Mangkubumi Jayanagara merupakan tokoh Mangkubumi pertama pada masa kepemimpinan Sultan Abdul Kadir. Ia mulai memerintah pada tahun 1596, Tepatnya setelah Raja Banten ke-3 tewas saat menyerang Palembang, yakni Maulana Muhammad. Dan berhenti memerintah pada tahun 1602 karena ia menderita sakit lalu wafat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Mangkubumi Jayanagara | |
|---|---|
| Mangkubumi Jayanagara | |
Cornelis de Houtman menghadap kepada Mangkubumi Jayanagara setelah ditangkap pada tahun 1596 | |
| Mangkubumi | |
| Berkuasa | 1596 - 1602 |
| Pendahulu | – |
| Penerus | Yudha Nagara[1][2] |
| Kematian | 1602[1][3][2][4] |
| Agama | Islam |
Mangkubumi Jayanagara merupakan tokoh Mangkubumi pertama pada masa kepemimpinan Sultan Abdul Kadir. Ia mulai memerintah pada tahun 1596, Tepatnya setelah Raja Banten ke-3 tewas saat menyerang Palembang, yakni Maulana Muhammad. Dan berhenti memerintah pada tahun 1602 karena ia menderita sakit lalu wafat.[1][3][4]
Sekitar tahun 1596, Maulana Muhammad, Sultan Banten yang ke-3 yang saat itu berumur 25 tahun tergoda oleh hasutan Pangeran Mas yang ingin menjadi Raja di Palembang,[5][6] terlebih lagi jika Banten saat itu berhasil menguasai Palembang, Banten akan mendapatkan perekonomian yang sangat menguntungkan kepada Banten karena perdagangan di Palembang yang sangat ramai,[5][7][8][9] adapula kabar bahwa warga Palembang pada saat itu belum memeluk IsIam atau disebut kafir oleh penduduk Banten. Mendengar kabar bahwa Palembang masih belum memeluk Islam, Maulana Muhammad bertekad untuk menyerang Palembang.[10] Perintah itu sempat ditolak oleh pembesar Banten,[7] tetapi Maulana Muhammad yang saat itu masih muda dan memiliki tekad yang tinggi, nasihat itu dihiraukan olehnya.
Persiapan untuk menyerang Palembang pun disiapkan dengan matang oleh Maulana Muhammad, yaitu dengan mempersiapkan 200 kapal perang dibawah pimpinannya,[5] sedangkan dari darat Banten meminta Lampung yang sudah setia kepada Banten agar menyerang dari darat.[6][9] Invasi pun diluncurkan, kapal perang Banten dapat memasuki kota Palembang dengan mudah, bahkan pasukan Palembang dapat dipukul mundur hingga sampai ke keraton, tetapi saat bertempur di dekat keraton, penembak Portugis berasal dari keraton menembak tepat di dada Sultan Maulana Muhammad,[7][11] yang mengakibatkan kematian ditempat saat bertempur. Mangkubumi Jayanagara yang berada satu perahu dengan Maulana Muhamad, Akhirnya menyuruh pasukannya untuk berhenti bertempur dan kembali ke Banten.[6][7][12]
Karena kematian Maulana Muhammad saat menyerang Palembang, Kini Banten mengalami kekosongan tahta di negri nya. Maulana Muhammad mempunyai anak yang bernama Sultan Abdul Kadir yang masih berumur 5 bulan.[4] Karena usianya yang tidak memungkinkan memimpin Banten, Akhirnya diangkatlah Mangkubumi Jayanagara menjadi Mangkubumi Banten pertama pada masa kepemimpinan Sultan Abdul Kadir.[3][4] Dan disinilah awal kepemimpinan Mangkubumi Jayanagara.

Pada tanggal 23 Juni 1596, datanglah orang-orang Belanda yang dipimpin oleh Pieter Keyzer dan Cornelis de Houtman,[13][14][15] kedatangan mereka adalah awal saat Belanda menginjakkan kaki di Indonesia, kedatangan mereka tidak lain adalah untuk berdagang,[16] Mangkubumi Jayanagara menyambut mereka dengan sangat baik dan hangat tetapi mereka malah bertindak kasar dan tidak sopan kepada penduduk dan Mangkubumi Banten tersebut.[14][15] Walaupun begitu Mangkubumi Jayanagara masih mengajak orang Belanda itu untuk bekerjasama agar dapat membantu Banten menyerbu Palembang untuk yang ke-2 kalinya,[13][15] namun permintaan Mangkubumi itu ditolak oleh Cornelis de Houtman dengan alasan karena ia hanya ingin berdagang.[14][15] Setelah penolakan itu pasukan Banten tetap pergi ke perbatasan Palembang, tetapi pasukan itu dikembalikan lagi karena invasi tidak dilanjutkan.[13][15]

