi linguistik tertentu, atau bahkan menjadi semacam pernyataan fiksional.[55]
Dengan meminjam istilah dari Gottfried Wilhelm Leibniz dalam karya teodisanya, banyak metafisikawan menggunakan konsep dunia mungkin untuk menelaah makna serta implikasi ontologis dari pernyataan modal. Dunia mungkin adalah cara lengkap dan konsisten tentang bagaimana keseluruhan realitas dapat berlangsung.[56] Misalnya, para dinosaurus memang punah di dunia aktual, tetapi terdapat dunia mungkin di mana mereka tetap hidup.[57] Menurut semantik dunia mungkin, suatu pernyataan mungkin benar bila ia benar di setidaknya satu dunia mungkin, sedangkan ia niscaya benar bila benar di semua dunia mungkin.[58] Para realis modal berpendapat bahwa dunia-dunia mungkin sungguh ada sebagai entitas konkret, sebagaimana dunia aktual, dengan perbedaan utama bahwa dunia aktual adalah dunia yang kita huni, sedangkan dunia mungkin lain dihuni oleh para padanan kita. Pandangan ini bersifat kontroversial dan berbagai alternatif telah diajukan, misalnya bahwa dunia mungkin hanya ada sebagai objek abstrak atau serupa kisah-kisah yang diceritakan dalam karya fiksi.[59]
Ruang dan waktu adalah dimensi tempat segala entitas berdiam. Para realis ruang-waktu berpendapat bahwa ruang dan waktu merupakan aspek-aspek dasar dari realitas, eksis secara mandiri dari pikiran manusia. Sebaliknya, kaum idealis ruang-waktu beranggapan bahwa ruang dan waktu adalah bangunan konseptual ciptaan akal budi manusia, hadir sebagai sarana untuk menata dan memahami kenyataan.[60] Absolutisme atau substantivalisme ruang-waktu memandang ruang-waktu sebagai suatu objek tersendiri; beberapa metafisikawan bahkan membayangkannya sebagai wadah besar yang menampung segala entitas di dalamnya. Relasionisme ruang-waktu menolak anggapan tersebut dan melihat ruang-waktu sebagai jejaring relasi antara objek-objek, seperti relasi spasial berdampingan atau relasi temporal mendahului.[61]
Dalam metafisika waktu, perbedaan penting muncul antara seri-A dan seri-B. Menurut teori seri-A, aliran waktu adalah nyata: peristiwa tersusun menjadi masa lampau, kini, dan masa depan. Kini terus bergerak maju, dan peristiwa yang kini hadir lambat laun berubah status dan tenggelam ke masa lalu. Dari perspektif teori seri-B, waktu bersifat statis; peristiwa hanya tersusun oleh relasi temporal lebih-awal-dari dan lebih-kemudian-dari, tanpa perbedaan esensial antara masa lampau, masa kini, dan masa depan.[62] Eternalisme menyatakan bahwa masa lampau, kini, dan masa depan sama-sama nyata, sedangkan presentisme berpendapat bahwa hanya entitas yang berada pada masa kini yang sungguh-sungguh ada.[63]
Objek-objek material bertahan melintasi waktu dan berubah dalam prosesnya, sebagaimana pohon yang tumbuh atau meranggas.[64] Cara utama memahami bagaimana entitas bertahan melalui waktu adalah melalui endurantisme dan perdurantisme. Menurut endurantisme, objek material adalah entitas tiga dimensi yang hadir sepenuhnya pada setiap momen; ketika mereka berubah, mereka hanya memperoleh atau kehilangan sifat tertentu tanpa berhenti menjadi diri mereka sendiri. Sebaliknya, para perdurantis melihat objek material sebagai entitas empat dimensi yang membentang melalui waktu dan tersusun dari berbagai bagian temporal. Pada setiap momen, yang hadir bukanlah objek sebagai keseluruhan, melainkan hanya satu bagian temporalnya; perubahan berarti bahwa bagian terdahulu memiliki kualitas yang berbeda dari bagian kemudian. Contohnya, ketika sebuah pisang matang, terdapat bagian yang masih mentah disusul bagian yang telah matang.[65]
Kausalitas adalah jalinan antara sebab dan akibat, suatu hubungan di mana satu entitas melahirkan atau mengubah entitas lainnya.[66] Misalnya, ketika seseorang tanpa sengaja menyenggol sebuah gelas hingga isinya tumpah, maka senggolan itu adalah sebab, sementara tumpahan tersebut adalah akibatnya.[67] Selain kausalitas satu-peristiwa antara *partikular* dalam contoh itu, terdapat pula kausalitas umum yang terjelma dalam pernyataan seperti "merokok menyebabkan kanker".[68] Istilah kausalitas agen digunakan ketika manusia dan tindakannya menjadi penyebab sesuatu.[69] Kausalitas lazim dipahami secara deterministik, yakni bahwa suatu sebab senantiasa menimbulkan akibatnya. Namun, beberapa filsuf seperti G. E. M. Anscombe mengajukan contoh tandingan terhadap gagasan tersebut.[70] Contoh-contoh tandingan inilah yang kemudian mengilhami berkembangnya teori kausalitas probabilistik, yang berpendapat bahwa sebab hanya meningkatkan kemungkinan terjadinya akibat. Pandangan ini membantu menjelaskan pernyataan bahwa merokok menyebabkan kanker meskipun tidak terjadi demikian pada setiap kasus.[71]
