Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Metafisika

Metafisika adalah cabang filsafat yang menelaah struktur paling mendasar dari realitas. Secara tradisional ia dipahami sebagai kajian mengenai ciri-ciri dunia yang bertahan tanpa bergantung pada pikiran, namun sejumlah pemikir memandangnya sebagai penyelidikan atas kerangka konseptual yang membentuk pemahaman manusia. Beberapa filsuf, termasuk Aristoteles, menyebut metafisika sebagai filsafat pertama untuk menegaskan bahwa ia lebih mendasar dibanding bentuk penyelidikan filosofis lainnya.

Cabang ilmu filsafat
Diperbarui 7 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Metafisika
Incunabulum yang menampilkan awal teks Metafisika karya Aristoteles di tengah gambar. Sekelompok orang berjubah warna-warni berdiri di atasnya dan di bawahnya terdapat hewan-hewan di atas rerumputan.
Bagian awal Metafisika Aristoteles, salah satu teks fundamental disiplin filsafat ini

Metafisika adalah cabang filsafat yang menelaah struktur paling mendasar dari realitas. Secara tradisional ia dipahami sebagai kajian mengenai ciri-ciri dunia yang bertahan tanpa bergantung pada pikiran, tetapi sejumlah pemikir memandangnya sebagai penyelidikan atas kerangka konseptual yang membentuk pemahaman manusia. Beberapa filsuf, termasuk Aristoteles, menyebut metafisika sebagai filsafat pertama untuk menegaskan bahwa ia lebih mendasar dibanding bentuk penyelidikan filosofis lainnya.

Metafisika mencakup spektrum topik yang luas, bersifat umum dan amat abstrak. Ia menyelidiki hakikat keberadaan, sifat-sifat yang dimiliki segala entitas, dan bagaimana entitas tersebut terbagi ke dalam berbagai kategori keberadaan. Salah satu pembagian berpengaruh adalah antara partikular dan universal. Partikular adalah entitas tunggal yang unik, seperti sebuah apel tertentu. Universal adalah sifat-sifat umum yang dimiliki oleh berbagai partikular, seperti warna merah. Metafisika modal menelaah makna dari kemungkinan dan keniscayaan. Para metafisikawan juga menelusuri konsep ruang, waktu, dan perubahan, serta keterkaitannya dengan kausalitas dan hukum-hukum alam. Topik lainnya menyangkut hubungan antara jiwa dan raga, apakah segala sesuatu di dunia ini telah ditentukan sebelumnya, dan apakah kehendak bebas itu benar-benar ada.

Para metafisikawan menggunakan beragam metode dalam penyelidikan mereka. Secara tradisional, mereka bertumpu pada intuisi rasional dan penalaran abstrak, tetapi dalam perkembangan mutakhir turut memasukkan pendekatan empiris yang berkaitan dengan teori-teori ilmiah. Karena sifat kajiannya yang sangat abstrak, metafisika kerap dikritik terkait keandalan metodenya maupun kebermaknaan teori-teorinya. Meski demikian, metafisika memiliki relevansi mendalam bagi banyak ranah penyelidikan yang secara implisit bertumpu pada konsep dan asumsi metafisik.

Akar metafisika dapat ditelusuri hingga masa kuno melalui perenungan mengenai hakikat dan asal mula alam semesta, seperti yang ditemukan dalam Upanishad di India kuno, Taoisme di Tiongkok kuno, dan filsafat pra-Sokrates di Yunani kuno. Pada periode abad pertengahan di Barat, perdebatan mengenai hakikat universal dipengaruhi oleh filsafat Plato dan Aristoteles. Zaman modern menyaksikan lahirnya berbagai sistem metafisika yang luas dan komprehensif, banyak di antaranya mengusung idealisme. Pada abad ke-20, metafisika tradisional secara umum, dan idealisme secara khusus, menghadapi berbagai kritik yang kemudian memicu lahirnya pendekatan-pendekatan baru dalam penyelidikan metafisik.

Definisi

Metafisika adalah telaah atas ciri-ciri paling mendasar dari realitas, meliputi eksistensi, objek serta sifat-sifatnya, kemungkinan dan keniscayaan, ruang dan waktu, perubahan, sebab-akibat, serta hubungan antara materi dan pikiran. Ia merupakan salah satu cabang tertua dalam filsafat.[1][a]

Hakikat metafisika yang tepat masih diperdebatkan, dan caranya dipahami telah berubah sepanjang sejarah. Sebagian pendekatan melihat metafisika sebagai satu bidang yang terpadu dan mendefinisikannya secara luas sebagai studi atas "pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakikat realitas" atau sebagai penyelidikan atas hakikat terdalam sesuatu. Pendekatan lain meragukan bahwa berbagai bidang dalam metafisika memiliki ciri dasar yang sama, sehingga menawarkan pemahaman yang lebih rinci dengan membuat daftar topik-topik utama yang dikaji para metafisikawan.[4] Beberapa definisi bersifat deskriptif, menggambarkan apa yang sesungguhnya dilakukan para metafisikawan; sementara definisi lain bersifat normatif, merumuskan apa yang seharusnya mereka lakukan.[5]

Dua definisi berpengaruh dalam filsafat kuno dan filsafat abad pertengahan memahami metafisika sebagai ilmu tentang sebab-sebab pertama dan sebagai kajian atas keberadaan sebagai keberadaan, yakni pertanyaan tentang apa yang sama-sama dimiliki segala yang ada dan ke kategori dasar apa semuanya itu termasuk. Pada periode modern, cakupan metafisika berkembang mencakup topik-topik seperti pembedaan antara jiwa dan raga serta kehendak bebas.[6] Sejumlah filsuf mengikuti Aristoteles dalam menyebut metafisika sebagai "filsafat pertama", mengisyaratkan bahwa ia adalah penyelidikan paling dasar tempat cabang-cabang filsafat lain bergantung dalam suatu cara tertentu.[7][b]

Lukisan minyak menampilkan Kant dari depan, duduk bersandar pada meja dengan pena dan tinta, mengenakan busana coklat formal berlatar gelap.
Immanuel Kant memandang metafisika melalui lensa filsafat kritis sebagai studi atas asas-asas yang mendasari seluruh pemikiran dan pengalaman manusia.

Secara tradisional, metafisika dipahami sebagai kajian atas ciri-ciri realitas yang berdiri bebas dari pikiran. Sejak Immanuel Kant dan filsafat kritisnya, berkembang sebuah konsepsi alternatif yang menitikberatkan skema-konseptual alih-alih realitas eksternal. Kant membedakan metafisika transenden, yang berupaya menggambarkan fitur objektif realitas di luar pengalaman indrawi, dari perspektif kritis mengenai metafisika, yang menyingkap asas dan struktur yang mendasari seluruh pemikiran serta pengalaman manusia.[9] Filsuf P. F. Strawson memperluas kajian mengenai peran skema-konseptual ini, membedakan metafisika deskriptif—yang merumuskan skema yang biasanya kita gunakan untuk memahami dunia—dari metafisika revisi, yang bertujuan menghadirkan skema yang lebih baik.[10]

Metafisika berbeda dari ilmu-ilmu khusus karena mempelajari aspek realitas yang paling umum dan paling abstrak. Ilmu-ilmu lain, sebaliknya, menelaah ciri-ciri yang lebih khusus dan konkrit, serta membatasi diri pada kelas entitas tertentu, misalnya fokus pada benda fisik dalam fisika, makhluk hidup dalam biologi, dan kebudayaan dalam antropologi.[11] Masih diperdebatkan sejauh mana perbedaan ini merupakan dikotomi yang benar-benar tegas atau lebih menyerupai suatu kontinum yang bertahap.[12]

Etimologi

Kata metafisika berakar dari bahasa Yunani kuno, yakni metá (μετάcode: grc is deprecated , bermakna 'sesudah', 'di atas', dan 'melampaui') serta phusiká (φυσικάcode: grc is deprecated ), sebagai bentuk ringkas dari ungkapan ta metá ta phusiká, yang berarti 'apa yang datang setelah fisika'. Ungkapan ini kerap ditafsirkan bahwa metafisika membicarakan persoalan-persoalan yang, karena keluasan dan tingkat keumumannya, terletak di luar cakupan fisika dan fokusnya pada pengamatan empiris.[13]

Namun, nama metafisika juga mungkin lahir dari suatu kebetulan sejarah ketika buku Aristoteles tentang tema ini, Metafisika, diterbitkan.[14] Aristoteles sendiri tidak pernah menggunakan istilah metafisika; tetapi seorang penyunting karya-karyanya sekitar dua abad kemudian, kemungkinan besar Andronikos dari Rodos, menciptakannya sebagai judul, barangkali untuk menandai bahwa buku ini perlu dibaca setelah karya Aristoteles yang berjudul Fisika: secara harfiah, 'setelah fisika'. Istilah tersebut kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris melalui kata Latin metaphysicacode: la is deprecated .[13] Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia "metafisika".[butuh rujukan]

Cabang-cabang

Hakikat metafisika juga dapat dipahami melalui cabang-cabang utamanya. Sebuah pembagian berpengaruh dari awal filsafat modern membedakan antara metafisika umum dan metafisika khusus atau spesifik.[15] Metafisika umum, yang juga disebut ontologi,[c] mengambil cakrawala paling luas dan menelaah aspek-aspek terdalam dari keberadaan. Ia menyelidiki ciri-ciri yang dimiliki semua entitas serta bagaimana entitas dapat dibagi ke dalam berbagai kategori. Kategori merupakan jenis-jenis paling mendasar, seperti substansi, sifat, relasi, dan fakta.[17] Para ontolog meneliti kategori mana yang ada, bagaimana kategori-kategori itu saling bergantung, dan bagaimana keseluruhannya membentuk suatu sistem yang sanggup menggolongkan seluruh entitas secara menyeluruh.[18]

Metafisika khusus memandang keberadaan dari perspektif yang lebih sempit dan terbagi ke dalam subdisiplin berdasarkan sudut pandangnya. Kosmologi metafisik mengkaji hal-hal yang berubah dan menyelidiki bagaimana semuanya terjalin membentuk sebuah dunia sebagai keseluruhan yang bentangannya merentang ruang dan waktu.[19] Psikologi rasional berfokus pada dasar-dasar metafisik dan persoalan mengenai jiwa, seperti hubungannya dengan materi serta kebebasan kehendak. Teologi alamiah menelaah yang ilahi dan perannya sebagai sebab pertama.[19] Batas-batas metafisika khusus kerap bertumpang tindih dengan disiplin filosofis lain, sehingga kadang tak jelas apakah suatu topik sepenuhnya termasuk ke dalamnya atau justru ke wilayah seperti filsafat pikiran dan teologi.[20]

Sejak paruh kedua abad ke-20, metafisika terapan berkembang sebagai ranah dalam filsafat terapan yang memeriksa implikasi dan kegunaan metafisika, baik di dalam filsafat maupun bidang-bidang lain. Dalam wilayah seperti etika dan filsafat agama, metafisika terapan mengulas fondasi ontologis klaim moral dan doktrin keagamaan.[21] Di luar filsafat, penerapannya mencakup penggunaan ontologi dalam kecerdasan buatan, ilmu ekonomi, dan sosiologi guna mengklasifikasi entitas.[22] Dalam psikiatri dan kedokteran, metafisika terapan menelaah status metafisik berbagai penyakit.[23]

Meta-metafisika[d] adalah metateori dari metafisika dan menyelidiki hakikat serta metode-metodenya. Ia memeriksa bagaimana metafisika berbeda dari disiplin filosofis dan ilmiah lainnya serta menilai relevansinya bagi bidang-bidang tersebut. Meski diskusi tentang tema ini memiliki sejarah panjang dalam metafisika, meta-metafisika baru belakangan berkembang menjadi suatu ranah penelitian yang sistematis.[25]

Topik

Eksistensi dan kategori keberadaan

Artikel utama: Eksistensi dan Teori kategori

Para metafisikawan kerap memandang eksistensi atau keberadaan sebagai salah satu gagasan paling mendasar dan paling luas cakupannya.[26] Ada berarti menjadi bagian dari realitas, menjadi berbeda dari entitas-entitas yang hanya hidup dalam imajinasi.[27] Menurut pandangan tradisional yang berpengaruh, eksistensi adalah sifat milik sifat-sifat: suatu entitas dikatakan ada bila sifat-sifatnya terserupakan dalam kenyataan.[28] Pandangan lain menyatakan bahwa eksistensi adalah sifat individu, sehingga ia serupa dengan sifat-sifat lain, seperti bentuk atau ukuran.[29] Masih diperdebatkan apakah semua entitas memiliki sifat ini. Menurut filsuf Alexius Meinong, terdapat objek tak-eksisten, termasuk benda-benda yang sekadar mungkin ada, seperti Santa Claus dan Pegasus.[30][e] Pertanyaan yang berkaitan adalah apakah eksistensi itu sama bagi semua entitas ataukah ada beragam cara atau tingkatan eksistensi.[31] Misalnya, Plato berpendapat bahwa bentuk-bentuk Platonik, yakni gagasan-gagasan yang sempurna dan tak berubah, memiliki derajat eksistensi lebih tinggi daripada materi, yang hanya mampu memantulkan bentuk-bentuk tersebut secara tidak sempurna.[32][f]

Fokus pokok lain dalam metafisika adalah pengelompokan entitas ke dalam golongan-golongan yang berbeda berdasarkan ciri-ciri mendasar yang mereka persekutukan. Teori kategori berupaya menyusun sistem mengenai jenis-jenis paling fundamental atau genera tertinggi dari keberadaan, dengan merumuskan inventaris komprehensif tentang segala yang ada.[34] Salah satu teori kategori paling awal dikemukakan oleh Aristoteles, yang menguraikan sebuah sistem 10 kategori. Ia berpendapat bahwa substansi (misalnya manusia dan kuda) adalah kategori terpenting, sebab kategori lain seperti kuantitas (misalnya empat), kualitas (misalnya putih), dan tempat (misalnya di Athena) dikatakan tentang substansi dan bergantung padanya.[35] Kant memahami kategori sebagai prinsip-prinsip mendasar yang menopang pemahaman manusia dan mengembangkan sebuah sistem 12 kategori, yang terbagi ke dalam empat kelas: kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas.[36] Teori kategori yang lebih mutakhir dikemukakan oleh C. S. Peirce, Edmund Husserl, Samuel Alexander, Roderick Chisholm, dan E. J. Lowe.[37] Banyak filsuf mengandalkan perbedaan antara objek konkret dan objek abstrak. Menurut pandangan lazim, objek konkret—seperti batu, pohon, dan manusia—ada dalam ruang dan waktu, mengalami perubahan, serta saling memengaruhi dalam hubungan sebab-akibat. Mereka berlawanan dengan objek abstrak, seperti angka dan himpunan, yang tidak berada dalam ruang dan waktu, tidak berubah, dan tidak turut serta dalam hubungan kausal.[38]

Partikular

Partikular atau partikularia adalah entitas-individual dan mencakup baik objek konkret, seperti Aristoteles, Menara Eiffel, atau sebuah apel spesifik, maupun objek abstrak, seperti angka 2 atau suatu himpunan tertentu dalam matematika. Mereka adalah entitas yang unik, tak-terulang, dan berkontras dengan universal, seperti warna merah, yang dapat hadir di banyak tempat sekaligus dan dapat mewarnai banyak partikularia.[39]

Pandangan yang luas dianut menyatakan bahwa partikular mewujudkan universal tetapi tidak diwujudkam oleh apa pun; artinya, partikularia memiliki keberadaan pada dirinya sendiri, sementara universal hanya ada di dalam sesuatu yang lain. Teori substratum, yang diasosiasikan dengan pemikiran John Locke, memahami setiap partikularia sebagai sebuah substratum—yang sering disebut "partikular telanjang", yang dipersatukan dengan beragam sifat. Substratum memberikan identitas individual pada partikularia; sifat-sifatnya menyingkapkan kualitas dan coraknya. Pendekatan ini ditolak oleh para penganut teori gugus. Terinspirasi oleh falsafah David Hume, mereka menyatakan bahwa partikularia hanyalah gugusan sifat-sifat tanpa substratum yang mendasarinya. Beberapa tokoh dalam teori gugus memasukkan ke dalam gugus itu suatu esensi individual, disebut haecceity dalam tradisi skolastik, demi menjamin keunikan setiap gugus. Usulan lain untuk partikularia konkret adalah bahwa yang mengindividualisasikannya adalah lokasi ruang-waktu yang membedakannya.[40]

