Langenharjo adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia. Kata Langenharjo berasal dari dua kata, yaitu Pangangen yang artinya keinginan, dan Harjo yang berarti makmur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Langenharjo | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Kantor Desa Langenharjo | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Tengah | ||||
| Kabupaten | Sukoharjo | ||||
| Kecamatan | Grogol | ||||
| Kode pos | 57552 | ||||
| Kode Kemendagri | 33.11.09.2005 | ||||
| Luas | ... km² | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Langenharjo (bahasa Jawa: Langenharjacode: jv is deprecated , Aksara Jawa: ꦭꦤ꧀ꦒꦺꦤ꧀ꦲꦂꦗꦺꦴ) adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia. Kata Langenharjo berasal dari dua kata, yaitu Pangangen yang artinya keinginan, dan Harjo yang berarti makmur.
Pesanggrahan Langenharjo dibangun pada tahun 1870 masehi atas prakarsa dari Sri Susuhunan Pakubuwono Kaping IX sekaligus menjadi saksi bisu jejak peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta di Kabupaten Sukoharjo, sisi selatan Kota Surakarta.[1] Pembangunan Pesanggrahan ini selesai pada tanggal 15 Juli 1931 pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono Kaping X. Lokasi Pesanggrahan Langenharjo terletak di sisi Utara sungai Bengawan Solo dan berjarak sekitar 10 km dari Keraton Surakarta. Beberapa ruangan yang terdapat dalam Pesanggrahan Langenharjo diantaranya Pendopo Prabasana, Kuncungan, Ndalem Ageng, Pendopo Pangkuran, gudang senjata, ruang tamu, keputren, dan kesatrian.[1]

Pesanggrahan Langenharjo terdapat serpihan kayu yang berasal dari perahu yang digunakan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IX saat melaksanakan "Tapa Ngeli". Konon, seusai Tapa Ngeli, PB IX menemukan daerah yang kemudian hari dibangun pesanggrahan ini. Hal lain disebutkan bahwa perahu yang dinaiki PB IX adalah milik Jaka Tingkir yang bergelar bergelar Sultan Hadiwijaya (1549-1582 Masehi), penguasa Kesultanan Pajang yang merupakan cikal bakal dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Hiasan yang terdapat pada kepala perahu itu kemudian diketahui bernama Kyai Rojomolo.
Terdapat bagian dari Pesanggrahan Langenharjo yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber air hangat, tepatnya di depan pendopo Pungkuran. Ada satu sumber air panas yang dulunya mengalir sangat deras dan airnya hangat, banyak digunakan oleh masyarakat umum untuk pengobatan karena mengandung belerang. Sayangnya saat ini sumber airnya sudah tidak panas lagi karena sudah tertutup banyak lumpur bahkan tidak keluar air. Serta debit airnya juga berkurang sehingga perlu menggunakan pompa. Ada delapan kamar mandi yang disediakan tetapi kondisinya tidak terawat.[2]
Jembatan Bacem atau dikenal juga dengan Kreteg Bacem merupakan salah satu simbol kekuasaan PB X. Tugu monumen tersebut terletak di kolong jembatan. Tugu monumen tersebut sempat mau dihancurkan bersamaan dibangunnya jembatan baru. Namun, karena terpengaruh sesuatu hal mistis, kegiatan tersebut urung dilakukan.[3]
Pada masa penjajahan, Jembatan Bacem memiliki peran penting karena menjadi penghubung roda kendaraan militer yang melintas, baik militer dari penjajah (Agresi Belanda dan Pendudukan Jepang) ataupun prajurit pribumi. Jembatan yang baru pun diresmikan pada tahun 2000.[3]
Masjid ini merupakan tempat ibadah umat Islam yang dibangun sejak era Sri Susuhunan Pakubuwono IX. Terdapat beduk, mimbar khatib, tulisan simbol PB X dan bentuk bangunan sedari Sunan Pakubuwono X. Sampai saat ini, Beduk tersebut masih sering dibunyikan untuk memberikan tanda waktu azan masuk. Diketahui bangunan ini sudah ada sejak tahun 1879 Masehi dan sudah diakui sebagai Cagar Budaya.[4]
Kyai Khasan Mukmin merupakan seorang guru dari Sri Susuhunan Pakubuwono IX dan X. Sampai saat ini, makam tersebut masih sering didatangi oleh peziarah bahkan ada yang datang dari luar kota.
Desa Langenharjo terdiri dari beberapa dukuh, antara lain:[5]
Sri Sunarwan, S.E (saat ini)
Lembaga pendidikan formal di Desa Langenharjo, antara lain:[6]