Teori regularitas mengenai kausalitas, yang diinspirasi oleh filsafat David Hume, menyatakan bahwa kausalitas tak lain adalah sebuah keterkaitan tetap yang ditangkap oleh pikiran: bahwa suatu fenomena, seperti menjulurkan tangan ke dalam api, selalu diikuti oleh fenomena lain, misalnya timbulnya rasa sakit.[72] Menurut teori regularitas nomik, keteraturan semacam ini tampil sebagai hukum-hukum alam yang ditelaah oleh ilmu pengetahuan.[73] Teori kontrafaktual tidak menitikberatkan pada keteraturan, tetapi pada bagaimana akibat bergantung pada sebabnya. Teori-teori ini menyatakan bahwa akibat "berutang keberadaannya" kepada sebab, tanpanya, akibat itu takkan terjadi.[74] Dalam primitivisme, kausalitas dipandang sebagai konsep dasar yang tak dapat diurai melalui konsep non-kausal, seperti regularitas atau hubungan ketergantungan. Salah satu bentuk primitivisme mengidentifikasi adanya daya-daya kausal yang melekat dalam entitas sebagai mekanisme dasarnya.[75] Para eliminativis menolak seluruh teori di atas dengan menyatakan bahwa kausalitas sama sekali tidak ada.[76]

Pikiran mencakup ragam gejala seperti bernalar, memersepsi, merasakan, dan menginginkan, beserta daya-daya batin yang menopang seluruh pengalaman itu.[78] Masalah budi–tubuh adalah upaya untuk menjernihkan bagaimana gejala mental berkaitan dengan gejala fisik. Dalam dualisme Cartesian, pikiran dan tubuh dilihat sebagai dua substansi yang berbeda. Keduanya saling berinteraksi dalam banyak cara, tetapi, setidaknya secara prinsip, dapat berdiri sendiri-sendiri.[79] Pandangan ini ditolak oleh para penganut monisme, yang berpendapat bahwa kenyataan hanya tersusun dari satu jenis keberadaan saja. Dalam idealisme metafisis, segala sesuatu pada akhirnya bersifat mental atau bersandar pada pikiran; bahkan benda-benda fisik dapat dipahami sebagai gagasan atau persepsi dalam kesadaran.[j] Sebaliknya, para materialis menegaskan bahwa realitas, pada fondasinya, bersifat material. Ada yang menolak keberadaan budi sama sekali, tetapi pendekatan yang lebih umum adalah menjelaskan budi sebagai aspek tertentu dari materi, misalnya sebagai keadaan otak, kecenderungan perilaku, atau peran-peran fungsional.[81] Para pendukung monisme netral berpendapat bahwa hakikat terdalam kenyataan bukanlah material maupun mental, dan bahwa keduanya hanyalah turunan dari suatu dasar yang lebih netral.[82] Salah satu inti persoalan budi–tubuh adalah masalah keras kesadaran: bagaimana mungkin sistem fisik seperti otak dapat menimbulkan kesadaran fenomenal.[83]
Status kehendak bebas, yaitu kemampuan seseorang untuk memilih tindakannya, merupakan aspek penting dalam persoalan budi–tubuh.[84] Para metafisikus menelaah hubungan antara kehendak bebas dan determinisme kausal, gagasan bahwa segala sesuatu di alam semesta, termasuk perilaku manusia, ditentukan oleh peristiwa-peristiwa sebelumnya dan hukum-hukum alam. Masih diperdebatkan apakah determinisme kausal itu benar; dan jika benar, apakah hal tersebut meniadakan kehendak bebas. Menurut inkompatibilisme, kehendak bebas tidak mungkin ada dalam dunia yang deterministik, sebab tidak ada pilihan atau kendali sejati jika segalanya telah ditentukan sebelumnya.[k] Para deterministis keras menyimpulkan bahwa kehendak bebas memang tidak ada, sedangkan para penganut libertarianisme berpendapat bahwa determinisme pasti salah. Kompatibilisme menawarkan jalan tengah: determinisme dan kehendak bebas tidak saling meniadakan, sebab seseorang tetap dapat bertindak sesuai motivasi dan pilihannya sendiri, walau pilihan itu memiliki sebab-sebab sebelumnya. Kehendak bebas menjadi unsur utama dalam etika, terutama mengenai tanggung jawab moral seseorang atas tindakannya.[86]
