Mausoleum Cao Cao, juga dikenal sebagai Mausoleum Gaoling dari Wei atau Makam Xigaoxue No. 2 adalah sebuah makam di Desa Xigaoxue, Kota Anfeng, Anyang, Henan. Situs makam ini diduga merupakan sebuah makam untuk Cao Cao (155–220), seorang panglima perang dan kanselir agung yang hidup pada masa Akhir Dinasti Han. Penemuan makam tersebut dilaporkan pada tanggal 27 Desember 2009 oleh Biro Warisan Budaya Provinsi Henan. Pada tahun 2013, makam tersebut menjadi bagian dari kelompok ketujuh Situs Sejarah dan Budaya Utama yang Dilindungi di Tingkat Nasional di Tiongkok.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Mausoleum Cao Cao, juga dikenal sebagai Mausoleum Gaoling dari Wei atau Makam Xigaoxue No. 2 adalah sebuah makam di Desa Xigaoxue, Kota Anfeng, Anyang, Henan. Situs makam ini diduga merupakan sebuah makam untuk Cao Cao (155–220), seorang panglima perang dan kanselir agung yang hidup pada masa Akhir Dinasti Han. Penemuan makam tersebut dilaporkan pada tanggal 27 Desember 2009 oleh Biro Warisan Budaya Provinsi Henan.[1] Pada tahun 2013, makam tersebut menjadi bagian dari kelompok ketujuh Situs Sejarah dan Budaya Utama yang Dilindungi di Tingkat Nasional di Tiongkok.[2]
Cao Cao (155–220) adalah seorang panglima perang dan politikus yang bangkit pada masa Akhir Dinasti Han (184–220) dan menjadi pemimpin Dinasti Han secara de facto walaupun secara de jure kekuasaan dipegang oleh Kaisar Xian dari Han. Pada 216, Kaisar Xian menganugerahinya dengan gelar Raja Wei (魏王) dan menjadi raja vasal. Melalui kampanye militernya, Cao Cao membangun pondasi untuk negara yang kemudian dikenal sebagai Cao Wei (220–266) yang didirikan oleh putranya, Cao Pi setelah Cao Cao meninggal. Cao Cao sendiri meninggal pada tahun 220 di Luoyang, berusia 65 tahun. Ia diberi nama anumerta Raja Wu (武王) oleh Kaisar Xian.[3]
Selama berabad-abad, tidak ada yang mengetahui dimana makam Cao Cao. Menurut catatan dari Sanguozhi, Cao Cao dikubur di Gaoling (高陵) sebulan setelah ia wafat.[4] Namun, ia dipercayai dikubur di tempat lain. Beberapa rumor tempat kuburannya meliputi Xuchang yang saat itu merupakan ibukota Dinasti Han sebelum keruntuhannya, dibawah Sungai Zhang, atau dibawah Platform Burung Pipit Perunggu di Ye yang merupakan ibukota kerajaan Cao Cao.
Sebuah legenda lainnya yang dipopulerkan oleh Kisah Tiga Negara karya Luo Guanzhong beserta karya-karya dari tokoh lainnya seperti Pu Songling menyatakan bahwa Cao Cao memiliki 72 kuburan, dibangun untuk mengecoh penjarah kuburan.[1][5] Awalnya, makam Dinasti Utara di Kabupaten Ci, Handan, Hebei diyakini berjumlah 72, tetapi para arkeolog kemudian memastikan bahwa makam-makam tersebut milik keluarga kekaisaran Dinasti Wei Timur dan Qi Utara dan tidak ada hubungannya dengan Cao Cao.[6]

Pada tahun 2010, makam tersebut menjadi bagian dari kelompok kelima Situs Sejarah dan Budaya Utama yang Dilindungi di Tingkat Nasional di Tiongkok.[2]
Untuk meningkatkan perlindungan makam tersebut, pemerintah daerah di Anyang membentuk komite khusus untuk mengawasi dan mengelola makam tersebut. Pemerintah mengatur pembangunan aula pameran sementara dan koridor melingkar pendukung di lokasi tersebut sebelum museum resmi dibangun.[7]
Pada bulan Desember 2011, pemerintah mengumumkan pembangunan museum di lokasi makam yang diberi nama 'Museum Mausoleum Cao Cao' (曹操高陵博物馆).[8] Pada 12 November 2012, sebuah museum swasta dari Zhengzhou mendonasikan sebuah prasasti dari Dinasti Tang yang menyebutkan makam tersebut kepada Museum Mausoleum Cao Cao.[9] Museum ini dibuka untuk pengunjung pada April 2023.[10]
Banyak pengunjung terutama dari kalangan muda yang melakukan ziarah ke makam Cao Cao melakukan hal menyeleneh seperti mempersembahkan obat sakit kepala seperti ibuprofen di makam tersebut (selama kehidupannya, Cao Cao diketahui sering mengalami migrain).[11] Seorang pengunjung bahkan meninggalkan beberapa merek supaya arwah Cao Cao dapat memilih.[11] Para sejarawan yang melihat hal yang menyeleneh dan lucu tersebut menyatakan bahwa hal yang dilakukan pengunjung muda tersebut sebagai bentuk apresiasi sejarah.[11] Tren seperti ini tidak hanya terjadi kepada Cao Cao, namun juga kepada beberapa makam tokoh seperti Zhuge Liang yang diberikan tiket kereta cepat ke Xi'an supaya arwahnya dapat dengan cepat ke Chang'an untuk merealisasikan impian Liu Bei, dan Zhou Yu yang diberikan model miniatur kapal induk oleh seorang pengunjung untuk menceritakan perkembangan armada laut Tiongkok setelah Zhou Yu meninggal.[11]