Partikularia konkret yang kita jumpai sehari-hari, seperti batu, meja, dan organisme, adalah entitas kompleks yang terbentuk dari berbagai bagian. Sebuah meja, misalnya, tersusun dari permukaan dan kaki-kakinya, yang masing-masing sendiri terdiri dari tak terhitung banyak partikel. Hubungan antara bagian dan keseluruhan dipelajari dalam mereologi.[41][g]

"Masalah tentang yang banyak" adalah persoalan filosofis mengenai kondisi apa yang harus terpenuhi agar sejumlah entitas dapat membentuk suatu keseluruhan yang lebih besar. Misalnya, sebuah awan terdiri dari banyak tetesan yang tidak memiliki batas yang jelas, sehingga muncul pertanyaan: tetesan mana saja yang benar-benar merupakan bagian dari awan itu? Bagi kaum universalis mereologis, setiap himpunan entitas membentuk sebuah keseluruhan. Artinya, apa yang tampak sebagai satu awan sebenarnya adalah tumpang tindih dari tak terhitung banyak awan, satu untuk setiap kumpulan tetesan air yang "seperti-awan". Kaum moderatis mereologis menegaskan bahwa kondisi tertentu harus terpenuhi agar sekumpulan entitas membentuk keseluruhan, misalnya, bahwa entitas-entitas itu harus saling bersentuhan. Kaum nihilistis mereologis menolak sepenuhnya gagasan tentang keseluruhan, menyatakan bahwa tidak ada awan atau meja, melainkan hanya partikel-partikel yang tersusun membentuk pola seperti-awan atau seperti-meja.[43]

Masalah mereologis lain yang berkaitan adalah apakah terdapat entitas sederhana yang tidak memiliki bagian, sebagaimana yang diyakini para atomis, atau apakah segala sesuatu dapat dibelah tanpa batas ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sebagaimana diyakini para pendukung teori kontinum.[44]

Universal

Artikel utama: Universal (metafisika)

Universal adalah entitas umum, melingkupi baik sifat maupun relasi, yang mengungkapkan bagaimana rupa partikularia dan bagaimana mereka saling menyerupai. Universal bersifat dapat-diulang, artinya ia tidak terpaku pada satu keberadaan tunggal, melainkan dapat mewujud dalam berbagai partikularia pada saat yang sama. Sebagai contoh, partikularia Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi mewujudkan universal kemanusiaan, sebagaimana stroberi dan rubi mewujudkan universal merah.[45]

Sebuah tema yang telah diperdebatkan sejak filsafat kuno, masalah universal berpusat pada upaya menyingkap status ontologis universal.[46] Kaum realis berpendapat bahwa universal itu nyata, entitas yang berdiri independen dari pikiran, yang ada selain partikularia. Menurut para realis Platonis, universal berada mandiri dari partikularia; implikasinya, universal merah tetap ada meski tak ada satu pun benda merah. Bentuk realisme yang lebih moderat, terilhami oleh Aristoteles, menyatakan bahwa universal bergantung pada partikularia: universal hanya nyata sejauh ia diwujudkan. Para nominalis menolak keberadaan universal dalam bentuk apa pun; bagi mereka, dunia tersusun semata-mata dari partikularia. Kaum konseptualis menawarkan jalan tengah: universal memang ada, tetapi hanya sebagai konsep dalam pikiran, sebagai perangkat untuk menata pengalaman dengan mengelompokkan entitas.[47][h]

Jenis alamiah dan jenis sosial sering dipahami sebagai bentuk-bentuk khusus dari universal. Entitas yang tergolong dalam jenis alamiah berbagi ciri-ciri mendasar yang mencerminkan struktur dunia alam. Dalam pengertian ini, jenis alamiah bukanlah klasifikasi buatan, melainkan sesuatu yang ditemukan, biasanya oleh ilmu-ilmu alam, dan mencakup jenis seperti elektron, H2O, dan harimau. Realis ilmiah dan anti-realis berselisih pendapat mengenai apakah jenis alamiah sungguh ada.[49] Jenis sosial, seperti uang dan bisbol,[50] dikaji oleh metafisika sosial dan dipandang sebagai konstruksi sosial yang berguna, bukan sepenuhnya fiktif, tetapi tidak mencerminkan struktur mendasar realitas yang independen dari pikiran.[51]

Kemungkinan dan keniscayaan

Konsep kemungkinan dan keniscayaan mengungkapkan apa yang dapat atau harus terjadi, sebagaimana tersirat dalam pernyataan-pernyataan modal seperti "mungkin saja ditemukan obat bagi kanker" atau "dua tambah dua haruslah sama dengan empat". Metafisika modal menyelidiki persoalan-persoalan metafisis seputar kemungkinan dan keniscayaan, misalnya mengapa sebagian pernyataan modal benar sementara yang lain tidak.[52][i] Sebagian metafisikawan beranggapan bahwa modalitas merupakan sisi fundamental dari realitas; artinya, selain fakta mengenai apa yang memang terjadi, terdapat pula fakta tentang apa yang dapat atau mesti terjadi.[54] Pandangan lain berpendapat bahwa kebenaran modal tidak merujuk pada aspek mandiri dari realitas, melainkan dapat direduksi menjadi karakteristik non-modal, misalnya fakta tentang kompatibilitas sifat-sifat tertentu atau deskripsi linguistik tertentu, atau bahkan menjadi semacam pernyataan fiksional.[55]

Dengan meminjam istilah dari Gottfried Wilhelm Leibniz dalam karya teodisanya, banyak metafisikawan menggunakan konsep dunia mungkin untuk menelaah makna serta implikasi ontologis dari pernyataan modal. Dunia mungkin adalah cara lengkap dan konsisten tentang bagaimana keseluruhan realitas dapat berlangsung.[56] Misalnya, para dinosaurus memang punah di dunia aktual, tetapi terdapat dunia mungkin di mana mereka tetap hidup.[57] Menurut semantik dunia mungkin, suatu pernyataan mungkin benar bila ia benar di setidaknya satu dunia mungkin, sedangkan ia niscaya benar bila benar di semua dunia mungkin.[58] Para realis modal berpendapat bahwa dunia-dunia mungkin sungguh ada sebagai entitas konkret, sebagaimana dunia aktual, dengan perbedaan utama bahwa dunia aktual adalah dunia yang kita huni, sedangkan dunia mungkin lain dihuni oleh para padanan kita. Pandangan ini bersifat kontroversial dan berbagai alternatif telah diajukan, misalnya bahwa dunia mungkin hanya ada sebagai objek abstrak atau serupa kisah-kisah yang diceritakan dalam karya fiksi.[59]

Ruang, waktu, dan perubahan

Artikel utama: Filsafat ruang dan waktu

Ruang dan waktu adalah dimensi tempat segala entitas berdiam. Para realis ruang-waktu berpendapat bahwa ruang dan waktu merupakan aspek-aspek dasar dari realitas, eksis secara mandiri dari pikiran manusia. Sebaliknya, kaum idealis ruang-waktu beranggapan bahwa ruang dan waktu adalah bangunan konseptual ciptaan akal budi manusia, hadir sebagai sarana untuk menata dan memahami kenyataan.[60] Absolutisme atau substantivalisme ruang-waktu memandang ruang-waktu sebagai suatu objek tersendiri; beberapa metafisikawan bahkan membayangkannya sebagai wadah besar yang menampung segala entitas di dalamnya. Relasionisme ruang-waktu menolak anggapan tersebut dan melihat ruang-waktu sebagai jejaring relasi antara objek-objek, seperti relasi spasial berdampingan atau relasi temporal mendahului.[61]

Dalam metafisika waktu, perbedaan penting muncul antara seri-A dan seri-B. Menurut teori seri-A, aliran waktu adalah nyata: peristiwa tersusun menjadi masa lampau, kini, dan masa depan. Kini terus bergerak maju, dan peristiwa yang kini hadir lambat laun berubah status dan tenggelam ke masa lalu. Dari perspektif teori seri-B, waktu bersifat statis; peristiwa hanya tersusun oleh relasi temporal lebih-awal-dari dan lebih-kemudian-dari, tanpa perbedaan esensial antara masa lampau, masa kini, dan masa depan.[62] Eternalisme menyatakan bahwa masa lampau, kini, dan masa depan sama-sama nyata, sedangkan presentisme berpendapat bahwa hanya entitas yang berada pada masa kini yang sungguh-sungguh ada.[63]

Objek-objek material bertahan melintasi waktu dan berubah dalam prosesnya, sebagaimana pohon yang tumbuh atau meranggas.[64] Cara utama memahami bagaimana entitas bertahan melalui waktu adalah melalui endurantisme dan perdurantisme. Menurut endurantisme, objek material adalah entitas tiga dimensi yang hadir sepenuhnya pada setiap momen; ketika mereka berubah, mereka hanya memperoleh atau kehilangan sifat tertentu tanpa berhenti menjadi diri mereka sendiri. Sebaliknya, para perdurantis melihat objek material sebagai entitas empat dimensi yang membentang melalui waktu dan tersusun dari berbagai bagian temporal. Pada setiap momen, yang hadir bukanlah objek sebagai keseluruhan, melainkan hanya satu bagian temporalnya; perubahan berarti bahwa bagian terdahulu memiliki kualitas yang berbeda dari bagian kemudian. Contohnya, ketika sebuah pisang matang, terdapat bagian yang masih mentah disusul bagian yang telah matang.[65]

Kausalitas

Artikel utama: Kausalitas

Kausalitas adalah jalinan antara sebab dan akibat, suatu hubungan di mana satu entitas melahirkan atau mengubah entitas lainnya.[66] Misalnya, ketika seseorang tanpa sengaja menyenggol sebuah gelas hingga isinya tumpah, maka senggolan itu adalah sebab, sementara tumpahan tersebut adalah akibatnya.[67] Selain kausalitas satu-peristiwa antara *partikular* dalam contoh itu, terdapat pula kausalitas umum yang terjelma dalam pernyataan seperti "merokok menyebabkan kanker".[68] Istilah kausalitas agen digunakan ketika manusia dan tindakannya menjadi penyebab sesuatu.[69] Kausalitas lazim dipahami secara deterministik, yakni bahwa suatu sebab senantiasa menimbulkan akibatnya. Namun, beberapa filsuf seperti G. E. M. Anscombe mengajukan contoh tandingan terhadap gagasan tersebut.[70] Contoh-contoh tandingan inilah yang kemudian mengilhami berkembangnya teori kausalitas probabilistik, yang berpendapat bahwa sebab hanya meningkatkan kemungkinan terjadinya akibat. Pandangan ini membantu menjelaskan pernyataan bahwa merokok menyebabkan kanker meskipun tidak terjadi demikian pada setiap kasus.[71]

Teori regularitas mengenai kausalitas, yang diinspirasi oleh filsafat David Hume, menyatakan bahwa kausalitas tak lain adalah sebuah keterkaitan tetap yang ditangkap oleh pikiran: bahwa suatu fenomena, seperti menjulurkan tangan ke dalam api, selalu diikuti oleh fenomena lain, misalnya timbulnya rasa sakit.[72] Menurut teori regularitas nomik, keteraturan semacam ini tampil sebagai hukum-hukum alam yang ditelaah oleh ilmu pengetahuan.[73] Teori kontrafaktual tidak menitikberatkan pada keteraturan, tetapi pada bagaimana akibat bergantung pada sebabnya. Teori-teori ini menyatakan bahwa akibat "berutang keberadaannya" kepada sebab, tanpanya, akibat itu takkan terjadi.[74] Dalam primitivisme, kausalitas dipandang sebagai konsep dasar yang tak dapat diurai melalui konsep non-kausal, seperti regularitas atau hubungan ketergantungan. Salah satu bentuk primitivisme mengidentifikasi adanya daya-daya kausal yang melekat dalam entitas sebagai mekanisme dasarnya.[75] Para eliminativis menolak seluruh teori di atas dengan menyatakan bahwa kausalitas sama sekali tidak ada.[76]

Akal budi dan kehendak bebas

Artikel utama: Budi dan Kehendak bebas
Diagram pendekatan terhadap persoalan pikiran–tubuh. Menampilkan dualisme dalam bentuk dualisme Cartesian di sisi kiri. Di sisi kanan, monisme tampil dalam bentuk fisikalisme, idealisme, dan monisme netral.
Beragam pendekatan untuk menjawab persoalan masalah hubungan pikiran–tubuh[77]

Pikiran mencakup ragam gejala seperti bernalar, memersepsi, merasakan, dan menginginkan, beserta daya-daya batin yang menopang seluruh pengalaman itu.[78] Masalah budi–tubuh adalah upaya untuk menjernihkan bagaimana gejala mental berkaitan dengan gejala fisik. Dalam dualisme Cartesian, pikiran dan tubuh dilihat sebagai dua substansi yang berbeda. Keduanya saling berinteraksi dalam banyak cara, tetapi, setidaknya secara prinsip, dapat berdiri sendiri-sendiri.[79] Pandangan ini ditolak oleh para penganut monisme, yang berpendapat bahwa kenyataan hanya tersusun dari satu jenis keberadaan saja. Dalam idealisme metafisis, segala sesuatu pada akhirnya bersifat mental atau bersandar pada pikiran; bahkan benda-benda fisik dapat dipahami sebagai gagasan atau persepsi dalam kesadaran.[j] Sebaliknya, para materialis menegaskan bahwa realitas, pada fondasinya, bersifat material. Ada yang menolak keberadaan budi sama sekali, tetapi pendekatan yang lebih umum adalah menjelaskan budi sebagai aspek tertentu dari materi, misalnya sebagai keadaan otak, kecenderungan perilaku, atau peran-peran fungsional.[81] Para pendukung monisme netral berpendapat bahwa hakikat terdalam kenyataan bukanlah material maupun mental, dan bahwa keduanya hanyalah turunan dari suatu dasar yang lebih netral.[82] Salah satu inti persoalan budi–tubuh adalah masalah keras kesadaran: bagaimana mungkin sistem fisik seperti otak dapat menimbulkan kesadaran fenomenal.[83]

Status kehendak bebas, yaitu kemampuan seseorang untuk memilih tindakannya, merupakan aspek penting dalam persoalan budi–tubuh.[84] Para metafisikus menelaah hubungan antara kehendak bebas dan determinisme kausal, gagasan bahwa segala sesuatu di alam semesta, termasuk perilaku manusia, ditentukan oleh peristiwa-peristiwa sebelumnya dan hukum-hukum alam. Masih diperdebatkan apakah determinisme kausal itu benar; dan jika benar, apakah hal tersebut meniadakan kehendak bebas. Menurut inkompatibilisme, kehendak bebas tidak mungkin ada dalam dunia yang deterministik, sebab tidak ada pilihan atau kendali sejati jika segalanya telah ditentukan sebelumnya.[k] Para deterministis keras menyimpulkan bahwa kehendak bebas memang tidak ada, sedangkan para penganut libertarianisme berpendapat bahwa determinisme pasti salah. Kompatibilisme menawarkan jalan tengah: determinisme dan kehendak bebas tidak saling meniadakan, sebab seseorang tetap dapat bertindak sesuai motivasi dan pilihannya sendiri, walau pilihan itu memiliki sebab-sebab sebelumnya. Kehendak bebas menjadi unsur utama dalam etika, terutama mengenai tanggung jawab moral seseorang atas tindakannya.[86]

Lainnya

Identitas adalah suatu relasi yang dimiliki setiap entitas terhadap dirinya sendiri sebagai bentuk kesamaan yang paling mendasar. Dalam makna numerikal, identitas merujuk pada kasus ketika entitas yang sama sedang dibicarakan, sebagaimana dalam pernyataan “bintang fajar adalah bintang senja” (keduanya adalah planet Venus). Dalam pengertian yang sedikit berbeda, identitas juga mencakup kesamaan kualitatif, yang disebut pula *kemiripan persis* atau *ketakterbedaan*, yang muncul ketika dua entitas yang berbeda sepenuhnya serupa, seperti sepasang anak kembar yang identik secara sempurna.[87] Prinsip ketakterbedaan dari yang identik diterima secara luas dan menyatakan bahwa entitas yang identik secara numerik pasti menyerupai satu sama lain sepenuhnya. Prinsip kebalikannya, yang dikenal sebagai identitas dari ketakterbedaan atau Hukum Leibniz, lebih diperdebatkan dan menyatakan bahwa dua entitas adalah identik secara numerik bila keduanya menyerupai satu sama lain tanpa perbedaan apa pun.[88] Terdapat pula pembedaan antara identitas sinkronis dan diakronis. Identitas sinkronis mengaitkan entitas dengan dirinya sendiri pada saat yang sama; sedangkan identitas diakronis membahas entitas yang sama pada waktu yang berbeda, sebagaimana dalam pernyataan “meja yang kubeli tahun lalu adalah meja yang kini berada di ruang makanku”.[89] Identitas pribadi adalah topik terkait dalam metafisika yang memakai istilah “identitas” dalam nuansa yang berbeda, dan berurusan dengan pertanyaan mengenai apa itu kepribadian atau apa yang menjadikan seseorang sebagai pribadi.[90]