Identitas adalah suatu relasi yang dimiliki setiap entitas terhadap dirinya sendiri sebagai bentuk kesamaan yang paling mendasar. Dalam makna numerikal, identitas merujuk pada kasus ketika entitas yang sama sedang dibicarakan, sebagaimana dalam pernyataan “bintang fajar adalah bintang senja” (keduanya adalah planet Venus). Dalam pengertian yang sedikit berbeda, identitas juga mencakup kesamaan kualitatif, yang disebut pula *kemiripan persis* atau *ketakterbedaan*, yang muncul ketika dua entitas yang berbeda sepenuhnya serupa, seperti sepasang anak kembar yang identik secara sempurna.[87] Prinsip ketakterbedaan dari yang identik diterima secara luas dan menyatakan bahwa entitas yang identik secara numerik pasti menyerupai satu sama lain sepenuhnya. Prinsip kebalikannya, yang dikenal sebagai identitas dari ketakterbedaan atau Hukum Leibniz, lebih diperdebatkan dan menyatakan bahwa dua entitas adalah identik secara numerik bila keduanya menyerupai satu sama lain tanpa perbedaan apa pun.[88] Terdapat pula pembedaan antara identitas sinkronis dan diakronis. Identitas sinkronis mengaitkan entitas dengan dirinya sendiri pada saat yang sama; sedangkan identitas diakronis membahas entitas yang sama pada waktu yang berbeda, sebagaimana dalam pernyataan “meja yang kubeli tahun lalu adalah meja yang kini berada di ruang makanku”.[89] Identitas pribadi adalah topik terkait dalam metafisika yang memakai istilah “identitas” dalam nuansa yang berbeda, dan berurusan dengan pertanyaan mengenai apa itu kepribadian atau apa yang menjadikan seseorang sebagai pribadi.[90]
Banyak metafisikawan kontemporer bersandar pada konsep kebenaran, pembawa kebenaran, dan pembuat kebenaran dalam penyelidikan mereka.[91] Kebenaran adalah sifat kesesuaian dengan realitas. Pembawa kebenaran adalah entitas yang dapat bernilai benar atau salah, seperti pernyataan linguistik atau representasi mental. Pembuat kebenaran bagi sebuah pernyataan adalah entitas yang keberadaannya menjadikan pernyataan tersebut benar.[92] Sebagai contoh, fakta bahwa sebuah tomat ada dan berwarna merah bertindak sebagai pembuat kebenaran bagi pernyataan “sebuah tomat berwarna merah”.[93] Berdasarkan pengamatan ini, penelitian metafisik dapat dilakukan dengan menanyakan apa pembuat kebenaran bagi berbagai jenis pernyataan, sehingga bidang-bidang metafisika yang berbeda berpusat pada tipe pernyataan yang berbeda. Dalam kerangka ini, metafisika modal menanyakan apa yang menjadikan pernyataan mengenai kemungkinan dan keniscayaan sebagai benar, sementara metafisika waktu mencari pembuat kebenaran bagi pernyataan temporal tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan.[94] Topik yang sangat dekat adalah pertanyaan mengenai hakikat kebenaran itu sendiri. Teori-teori kebenaran berupaya menentukan hakikat tersebut, termasuk teori korespondensi, koherensi, pragmatis, semantik, dan deflasi.[95]
Para metafisikawan menggunakan beragam metode untuk membangun teori-teori metafisika dan merumuskan argumen yang mendukung maupun menentangnya.[96] Secara tradisional, pendekatan a priori menjadi arus utama: ia bertumpu pada intuisi rasional dan penalaran abstrak dari asas-asas umum ketimbang pada pengalaman indrawi. Sebaliknya, pendekatan a posteriori menautkan teori-teori metafisika pada pengamatan empiris dan teori-teori ilmiah.[97] Beberapa metafisikawan juga menyerap perspektif dari bidang-bidang seperti fisika, psikologi, linguistik, dan sejarah ke dalam penyelidikan mereka.[98] Kedua pendekatan ini tidak saling meniadakan: berbagai unsur darinya dapat dipadukan.[99] Pilihan metode seorang metafisikawan sering bertumpu pada pemahamannya tentang hakikat metafisika itu sendiri—apakah ia memahaminya sebagai penyelidikan mengenai struktur realitas yang independen dari pikiran, sebagaimana ditegaskan oleh para realis metafisik, ataukah sebagai pencarian asas-asas yang mendasari pikiran dan pengalaman, sebagaimana dipertahankan sebagian anti-realis metafisik.[100]