Namun setelah kembalinya pasukan Banten itu, Cornelis de Houtman masih berada di Banten yang seharusnya mereka sudah pulang, alasannya karena mereka menunggu panen lada yang nantinya akan dibeli murah oleh mereka,[15] hal ini membuat Mangkubumi Jayanagaramarh,[14] terlebih lagi saat itu pada malam hari mereka mencuri 2 kapal Banten yang penuh muatan lada. Karena mereka ketahuan melakukan pencurian, akhirnya Cornelis de Houtman menembaki pelabuhan Banten sambil melarikan diri.

tetapi pasukan Banten mengejar mereka dan berhasil menangkap Cornelis de Houtman bersama awak kapal lainnya.[15] Akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1596, Cornelis de Houtman dibebaskan dengan tebusan 45,000 gulden.[13][14][16]

Setelah pengusiran Cornelis de Houtman oleh Banten yang dibantu oleh pedagang Portugis, akhirnya pedagang Belanda berlayar kembali lagi ke Banten pada tanggal 1 Mei 1598 yang dipimpin oleh Jacob van Neck, van Waerwijk, dan van Heemskerck, yang tiba di Banten pada tanggal 28 November 1598.[13][14][15] Kali ini mereka bersifat sopan dan menghormati penduduk setempat, melihat perilaku mereka yang begitu sopan, akhirnya Mangkubumi Jayanagara dapat menerima mereka dengan sambutan yang hangat. Bahkan mereka diizinkan untuk bertemu dengan Sultan Banten yang masih kecil, sambil membawa piala berkaki emas sebagai tanda persahabatan dengan Sultan Abdul Kadir yang masih kecil.[13][14][15][17]
Setelah berkunjung ke Banten, Jacob van Neck berhasil membawa 3 buah kapal yang penuh muatan lada untuk dibawa ke Belanda. Kunjungan Belanda ke Banten untuk kali ini bisa disebut berhasil,[13][15] karena keberhasilan itu akhirnya banyak pedagang Belanda yang banyak mengunjungi pelabuhan Banten, pelabuhan Banten pun semakin ramai oleh orang-orang Belanda.[14][18]
Pada suatu hari Gubernur Jenderal Portugis yang berada di Melaka mengirimkan uang 10,000 rial kepada Mangkubumi Jayanagara untuk menghentikan melakukan perdagangan dengan Belanda, apabila Banten tidak mau Portugis terpaksa harus melakukan penghancuran skala penuh terhadap kapal dagang Belanda yang berada di Banten dan Maluku,[13][15] Karena tidak mau rugi akhirnya Mangkubumi Jayanagara menerima uang itu dan menyetujui untuk memutuskan hubungan dagang dengan Belanda.[14]
Namun, disisi lain Mangkubumi Jayanagara lebih berpihak kepada Belanda, akhirnya Mangkubumi Jayanagara memberi tahu kepada seluruh pedagang Belanda bahwa akan datang armada Portugis yang akan menghabisi mereka,[13][14][15] mendengar kabar tersebut pedagang Belanda yang berada di wilayah perairan Banten segera pergi dan pulang ke Belanda.
Sesuai yang dikatakan bahwa Portugis akan membinasakan seluruh kapal Belanda yang ada di Banten, akhirnya armada Portugis yang dipimpin oleh Laurenco de Brito tiba di Banten pada tahun 1598.[13][15] Namun setelah mereka tiba di Banten mereka melihat bahwa Pelabuhan Banten sudah sepi, padahal seharusnya Pelabuhan Banten penuh dengan kapal Belanda. Melihat sepinya Pelabuhan Banten itu membuat Laurenco de Brito sangat marah,[14] dia menuntut untuk mengembalikan uang yang diterima oleh Mangkubumi Jayanagara karena ia telah membela pedagang Belanda itu, tetapi Mangkubumi Jayanagara tidak mau, karena pengusiran kapal Belanda yang berada di pelabuhan Banten bukanlah hak Portugis, melainkan seharusnya hak Banten.[13][14][15] Armada Portugis pun murka, pelabuhan Banten diserang dan dijarah, Bahkan pedagang dari Cina pun dirampas dagangannya. Tentara Banten kemudian menyerang balik hingga tiga kapal Portugis dapat direbut dan awak kapalnya melarikan diri meninggalkan kapal dan barang jarahannya.[13][14][15]
Mangkubumi Jayanagara wafat pada tahun 1602.[19] Dampak sepeninggalnya Mangkubumi Jayanagara Sangat berpengaruh kepada negeri Banten, Kestabilan ekonomi dan perdagangan di Banten mulai menurun, Dan pemberontakan terjadi dimana-mana. Jabatan ia pun digantikan oleh adiknya yang bernama Yudhanagara, Namun ia di pecat karena perilakunya yang kurang baik.[1][2][20]