Banyak metafisikawan kontemporer bersandar pada konsep kebenaran, pembawa kebenaran, dan pembuat kebenaran dalam penyelidikan mereka.[91] Kebenaran adalah sifat kesesuaian dengan realitas. Pembawa kebenaran adalah entitas yang dapat bernilai benar atau salah, seperti pernyataan linguistik atau representasi mental. Pembuat kebenaran bagi sebuah pernyataan adalah entitas yang keberadaannya menjadikan pernyataan tersebut benar.[92] Sebagai contoh, fakta bahwa sebuah tomat ada dan berwarna merah bertindak sebagai pembuat kebenaran bagi pernyataan “sebuah tomat berwarna merah”.[93] Berdasarkan pengamatan ini, penelitian metafisik dapat dilakukan dengan menanyakan apa pembuat kebenaran bagi berbagai jenis pernyataan, sehingga bidang-bidang metafisika yang berbeda berpusat pada tipe pernyataan yang berbeda. Dalam kerangka ini, metafisika modal menanyakan apa yang menjadikan pernyataan mengenai kemungkinan dan keniscayaan sebagai benar, sementara metafisika waktu mencari pembuat kebenaran bagi pernyataan temporal tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan.[94] Topik yang sangat dekat adalah pertanyaan mengenai hakikat kebenaran itu sendiri. Teori-teori kebenaran berupaya menentukan hakikat tersebut, termasuk teori korespondensi, koherensi, pragmatis, semantik, dan deflasi.[95]

Metodologi

Para metafisikawan menggunakan beragam metode untuk membangun teori-teori metafisika dan merumuskan argumen yang mendukung maupun menentangnya.[96] Secara tradisional, pendekatan a priori menjadi arus utama: ia bertumpu pada intuisi rasional dan penalaran abstrak dari asas-asas umum ketimbang pada pengalaman indrawi. Sebaliknya, pendekatan a posteriori menautkan teori-teori metafisika pada pengamatan empiris dan teori-teori ilmiah.[97] Beberapa metafisikawan juga menyerap perspektif dari bidang-bidang seperti fisika, psikologi, linguistik, dan sejarah ke dalam penyelidikan mereka.[98] Kedua pendekatan ini tidak saling meniadakan: berbagai unsur darinya dapat dipadukan.[99] Pilihan metode seorang metafisikawan sering bertumpu pada pemahamannya tentang hakikat metafisika itu sendiri—apakah ia memahaminya sebagai penyelidikan mengenai struktur realitas yang independen dari pikiran, sebagaimana ditegaskan oleh para realis metafisik, ataukah sebagai pencarian asas-asas yang mendasari pikiran dan pengalaman, sebagaimana dipertahankan sebagian anti-realis metafisik.[100]

Pendekatan a priori kerap bersandar pada intuisi—kesan non-inferensial mengenai ketepatan suatu klaim atau asas umum tertentu.[101][l] Sebagai contoh, argumen bagi Teori-A waktu—yang menyatakan bahwa waktu mengalir dari masa lalu, melalui masa kini, menuju masa depan—sering bergantung pada intuisi pra-teoretis yang berkaitan dengan pengalaman akan lewatnya waktu.[104] Beberapa pendekatan menggunakan intuisi untuk membangun seperangkat asas dasar yang swabukti, yang disebut aksioma, lalu menggunakan penalaran deduktif untuk membangun sistem metafisika kompleks dengan menurunkan konsekuensi dari aksioma tersebut.[105] Pendekatan berbasis intuisi dapat dipadukan dengan eksperimen pemikiran, yang membantu membangkitkan serta memperjelas intuisi dengan mengaitkannya pada situasi imajiner. Eksperimen ini memakai pemikiran kontrafaktual untuk menilai kemungkinan konsekuensi dari berbagai situasi tersebut.[106] Misalnya, untuk menelaah hubungan antara materi dan kesadaran, beberapa teoretikus membandingkan manusia dengan zombi filosofis—makhluk hipotetis yang sepenuhnya identik dengan manusia namun tanpa pengalaman sadar.[107] Metode serupa bertumpu pada keyakinan umum yang telah diterima luas, bukan pada intuisi, untuk merumuskan argumen dan teori. Pendekatan akal sehat kerap digunakan untuk mengkritik teori-teori metafisika yang sangat menyimpang dari cara orang kebanyakan memahami suatu persoalan. Sebagai contoh, para filsuf akal sehat berargumen bahwa nihilisme mereologis adalah keliru karena ia menyiratkan bahwa benda-benda yang lazim diterima, seperti meja, sejatinya tidak ada.[108]

Analisis konseptual, metode yang sangat menonjol dalam filsafat analitik, bertujuan menguraikan konsep-konsep metafisika ke bagian-bagian penyusunnya untuk memperjelas makna serta mengidentifikasi relasi-relasi esensialnya.[109] Dalam fenomenologi, metode variasi eidetik digunakan untuk menyelidiki struktur-struktur esensial yang mendasari fenomena. Metode ini melibatkan pembayangan suatu objek dan melakukan variasi atas ciri-cirinya untuk menentukan mana yang esensial dan tak dapat diubah.[110] Metode transendental merupakan pendekatan lain yang menelaah struktur metafisis realitas dengan mengamati entitas-entitas yang ada serta menelaah kondisi kemungkinan tanpa yang mana entitas-entitas tersebut mustahil ada.[111]

Beberapa pendekatan memberi bobot yang lebih kecil pada penalaran a priori dan memahami metafisika sebagai praktik yang berkesinambungan dengan sains empiris, yang memperluas wawasan-wawasan ilmiah sambil menampakkan asumsi-asumsi mendasarnya. Pendekatan ini dikenal sebagai metafisika dinaturalisasi dan sangat terkait dengan karya Willard Van Orman Quine.[112] Ia berpegang pada gagasan bahwa kalimat-kalimat benar dari sains dan bidang lainnya memiliki komitmen ontologis, yakni menyiratkan bahwa entitas-entitas tertentu mesti ada.[113] Misalnya, jika pernyataan “sebagian elektron terikat pada proton” benar, maka pernyataan itu dapat dipakai untuk membenarkan keberadaan elektron dan proton.[114] Quine memanfaatkan wawasan ini untuk menunjukkan bahwa seseorang dapat mempelajari metafisika dengan menganalisis secara cermat[m] klaim-klaim ilmiah demi memahami gambaran metafisis tentang dunia yang mereka andaikan.[116]

Selain metode-metode untuk melakukan penyelidikan metafisis, terdapat pula berbagai prinsip metodologis untuk menimbang teori-teori yang saling bersaing dengan membandingkan keutamaan teoretisnya. Pisau cukur Ockham adalah prinsip terkenal yang memberi preferensi kepada teori-teori sederhana—khususnya teori-teori yang mengandaikan keberadaan entitas sesedikit mungkin. Prinsip-prinsip lain mempertimbangkan daya jelaskan, kegunaan teoretis, serta kedekatannya dengan keyakinan yang telah mapan.[117]

Kritik

Lukisan minyak yang menampilkan David Hume dari arah depan, berlatar gelap, mengenakan mantel merah berbordir emas, tangan kirinya bertumpu pada sebuah permukaan
David Hume mengecam para metafisikawan karena berupaya meraih pengetahuan di luar ranah pengalaman inderawi.

Kendati dianggap sebagai salah satu cabang utama filsafat, metafisika sejak lama menuai berbagai kritik yang mempertanyakan legitimasi disiplin ini sebagai suatu bentuk penyelidikan.[118] Salah satu kritik menyatakan bahwa penyelidikan metafisis mustahil dilakukan karena manusia tidak memiliki kemampuan kognitif yang memadai untuk menembus hakikat terdalam realitas.[119] Pemikiran semacam ini bermuara pada skeptisisme terhadap kemungkinan adanya pengetahuan metafisis. Para empirisis kerap mengikuti arus ini, sebagaimana Hume yang menegaskan bahwa tidak ada sumber pengetahuan metafisis yang kokoh, sebab metafisika bergerak di luar wilayah pengetahuan empiris dan bertumpu pada intuisi tak dapat dipercaya tentang sesuatu yang melampaui pengalaman indrawi. Dengan menegaskan bahwa pikiran secara aktif memberi bentuk pada pengalaman, Kant mengecam metafisika tradisional karena mencoba menguak hakikat realitas yang independen dari pikiran. Ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia dibatasi oleh ranah pengalaman yang mungkin, sehingga kita tidak dapat memutuskan perkara-perkara seperti apakah dunia memiliki awal dalam waktu atau justru tak berhingga. Kritik lain yang sejalan menunjukkan bahwa perbedaan pendapat yang begitu dalam dan bertahan lama dalam metafisika menandakan ketiadaan kemajuan yang berarti.[120]

Kritik lain berpendapat bahwa penghambatnya bukanlah keterbatasan kognitif manusia, melainkan sifat pernyataan metafisis itu sendiri, yang oleh sebagian kalangan dianggap tidak benar ataupun salah, melainkan tak bermakna. Menurut para penganut positivisme logis, misalnya, makna sebuah pernyataan ditentukan oleh prosedur untuk memverifikasi kebenarannya, biasanya melalui serangkaian observasi yang dapat mengukuhkannya. Berdasarkan asumsi yang kontroversial ini, mereka menyatakan bahwa pernyataan metafisis tidak bermakna karena tidak menghasilkan prediksi apa pun yang dapat diuji lewat pengalaman.[121]

Posisi yang sedikit lebih lunak mengakui bahwa pernyataan metafisis memiliki makna, tetapi berpendapat bahwa perbedaan pandangan metafisis hanyalah sengketa verbal mengenai cara berbeda untuk melukiskan dunia. Dari sudut pandang ini, perdebatan dalam metafisika komposisi — apakah terdapat meja atau hanya partikel-partikel yang tersusun seperti meja — hanyalah perselisihan sepele tentang preferensi linguistik tanpa konsekuensi substantif bagi hakikat realitas.[122] Pandangan bahwa perselisihan metafisis tidak memiliki makna atau tidak memiliki keberartian disebut pengempisan metafisis atau pengempisan ontologis.[123] Pandangan ini ditentang oleh para metafisikawan serius, yang berpendapat bahwa perselisihan metafisis menyentuh aspek mendasar dari struktur realitas itu sendiri.[124] Perdebatan yang sangat terkait ialah antara para realis dan anti-realis ontologis, yakni apakah terdapat fakta-fakta objektif yang menentukan mana di antara teori-teori metafisis yang benar.[125] Kritik berbeda, yang dikemukakan oleh para penganut pragmatisme, melihat persoalan metafisika bukan pada ambisi kognitifnya atau pada ketidakbermaknaan pernyataannya, tetapi pada ketidakrelevanan praktis dan ketiadaan kegunaannya.[126]

Martin Heidegger mengecam metafisika tradisional dengan menyatakan bahwa ia gagal membedakan antara entitas-entitas individual dan keberadaan sebagai landasan ontologisnya. Upayanya untuk mengungkap asumsi dan batas-batas terselubung dalam sejarah metafisika — demi "mengatasi metafisika" — memengaruhi metode dekontruksi yang dikembangkan oleh Jacques Derrida.[127] Derrida memanfaatkan pendekatan ini untuk mengkritik teks-teks metafisis yang menurutnya bergantung pada oposisi biner — seperti kehadiran dan ketiadaan — yang pada dasarnya tidak stabil dan saling bertentangan.[128]

Belum terdapat kesepakatan mengenai sejauh mana kritik-kritik ini valid, dan apakah kritik tersebut menggoyahkan seluruh bangunan metafisika atau hanya isu atau pendekatan tertentu saja dalam disiplin tersebut. Misalnya, bisa jadi sebagian perselisihan metafisis memang sekadar verbal, sementara sebagian lainnya benar-benar substantif.[129]

Hubungan dengan disiplin lain

Metafisika berkaitan erat dengan berbagai bidang penelitian karena ia menyelidiki konsep-konsep dasar mereka dan keterkaitannya dengan struktur fundamental realitas. Ilmu-ilmu alam, misalnya, bergantung pada konsep seperti hukum alam, kausalitas, keniscayaan, dan ruang-waktu untuk merumuskan teori serta meramalkan atau menjelaskan hasil percobaan.[130] Para ilmuwan terutama menitikberatkan penggunaan konsep-konsep ini dalam kasus-kasus khusus, sedangkan metafisika menelaah sifat umumnya serta bagaimana konsep-konsep tersebut saling bergantung. Para fisikawan, misalnya, merumuskan hukum alam seperti hukum gravitasi dan termondinamika untuk menggambarkan perilaku sistem fisik di bawah berbagai kondisi. Para metafisikawan, sebaliknya, menyelidiki apa yang menyatukan seluruh hukum alam, bertanya apakah hukum-hukum itu sekadar menggambarkan keteraturan kontingen atau justru mengekspresikan hubungan yang niscaya.[131] Penemuan ilmiah baru pun sering memengaruhi teori metafisis yang telah ada dan mengilhami teori-teori baru. Teori relativitas Einstein, misalnya, mendorong berbagai metafisikawan untuk memahami ruang dan waktu sebagai satu dimensi terpadu alih-alih dua dimensi yang berdiri sendiri.[132] Metafisikawan yang berfokus pada ranah empiris sering bertumpu pada teori-teori ilmiah untuk menautkan ajaran mereka mengenai hakikat realitas pada observasi yang dapat diuji.[133]

Persoalan serupa muncul pula dalam ilmu sosial ketika para metafisikawan menyelidiki konsep-konsep dasarnya dan menganalisis implikasi metafisisnya. Ini mencakup pertanyaan seperti apakah fakta-fakta sosial muncul dari fakta-fakta non-sosial, apakah kelompok dan institusi sosial memiliki keberadaan yang independen dari pikiran, serta bagaimana mereka bertahan dalam lintasan waktu.[134] Asumsi dan persoalan metafisis dalam psikologi dan psikiatri mencakup pertanyaan tentang hubungan antara tubuh dan jiwa, apakah hakikat pikiran manusia bersifat tetap sepanjang sejarah, serta bagaimana status metafisis dari penyakit-penyakit mental harus dipahami.[135]

Metafisika juga serupa dengan kosmologi fisik dan teologi dalam upayanya menyingkap sebab-sebab pertama dan menelaah alam semesta sebagai suatu keseluruhan. Perbedaannya, metafisika bertumpu pada penyelidikan rasional, sementara kosmologi fisik memberi bobot lebih besar pada observasi empiris, dan teologi mengintegrasikan wahyu ilahi serta doktrin-doktrin berbasis iman lainnya.[136] Secara historis, kosmologi dan teologi pernah dipandang sebagai subbidang metafisika.[137]

Ontologi Atas Gabungan yang Diusulkan
Entitas    
  Fisik    
  Objek

 

  Proses

 

  Abstrak    
  Kuantitas

 

  Proposisi

 

  Atribut

 

  Relasi

 

  Himpunan atau Kelas

 

Kategori-kategori fundamental dalam Ontologi Atas Gabungan yang Diusulkan[138]

Ilmuwan komputer menggantungkan diri pada metafisika dalam bentuk ontologi untuk mewakili dan mengklasifikasikan objek. Mereka mengembangkan kerangka konseptual, yang disebut ontologi, bagi ranah-ranah terbatas,[139] misalnya sebuah basis data dengan kategori seperti orang, perusahaan, alamat, dan nama untuk merepresentasikan informasi mengenai klien dan pegawai.[140] Ontologi menyediakan standar untuk mengodekan dan menyimpan informasi secara terstruktur, sehingga proses komputasional dapat memanfaatkannya bagi berbagai tujuan.[139] Ontologi tingkat atas, seperti Ontologi Gabungan Tingkat Atas yang Diusulkan dan Ontologi Formal Dasar, mendefinisikan konsep pada taraf yang lebih abstrak, sehingga memungkinkan integrasi informasi yang berasal dari berbagai ranah.[141]