Pendekatan a priori kerap bersandar pada intuisi—kesan non-inferensial mengenai ketepatan suatu klaim atau asas umum tertentu.[101][l] Sebagai contoh, argumen bagi Teori-A waktu—yang menyatakan bahwa waktu mengalir dari masa lalu, melalui masa kini, menuju masa depan—sering bergantung pada intuisi pra-teoretis yang berkaitan dengan pengalaman akan lewatnya waktu.[104] Beberapa pendekatan menggunakan intuisi untuk membangun seperangkat asas dasar yang swabukti, yang disebut aksioma, lalu menggunakan penalaran deduktif untuk membangun sistem metafisika kompleks dengan menurunkan konsekuensi dari aksioma tersebut.[105] Pendekatan berbasis intuisi dapat dipadukan dengan eksperimen pemikiran, yang membantu membangkitkan serta memperjelas intuisi dengan mengaitkannya pada situasi imajiner. Eksperimen ini memakai pemikiran kontrafaktual untuk menilai kemungkinan konsekuensi dari berbagai situasi tersebut.[106] Misalnya, untuk menelaah hubungan antara materi dan kesadaran, beberapa teoretikus membandingkan manusia dengan zombi filosofis—makhluk hipotetis yang sepenuhnya identik dengan manusia namun tanpa pengalaman sadar.[107] Metode serupa bertumpu pada keyakinan umum yang telah diterima luas, bukan pada intuisi, untuk merumuskan argumen dan teori. Pendekatan akal sehat kerap digunakan untuk mengkritik teori-teori metafisika yang sangat menyimpang dari cara orang kebanyakan memahami suatu persoalan. Sebagai contoh, para filsuf akal sehat berargumen bahwa nihilisme mereologis adalah keliru karena ia menyiratkan bahwa benda-benda yang lazim diterima, seperti meja, sejatinya tidak ada.[108]
Analisis konseptual, metode yang sangat menonjol dalam filsafat analitik, bertujuan menguraikan konsep-konsep metafisika ke bagian-bagian penyusunnya untuk memperjelas makna serta mengidentifikasi relasi-relasi esensialnya.[109] Dalam fenomenologi, metode variasi eidetik digunakan untuk menyelidiki struktur-struktur esensial yang mendasari fenomena. Metode ini melibatkan pembayangan suatu objek dan melakukan variasi atas ciri-cirinya untuk menentukan mana yang esensial dan tak dapat diubah.[110] Metode transendental merupakan pendekatan lain yang menelaah struktur metafisis realitas dengan mengamati entitas-entitas yang ada serta menelaah kondisi kemungkinan tanpa yang mana entitas-entitas tersebut mustahil ada.[111]
Beberapa pendekatan memberi bobot yang lebih kecil pada penalaran a priori dan memahami metafisika sebagai praktik yang berkesinambungan dengan sains empiris, yang memperluas wawasan-wawasan ilmiah sambil menampakkan asumsi-asumsi mendasarnya. Pendekatan ini dikenal sebagai metafisika dinaturalisasi dan sangat terkait dengan karya Willard Van Orman Quine.[112] Ia berpegang pada gagasan bahwa kalimat-kalimat benar dari sains dan bidang lainnya memiliki komitmen ontologis, yakni menyiratkan bahwa entitas-entitas tertentu mesti ada.[113] Misalnya, jika pernyataan “sebagian elektron terikat pada proton” benar, maka pernyataan itu dapat dipakai untuk membenarkan keberadaan elektron dan proton.[114] Quine memanfaatkan wawasan ini untuk menunjukkan bahwa seseorang dapat mempelajari metafisika dengan menganalisis secara cermat[m] klaim-klaim ilmiah demi memahami gambaran metafisis tentang dunia yang mereka andaikan.[116]
Selain metode-metode untuk melakukan penyelidikan metafisis, terdapat pula berbagai prinsip metodologis untuk menimbang teori-teori yang saling bersaing dengan membandingkan keutamaan teoretisnya. Pisau cukur Ockham adalah prinsip terkenal yang memberi preferensi kepada teori-teori sederhana—khususnya teori-teori yang mengandaikan keberadaan entitas sesedikit mungkin. Prinsip-prinsip lain mempertimbangkan daya jelaskan, kegunaan teoretis, serta kedekatannya dengan keyakinan yang telah mapan.[117]

Kendati dianggap sebagai salah satu cabang utama filsafat, metafisika sejak lama menuai berbagai kritik yang mempertanyakan legitimasi disiplin ini sebagai suatu bentuk penyelidikan.[118] Salah satu kritik menyatakan bahwa penyelidikan metafisis mustahil dilakukan karena manusia tidak memiliki kemampuan kognitif yang memadai untuk menembus hakikat terdalam realitas.[119] Pemikiran semacam ini bermuara pada skeptisisme terhadap kemungkinan adanya pengetahuan metafisis. Para empirisis kerap mengikuti arus ini, sebagaimana Hume yang menegaskan bahwa tidak ada sumber pengetahuan metafisis yang kokoh, sebab metafisika bergerak di luar wilayah pengetahuan empiris dan bertumpu pada intuisi tak dapat dipercaya tentang sesuatu yang melampaui pengalaman indrawi. Dengan menegaskan bahwa pikiran secara aktif memberi bentuk pada pengalaman, Kant mengecam metafisika tradisional karena mencoba menguak hakikat realitas yang independen dari pikiran. Ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia dibatasi oleh ranah pengalaman yang mungkin, sehingga kita tidak dapat memutuskan perkara-perkara seperti apakah dunia memiliki awal dalam waktu atau justru tak berhingga. Kritik lain yang sejalan menunjukkan bahwa perbedaan pendapat yang begitu dalam dan bertahan lama dalam metafisika menandakan ketiadaan kemajuan yang berarti.[120]
