Maitara adalah salah satu desa di kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Indonesia. Pulau Maitara merupakan bagian dari wilayah Administrasi Kota Tidore Kepulauan yang terletak di sebelah Barat Laut Pulau Tidore, di Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara. Pulau Maitara tergambar di lembaran mata uang Rp.1000,- Panorama alam yang disuguhkan oleh Pulau Maitara sangatlah menawan. Pulau Maitara memiliki sejarah pada masa kolonial. Pulau Maitara merupakan pulau pembatas antara dua kesultanan di Maluku Utara, yaitu Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Letak Koordinat 0o43'56.000 LU 127o22'16.000 BT.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Maitara | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Maluku Utara | ||||
| Kota | Tidore Kepulauan | ||||
| Kecamatan | Tidore Utara | ||||
| Kode pos | 97823 | ||||
| Kode Kemendagri | 82.72.05.2007 | ||||
| Luas | ... km² | ||||
| Jumlah penduduk | 2.172 jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Maitara adalah salah satu desa di kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Indonesia. Pulau Maitara merupakan bagian dari wilayah Administrasi Kota Tidore Kepulauan yang terletak di sebelah Barat Laut Pulau Tidore, di Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara.[1] Pulau Maitara tergambar di lembaran mata uang Rp.1000,- Panorama alam yang disuguhkan oleh Pulau Maitara sangatlah menawan. Pulau Maitara memiliki sejarah pada masa kolonial. Pulau Maitara merupakan pulau pembatas antara dua kesultanan di Maluku Utara, yaitu Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore.[2] Letak Koordinat 0o43'56.000 LU 127o22'16.000 BT.[3]
Pulau Maitara memiliki 4 desa, yaitu Maitara Selatan, Maitara tengah, Maitara Utara, dan Desa Maitara.
Penduduk Maitara sebagian besar berasal dari suku Tidore, Makian, Ambon, dan Bugis. Sarana komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Maitara adalah bahasa Tidore dan bahasa Indonesia dialek Tidore bila berkomunikasi dengan orang lain yang berasal daerah lain.[3]
Mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat Maitara pada umumnya adalah nelayan penangkap ikan, Ibu-Ibu berprofesi sebagai pengepul dan pengolah ikan menjadi ikan asap. Selain itu, mereka adalah petani tanaman tahunan yaitu cengkih dan pala. Selain cengkih dan pala, di Maitara juga terkenal dengan buah amo (sukun) yang menjadi komoditas andalannya. Profesi lain yang dilakukan oleh masyarakat Maitara adalah pengendara ojek dan menyediakan jasa angkutan laut yang melayani penumpang dari Maitara menuju Tidore dan Ternate dan ke pulau-pulau lain yang terdekat.[3]