Logika sebagai kajian tentang penalaran yang sahih[142] kerap digunakan para metafisikawan untuk menapaki penyelidikan mereka dan mengekspresikan wawasan melalui rumus logis yang presisi.[143][n] Hubungan lain antara kedua bidang ini menyangkut asumsi metafisis yang melekat pada sistem logis. Banyak sistem logis seperti logika orde-pertama mengandalkan kuantor eksistensial untuk menyatakan pernyataan keberadaan. Misalnya, dalam rumus logis ∃ x Horse ( x ) {\displaystyle \exists x{\text{Horse}}(x)} {\displaystyle \exists x{\text{Horse}}(x)} kuantor eksistensial ∃ {\displaystyle \exists } {\displaystyle \exists } diterapkan pada predikat Horse {\displaystyle {\text{Horse}}} {\displaystyle {\text{Horse}}} untuk menyatakan bahwa terdapat kuda-kuda. Mengikuti Quine, berbagai metafisikawan beranggapan bahwa kuantor eksistensial membawa komitmen ontologis, yakni bahwa pernyataan eksistensial mengimplikasikan bahwa entitas-entitas yang dikuantifikasikan itu merupakan bagian dari realitas.[145]

Sejarah

Artikel utama: Sejarah metafisika
Simbol yin dan yang. Bentuknya berupa lingkaran yang terbagi menjadi dua pusaran. Satu sisi berwarna hitam dengan titik putih di dalamnya. Sisi lain berwarna putih dengan titik hitam di dalamnya.
Simbol taijitu menampilkan yin dan yang, dua kekuatan saling-berkorelasi yang dibahas dalam metafisika Tiongkok untuk menyingkap hakikat serta pola keberadaan.[146]

Metafisika lahir pada masa kuno dari spekulasi mengenai hakikat dan asal-usul kosmos.[147] Di India kuno, mulai abad ke-7 SM, Upanishad ditulis sebagai teks keagamaan dan filosofis yang menyelidiki bagaimana realitas tertinggi menjadi dasar dari segala wujud. Di dalamnya juga dijelajahi hakikat diri dan bagaimana ia dapat mencapai pembebasan melalui pemahaman atas realitas tertinggi.[148] Pada periode yang sama muncul Buddhisme pada abad ke-6 SM,[o] yang menolak keberadaan diri yang berdiri sendiri dan memahami dunia sebagai suatu proses siklik.[150] Sekitar waktu yang sama pula[p] di Tiongkok kuno, mazhab Taoisme terbentuk dan menyelidiki tatanan alami alam semesta, yang dikenal sebagai Tao, serta bagaimana ia ditandai oleh permainan timbal-balik antara yin dan yang sebagai dua kekuatan yang saling terjalin.[152]

Di Yunani kuno, metafisika tumbuh pada abad ke-6 SM bersama para filsuf pra-Sokratik, yang memberikan penjelasan rasional mengenai kosmos sebagai sebuah keseluruhan melalui pemeriksaan terhadap prinsip pertama yang melahirkan segala sesuatu.[153] Meneruskan karya mereka, Plato (427–347 SM) merumuskan teori bentuk-nya, yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk atau ide-ide yang abadi memiliki taraf realitas tertinggi, sementara dunia material hanyalah bayangan tak-sempurna darinya.[154] Aristoteles (384–322 SM) menerima gagasan Plato bahwa terdapat bentuk-bentuk universal, tetapi menegaskan bahwa ia tidak dapat eksis secara terpisah melainkan bergantung pada materi. Ia juga mengembangkan sistem kategori serta kerangka komprehensif mengenai dunia alam melalui teori empat sebab-nya.[155] Mulai abad ke-4 SM, Filsafat Helenistik menggali tatanan rasional yang mendasari kosmos dan hukum-hukum yang menuntunnya.[156] Neoplatonisme muncul menjelang akhir periode kuno pada abad ke-3 M dan memperkenalkan gagasan tentang “Yang Esa” sebagai sumber segala ciptaan yang transenden dan tak terkatakan.[157][q] Sementara itu, dalam Buddhisme India, aliran Madhyamaka mengembangkan gagasan bahwa seluruh fenomena pada hakikatnya kosong dan tidak memiliki esensi yang permanen. Ajaran kesadaran-semata dari aliran Yogācāra menegaskan bahwa objek-objek yang dialami hanyalah transformasi kesadaran semata dan tidak mencerminkan suatu realitas eksternal.[159] Aliran Hindu dalam filsafat Samkhya[r] memperkenalkan sebuah dualisme metafisis yang menempatkan kesadaran murni dan materi sebagai dua kategori dasarnya.[160] Di Tiongkok, mazhab Xuanxue menyelami persoalan-persoalan metafisis seperti pertentangan antara ada dan tiada.[161]

Ilustrasi abad pertengahan yang menampilkan Boethius dari depan, duduk dengan latar terang, mengenakan pakaian hijau dan jubah merah
Teori universal Boethius memengaruhi banyak metafisikawan sesudahnya.

Filsafat Barat pada Abad Pertengahan dibentuk secara mendalam oleh pemikiran Yunani kuno, ketika para filsuf mengupayakan penyatuan gagasan-gagasan tersebut dengan ajaran filsafat Kristen. Boethius (477–524 M) berusaha mendamaikan teori-teori universal ala Plato dan Aristoteles, dengan mengusulkan bahwa universal dapat bersemayam baik di dalam materi maupun dalam benak. Teorinya mengilhami lahirnya nominalisme dan konseptualisme, seperti terlihat dalam pemikiran Peter Abelard (1079–1142 M).[162] Thomas Aquinas (1224–1274 M) memahami metafisika sebagai disiplin yang menyelidiki berbagai makna tentang “ada”, seperti pertentangan antara substansi dan aksiden, serta prinsip-prinsip yang berlaku bagi seluruh wujud, misalnya prinsip identitas.[163] William dari Ockham (1285–1347 M) merumuskan sebuah prinsip metodologis yang kemudian dikenal sebagai pisau cukur Ockham, untuk menimbang teori-teori metafisis yang saling bersaing.[164] Filsafat Arab–Persia berkembang pesat pada awal abad ke-9 hingga akhir abad ke-12 M, memadukan filsafat Yunani kuno untuk menafsirkan dan menjernihkan ajaran Quran.[165] Ibnu Sina (980–1037 M) mengembangkan suatu sistem filsafat yang luas, menelaah pertentangan antara eksistensi dan esensi, serta membedakan antara wujud kontingen dan wujud niscaya.[166] Di India abad pertengahan, muncul aliran monis Advaita Vedanta pada abad ke-8 M, yang menyatakan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya adalah satu, dan bahwa gagasan tentang banyak entitas yang berdiri sendiri merupakan sebuah ilusi.[167] Di Tiongkok, Neo-Konfusianisme bangkit pada abad ke-9 M dan mengkaji gagasan li sebagai prinsip rasional yang menjadi dasar keberadaan dan mencerminkan tatanan kosmos.[168]

Pada periode awal modern, seiring bangkitnya kembali minat terhadap Platonisme pada masa Renaisans, René Descartes (1596–1650) merumuskan suatu dualisme substansi, menurutnya tubuh dan jiwa merupakan entitas-entitas yang berdiri sendiri namun saling berinteraksi secara kausal.[169] Gagasan ini ditolak oleh Baruch Spinoza (1632–1677), yang mengembangkan suatu filsafat monis yang menyatakan bahwa hanya ada satu substansi dengan atribut fisik dan mental yang berkembang berdampingan tanpa saling berinteraksi.[170] Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716) memperkenalkan konsep dunia-dunia mungkin dan merumuskan suatu sistem metafisis yang dikenal sebagai monadologi, yang memandang alam semesta sebagai himpunan substansi sederhana yang tersinkronisasi tanpa interaksi kausal.[171] Christian Wolff (1679–1754) menyusun ruang lingkup metafisika dengan membedakan antara metafisika umum dan metafisika khusus.[172] Menurut idealisme George Berkeley (1685–1753), segala sesuatu bersifat mental, termasuk benda-benda material, yang merupakan gagasan-gagasan yang dipersepsi oleh pikiran.[173] David Hume (1711–1776) memberikan berbagai sumbangan penting bagi metafisika, termasuk teori regularitas tentang kausalitas serta gagasan bahwa tidak ada hubungan niscaya antara entitas-entitas yang berbeda. Terinspirasi oleh empirisisme Francis Bacon (1561–1626) dan John Locke (1632–1704), Hume mengkritik teori-teori metafisis yang berupaya menemukan prinsip-prinsip paling dasar yang tidak dapat dijangkau pengalaman indrawi.[174]

Sikap kritis ini diambil alih oleh Immanuel Kant (1724–1804), yang berusaha menata ulang metafisika sebagai penyelidikan atas prinsip-prinsip dasar dan kategori-kategori pemikiran serta pemahaman, bukan sebagai upaya menyingkap realitas yang berdiri sepenuhnya lepas dari pikiran.[175] Banyak perkembangan pada periode modern lanjut dibentuk oleh filsafat Kant. Para idealis Jerman mengadopsi orientasi idealisnya dalam upaya mereka menemukan satu prinsip pemersatu sebagai dasar seluruh realitas.[176] Gagasan idealistis Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831) menyatakan bahwa realitas hingga ke dasarnya bersifat konseptual, dan bahwa keberadaan itu sendiri bersifat rasional.[177] Ia mengilhami idealisme Inggris Francis Herbert Bradley (1846–1924), yang menafsirkan gagasan Hegel tentang roh absolut sebagai keseluruhan wujud yang mencakup segala sesuatu.[178] Arthur Schopenhauer (1788–1860), penentang keras idealisme Jerman, mengembangkan suatu visi metafisis yang berbeda, dengan mengajukan kehendak yang buta dan irasional sebagai prinsip dasar realitas.[179] Kaum pragmatis seperti C. S. Peirce (1839–1914) dan John Dewey (1859–1952) memandang metafisika sebagai sains observasional mengenai ciri-ciri paling umum dari realitas dan pengalaman.[180]

Foto Alfred North Whitehead dari depan, berlatar gelap, memandang ke kamera, mengenakan pakaian resmi berwarna gelap dengan kemeja putih berkerah tinggi
Alfred North Whitehead merumuskan fondasi filsafat proses dalam karyanya Proses dan Realitas.

Pada pergantian abad ke-20 dalam ranah filsafat analitik, para pemikir seperti Bertrand Russell (1872–1970) dan G. E. Moore (1873–1958) memimpin apa yang mereka sebut sebagai “pemberontakan terhadap idealisme”, dengan menegaskan keberadaan dunia yang mandiri dari pikiran—sebuah dunia yang selaras dengan nalar kewajaran dan sains empiris.[181] Para penganut atomisme logis, seperti Russell dan Wittgenstein awal (1889–1951), membayangkan dunia sebagai gugus fakta-fakta atomis; suatu pendekatan yang kemudian mengilhami para metafisikawan seperti D. M. Armstrong (1926–2014).[182] Whitehead (1861–1947) sendiri mengembangkan metafisika proses sebagai upaya menyajikan gambaran holistik mengenai ranah objektif maupun subjektif.[183]

Rudolf Carnap (1891–1970) dan para penganut positivisme logis lainnya mengembangkan kritik luas terhadap pernyataan metafisis, berargumen bahwa pernyataan semacam itu tak bermakna karena tidak dapat diverifikasi.[184] Kritik-kritik lain terhadap metafisika tradisional melihat akar persoalan justru pada kesalahpahaman atas bahasa sehari-hari, atau menantang deduksi metafisis yang rumit dengan mengajukan keberatan dari perspektif akal sehat.[185]

Kemerosotan pengaruh positivisme logis membuka jalan bagi kebangkitan kembali spekulasi metafisis.[186] W. V. O. Quine (1908–2000) berupaya menaturalisasi metafisika dengan menautkannya pada ilmu empiris. Muridnya, David Lewis (1941–2001), memanfaatkan konsep dunia-mungkin untuk merumuskan realisme modal versinya.[187] Saul Kripke (1940–2022) turut menghidupkan kembali diskusi tentang identitas dan esensialisme, serta membedakan keniscayaan metafisis dari konsep epistemik a priori.[188]

Dalam tradisi filsafat kontinental, Edmund Husserl (1859–1938) menekuni ontologi melalui deskripsi fenomenologis atas pengalaman, sementara muridnya, Martin Heidegger (1889–1976), mengembangkan ontologi fundamental untuk menerangkan makna keberadaan itu sendiri.[189] Filsafat Heidegger kemudian mengilhami kritik Jacques Derrida (1930–2004) terhadap metafisika.[190] Pendekatan Gilles Deleuze (1925–1995) terhadap metafisika menantang konsep-konsep klasik seperti substansi, esensi, dan identitas, dengan menata ulang lanskap metafisis melalui gagasan alternatif seperti multiplisitas, peristiwa, dan perbedaan.[191]

Referensi

Catatan

  1. ↑ Para filsuf yang menekuni ranah metafisika disebut metafisikawan atau metafisikus.[2] Di luar wacana akademik, istilah metafisika kadang dipakai dalam makna yang berbeda, yakni untuk menyebut kajian atas fenomena gaib dan paranormal, seperti penyembuhan metafisik, aura, dan daya piramida.[3]
  2. ↑ Sebagai contoh, persoalan metafisik tentang sebab-akibat relevan bagi epistemologi, sebagai unsur yang terlibat dalam pengetahuan inderawi—dan bagi etika, terkait tanggung jawab moral atas akibat dari tindakan seseorang.[8]
  3. ↑ Istilah ontologi kadang digunakan sebagai sinonim bagi keseluruhan metafisika.[16]
  4. ↑ Beberapa filsuf menggunakan istilah metaontologi sebagai sinonim, sementara yang lain menganggap metaontologi sebagai subbidang dari meta-metafisika.[24]
  5. ↑ Menurut Meinong, eksistensi bukanlah sinonim dari keberadaan, semua entitas memiliki "keberadaan", tetapi tidak semua dianugerahi "eksistensi".[30]
  6. ↑ Meskipun lazim disebut teori bentuk Plato, terdapat perdebatan ilmiah mengenai sejauh mana pandangan ini merupakan milik Sokrates alih-alih Plato.[33]
  7. ↑ Persoalan-persoalan mereologis telah dibahas sejak filsafat Yunani kuno.[42]
  8. ↑ Pandangan nominalisme dan konseptualisme telah dirumuskan sejak filsafat abad pertengahan.[48]
  9. ↑ Salah satu bahasan lain menyangkut berbagai jenis modalitas, seperti perbedaan antara keniscayaan fisik, metafisis, dan logis, bergantung pada apakah keniscayaan itu berakar pada hukum-hukum alam, esensi suatu hal, atau hukum logika.[53]
  10. ↑ Terdapat bentuk-bentuk idealisme lain dengan nuansa berbeda, seperti idealisme transendental dan idealisme absolut.[80]
  11. ↑ Misalnya, argumen konsekuensi dari Peter van Inwagen menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kuasa atas masa depan jika segala sesuatu ditentukan oleh masa lalu dan hukum alam.[85]
  12. ↑ Istilah intuisi memiliki berbagai makna lain dalam filsafat. Ia dapat merujuk pada pendapat sederhana, disposisi untuk mempercayai, apa yang tampak benar, atau suatu relasi tertentu antara pikiran dan objek-objek abstrak.[102] Konsep ini memainkan peran sentral dalam filsafat Immanuel Kant, yang memahami intuisi sebagai representasi sadar dan objektif yang terkait erat dengan pengalaman ruang dan waktu.[103]
  13. ↑ Metode analisis Quine bergantung pada terjemahan logis ke dalam logika orde pertama untuk mengekspresikan klaim dengan setepat mungkin, sambil menggunakan kuantor eksistensial guna mengidentifikasi komitmen ontologisnya.[115]
  14. ↑ Sebagai contoh, metafisika tataran-tinggi banyak menggunakan logika tataran-tinggi untuk menganalisis persoalan metafisis.[144]
  15. ↑ Tanggal tepatnya masih diperdebatkan.[149]
  16. ↑ Menurut kisah tradisional, Laozi sebagai pendiri Taoisme hidup pada abad ke-6 SM, tetapi sumber lain menyatakan bahwa ia mungkin hidup pada abad ke-4 atau ke-3 SM.[151]
  17. ↑ Neoplatonis berpengaruh meliputi Plotinus, Porfiri, Iamblichus, Hipatia, dan Proklus.[158]
  18. ↑ Gagasan-gagasan yang melandasi filsafat Samkhya telah muncul sejak abad ke-7 dan ke-6 SM, tetapi perumusan klasik dan sistematisnya berasal dari tahun 350 M.[160]