Kritik lain berpendapat bahwa penghambatnya bukanlah keterbatasan kognitif manusia, melainkan sifat pernyataan metafisis itu sendiri, yang oleh sebagian kalangan dianggap tidak benar ataupun salah, melainkan tak bermakna. Menurut para penganut positivisme logis, misalnya, makna sebuah pernyataan ditentukan oleh prosedur untuk memverifikasi kebenarannya, biasanya melalui serangkaian observasi yang dapat mengukuhkannya. Berdasarkan asumsi yang kontroversial ini, mereka menyatakan bahwa pernyataan metafisis tidak bermakna karena tidak menghasilkan prediksi apa pun yang dapat diuji lewat pengalaman.[121]
Posisi yang sedikit lebih lunak mengakui bahwa pernyataan metafisis memiliki makna, tetapi berpendapat bahwa perbedaan pandangan metafisis hanyalah sengketa verbal mengenai cara berbeda untuk melukiskan dunia. Dari sudut pandang ini, perdebatan dalam metafisika komposisi — apakah terdapat meja atau hanya partikel-partikel yang tersusun seperti meja — hanyalah perselisihan sepele tentang preferensi linguistik tanpa konsekuensi substantif bagi hakikat realitas.[122] Pandangan bahwa perselisihan metafisis tidak memiliki makna atau tidak memiliki keberartian disebut pengempisan metafisis atau pengempisan ontologis.[123] Pandangan ini ditentang oleh para metafisikawan serius, yang berpendapat bahwa perselisihan metafisis menyentuh aspek mendasar dari struktur realitas itu sendiri.[124] Perdebatan yang sangat terkait ialah antara para realis dan anti-realis ontologis, yakni apakah terdapat fakta-fakta objektif yang menentukan mana di antara teori-teori metafisis yang benar.[125] Kritik berbeda, yang dikemukakan oleh para penganut pragmatisme, melihat persoalan metafisika bukan pada ambisi kognitifnya atau pada ketidakbermaknaan pernyataannya, tetapi pada ketidakrelevanan praktis dan ketiadaan kegunaannya.[126]
Martin Heidegger mengecam metafisika tradisional dengan menyatakan bahwa ia gagal membedakan antara entitas-entitas individual dan keberadaan sebagai landasan ontologisnya. Upayanya untuk mengungkap asumsi dan batas-batas terselubung dalam sejarah metafisika — demi "mengatasi metafisika" — memengaruhi metode dekontruksi yang dikembangkan oleh Jacques Derrida.[127] Derrida memanfaatkan pendekatan ini untuk mengkritik teks-teks metafisis yang menurutnya bergantung pada oposisi biner — seperti kehadiran dan ketiadaan — yang pada dasarnya tidak stabil dan saling bertentangan.[128]
Belum terdapat kesepakatan mengenai sejauh mana kritik-kritik ini valid, dan apakah kritik tersebut menggoyahkan seluruh bangunan metafisika atau hanya isu atau pendekatan tertentu saja dalam disiplin tersebut. Misalnya, bisa jadi sebagian perselisihan metafisis memang sekadar verbal, sementara sebagian lainnya benar-benar substantif.[129]
Metafisika berkaitan erat dengan berbagai bidang penelitian karena ia menyelidiki konsep-konsep dasar mereka dan keterkaitannya dengan struktur fundamental realitas. Ilmu-ilmu alam, misalnya, bergantung pada konsep seperti hukum alam, kausalitas, keniscayaan, dan ruang-waktu untuk merumuskan teori serta meramalkan atau menjelaskan hasil percobaan.[130] Para ilmuwan terutama menitikberatkan penggunaan konsep-konsep ini dalam kasus-kasus khusus, sedangkan metafisika menelaah sifat umumnya serta bagaimana konsep-konsep tersebut saling bergantung. Para fisikawan, misalnya, merumuskan hukum alam seperti hukum gravitasi dan termondinamika untuk menggambarkan perilaku sistem fisik di bawah berbagai kondisi. Para metafisikawan, sebaliknya, menyelidiki apa yang menyatukan seluruh hukum alam, bertanya apakah hukum-hukum itu sekadar menggambarkan keteraturan kontingen atau justru mengekspresikan hubungan yang niscaya.[131] Penemuan ilmiah baru pun sering memengaruhi teori metafisis yang telah ada dan mengilhami teori-teori baru. Teori relativitas Einstein, misalnya, mendorong berbagai metafisikawan untuk memahami ruang dan waktu sebagai satu dimensi terpadu alih-alih dua dimensi yang berdiri sendiri.[132] Metafisikawan yang berfokus pada ranah empiris sering bertumpu pada teori-teori ilmiah untuk menautkan ajaran mereka mengenai hakikat realitas pada observasi yang dapat diuji.[133]
