Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan atau pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia



Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan atau pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.
Pengukuran dan penilaian risiko serta pengembangan strategi untuk mengelolanya dikenal sebagai manajemen risiko. Risiko adalah kemungkinan terjadi hasil yang tidak diinginkan, sedangkan kejadian risiko didefinisikan sebagai peristiwa yang memiliki peluang untuk menghasilkan hasil yang tidak diinginkan.[1]
Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).
Dalam perkembangannya Risiko-risiko yang dibahas dalam manajemen risiko dapat diklasifikasi menjadi
Hal ini menimbulkan ide untuk menerapkan pelaksanaan manajemen risiko terintegrasi korporasi.
Manajemen risiko merupakan suatu proses sistematis yang bertujuan untuk mengantisipasi potensi kerugian atau ancaman yang dapat memengaruhi individu, organisasi, maupun perusahaan. Proses ini dimulai dari identifikasi risiko, yaitu tahap mengenali berbagai kemungkinan risiko yang mungkin muncul, baik dari faktor internal maupun eksternal. Identifikasi ini penting karena menjadi dasar dalam menentukan langkah-langkah pengelolaan selanjutnya.
Tahap berikutnya adalah penilaian risiko (risk assessment), di mana risiko yang telah diidentifikasi dianalisis lebih lanjut untuk menilai seberapa besar kemungkinan terjadinya dan seberapa besar dampaknya terhadap tujuan yang ingin dicapai. Melalui penilaian ini, risiko dapat diprioritaskan sesuai tingkat urgensinya.
Setelah itu dilakukan mitigasi risiko, yaitu serangkaian upaya untuk mengurangi atau meminimalisir dampak dari risiko yang telah diidentifikasi. Mitigasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti menghindari risiko, mengurangi kemungkinan terjadinya, memindahkan risiko kepada pihak lain (misalnya dengan asuransi), atau menerima risiko dengan perencanaan yang matang.
Proses manajemen risiko tidak berhenti di situ, karena diperlukan pula pengawasan (monitoring) untuk memastikan strategi mitigasi berjalan sesuai rencana dan mampu mengendalikan risiko secara efektif. Risiko dapat berubah seiring perkembangan lingkungan, sehingga strategi yang diterapkan juga perlu diperbarui.
Tahap terakhir adalah evaluasi, yaitu menilai kembali keseluruhan proses manajemen risiko guna mengetahui sejauh mana langkah-langkah yang dilakukan berhasil dan apa yang perlu diperbaiki di masa depan. Evaluasi ini juga membantu perusahaan atau organisasi dalam menyusun strategi manajemen risiko yang lebih baik dan adaptif terhadap kondisi baru.
Dengan menjalankan semua tahapan tersebut secara berkesinambungan, manajemen risiko dapat menjadi alat yang efektif untuk menjaga keberlangsungan aktivitas, mengurangi potensi kerugian, dan mendukung tercapainya tujuan organisasi.
Rekaman tertua terkait pengelolaan risiko dapat ditemukan pada Piagam Hammurabi yang dibuat pada tahun 2100 sebelum Masehi.[2] Piagam tersebut mencantumkan peraturan di mana pemilik kapal dapat meminjam uang untuk membeli kargo. Namun bila dalam perjalanan kapalnya tenggelam atau hilang, ia tidak perlu mengembalikan uang pinjaman tersebut. Masa ini disebut sebagai zaman pertama manajemen risiko, di mana perusahaan hanya melihat risiko non-kewirausahaan. Salah satu contohnya adalah risiko keamanan.
Tahun 1970-an dan 1980-an disebut sebagai zaman kedua manajemen risiko di mana perusahaan-perusahaan asuransi mulai berusaha mendorong pengusaha untuk benar-benar menjaga barang yang diasuransikan.[2] Pada masa ini juga lahir konsep penjaminan mutu yang menjamin setiap produk memenuhi spesifikasi standarnya. Konsep ini dipopulerkan oleh British Standards Institution yang meluncurkan standar kualitas BS 5750 pada tahun 1979.
Pada tahun 1993, James Lam diangkat menjadi Chief Risk Office, yang merupakan jabatan CRO pertama di dunia.[2]
Zaman ketiga manajemen risiko dimulai tahun 1995 dengan diterbitkannya AS/NZS 4360:1995 oleh Standards Australia of the World's Risk management Standard.[2]
Risiko berhubungan dengan ketidakpastian. Ketidakpastian ini terjadi karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.
Sesuatu yang tidak pasti dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Menurut Wideman, ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang, sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan dikenal dengan istilah risiko.
Secara umum risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi seseorang atau perusahaan di mana terdapat kemungkinan yang merugikan. Bagaimana jika kemungkinan yang dihadapi dapat memberikan keuntungan yang sangat besar sedangkan kalaupun rugi hanya kecil sekali? Misalnya, membeli lotre. Jika beruntung, maka akan mendapat hadiah yang sangat besar tetapi jika tidak beruntung kerugian yang timbul dari uang yang digunakan membeli lotre relatif kecil. Apakah ini juga tergolong risiko? Jawabannya adalah hal ini juga tergolong risiko. Sekecil apapun kerugian yang timbul dari ketidakpastian merupakan risiko.
Risiko dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk:
Risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian.
Risiko spekulatif kadang-kadang dikenal pula dengan istilah risiko bisnis. Seseorang yang menginvestasikan dananya disuatu tempat menghadapi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama investasinya menguntungkan atau malah investasinya merugikan. Risiko yang dihadapi seperti ini adalah risiko spekulatif. Risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat menimbulkan kerugian.
Risiko murni adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu contoh adalah kebakaran, apabila perusahaan menderita kebakaran,maka perusahaan tersebut akan menderita kerugian. kemungkinan yang lain adalah tidak terjadi kebakaran. Dengan demikian, kebakaran hanya menimbulkan kerugian, bukan menimbulkan keuntungan, kecuali ada kesengajaan untuk membakar dengan maksud-maksud tertentu. Risiko murni adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu cara menghindarkan risiko murni adalah dengan asuransi. Dengan demikian besarnya kerugian dapat diminimalkan. itu sebabnya risiko murni kadang dikenal dengan istilah risiko yang dapat diasuransikan.
Perbedaan utama antara risiko spekulatif dengan risiko murni adalah kemungkinan untung ada atau tidak, untuk risiko spekulatif masih terdapat kemungkinan untung sedangkan untuk risiko murni tidak dapat kemungkinan untung.