Kutipan

  1. ↑
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 1–3
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 1–2
    • McDaniel 2020, § 0.3 An Overview of Metaphysics and Other Areas of Philosophy
    • Mumford 2012, § What Is an Introduction?
  2. ↑
    • Mumford 2012, § 10 What Is Metaphysics?
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 2
  3. ↑
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 1
    • Turner 1911, I. The Name
  4. ↑
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 1–4
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 1–2
    • McDaniel 2020, § 0.3 An Overview of Metaphysics and Other Areas of Philosophy
    • Mumford 2012, § 10 What Is Metaphysics?
    • Ney 2014, hlm. 9–10
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, Lead Section, § 1. The Word 'Metaphysics' and the Concept of Metaphysics
  5. ↑ Loux & Crisp 2017, hlm. 2
  6. ↑
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 1–4
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, Lead Section, § 1. The Word 'Metaphysics' and the Concept of Metaphysics
  7. ↑
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 8–10
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 2–3
  8. ↑ Koons & Pickavance 2015, hlm. 8–10
  9. ↑
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 1–2, 6–7
    • Bengtson 2015, hlm. 23
    • Wood 2009, hlm. 354
  10. ↑
    • Heyndels, Bengtson & Mesel 2024, hlm. 4
    • MacDonald 2008, hlm. 18
  11. ↑
    • Mumford 2012, § 10 What Is Metaphysics?
    • Ney 2014, hlm. xiii
    • Tahko 2015, hlm. 206–207
  12. ↑ Tahko 2015, hlm. 203–205
  13. 1 2
    • Hoad 1993, hlm. 291, 351
    • Cohen & Reeve 2021, Lead Section
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 1–2
    • Mumford 2012, § 10. What Is Metaphysics?
    • Politis 2004, hlm. 1
  14. ↑
    • Hamlyn 2005, hlm. 590
    • Mumford 2012, § 10. What Is Metaphysics?
    • Pols 1993, hlm. 203
    • Lowe 2013, hlm. 127
  15. ↑
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 3–5, 10
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 1. The Word 'Metaphysics' and the Concept of Metaphysics
    • Craig 1998
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 1–2
  16. ↑ Hawley 2016, hlm. 166
  17. ↑
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 10–14
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 1. The Word 'Metaphysics' and the Concept of Metaphysics
    • Campbell 2006, The Categories Of Being
  18. ↑
    • Hofweber 2023, § 3. Ontology
    • Campbell 2006, The Categories Of Being
    • Thomasson 2022, Lead Section
  19. 1 2
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 3–5, 10
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 1. The Word 'Metaphysics' and the Concept of Metaphysics
  20. ↑
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 10–11
    • Craig 1998, § 2. Specific Metaphysics
  21. ↑
    • Hawley 2016, hlm. 165–168
    • Brumbaugh 1966, hlm. 647–648
  22. ↑ Hawley 2016, hlm. 168–169, 171–172
  23. ↑ Hawley 2016, hlm. 174
  24. ↑ Tahko 2018, Lead Section
  25. ↑
    • McDaniel 2020, § 7 Meta-metaphysics
    • Tahko 2018, Lead Section
  26. ↑
    • Lowe 2005b, hlm. 277
    • White 2019, hlm. 135, 200
    • Jubien 2004, hlm. 47–48
  27. ↑
    • Lowe 2005b, hlm. 277
    • American Heritage Dictionary 2022
  28. ↑
    • Casati & Fujikawa, Lead Section, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification
    • Blackburn 2008, existence
  29. ↑
    • Casati & Fujikawa, Lead Section, §2. Existence as a First-Order Property and Its Relation to Quantification
    • Blackburn 2008, existence
  30. 1 2
    • Van Inwagen 2023
    • Nelson 2022, Lead Section, §2. Meinongianism
    • Jubien 2004, hlm. 49
  31. ↑
    • Casati & Fujikawa, Lead Section, §3. How Many Ways of Being Existent?
    • McDaniel 2017, hlm. 77
  32. ↑
    • Daly 2009, hlm. 227–228
    • Van Inwagen 2023
  33. ↑
    • Gerson 2002, hlm. 87
    • Dancy 2004, hlm. 11
  34. ↑
    • Thomasson 2022, Lead Section
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 11–12
    • Wardy 1998, Lead Section
  35. ↑
    • Thomasson 2022, § 1.1 Aristotelian Realism
    • Studtmann 2024, § 2. The Ten-Fold Division
    • Wardy 1998, § 1. Categories in Aristotle
  36. ↑
    • Thomasson 2022, § 1.2 Kantian Conceptualism
    • Wardy 1998, § 1. Categories in Kant
  37. ↑
    • Thomasson 2022, § 1.3 Husserlian Descriptivism, § 1.4 Contemporary Category Systems
    • Grim & Rescher 2023, hlm. 39
  38. ↑
    • Falguera, Martínez-Vidal & Rosen 2022, Lead Section, § 1. Introduction, § 3.5 The Ways of Negation
    • Erasmus 2018, hlm. 93
  39. ↑
    • Lowe 2005, hlm. 683
    • MacLeod & Rubenstein, Lead Section, § 1a. The Nature of Universals
    • Bigelow 1998, Lead Section
    • Campbell 2006, § Particularity and Individuality
    • Maurin 2019, Lead Section
  40. ↑
    • Maurin 2019, Lead Section
    • Campbell 2006, § Particularity and Individuality
    • Bigelow 1998, Lead Section, § 3. Bundles of Properties
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 82–83
  41. ↑
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 250–251
    • Varzi 2019, Lead Section, § 1. 'Part' and Parthood
    • Cornell, Lead Section, § 2. The Special Composition Question
    • Tallant 2017, hlm. 19–21
  42. ↑ Varzi 2019, Lead Section
  43. ↑
    • Weatherson 2023, Lead section, § 3. Overpopulation
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 82–83
    • Cornell, Lead Section, § 2. The Special Composition Question
    • Brenner 2015, hlm. 1295
    • Tallant 2017, hlm. 19–21, 23–24, 32–33
  44. ↑
    • Berryman 2022, § 2.6 Atomism and Particle Theories in Ancient Greek Sciences
    • Varzi 2019, § 3.4 Atomism, Gunk, and Other Options
  45. ↑
    • MacLeod & Rubenstein, Lead Section
    • Bigelow 1998a, Lead Section
    • Cowling 2019, Lead Section
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 17–19
  46. ↑
    • MacLeod & Rubenstein, Lead Section, § 1c. The Problem of Universals
    • Rodriguez-Pereyra 2000, hlm. 255–256
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 17–19
  47. ↑
    • MacLeod & Rubenstein, Lead Section, § 2. Versions of Realism, § 3. Versions of Anti-Realism
    • Bigelow 1998a, § 4. Nominalism and Realism
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 17–19, 45
  48. ↑ Hancock 2006, hlm. 188–190
  49. ↑
    • Brzović, Lead Section, § 3. Metaphysics of Natural Kinds
    • Bird & Tobin 2024, Lead Section, § 1.2 Natural Kind Realism
    • Liston, Lead Section
  50. ↑
    • Ásta 2017, hlm. 290–291
    • Bird & Tobin 2024, § 2.4 Natural Kinds and Social Science
  51. ↑
    • Ney 2014, hlm. 259–263
    • Rea 2021, hlm. 185–186
  52. ↑
    • Parent, Lead Section
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 149–150
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 154–155
    • Mumford 2012, § 8. What Is Possible?
  53. ↑
    • Hanna 2009, hlm. 196
    • Hale 2020, hlm. 142
  54. ↑
    • Goswick 2018, hlm. 97–98
    • Wilsch 2017, hlm. 428–429, 446
  55. ↑
    • Goswick 2018, hlm. 97–98
    • Parent, § 3. Ersatzism, § 4. Fictionalism
    • Wilsch 2017, hlm. 428–429
  56. ↑
    • Menzel 2023, Lead Section, § 1. Possible Worlds and Modal Logic
    • Berto & Jago 2023, Lead Section
    • Pavel 1986, hlm. 50
    • Campbell 2006, § Possible Worlds
  57. ↑ Nuttall 2013, hlm. 135
  58. ↑
    • Menzel 2023, Lead Section, § 1. Possible Worlds and Modal Logic
    • Kuhn 2010, hlm. 13
  59. ↑
    • Parent, Lead Section, § 2. Lewis' Realism, § 3. Ersatzism, § 4. Fictionalism
    • Menzel 2023, Lead Section, § 2. Three Philosophical Conceptions of Possible Worlds
    • Campbell 2006, § Modal Realism
  60. ↑
    • Dainton 2010, hlm. 245–246
    • Janiak 2022, § 4.2 Absolute/Relational Vs. Real/Ideal
    • Pelczar 2015, hlm. 115
  61. ↑
    • Hoefer, Huggett & Read 2023, Lead Section
    • Benovsky 2016, hlm. 19–20
    • Romero 2018, hlm. 135
  62. ↑
    • Dyke 2002, hlm. 138
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 182–185
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 160–161
  63. ↑
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 179–181
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 206, 214–215
    • Romero 2018, hlm. 135
  64. ↑
    • Miller 2018, Lead Section
    • Costa, Lead Section
    • Simons 2013, hlm. 166
  65. ↑
    • Miller 2018, Lead Section
    • Costa, Lead Section, § 1. Theories of Persistence
    • Simons 2013, hlm. 166
    • Hawley 2023, 3. Change and Temporal Parts
  66. ↑
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 20–22
    • Tallant 2017, hlm. 218–219
  67. ↑ Carroll & Markosian 2010, hlm. 20
  68. ↑
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 21–22
    • Williamson 2012, hlm. 186
  69. ↑
    • Ney 2014, hlm. 219, 252–253
    • Tallant 2017, hlm. 233–234
  70. ↑
    • Wiland & Driver 2022, § 3. Metaphysics
    • Van Miltenburg 2022, hlm. 1, 6
  71. ↑
    • Ney 2014, hlm. 228–231
    • Williamson 2012, hlm. 185–186
  72. ↑
    • Lorkowski, Lead Section, § 2. Necessary Connections and Hume’s Two Definitions, § 4. Causal Reductionism
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 24–25
    • Tallant 2017, hlm. 220–221
  73. ↑ Ney 2014, hlm. 223–224
  74. ↑
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 26
    • Tallant 2017, hlm. 221–222
    • Ney 2014, hlm. 224–225
  75. ↑
    • Ney 2014, hlm. 231–232
    • Mumford 2009, hlm. 94–95
    • Mumford & Anjum 2013
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 63–64
  76. ↑ Tallant 2017, hlm. 231–232
  77. ↑ Kind & Stoljar 2023, § Introduction
  78. ↑ Morton 2005, hlm. 603
  79. ↑
    • McLaughlin 1999, hlm. 684–685
    • Kim 2005, hlm. 608
  80. ↑
    • Alston 2018, hlm. 97
    • Guyer & Horstmann 2023, § 1. Introduction
  81. ↑
    • McLaughlin 1999, hlm. 685–691
    • Kim 2005, hlm. 608
    • Ramsey 2022, Lead Section
    • Pradhan 2020, hlm. 4
  82. ↑
    • Stubenberg & Wishon 2023, Lead Section; § 1.3 Mind and Matter Revisited
    • Griffin 1998
  83. ↑ Weisberg, Lead Section, § 1. Stating the Problem
  84. ↑
    • Timpe, Lead Section
    • Olson 2001, Mind–Body Problem
    • Armstrong 2018, hlm. 94
  85. ↑
    • Vihvelin 2022, § 5. Choice and the Consequence Argument
    • Kane 2011, hlm. 10
  86. ↑
    • O’Connor & Franklin 2022, Lead Section, § 2. The Nature of Free Will
    • Timpe, Lead Section, § 1. Free Will, Free Action and Moral Responsibility, § 3. Free Will and Determinism
    • Armstrong 2018, hlm. 94
  87. ↑
    • Kirwan 2005, hlm. 417–418
    • Noonan & Curtis 2022, Lead Section
  88. ↑
    • Sleigh 2005, hlm. 418
    • Kirwan 2005, hlm. 417–418
    • Noonan & Curtis 2022, § 2. The Logic of Identity
  89. ↑
    • Gallois 2016, § 2.1 Diachronic and Synchronic Identity
    • Noonan & Curtis 2022, Lead Section, § 5. Identity Over Time
  90. ↑
    • Noonan & Curtis 2022, Lead Section
    • Olson 2023, Lead Section, § 1. The Problems of Personal Identity
    • Korfmacher
  91. ↑
    • Tallant 2017, hlm. 1–4
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 15–17
  92. ↑
    • Lowe 2005a, hlm. 926
    • Tallant 2017, hlm. 1–4
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 15–17
    • Asay 2020, hlm. 11
    • MacBride 2022
  93. ↑
    • Rodriguez-Pereyra 2006, hlm. 191–192
    • Beebee & Dodd 2005, hlm. 2–3
    • Tallant 2017, hlm. 1
  94. ↑
    • Tallant 2017, hlm. 1–4, 163–165
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 15–17, 154
    • Meinertsen 2018, hlm. 21–22
  95. ↑
    • Dowden & Swartz, Lead section
    • Engel 2014, hlm. 12, 34–35, 47
  96. ↑
    • Loux & Crisp 2017, hlm. xi, 2
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 2–3
  97. ↑
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 2–3
    • Mumford 2012, § 10. What Is Metaphysics?
    • Tahko 2015, hlm. 151–152
    • Jaksland 2023, hlm. 198–199
  98. ↑ Koons & Pickavance 2015, hlm. 2–3
  99. ↑ Tahko 2015, hlm. 151–152, 172–173
  100. ↑
    • Mumford 2012, § 10. What Is Metaphysics?
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 2–3
    • Effingham, Beebee & Goff 2010, hlm. 123
    • Khlentzos 2021, Lead Section, § 3. The Anti-Realist Challenges to Metaphysical Realism
  101. ↑
    • Daly 2015, hlm. 11–12, Introduction and Historical Overview
    • Duignan 2009
    • Tahko 2015, hlm. 177–180
  102. ↑
    • Pust 2019, § 1. The Nature of Intuitions
    • Lacey 2005, hlm. 442
  103. ↑
    • Janiak 2022, § 2.2 Kant's Understanding of Representation
    • Lacey 2005, hlm. 442
  104. ↑ Tahko 2015, hlm. 188–190
  105. ↑ Goldenbaum, Lead Section, § 1. The Geometrical Method
  106. ↑
    • Tahko 2015, hlm. 177–178
    • Brown & Fehige 2019, Lead Section
    • Goffi & Roux 2011, hlm. 165, 168–169
    • Eder, Lawler & Van Riel 2020, hlm. 915–916
  107. ↑ Kirk 2023, Lead Section, § 2. Zombies and Physicalism
  108. ↑
    • Lawson 2020, hlm. 185–186
    • Jaksland 2023, hlm. 198–199
  109. ↑
    • Jackson 1998, hlm. 28–30
    • Eder, Lawler & Van Riel 2020, hlm. 915
    • Shaffer 2015, hlm. 555–556
    • Audi 2006, § Philosophical Methods
  110. ↑
    • Drummond 2022, hlm. 75
    • Lohmar 2010, hlm. 83
  111. ↑
    • Pihlström 2009, hlm. 60–61
    • Stern & Cheng 2023, Lead Section
  112. ↑
    • Ney 2014, hlm. 30–31
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 4. The Methodology of Metaphysics
    • Jaksland 2023, hlm. 198–199
  113. ↑
    • Ney 2014, hlm. 37–38, 40
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 4. The Methodology of Metaphysics
  114. ↑ Ney 2014, hlm. 41
  115. ↑ Ney 2014, hlm. 40–41
  116. ↑
    • Ney 2014, hlm. 40–43
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 4. The Methodology of Metaphysics
  117. ↑
    • McDaniel 2020, hlm. 217–221
    • Ney 2014, hlm. 48–49
    • Mumford 2012, § 10. What Is Metaphysics?
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 4. The Methodology of Metaphysics
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 2–3
  118. ↑
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 5. Is Metaphysics Possible?
    • Manley 2009, hlm. 1–2
  119. ↑ Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 5. Is Metaphysics Possible?
  120. ↑
    • Rea 2021, hlm. 210–212
    • Carroll & Markosian 2010, hlm. 16–17
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 4–5
    • Willaschek 2018, hlm. 43
    • McCormick, Lead section, § 6. Kant's Dialectic
  121. ↑
    • Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 5. Is Metaphysics Possible?
    • Manley 2009, hlm. 4
    • Rea 2021, hlm. 212–215
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 5
  122. ↑
    • Manley 2009, hlm. 1–4
    • Rea 2021, hlm. 213–215
    • Tahko 2015, hlm. 71–72
  123. ↑
    • Manley 2009, hlm. 4, 15, 32
    • Sider 2009, hlm. 386–387
  124. ↑
    • Manley 2009, hlm. 28, 36
    • Kriegel 2016, hlm. 272–273
  125. ↑
    • Chalmers 2009, hlm. 77–78
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 304–305
    • Tahko 2015, hlm. 65–66, 68
  126. ↑
    • Koons & Pickavance 2015, hlm. 5
    • Macarthur 2020, hlm. 166
  127. ↑
    • Wheeler 2020, § 1. Biographical Sketch, § 2.2.1 The Question, § 3.3 Technology
    • Gilje & Skirbekk 2017, hlm. 463–464
    • Holland, Lead Section
    • Beaulieu, Kazarian & Sushytska 2014, hlm. 3–4
    • George 2015, hlm. 2
  128. ↑
    • Reynolds, Lead Section, § 2. Deconstructive Strategy
    • Gilje & Skirbekk 2017, hlm. 463–464
    • Holland, Lead Section
  129. ↑ Rea 2021, hlm. 215–216, 223–224
  130. ↑
    • Göhner & Schrenk, Lead Section, § 1. What Is Metaphysics of Science?
    • Mumford & Tugby 2013, hlm. 1–2
    • Hawley 2018, hlm. 187–188
  131. ↑
    • Göhner & Schrenk, § 3. Why Do We Need Metaphysics of Science?, § 4c. Laws of Nature
    • Roberts 2016, hlm. 337–338
  132. ↑ Healey 2016, hlm. 356–357
  133. ↑ Hawley 2018, hlm. 187–188
  134. ↑ Hawley 2018, hlm. 188–189
  135. ↑
    • Dafermos 2021, hlm. 1–2, 6–7
    • Hawley 2016, hlm. 174
  136. ↑
    • Van Inwagen 2024, hlm. 6–8
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 10
  137. ↑
    • Dryer 2016, hlm. 490
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 10
  138. ↑ Heckmann 2006, hlm. 42
  139. 1 2
    • Grütter & Bauer-Messmer 2007, hlm. 350
    • Hawley 2016, hlm. 168–170
  140. ↑ Kozierkiewicz & Pietranik 2019, hlm. 24
  141. ↑
    • Hameed, Preece & Sleeman 2013, hlm. 231–233
    • Stuart 2016, hlm. 14
  142. ↑
    • MacFarlane 2017
    • Corkum 2015, hlm. 753–767
    • Blair & Johnson 2000, hlm. 93–95
    • Magnus 2005, hlm. 12–14, 1.6 Formal Languages
  143. ↑ Ney 2014, hlm. 1–2, 18–20
  144. ↑
    • Hofweber 2022, hlm. 29–30
    • Fritz & Jones 2024, hlm. 3–4
  145. ↑
    • Shapiro & Kouri Kissel 2022, §2.1 Building Blocks
    • Cook 2009, hlm. 111
    • Kind 2018, hlm. 236
    • Casati & Fujikawa, Lead Section, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification
  146. ↑
    • Perkins 2023, Lead Section
    • Littlejohn, § 5. Fundamental Concepts in the Daodejing
  147. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 183
    • Hamlyn 2005, hlm. 590
  148. ↑
    • Perrett 2016, hlm. 7–10
    • Grayling 2019, § Indian Philosophy
    • Andrea & Overfield 2015, hlm. 70–71
  149. ↑ Velez, § 1a. Dates
  150. ↑
    • Perrett 2016, hlm. 7–10
    • Velez, Lead Section, § 3. The Buddha's Cosmology and Metaphysics
    • Grayling 2019, § Indian Philosophy
  151. ↑
    • Dynes 2016, hlm. 60
    • Littlejohn, § 2. Classical Sources for Our Understanding of Daoism
  152. ↑
    • Littlejohn, § 5. Fundamental Concepts in the Daodejing
    • Dynes 2016, hlm. 60–61
    • Wang, Bao & Guan 2020, hlm. 3
  153. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 183
    • Hamlyn 2005, hlm. 590
    • Kirk 2004, hlm. 308–310
  154. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 184–185
    • Hamlyn 2005, hlm. 590
    • Graham, § 3b. Metaphysics
  155. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 185–187
    • Hamlyn 2005, hlm. 590
    • Graham, § 4a. Terminology, § 4f. Metaphysics
  156. ↑
    • Hamlyn 2005, hlm. 590
    • Graham, § 5a. Epicureanism, § 5c. The Stoics
  157. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 187–188
    • Hamlyn 2005, hlm. 590–591
    • Graham, § 5. Post-Hellenistic Thought
  158. ↑
    • Wildberg 2021, § 1. Historical Orientation: Antiquity
    • Remes 2014, hlm. 2, 25
  159. ↑
    • Grayling 2019, § Indian Philosophy
    • Depraz, Varela & Vermersch 2003, hlm. 212
    • Shun'ei 2014, hlm. 5–6
  160. 1 2
    • Ruzsa, Lead Section
    • Grayling 2019, § Indian Philosophy
  161. ↑
    • Chai 2020, hlm. 19
    • Robinet 2013, Chongxuan
  162. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 188–189
    • Grayling 2019, § Boethius, § Abelard
    • Marenbon 2009, hlm. 6
    • Sweeney 2016, hlm. 10–11
  163. ↑
    • Brown, § 5. Metaphysics
    • Hancock 2006, hlm. 189
  164. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 190
    • Grayling 2019, § Ockham
  165. ↑
    • Grayling 2019, Arabic–Persian Philosophy
    • Adamson & Taylor 2004, hlm. 1–3
  166. ↑
    • Grayling 2019, § Ibn Sina (Avicenna)
    • Lizzini 2021, Lead Section, § 3. Essence and Existence, § 4. Modality and Existence
  167. ↑
    • Grayling 2019, § Indian Philosophy
    • Perrett 2016, § The Medieval Period of Indian Philosophy
    • Dalal 2021, Lead Section, § 2.3 Two-Tiered Reality
    • Rangaswami 2012, hlm. 114
  168. ↑
    • Berthrong, Lead Section, § 4. Traits, Themes and Motifs
    • Wu 2022, hlm. 56
    • Smart 2008, hlm. 99
  169. ↑
    • Hamlyn 2005, hlm. 591
    • Dehsen 2013, hlm. 51
  170. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 190
    • Hamlyn 2005, hlm. 591
  171. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 190–191
    • Hamlyn 2005, hlm. 591
    • Look 2020, § 4. Metaphysics: A Primer on Substance
    • Menzel 2023, 1. Possible Worlds and Modal Logic
  172. ↑
    • Svare 2006, hlm. 15
    • Hettche & Dyck 2019, § 5. Metaphysics
  173. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 192
    • Hamlyn 2005, hlm. 591
  174. ↑
    • Morris & Brown 2023, § 3. Philosophical Project, § 5. Causation, § 6. The Idea of Necessary Connection
    • Hamlyn 2005, hlm. 591–592
    • Waxman 2006, hlm. 488
  175. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 192–193
    • Hamlyn 2005, hlm. 592
    • Wood 2009, hlm. 354
    • Loux & Crisp 2017, hlm. 1–2, 6
  176. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 193
    • Hamlyn 2005, hlm. 592
    • Critchley 2001, hlm. 31
  177. ↑
    • Houlgate 2005, hlm. 106
    • Stern 2008, hlm. 172
  178. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 193
    • Hamlyn 2005, hlm. 592
    • Grayling 2019, § Idealism
  179. ↑
    • Grayling 2019, § Schopenhauer
    • Janaway 1999, hlm. 248–249
    • Barua 2018, hlm. 2–3
  180. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 194
    • Misak 2008, Scientific Realism, Anti-Realism, and Empiricism
  181. ↑
    • Griffin 2013, hlm. 383, 396, 399–402
    • Peters 2021, hlm. 31–32
  182. ↑
    • Proops 2022, Lead Section
    • Klement 2019, Lead Section
    • Mumford 2003, hlm. 100
  183. ↑
    • Desmet & Irvine 2022, § 6. Metaphysics
    • Palmer 1998, hlm. 175
  184. ↑
    • Hamlyn 2005, hlm. 592
    • Hart 1998, Lead Section
    • Dharamsi 2017, hlm. 368
  185. ↑
    • Hancock 2006, hlm. 194–195
    • Morris 2017, hlm. 15
    • Baldwin 2010, § 2. The Refutation of Idealism, § 6. Common Sense and Certainty
  186. ↑ Broadbent 2016, hlm. 145
  187. ↑
    • Hylton 2007, hlm. 348
    • Oddie 2006, hlm. 170
    • Parent, § 2. Lewis' Realism
  188. ↑
    • Ahmed 2010, hlm. 3
    • Gutting 2009, hlm. 31–32
  189. ↑
    • Smith 2018, Lead Section, § 5. Phenomenology and Ontology, Epistemology, Logic, Ethics
    • McLean 2003, hlm. 550
    • Taminiaux 1991, hlm. 154
  190. ↑
    • Gilje & Skirbekk 2017, Derrida, Foucault, and Rorty – Deconstruction and Critique
    • Reynolds, Lead Section
  191. ↑
    • Smith, Protevi & Voss 2023, Lead Section
    • Roberts 2016a, hlm. 149