Persoalan serupa muncul pula dalam ilmu sosial ketika para metafisikawan menyelidiki konsep-konsep dasarnya dan menganalisis implikasi metafisisnya. Ini mencakup pertanyaan seperti apakah fakta-fakta sosial muncul dari fakta-fakta non-sosial, apakah kelompok dan institusi sosial memiliki keberadaan yang independen dari pikiran, serta bagaimana mereka bertahan dalam lintasan waktu.[134] Asumsi dan persoalan metafisis dalam psikologi dan psikiatri mencakup pertanyaan tentang hubungan antara tubuh dan jiwa, apakah hakikat pikiran manusia bersifat tetap sepanjang sejarah, serta bagaimana status metafisis dari penyakit-penyakit mental harus dipahami.[135]
Metafisika juga serupa dengan kosmologi fisik dan teologi dalam upayanya menyingkap sebab-sebab pertama dan menelaah alam semesta sebagai suatu keseluruhan. Perbedaannya, metafisika bertumpu pada penyelidikan rasional, sementara kosmologi fisik memberi bobot lebih besar pada observasi empiris, dan teologi mengintegrasikan wahyu ilahi serta doktrin-doktrin berbasis iman lainnya.[136] Secara historis, kosmologi dan teologi pernah dipandang sebagai subbidang metafisika.[137]
| Ontologi Atas Gabungan yang Diusulkan | ||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||
| Kategori-kategori fundamental dalam Ontologi Atas Gabungan yang Diusulkan[138] |
Ilmuwan komputer menggantungkan diri pada metafisika dalam bentuk ontologi untuk mewakili dan mengklasifikasikan objek. Mereka mengembangkan kerangka konseptual, yang disebut ontologi, bagi ranah-ranah terbatas,[139] misalnya sebuah basis data dengan kategori seperti orang, perusahaan, alamat, dan nama untuk merepresentasikan informasi mengenai klien dan pegawai.[140] Ontologi menyediakan standar untuk mengodekan dan menyimpan informasi secara terstruktur, sehingga proses komputasional dapat memanfaatkannya bagi berbagai tujuan.[139] Ontologi tingkat atas, seperti Ontologi Gabungan Tingkat Atas yang Diusulkan dan Ontologi Formal Dasar, mendefinisikan konsep pada taraf yang lebih abstrak, sehingga memungkinkan integrasi informasi yang berasal dari berbagai ranah.[141]
Logika sebagai kajian tentang penalaran yang sahih[142] kerap digunakan para metafisikawan untuk menapaki penyelidikan mereka dan mengekspresikan wawasan melalui rumus logis yang presisi.[143][n] Hubungan lain antara kedua bidang ini menyangkut asumsi metafisis yang melekat pada sistem logis. Banyak sistem logis seperti logika orde-pertama mengandalkan kuantor eksistensial untuk menyatakan pernyataan keberadaan. Misalnya, dalam rumus logis kuantor eksistensial diterapkan pada predikat untuk menyatakan bahwa terdapat kuda-kuda. Mengikuti Quine, berbagai metafisikawan beranggapan bahwa kuantor eksistensial membawa komitmen ontologis, yakni bahwa pernyataan eksistensial mengimplikasikan bahwa entitas-entitas yang dikuantifikasikan itu merupakan bagian dari realitas.[145]

Metafisika lahir pada masa kuno dari spekulasi mengenai hakikat dan asal-usul kosmos.[147] Di India kuno, mulai abad ke-7 SM, Upanishad ditulis sebagai teks keagamaan dan filosofis yang menyelidiki bagaimana realitas tertinggi menjadi dasar dari segala wujud. Di dalamnya juga dijelajahi hakikat diri dan bagaimana ia dapat mencapai pembebasan melalui pemahaman atas realitas tertinggi.[148] Pada periode yang sama muncul Buddhisme pada abad ke-6 SM,[o] yang menolak keberadaan diri yang berdiri sendiri dan memahami dunia sebagai suatu proses siklik.[150] Sekitar waktu yang sama pula[p] di Tiongkok kuno, mazhab Taoisme terbentuk dan menyelidiki tatanan alami alam semesta, yang dikenal sebagai Tao, serta bagaimana ia ditandai oleh permainan timbal-balik antara yin dan yang sebagai dua kekuatan yang saling terjalin.[152]
