Laurent Sagart adalah ahli bahasa berkebangsaan Prancis dan peneliti senior di unit Pusat Penelitian Linguistik Asia Timur, Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Laurent Sagart | |||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Lahir | 1951 (umur 74–75) Paris, Prancis | ||||||||||||||||
| Latar belakang akademis | |||||||||||||||||
| Alma mater | Universitas Paris 7 (Ph.D.) Universitas Provence (doctorat d'État) | ||||||||||||||||
| Karya akademis | |||||||||||||||||
| Lembaga | Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis | ||||||||||||||||
| Minat utama | Sinologi, Sino-Tibet, Austronesia | ||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
Laurent Sagart (bahasa Prancis: [sa'gaʁ]; lahir 1951) adalah ahli bahasa berkebangsaan Prancis dan peneliti senior di unit Pusat Penelitian Linguistik Asia Timur (CRLAO – UMR 8563), Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS).[1]
Lahir di Paris pada tahun 1951,[2] Sagart memperoleh gelar Ph.D. pada tahun 1977 di Universitas Paris 7[3] dan gelar doctorat d'État pada tahun 1990 di Universitas Aix-Marseille 1.[4] Awalnya Sagart khusus meneliti dialektologi Tionghoa, tetapi kemudian fokus meneliti bahasa Tionghoa Kuno, mencoba merekonstruksi bahasa itu melalui metode akar kata dan imbuhan.[5] Karya terbarunya, bekerja sama dengan William H. Baxter, adalah rekonstruksi bahasa Tionghoa Kuno yang dibangun di atas ilmu pengetahuan sebelumnya dan sebagai tambahan memperhitungkan paleografi, perbedaan fonologis dalam dialek Tionghoa konservatif (Min, Waxiang) serta stratum bahasa Tionghoa. kata-kata serapan ke bahasa Vietnam, Hmong-Mien, dan Tai-Kadai.[6] Sebuah rekonstruksi pengucapan Tionghoa Kuno untuk 4.000 karakter Hanzi telah diterbitkan secara daring.[7] Terbitan tahun 2014 membuat mereka telah dianugerahi penghargaan Bloomfield dari Masyarakat Linguistik Amerika.[8]
Sagart dikenal karena hipotesisnya tentang rumpun bahasa Sino-Austronesia. Dia menganggap Austronesia berhubungan dengan Sino-Tibet,[9] dan juga menganggap Tai–Kadai sebagai bahasa saudara dari Melayu-Polinesia dalam lingkup Austronesia.
Laurent Sagart juga berkontribusi pada ilmu Indo-Eropa. Dia ikut menulis proposal pendapat bahwa kemampuan mencerna susu memainkan peran penting dalam ekspansi Indo-Eropa (Garnier et al. 2017), dan mengambil bagian dalam kontroversi dalam akademisi Prancis mengenai ilmu Indo-Eropa (Pellard et al. 2018 ).
Bersama dengan banyak peneliti seperti Valentin Thouzeau, Robin J. Ryder, Simon J. Greenhill, Johann-Mattis List, Guillaume Jacques, dan Yunfan Lai, Sagart menyimpulkan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America bahwa bahasa Sino-Tibet berasal dari kalangan petani milet, yang terletak di Tiongkok Utara, sekitar 7.200 tahun yang lalu.[10][11]