Sumber

  • Adamson, Peter; Taylor, Richard C. (2004). The Cambridge Companion to Arabic Philosophy (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-49469-5.
  • "Existence". American Heritage Dictionary. HarperCollins. 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 August 2023. Diakses tanggal 10 August 2023.
  • Ahmed, Arif (2010). Saul Kripke (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury. ISBN 978-1-4411-9399-5.
  • Alston, William P. (2018). "What Metaphysical Realism is not". Dalam Alston, William P. (ed.). Realism and Antirealism (dalam bahasa Inggris). Cornell University Press. hlm. 97–118. ISBN 978-1-5017-2056-7.
  • Andrea, Alfred J.; Overfield, James H. (2015). The Human Record: Sources of Global History, Volume I: To 1500 (dalam bahasa Inggris). Cengage Learning. ISBN 978-1-305-53746-0.
  • Armstrong, D. M. (2018). The Mind-body Problem: An Opinionated Introduction (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-96480-0.
  • Asay, Jamin (2020). A Theory of Truthmaking: Metaphysics, Ontology, and Reality (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-60404-8.
  • Ásta (2017). "Social Kinds". The Routledge Handbook of Collective Intentionality. Routledge. hlm. 290–299. doi:10.4324/9781315768571-27. ISBN 978-1-315-76857-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Audi, Robert (2006). "Philosophy". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. 7: Oakeshott – Presupposition (Edisi 2.). Thomson Gale, Macmillan Reference. hlm. 325–337. ISBN 978-0-02-865787-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 February 2022. Diakses tanggal 10 November 2023.
  • Baldwin, Tom (2010). "George Edward Moore". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 30 April 2024.
  • Barua, Arati (2018). "Introducing Schopenhauer's Philosophy of the World, Self, and Morality in the Light of Vedantic and Non-Vedantic Wisdom". Dalam Barua, Arati (ed.). Schopenhauer on Self, World and Morality: Vedantic and Non-Vedantic Perspectives (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 1–10. ISBN 978-981-10-5954-4.
  • Beaulieu, Alain; Kazarian, Edward; Sushytska, Julia (2014). "Introduction: Gilles Deleuze and Metaphysics". Dalam Beaulieu, Alain; Kazarian, Edward; Sushytska, Julia (ed.). Gilles Deleuze and Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Lexington Books. hlm. 1–16. ISBN 978-0-7391-7476-0.
  • Beebee, Helen; Dodd, Julian (2005). Truthmakers: The Contemporary Debate (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-928356-9.
  • Bengtson, Josef (2015). Explorations in Post-Secular Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-137-55336-2.
  • Benovsky, Jiri (2016). Meta-metaphysics: On Metaphysical Equivalence, Primitiveness, and Theory Choice (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-25334-3.
  • Berryman, Sylvia (2022). "Ancient Atomism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 May 2019. Diakses tanggal 25 March 2024.
  • Berthrong, John H. "Neo-Confucian Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 February 2024. Diakses tanggal 31 March 2024.
  • Berto, Francesco; Jago, Mark (2023). "Impossible Worlds". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 February 2021. Diakses tanggal 17 February 2024.
  • Bigelow, John C. (1998). "Particulars". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N040-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 March 2024. Diakses tanggal 24 March 2024.
  • Bigelow, John C. (1998a). "Universals". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N065-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 March 2024. Diakses tanggal 25 March 2024.
  • Bird, Alexander; Tobin, Emma (2024). "Natural Kinds". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 March 2024.
  • Blackburn, Simon (2008). "Existence". The Oxford Dictionary of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 124. ISBN 978-0-19-954143-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2023. Diakses tanggal 1 September 2023.
  • Blair, J. Anthony; Johnson, Ralph H. (2000). "Informal Logic: An Overview". Informal Logic. 20 (2). doi:10.22329/il.v20i2.2262. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2021. Diakses tanggal 29 December 2021.
  • Brenner, Andrew (2015). "Mereological Nihilism and the Special Arrangement Question". Synthese. 192 (5): 1295–1314. doi:10.1007/s11229-014-0619-7.
  • Broadbent, Alex (2016). Philosophy for Graduate Students: Metaphysics and Epistemology (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-39714-4.
  • Brown, Christopher M. "Thomas Aquinas". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 March 2024. Diakses tanggal 31 March 2024.
  • Brown, James Robert; Fehige, Yiftach (2019). "Thought Experiments". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 November 2017. Diakses tanggal 29 October 2021.
  • Brumbaugh, Robert S. (1966). "Applied Metaphysics: Truth and Passing Time". The Review of Metaphysics. 19 (4): 647–666. ISSN 0034-6632. JSTOR 20124133. OCLC 9970206403. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 March 2024. Diakses tanggal 21 March 2024.
  • Brzović, Zdenka. "Natural Kinds". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 March 2024. Diakses tanggal 26 March 2024.
  • Campbell, Keith (2006). "Ontology". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. 7: Oakeshott – Presupposition (Edisi 2.). Thomson Gale, Macmillan Reference. hlm. 21–27. ISBN 978-0-02-865787-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2021. Diakses tanggal 21 March 2024.
  • Carroll, John W.; Markosian, Ned (2010). An Introduction to Metaphysics (Edisi 1). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-82629-7.
  • Casati, Filippo; Fujikawa, Naoya. "Existence". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2023. Diakses tanggal 7 August 2023.
  • Chai, David (2020). Dao Companion to Xuanxue 玄學 (Neo-Daoism) (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-030-49228-1.
  • Chalmers, David J. (2009). "3. Ontological Anti-Realism". Metametaphysics: New Essays on the Foundations of Ontology. Clarendon Press. hlm. 77–129. ISBN 978-0-19-954604-6.
  • Cohen, S. Marc; Reeve, C. D. C. (2021). "Aristotle's Metaphysics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 May 2020. Diakses tanggal 10 April 2024.
  • Cook, Roy T. (2009). Dictionary of Philosophical Logic (dalam bahasa Inggris). Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-3197-1.
  • Corkum, Philip (2015). "Generality and Logical Constancy". Revista Portuguesa de Filosofia. 71 (4): 753–768. doi:10.17990/rpf/2015_71_4_0753. ISSN 0870-5283. JSTOR 43744657.
  • Cornell, David. "Material Composition". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 March 2024. Diakses tanggal 25 March 2024.
  • Costa, Damiano. "Persistence in Time". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 August 2021. Diakses tanggal 26 March 2024.
  • Cowling, Sam (2019). "Universals". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N065-2. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 March 2024. Diakses tanggal 25 March 2024.
  • Craig, Edward (1998). "Metaphysics". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 August 2023. Diakses tanggal 19 March 2024.
  • Critchley, Simon (2001). Continental Philosophy: A Very Short Introduction (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-157832-8.
  • Dafermos, Manolis (2021). "The Metaphysics of Psychology and a Dialectical Perspective". Theory & Psychology. 31 (3): 355–374. doi:10.1177/0959354320975491.
  • Dainton, Barry (2010). "Spatial Anti-realism". Time and Space (Edisi 2). Acumen Publishing. hlm. 245–266. ISBN 978-1-84465-190-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Dalal, Neil (2021). "Śaṅkara". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 January 2022. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Daly, Chris (2009). "To Be". Dalam Poidevin, Robin Le; Peter, Simons; Andrew, McGonigal; Cameron, Ross P. (ed.). The Routledge Companion to Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 225–233. ISBN 978-1-134-15585-9.
  • Daly, Christopher (2015). "Introduction and Historical Overview". The Palgrave Handbook of Philosophical Methods (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan. hlm. 1–30. doi:10.1057/9781137344557_1. ISBN 978-1-137-34455-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 May 2022. Diakses tanggal 18 April 2022.
  • Dancy, R. M. (2004). Plato's Introduction of Forms (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-139-45623-4.
  • Dehsen, Christian von (2013). Philosophers and Religious Leaders (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-95102-3.
  • Depraz, Nathalie; Varela, Francisco J.; Vermersch, Pierre (2003). On Becoming Aware: A Pragmatics of Experiencing (dalam bahasa Inggris). John Benjamins Publishing. ISBN 978-90-272-9683-2.
  • Desmet, Ronald; Irvine, Andrew David (2022). "Alfred North Whitehead". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 1 April 2024.
  • Dharamsi, Karim (2017). "Liberation from Solitude: Wittgenstein on Human Finitude and Possibility". Dalam Peters, Michael A.; Stickney, Jeff (ed.). A Companion to Wittgenstein on Education: Pedagogical Investigations (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 365–378. ISBN 978-981-10-3136-6.
  • Dowden, Bradley; Swartz, Norman. "Truth". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 22 November 2024.
  • Drummond, John J. (2022). Historical Dictionary of Husserl's Philosophy (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-5381-3345-3.
  • Dryer, D. P. (2016). Kant's Solution for Verification in Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-315-53632-3.
  • Duignan, Brian (2009). "Intuitionism (Ethics)". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 28 February 2022.
  • Dyke, Heather (2002). "McTaggart and the Truth About Time". Dalam Callender, Craig (ed.). Time, Reality and Experience (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 137–152. ISBN 978-0-521-52967-9.
  • Dynes, Wayne R. (2016). "Creation of Daoism (6th Century BC)". Dalam Curta, Florin; Holt, Andrew (ed.). Great Events in Religion: An Encyclopedia of Pivotal Events in Religious History (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury. hlm. 60–63. ISBN 978-1-61069-566-4.
  • Eder, Anna-Maria A.; Lawler, Insa; Van Riel, Raphael (2020). "Philosophical Methods Under Scrutiny: Introduction to the Special Issue Philosophical Methods". Synthese (dalam bahasa Inggris). 197 (3): 915–923. doi:10.1007/s11229-018-02051-2. ISSN 1573-0964. S2CID 54631297.
  • Effingham, Nikk; Beebee, Helen; Goff, Philip (2010). Metaphysics: The Key Concepts (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-85518-4.
  • Engel, Pascal (2014). Truth (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-48955-9.
  • Erasmus, Jacobus (2018). The Kalām Cosmological Argument: A Reassessment (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-73438-5.
  • Falguera, José L.; Martínez-Vidal, Concha; Rosen, Gideon (2022). "Abstract Objects". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 January 2021. Diakses tanggal 22 March 2024.
  • Gallois, Andre (2016). "Identity Over Time". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 28 March 2024.
  • George, Siby K. (2015). Heidegger and Development in the Global South (dalam bahasa Inggris). Springer India. ISBN 978-81-322-2304-7.
  • Gerson, Lloyd P. (2002). "Plato's Development and the Development of the Theory of Forms". Dalam Welton, William A. (ed.). Plato's Forms: Varieties of Interpretation (dalam bahasa Inggris). Lexington Books. hlm. 85–110. ISBN 978-0-7391-0514-6.
  • Gilje, Nils; Skirbekk, Gunnar (2017). A History of Western Thought: From Ancient Greece to the Twentieth Century (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-22604-6.
  • Goffi, Jean-Yves; Roux, Sophie (2011). Ierodiakonou, Katerina; Roux, Sophie (ed.). "On the Very Idea of a Thought Experiment". Thought Experiments in Methodological and Historical Contexts. Brill: 165–191. doi:10.1163/ej.9789004201767.i-233.35. ISBN 978-90-04-20177-4. S2CID 260640180. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 October 2021. Diakses tanggal 18 April 2022.
  • Göhner, Julia F.; Schrenk, Markus. "Metaphysics of Science". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 April 2024. Diakses tanggal 7 April 2024.
  • Goldenbaum, Ursula. "Geometrical Method". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2022. Diakses tanggal 15 March 2024.
  • Goswick, Dana (2018). "6. Are Modal Facts Brute Facts?". Dalam Vintiadis, Elly; Mekios, Constantinos (ed.). Brute Facts (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 97–112. ISBN 978-0-19-875860-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 March 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Graham, Jacob N. "Ancient Greek Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 August 2022. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Grayling, A. C. (2019). The History of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. ISBN 978-0-241-98086-6.
  • Griffin, Nicholas (1998). "Neutral Monism". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N035-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 March 2024. Diakses tanggal 27 March 2024.
  • Griffin, Nicholas (2013). "Russell and Moore's Revolt against British Idealism". Dalam Beaney, Michael (ed.). The Oxford Handbook of The History of Analytic Philosophy. Oxford University Press. hlm. 383–406. doi:10.1093/oxfordhb/9780199238842.013.0024. ISBN 978-0-19-174978-0.
  • Grim, Patrick; Rescher, Nicholas (2023). Theory of Categories: Key Instruments of Human Understanding (dalam bahasa Inggris). Anthem Press. ISBN 978-1-83998-815-8.
  • Grütter, Rolf; Bauer-Messmer, Bettina (2007). "Towards Spatial Reasoning in the Semantic Web: A Hybrid Knowledge Representation System Architecture". Dalam Fabrikant, Sara; Wachowicz, Monica (ed.). The European Information Society: Leading the Way with Geo-information (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 349–364. ISBN 978-3-540-72385-1.
  • Gutting, Gary (2009). What Philosophers Know: Case Studies in Recent Analytic Philosophy (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-85621-8.
  • Guyer, Paul; Horstmann, Rolf-Peter (2023). "Idealism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 31 December 2024.
  • Hale, Bob (2020). Essence and Existence (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-259622-2.
  • Hameed, Adil; Preece, Alun; Sleeman, Derek (2013). "Ontology Reconciliation". Dalam Staab, Steffen; Studer, Rudi (ed.). Handbook on Ontologies (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 231–250. ISBN 978-3-540-24750-0.
  • Hamlyn, D. W. (2005). "Metaphysics, History of". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 590–593. ISBN 978-0-19-926479-7.
  • Hancock, Roger (2006). "Metaphysics, History of". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). 6: Masaryk – Nussbaum. The Encyclopedia of Philosophy (Edisi 2). Thomson Gale, Macmillan Reference. hlm. 183–197. ISBN 978-0-02-865786-8.
  • Hanna, Robert (2009). Rationality and Logic (dalam bahasa Inggris). MIT Press. ISBN 978-0-262-26311-5.
  • Hart, W. D. (1998). "Meaning and Verification". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-X025-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2024. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Hawley, Katherine (2016). "Applied Metaphysics". Dalam Lippert-Rasmussen, Kasper; Brownlee, Kimberley; Coady, David (ed.). A Companion to Applied Philosophy (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 165–179. ISBN 978-1-118-86911-6.
  • Hawley, Katherine (2018). "Social Science as a Guide to Social Metaphysics?". Journal for General Philosophy of Science. 49 (2): 187–198. doi:10.1007/s10838-017-9389-5. hdl:10023/12888.
  • Hawley, Katherine (2023). "Temporal Parts". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 March 2024.
  • Healey, Richard (2016). "17. Metaphysics in Science". Dalam Humphreys, Paul (ed.). The Oxford Handbook of Philosophy of Science (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 356–377. ISBN 978-0-19-063070-6.
  • Heckmann, Dominikus (2006). Ubiquitous User Modeling (dalam bahasa Inggris). IOS Press. ISBN 978-3-89838-297-7.
  • Hettche, Matt; Dyck, Corey (2019). "Christian Wolff". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 August 2019. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Heyndels, Sybren; Bengtson, Audun; Mesel, Benjamin De (2024). "Introduction". P. F. Strawson and His Philosophical Legacy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 1–14. ISBN 978-0-19-285847-4.
  • Hoad, T. F. (1993). The Concise Oxford Dictionary of English Etymology. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-283098-2.
  • Hoefer, Carl; Huggett, Nick; Read, James (2023). "Absolute and Relational Space and Motion: Classical Theories". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 March 2024.
  • Hofweber, Thomas (2022). "The Case Against Higher-Order Metaphysics". Metaphysics. 5 (1): 29–50. doi:10.5334/met.83.
  • Hofweber, Thomas (2023). "Logic and Ontology". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 December 2021. Diakses tanggal 20 March 2024.
  • Holland, Nancy J. "Deconstruction". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 28 November 2024.
  • Houlgate, Stephen (2005). An Introduction to Hegel: Freedom, Truth and History (dalam bahasa Inggris) (Edisi 2). Blackwell. ISBN 978-0-631-23063-2.
  • Hylton, Peter (2007). Quine (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-92270-3.
  • Jackson, Frank (1998). From Metaphysics to Ethics: A Defence of Conceptual Analysis. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-823618-4.
  • Jaksland, Rasmus (2023). "Naturalized Metaphysics or Displacing Metaphysicians to Save Metaphysics". Synthese. 201 (6) 199. doi:10.1007/s11229-023-04207-1.
  • Janaway, Christopher (1999). "10. The Primacy of Will". Self and World in Schopenhauer's Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 248–270. ISBN 978-0-19-825003-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2024. Diakses tanggal 4 April 2024.
  • Janiak, Andrew (2022). "Kant's Views on Space and Time". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 March 2024.
  • Jubien, Michael (2004). "Metaphysics". Dalam Shand, John (ed.). Fundamentals of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 36–63. ISBN 978-1-134-58831-2.
  • Kane, Robert (2011). "Introduction". Dalam Kane, Robert (ed.). The Oxford Handbook of Free Will (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 1–35. ISBN 978-0-19-987556-6.
  • Khlentzos, Drew (2021). "Challenges to Metaphysical Realism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 September 2019. Diakses tanggal 18 March 2024.
  • Kim, Jaegwon (2005). "Mind, Problems of the Philosophy of". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 607–612. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Kind, Amy (2018). Philosophy of Mind in the Twentieth and Twenty-First Centuries. The History of the Philosophy of Mind (dalam bahasa Inggris). Vol. 6. Routledge. ISBN 978-0-429-01938-8.
  • Kind, Amy; Stoljar, Daniel (2023). What is Consciousness?: A Debate (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-000-86666-7.
  • Kirk, G. S. (2004). "Presocratics". Dalam Rée, Jonathan; Urmson, J. O. (ed.). The Concise Encyclopedia of Western Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 308–317. ISBN 978-1-134-33177-2.
  • Kirk, Robert (2023). "Zombies". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2020. Diakses tanggal 15 March 2024.
  • Kirwan, Christopher (2005). "Identity". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 417–418. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Klement, Kevin (2019). "Russell's Logical Atomism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2024. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Koons, Robert C.; Pickavance, Timothy H. (2015). Metaphysics: The Fundamentals (Edisi 1.). Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-9574-4.