Di Yunani kuno, metafisika tumbuh pada abad ke-6 SM bersama para filsuf pra-Sokratik, yang memberikan penjelasan rasional mengenai kosmos sebagai sebuah keseluruhan melalui pemeriksaan terhadap prinsip pertama yang melahirkan segala sesuatu.[153] Meneruskan karya mereka, Plato (427–347 SM) merumuskan teori bentuk-nya, yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk atau ide-ide yang abadi memiliki taraf realitas tertinggi, sementara dunia material hanyalah bayangan tak-sempurna darinya.[154] Aristoteles (384–322 SM) menerima gagasan Plato bahwa terdapat bentuk-bentuk universal, tetapi menegaskan bahwa ia tidak dapat eksis secara terpisah melainkan bergantung pada materi. Ia juga mengembangkan sistem kategori serta kerangka komprehensif mengenai dunia alam melalui teori empat sebab-nya.[155] Mulai abad ke-4 SM, Filsafat Helenistik menggali tatanan rasional yang mendasari kosmos dan hukum-hukum yang menuntunnya.[156] Neoplatonisme muncul menjelang akhir periode kuno pada abad ke-3 M dan memperkenalkan gagasan tentang “Yang Esa” sebagai sumber segala ciptaan yang transenden dan tak terkatakan.[157][q] Sementara itu, dalam Buddhisme India, aliran Madhyamaka mengembangkan gagasan bahwa seluruh fenomena pada hakikatnya kosong dan tidak memiliki esensi yang permanen. Ajaran kesadaran-semata dari aliran Yogācāra menegaskan bahwa objek-objek yang dialami hanyalah transformasi kesadaran semata dan tidak mencerminkan suatu realitas eksternal.[159] Aliran Hindu dalam filsafat Samkhya[r] memperkenalkan sebuah dualisme metafisis yang menempatkan kesadaran murni dan materi sebagai dua kategori dasarnya.[160] Di Tiongkok, mazhab Xuanxue menyelami persoalan-persoalan metafisis seperti pertentangan antara ada dan tiada.[161]

Filsafat Barat pada Abad Pertengahan dibentuk secara mendalam oleh pemikiran Yunani kuno, ketika para filsuf mengupayakan penyatuan gagasan-gagasan tersebut dengan ajaran filsafat Kristen. Boethius (477–524 M) berusaha mendamaikan teori-teori universal ala Plato dan Aristoteles, dengan mengusulkan bahwa universal dapat bersemayam baik di dalam materi maupun dalam benak. Teorinya mengilhami lahirnya nominalisme dan konseptualisme, seperti terlihat dalam pemikiran Peter Abelard (1079–1142 M).[162] Thomas Aquinas (1224–1274 M) memahami metafisika sebagai disiplin yang menyelidiki berbagai makna tentang “ada”, seperti pertentangan antara substansi dan aksiden, serta prinsip-prinsip yang berlaku bagi seluruh wujud, misalnya prinsip identitas.[163] William dari Ockham (1285–1347 M) merumuskan sebuah prinsip metodologis yang kemudian dikenal sebagai pisau cukur Ockham, untuk menimbang teori-teori metafisis yang saling bersaing.[164] Filsafat Arab–Persia berkembang pesat pada awal abad ke-9 hingga akhir abad ke-12 M, memadukan filsafat Yunani kuno untuk menafsirkan dan menjernihkan ajaran Quran.[165] Ibnu Sina (980–1037 M) mengembangkan suatu sistem filsafat yang luas, menelaah pertentangan antara eksistensi dan esensi, serta membedakan antara wujud kontingen dan wujud niscaya.[166] Di India abad pertengahan, muncul aliran monis Advaita Vedanta pada abad ke-8 M, yang menyatakan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya adalah satu, dan bahwa gagasan tentang banyak entitas yang berdiri sendiri merupakan sebuah ilusi.[167] Di Tiongkok, Neo-Konfusianisme bangkit pada abad ke-9 M dan mengkaji gagasan li sebagai prinsip rasional yang menjadi dasar keberadaan dan mencerminkan tatanan kosmos.[168]
Pada periode awal modern, seiring bangkitnya kembali minat terhadap Platonisme pada masa Renaisans, René Descartes (1596–1650) merumuskan suatu dualisme substansi, menurutnya tubuh dan jiwa merupakan entitas-entitas yang berdiri sendiri namun saling berinteraksi secara kausal.[169] Gagasan ini ditolak oleh Baruch Spinoza (1632–1677), yang mengembangkan suatu filsafat monis yang menyatakan bahwa hanya ada satu substansi dengan atribut fisik dan mental yang berkembang berdampingan tanpa saling berinteraksi.[170] Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716) memperkenalkan konsep dunia-dunia mungkin dan merumuskan suatu sistem metafisis yang dikenal sebagai monadologi, yang memandang alam semesta sebagai himpunan substansi sederhana yang tersinkronisasi tanpa interaksi kausal.[171] Christian Wolff (1679–1754) menyusun ruang lingkup metafisika dengan membedakan antara metafisika umum dan metafisika khusus.[172] Menurut idealisme George Berkeley (1685–1753), segala sesuatu bersifat mental, termasuk benda-benda material, yang merupakan gagasan-gagasan yang dipersepsi oleh pikiran.[173] David Hume (1711–1776) memberikan berbagai sumbangan penting bagi metafisika, termasuk teori regularitas tentang kausalitas serta gagasan bahwa tidak ada hubungan niscaya antara entitas-entitas yang berbeda. Terinspirasi oleh empirisisme Francis Bacon (1561–1626) dan John Locke (1632–1704), Hume mengkritik teori-teori metafisis yang berupaya menemukan prinsip-prinsip paling dasar yang tidak dapat dijangkau pengalaman indrawi.[174]