  • Korfmacher, Carsten. "Personal Identity". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 February 2021. Diakses tanggal 28 March 2024.
  • Kozierkiewicz, Adrianna; Pietranik, Marcin (2019). "A Formal Framework for the Ontology Evolution". Dalam Nguyen, Ngoc Thanh; Gaol, Ford Lumban; Hong, Tzung-Pei; Trawiński, Bogdan (ed.). Intelligent Information and Database Systems: 11th Asian Conference, ACIIDS 2019, Yogyakarta, Indonesia, April 8–11, 2019, Proceedings, Part I (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 16–27. ISBN 978-3-030-14799-0.
  • Kriegel, Uriah (2016). "Philosophy as Total Axiomatics: Serious Metaphysics, Scrutability Bases, and Aesthetic Evaluation". Journal of the American Philosophical Association. 2 (2): 272–290. doi:10.1017/apa.2016.8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2024. Diakses tanggal 11 April 2024.
  • Kuhn, Thomas S. (2010). "Possible Worlds in History of Science". Dalam Sture, Allén (ed.). Possible Worlds in Humanities, Arts and Sciences: Proceedings of Nobel Symposium 65 (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. hlm. 9–32. ISBN 978-3-11-086685-8.
  • Lacey, Alan (2005). "Intuition". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 442. ISBN 978-0-19-926479-7.
  • Lawson, Joanna (2020). "Common Sense in Metaphysics". The Cambridge Companion to Common-Sense Philosophy. Cambridge University Press. hlm. 185–207. ISBN 978-1-108-47600-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 March 2024. Diakses tanggal 18 March 2024.
  • Liston, Michael. "Scientific Realism and Antirealism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 March 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Littlejohn, Ronnie. "Daoist Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 March 2024. Diakses tanggal 30 March 2024.
  • Lizzini, Olga (2021). "Ibn Sina's Metaphysics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2024. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Lohmar, Dieter (2010). "IV. Intuition in Mathematics: On the Function of Eidetic Variation in Mathematical Proofs". Dalam Hartimo, Mirja (ed.). Phenomenology and Mathematics (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 73–90. ISBN 978-90-481-3729-9.
  • Look, Brandon C. (2020). "Gottfried Wilhelm Leibniz". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 August 2020. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Lorkowski, C. M. "Hume, David: Causation". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 March 2024. Diakses tanggal 27 March 2024.
  • Loux, Michael J.; Crisp, Thomas M. (2017). Metaphysics: A Contemporary Introduction (Edisi 4). Routledge. ISBN 978-1-138-63933-1.
  • Lowe, E. J. (2005). "Particulars and Non-particulars". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Lowe, E. J. (2005a). "Truth". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 926–927. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Lowe, E. J. (2005b). "Existence". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 277. ISBN 978-0-19-926479-7.
  • Lowe, E. J. (2013). "Metaphysical Knowledge". Dalam Haug, Matthew C. (ed.). Philosophical Methodology: The Armchair or the Laboratory? (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 126–144. ISBN 978-1-135-10703-1.
  • Macarthur, David (2020). "Richard Rorty and (the End of) Metaphysics (?)". Dalam Malachowski, Alan (ed.). A Companion to Rorty (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 163–177. ISBN 978-1-118-97217-5.
  • MacBride, Fraser (2022). "Truthmakers". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 26 April 2024.
  • MacDonald, Cynthia (2008). Varieties of Things: Foundations of Contemporary Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Blackwell Publishing. ISBN 978-1-4051-5444-4.
  • MacFarlane, John (2017). "Logical Constants". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 March 2020. Diakses tanggal 21 November 2021.
  • MacLeod, Mary C.; Rubenstein, Eric M. "Universals". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 February 2024. Diakses tanggal 24 March 2024.
  • Magnus, P. D. (2005). Forall X: An Introduction to Formal Logic. SUNY Press. ISBN 978-1-64176-026-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 December 2021. Diakses tanggal 29 December 2021.
  • Manley, David (2009). "1. Introduction: A Guided Tour of Metametaphysics". Metametaphysics: New Essays on the Foundations of Ontology. Clarendon Press. hlm. 1–37. ISBN 978-0-19-954604-6.
  • Marenbon, John (2009). "Introduction: Reading Boethius Whole". Dalam Marenbon, John (ed.). The Cambridge Companion to Boethius (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 1–10. ISBN 978-1-139-82815-4.
  • Maurin, Anna-Sofia (2019). "Particulars". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N040-2. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 March 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • McCormick, Matt. "Kant, Immanuel: Metaphysics". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 31 December 2024.
  • McDaniel, Kris (2017). The Fragmentation of Being (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-103037-6.
  • McDaniel, Kris (2020). This Is Metaphysics: An Introduction (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-40077-7.
  • McLaughlin, Brian P. (1999). "Philosophy of Mind". Dalam Audi, Robert (ed.). The Cambridge Dictionary of Philosophy (Edisi 2). Cambridge University Press. hlm. 684–694. ISBN 978-0-521-63722-0.
  • McLean, G. F. (2003). "Metaphysics". New Catholic Encyclopedia. Gale and Catholic University of America. ISBN 978-0-7876-4013-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 July 2021. Diakses tanggal 8 July 2021.
  • Meinertsen, Bo R. (2018). Metaphysics of States of Affairs: Truthmaking, Universals, and a Farewell to Bradley's Regress (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. ISBN 978-981-13-3068-1.
  • Menzel, Christopher (2023). "Possible Worlds". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 24 March 2024.
  • Miller, Kristie (2018). "Persistence". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/0123456789-N126-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2024. Diakses tanggal 26 March 2024.
  • Misak, Cheryl J. (2008). "Scientific Realism, Anti-Realism, and Empiricism". Dalam Shook, John R.; Margolis, Joseph (ed.). A Companion to Pragmatism (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 398–409. ISBN 978-1-4051-5311-9.
  • Morris, Michael (2017). "Metaphysics, Philosophy, and the Philosophy of Language". Dalam Hale, Bob; Wright, Crispin; Miller, Alexander (ed.). A Companion to the Philosophy of Language (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 3–26. ISBN 978-1-118-97208-3.
  • Morris, William Edward; Brown, Charlotte R. (2023). "David Hume". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 May 1998. Diakses tanggal 31 March 2024.
  • Morton, Adam (2005). "Mind". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 603. ISBN 978-0-19-926479-7.
  • Mumford, Stephen, ed. (2003). "11. The Philosophy of Logical Atomism". Russell on Metaphysics: Selections from the Writings of Bertrand Russell (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 97–120. ISBN 978-1-136-90272-7.
  • Mumford, Stephen (2009). "Passing Powers Around". Monist. 92 (1): 94–111. doi:10.5840/monist20099215.
  • Mumford, Stephen (2012). Metaphysics: A Very Short Introduction (Edisi 1). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-965712-4.
  • Mumford, Stephen; Anjum, Rani Lill (2013). "8. Primitivism: Is Causation the Most Basic Thing?". Causation: A Very Short Introduction (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 85–95. ISBN 978-0-19-968443-4.
  • Mumford, Stephen; Tugby, Matthew (2013). "1. Introduction What Is the Metaphysics of Science?". Metaphysics and Science. Oxford University Press. hlm. 3–28. ISBN 978-0-19-967452-7.
  • Nelson, Michael (2022). "Existence". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2018. Diakses tanggal 6 August 2023.
  • Ney, Alyssa (2014). Metaphysics: An Introduction. Routledge. ISBN 978-0-415-64074-9.
  • Noonan, Harold; Curtis, Ben (2022). "Identity". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 July 2020. Diakses tanggal 28 March 2024.
  • Nuttall, Jon (2013). An Introduction to Philosophy (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-0-7456-6807-9.
  • Oddie, Graham (2006). "Metaphysics". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). The Encyclopedia of Philosophy. Vol. 6: Masaryk – Nussbaum (Edisi 2). Macmillan. hlm. 169–183. ISBN 978-0-02-865786-8.
  • Olson, Eric T. (2001). "Mind–Body Problem". Dalam Blakemore, Colin; Jennett, Sheila (ed.). The Oxford Companion to the Body (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-852403-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 March 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
  • Olson, Eric T. (2023). "Personal Identity". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 28 March 2024.
  • O’Connor, Timothy; Franklin, Christopher (2022). "Free Will". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 May 2021. Diakses tanggal 28 March 2024.
  • Palmer, Clare (1998). Environmental Ethics and Process Thinking (dalam bahasa Inggris). Clarendon Press. ISBN 978-0-19-826952-6.
  • Parent, Ted. "Modal Metaphysics". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2020. Diakses tanggal 22 March 2024.
  • Pavel, Thomas G. (1986). Fictional Worlds (dalam bahasa Inggris). Harvard University Press. ISBN 978-0-674-29966-5.
  • Pelczar, Michael (2015). Sensorama: A Phenomenalist Analysis of Spacetime and Its Contents (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-104706-0.
  • Perkins, Franklin (2023). "Metaphysics in Chinese Philosophy". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 February 2024. Diakses tanggal 4 April 2024.
  • Fritz, Peter; Jones, Nicholas K. (2024). "Higher-Order Metaphysics: An Introduction". Dalam Peter, Jones; Fritz, Nicholas K. (ed.). Higher-Order Metaphysics (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Oxford University Press. hlm. 3–46. doi:10.1093/oso/9780192894885.003.0001. ISBN 978-0-19-289488-5.
  • Peters, Michael A. (2021). "2.c Wittgenstein and the Rise of Linguistic Philosophy". Wittgenstein, Education and the Problem of Rationality (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. hlm. 31–45. ISBN 978-981-15-9972-9.
  • Perrett, Roy W. (2016). An Introduction to Indian Philosophy (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-85356-9.
  • Pihlström, Sami (2009). Pragmatist Metaphysics: An Essay on the Ethical Grounds of Ontology (dalam bahasa Inggris). A&C Black. ISBN 978-1-84706-593-3.
  • Politis, Vasilis (2004). Routledge Philosophy Guidebook to Aristotle and the Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-415-25147-1.
  • Pols, Edward (1993). "The Metaphor of a Foundation for Knowledge". Dalam Bogaard, Paul A.; Treash, Gordon (ed.). Metaphysics as Foundation: Essays in Honor of Ivor Leclerc (dalam bahasa Inggris). SUNY Press. hlm. 200–223. ISBN 978-0-7914-1258-9.
  • Pradhan, Ramesh Chandra (2020). Metaphysics of Consciousness: The Indian Vedantic Perspective (dalam bahasa Inggris). Springer Nature Singapore. ISBN 978-981-15-8064-2.
  • Proops, Ian (2022). "Wittgenstein's Logical Atomism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Pust, Joel (2019). "Intuition". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 8 August 2024.
  • Ramsey, William (2022). "Eliminative Materialism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 October 2019. Diakses tanggal 27 March 2024.
  • Rangaswami, Sudhakshina (2012). The Roots of Vedānta (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. ISBN 978-0-14-306445-9.
  • Rea, Michael C. (2021). Metaphysics: The Basics (Edisi 2). Routledge. ISBN 978-0-367-13607-9.
  • Remes, Pauliina (2014). Neoplatonism (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-49289-4.
  • Reynolds, Jack. "Derrida, Jacques". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 March 2024. Diakses tanggal 2 April 2024.
  • Roberts, John T. (2016). "16. Laws of Nature". Dalam Humphreys, Paul (ed.). The Oxford Handbook of Philosophy of Science (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 337–355. ISBN 978-0-19-063070-6.
  • Roberts, Austin (2016a). "Divine Differentials: The Metaphysics of Gilles Deleuze and Its Significance for Contemporary Theology". Dalam Shults, F. LeRon; Powell-Jones, Lindsay (ed.). Deleuze and the Schizoanalysis of Religion (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury. hlm. 145–162. ISBN 978-1-4742-6690-1.
  • Robinet, Isabelle (2013). "Chongxuan". Dalam Pregadio, Fabrizio (ed.). The Encyclopedia of Taoism (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 274–276. ISBN 978-1-135-79634-1.
  • Rodriguez-Pereyra, Gonzalo (2000). "What Is the Problem of Universals?". Mind. 109 (434): 255–273. doi:10.1093/mind/109.434.255.
  • Rodriguez-Pereyra, Gonzalo (2006). "Truthmakers". Philosophy Compass. 1 (2): 186–200. doi:10.1111/j.1747-9991.2006.00018.x.
  • Romero, Gustavo E. (2018). Scientific Philosophy (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-97631-0.
  • Ruzsa, Ferenc. "Sankhya". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2019. Diakses tanggal 30 March 2024.
  • Shaffer, Michael J. (2015). "The Problem of Necessary and Sufficient Conditions and Conceptual Analysis". Metaphilosophy. 46 (4/5): 555–563. doi:10.1111/meta.12158. ISSN 0026-1068. JSTOR 26602327. S2CID 148551744. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2022. Diakses tanggal 15 February 2022.
  • Shapiro, Stewart; Kouri Kissel, Teresa (2022). "Classical Logic". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 May 1998. Diakses tanggal 15 August 2023.
  • Shun'ei, Tagawa (2014). Living Yogacara: An Introduction to Consciousness-Only Buddhism (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. ISBN 978-0-86171-895-5.
  • Sider, Theodore (2009). "13. Ontological Realism". Metametaphysics: New Essays on the Foundations of Ontology. Clarendon Press. hlm. 384–423. ISBN 978-0-19-954604-6.
  • Simons, Peter (2013). "The Thread of Persistence". Dalam Kanzian, Christian (ed.). Persistence (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. hlm. 165–184. ISBN 978-3-11-032705-2.
  • Sleigh, R. C. (2005). "Identity of Indiscernibles". The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 418. ISBN 978-0-19-926479-7.
  • Smart, Ninian (2008). World Philosophies (Edisi 2). Routledge. ISBN 978-0-415-41188-2.
  • Smith, David Woodruff (2018). "Phenomenology". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 10 November 2024.
  • Smith, Daniel; Protevi, John; Voss, Daniela (2023). "Gilles Deleuze". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 11 August 2024.
  • Stern, Robert (2008). "Hegel's Idealism". Dalam Beiser, Frederick C. (ed.). The Cambridge Companion to Hegel and Nineteenth-Century Philosophy (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 135–173. ISBN 978-1-139-82718-8.
  • Stern, Robert; Cheng, Tony (2023). "Transcendental Arguments". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 17 March 2024.
  • Stuart, David (2016). Practical Ontologies for Information Professionals (dalam bahasa Inggris). Facet Publishing. ISBN 978-1-78330-062-4.
  • Stubenberg, Leopold; Wishon, Donovan (2023). "Neutral Monism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 July 2018. Diakses tanggal 27 March 2024.
  • Studtmann, Paul (2024). "Aristotle's Categories". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 22 March 2024.
  • Svare, Helge (2006). Body and Practice in Kant (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-4020-4118-1.
  • Sweeney, E. (2016). Logic, Theology and Poetry in Boethius, Anselm, Abelard, and Alan of Lille: Words in the Absence of Things (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan. ISBN 978-1-137-06373-1.
  • Tahko, Tuomas E. (2015). An Introduction to Metametaphysics. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-07729-4.
  • Tahko, Tuomas (2018). "Meta-metaphysics". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N127-1. hdl:1983/9dafefd5-5280-49b5-9085-de78b6ebb656. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 March 2024. Diakses tanggal 20 March 2024.
  • Tallant, Jonathan (2017). Metaphysics: An Introduction (Edisi Second). Bloomsbury. ISBN 978-1-3500-0671-3.
  • Taminiaux, Jacques (1991). Heidegger and the Project of Fundamental Ontology (dalam bahasa Inggris). State University of New York Press. ISBN 978-1-4384-2179-7.
  • Thomasson, Amie (2022). "Categories". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 October 2023. Diakses tanggal 20 March 2024.
  • Timpe, Kevin. "Free Will". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2019. Diakses tanggal 28 March 2024.
  • Turner, William (1911). "Metaphysics". Catholic Encyclopedia. Vol. 10. The Encyclopedia Press. OCLC 1391341.
  • Van Inwagen, Peter (2023). "Existence". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 June 2023. Diakses tanggal 7 August 2023.
  • Van Inwagen, Peter (2024). Metaphysics (Edisi 5). Routledge. ISBN 978-1-032-40916-0.
  • Van Inwagen, Peter; Sullivan, Meghan; Bernstein, Sara (2023). "Metaphysics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2018. Diakses tanggal 17 March 2024.
  • Van Miltenburg, Niels (2022). "Causality, Determination and Free Will: Towards an Anscombean Account of Free Action". Synthese. 200 (4) 279. doi:10.1007/s11229-022-03700-3.
  • Varzi, Achille (2019). "Mereology". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2020. Diakses tanggal 25 March 2024.
  • Velez, Abraham. "Buddha". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 February 2024. Diakses tanggal 30 March 2024.
  • Vihvelin, Kadri (2022). "Arguments for Incompatibilism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 1 May 2024.
  • Wang, Yueqing; Bao, Qinggang; Guan, Guoxing (2020). "1. Way (Dao, 道)". History of Chinese Philosophy Through Its Key Terms (dalam bahasa Inggris). Nanjing University Press. hlm. 1–18. ISBN 978-981-15-2572-8.
  • Wardy, Robert (1998). "Categories". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N005-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 March 2024. Diakses tanggal 22 March 2024.
  • Waxman, Wayne (2006). "David Hume (1711–1776)". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Gadamer – Just War Theory. The Encyclopedia of Philosophy (Edisi 2). Macmillan. hlm. 486–514. ISBN 0-02-865784-5.
  • Weatherson, Brian (2023). "The Problem of the Many". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 19 November 2024.
  • Weisberg, Josh. "Hard Problem of Consciousness". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 July 2023. Diakses tanggal 27 March 2024.
  • Wheeler, Michael (2020). "Martin Heidegger". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 11 August 2024.
  • White, Alan (2019). Methods of Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-429-51427-2.
  • Wiland, Eric; Driver, Julia (2022). "Gertrude Elizabeth Margaret Anscombe". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 23 November 2024.
  • Wildberg, Christian (2021). "Neoplatonism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 22 November 2024.
  • Willaschek, Marcus (2018). Kant on the Sources of Metaphysics: The Dialectic of Pure Reason (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-59607-7.
  • Williamson, John (2012). "Probabilistic Theories". Dalam Beebee, Helen; Hitchcock, Christopher; Menzies, Peter (ed.). The Oxford Handbook of Causation (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 185–212. ISBN 978-0-19-162946-4.
  • Wilsch, Tobias (2017). "Sophisticated Modal Primitivism". Philosophical Issues. 27 (1): 428–448. doi:10.1111/phis.12100.
  • Wood, Allen W. (2009). "Kantianism". Dalam Kim, Jaekwon; Sosa, Ernest; Rosenkrantz, Gary S. (ed.). A Companion to Metaphysics (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 353–358. ISBN 978-1-4443-0853-2.
  • Wu, Guo (2022). An Anthropological Inquiry Into Confucianism: Ritual, Emotion, and Rational Principle (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-7936-5432-8.

Pranala luar

Sumber pustaka mengenai
Metafisika
  • Sumber di perpustakaan Anda
  • Sumber di perpustakaan lain
  • (Inggris) Metafisika di PhilPapers
  • (Inggris) Metafisika di Indiana Philosophy Ontology Project
  • Metafisika catatan di Internet Encyclopedia of Philosophy
  • Metaphysics at Encyclopædia Britannica
  • Buku audio domain publik Metaphysics di LibriVox
Portal
Akses topik terkait
  • Portal Filsafat

Temukan informasi lain di
proyek saudari Wikimedia
  • Berkas dan media
    dari Commons
  • Definisi
    dari Wiktionary
  • Buku teks
    dari Wikibooks
  • Kutipan
    dari Wikiquote
  • Teks sumber
    dari Wikisource
  • Sumber pembelajaran
    dari Wikiversity
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Jepang
  • Republik Ceko
  • Spanyol
  • Israel
Lain-lain
  • Ensiklopedia Ukraina Modern
  • İslâm Ansiklopedisi
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Etimologi
  3. Cabang-cabang
  4. Topik
  5. Eksistensi dan kategori keberadaan
  6. Partikular
  7. Universal
  8. Kemungkinan dan keniscayaan
  9. Ruang, waktu, dan perubahan
  10. Kausalitas
  11. Akal budi dan kehendak bebas
  12. Lainnya
  13. Metodologi
  14. Kritik
  15. Hubungan dengan disiplin lain
  16. Sejarah

Artikel Terkait

Filsafat ilmu

cabang dari kajian filsafat yang membahas dasar, metode dan implikasi dari ilmu pengetahuan

Filsafat

kajian intelektual dan/atau logis dari masalah umum dan mendasar

Humaniora

Humaniora atau ilmu humaniora adalah cabang ilmu yang mempelajari aspek-aspek manusia dan kebudayaannya. Berbeda dengan ilmu alam atau ilmu sosial yang berfokus

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026