Sikap kritis ini diambil alih oleh Immanuel Kant (1724–1804), yang berusaha menata ulang metafisika sebagai penyelidikan atas prinsip-prinsip dasar dan kategori-kategori pemikiran serta pemahaman, bukan sebagai upaya menyingkap realitas yang berdiri sepenuhnya lepas dari pikiran.[175] Banyak perkembangan pada periode modern lanjut dibentuk oleh filsafat Kant. Para idealis Jerman mengadopsi orientasi idealisnya dalam upaya mereka menemukan satu prinsip pemersatu sebagai dasar seluruh realitas.[176] Gagasan idealistis Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831) menyatakan bahwa realitas hingga ke dasarnya bersifat konseptual, dan bahwa keberadaan itu sendiri bersifat rasional.[177] Ia mengilhami idealisme Inggris Francis Herbert Bradley (1846–1924), yang menafsirkan gagasan Hegel tentang roh absolut sebagai keseluruhan wujud yang mencakup segala sesuatu.[178] Arthur Schopenhauer (1788–1860), penentang keras idealisme Jerman, mengembangkan suatu visi metafisis yang berbeda, dengan mengajukan kehendak yang buta dan irasional sebagai prinsip dasar realitas.[179] Kaum pragmatis seperti C. S. Peirce (1839–1914) dan John Dewey (1859–1952) memandang metafisika sebagai sains observasional mengenai ciri-ciri paling umum dari realitas dan pengalaman.[180]

Pada pergantian abad ke-20 dalam ranah filsafat analitik, para pemikir seperti Bertrand Russell (1872–1970) dan G. E. Moore (1873–1958) memimpin apa yang mereka sebut sebagai “pemberontakan terhadap idealisme”, dengan menegaskan keberadaan dunia yang mandiri dari pikiran—sebuah dunia yang selaras dengan nalar kewajaran dan sains empiris.[181] Para penganut atomisme logis, seperti Russell dan Wittgenstein awal (1889–1951), membayangkan dunia sebagai gugus fakta-fakta atomis; suatu pendekatan yang kemudian mengilhami para metafisikawan seperti D. M. Armstrong (1926–2014).[182] Whitehead (1861–1947) sendiri mengembangkan metafisika proses sebagai upaya menyajikan gambaran holistik mengenai ranah objektif maupun subjektif.[183]
Rudolf Carnap (1891–1970) dan para penganut positivisme logis lainnya mengembangkan kritik luas terhadap pernyataan metafisis, berargumen bahwa pernyataan semacam itu tak bermakna karena tidak dapat diverifikasi.[184] Kritik-kritik lain terhadap metafisika tradisional melihat akar persoalan justru pada kesalahpahaman atas bahasa sehari-hari, atau menantang deduksi metafisis yang rumit dengan mengajukan keberatan dari perspektif akal sehat.[185]
Kemerosotan pengaruh positivisme logis membuka jalan bagi kebangkitan kembali spekulasi metafisis.[186] W. V. O. Quine (1908–2000) berupaya menaturalisasi metafisika dengan menautkannya pada ilmu empiris. Muridnya, David Lewis (1941–2001), memanfaatkan konsep dunia-mungkin untuk merumuskan realisme modal versinya.[187] Saul Kripke (1940–2022) turut menghidupkan kembali diskusi tentang identitas dan esensialisme, serta membedakan keniscayaan metafisis dari konsep epistemik a priori.[188]
Dalam tradisi filsafat kontinental, Edmund Husserl (1859–1938) menekuni ontologi melalui deskripsi fenomenologis atas pengalaman, sementara muridnya, Martin Heidegger (1889–1976), mengembangkan ontologi fundamental untuk menerangkan makna keberadaan itu sendiri.[189] Filsafat Heidegger kemudian mengilhami kritik Jacques Derrida (1930–2004) terhadap metafisika.[190] Pendekatan Gilles Deleuze (1925–1995) terhadap metafisika menantang konsep-konsep klasik seperti substansi, esensi, dan identitas, dengan menata ulang lanskap metafisis melalui gagasan alternatif seperti multiplisitas, peristiwa, dan perbedaan.[191]
| Sumber pustaka mengenai Metafisika |