Meski kini LGBTQ+ dan kwir sering dipersekusi, ditindas, dan dianggap sebagai propaganda "barat" di Indonesia, secara historis dan kultural LGBTQ+ pernah eksis diakui, bahkan banyak suku dan budaya di Indonesia yang mencerminkan queerness (kekwiran).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri tentang |
| LGBT |
|---|
| lesbian ∙ gay ∙ biseksual ∙ transgender |
|
|
Meski kini LGBTQ+ dan kwir sering dipersekusi, ditindas, dan dianggap sebagai propaganda "barat" di Indonesia, secara historis dan kultural LGBTQ+ pernah eksis diakui, bahkan banyak suku dan budaya di Indonesia yang mencerminkan queerness (kekwiran).
Menurut catatan karya Snouck Hurgronje berjudul De Atjehers (atau Atjeh Verslag), disebut bahwa banyak pria Aceh yang menggemari pemuda miskin dari pedalaman. Pemuda-pemuda tersebut diculik untuk dilatih rateb (dzikir) oleh seorang pemuda berpakaian perempuan yang pandai menari seudati. Untuk menghibur mereka, para pendamping dan kakak pendamping yang disebut seudati kerap membacakan puisi-puisi yang sering bersifat erotis dan homoseksual.
Kebudayaan Bugis di Sulawesi Selatan secara tradisional mengakui lima gender, bukan hanya biner laki-laki dan perempuan. Konsep ini berakar dari kitab La Galigo dan mencakup oroane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (laki-laki feminin), calalai (perempuan maskulin), dan bissu (gender androgini/suci).[1][2]
Suku Dayak di Kalimantan Barat seperti suku Iban, Ngaju, dan Tamambaloh, secara historis mengakui peran gender ketiga bagi para dukun ritual. Basir adalah dukun cispria yang berperan seperti perempuan sedangkan manang bali adalah dukun cispria yang berperan seperti perempuan, sering kali dapat sebagai bukan keduanya, diantaranya, ataupun dapat bertukar peran sebagai keduanya tergantung keadaan.[3]
Basir dan manang bali adalah dukun yang bertugas untuk melayani masyarakat, memanggil arwah, memimpin upacara panen dan pemakaman, mengobati dan menyembuhkan orang sakit, dan mengantarai dunia dewa, manusia, dan semangat.[4]
Dalam kepercayaan Kaharingan, dunia atas dipimpin oleh Dewa Mahatala sedangkan dunia bawah dipimpin oleh Dewi Jata dan ketika dua-duanya bersatu akan menciptakan entitas tunggal yang berada di antara laki-laki dan perempuan. Saat mereka bersatu, mereka akan menciptakan jembatan pelangi penuh permata dan batu mulia.
Lengger Lanang adalah seni tari tradisional khas Banyumas Jawa Tengah yang diperankan oleh laki-laki feminin dan menari layaknya perempuan. Tarian ini merupakan perpaduan maskulin-feminin, ritual kesuburan (Dewi Sri), serta hiburan rakyat yang sarat makna spiritual.[5][6]
Praktik homoseksual juga pernah tercatat jelas pada ritual tari Reog Ponorogo, ketika para penari dilarang untuk berhubungan seksual dengan perempuan dan sebagai gantinya mereka perlu berhubungan sesama jenis. Dalam Tari Gandrung di Madura pula, pernah tercatat praktik homoseksual ketika para lelaki berusia 10-12 perlu bertingkah feminin untuk menari Gandrung sembari dicium dan disawer para pria dan lelaki dewasa. Praktik-praktik ini juga tercatat sangat lazim ditemui di Banyuwangi hingga Bali.[7]
Selain dalam tarian-tarian tradisional, praktik homoseksual Tanah Jawa juga tercermin dalam karya sastra klasik. Dalam karya sastra Centhini (Suluk Tambanglaras), diceritakan tokoh gay bernama Cebolang diusir kedua orangtuanya. Ia pun pergi dan mencari nafkah dengan menjadi pempimpin rombongan pentas jalanan. Rombongan pentas jalanan itu bahkan sampai diundang oleh Adipati Kerajaan Daha untuk menampilkan pertunjukan tersebut dan tidur di istana.[8]
Dalam epos klasik Mahabarata yang diadopsi Kerajaan Kadiri, diceritakan pula Srikandi yang terlahir sebagai dewi (perempuan). Namun ia mengalami disforia gender dan selalu menganggap dirinya sebagai laki-laki dan ia nekat menikahi seorang perempuan. Suatu hari istrinya mengetahuinya bahwa ia adalah perempuan dan hal itu menyebabkannya nyaris bunuh diri. Akhirnya seorang pendeta mengubah gendernya menjadi lelaki dan ia rujuk kembali dengan istrinya.[9]
Dalam Kakawin Hariwangsa yang ditulis oleh Empu Panuluh sekitar zaman pemerintahan Prabu Jayabaya dari Kerajaan Kadiri, diceritakan terdapat kisah yang menggambarkan interaksi seksual antarperempuan, yakni Dewi Rukmini yang mencari penghiburan pada Kesari—sahabat perempuan dekatnya sejak masa kanak-kanak.[10]
Tradisi suku Kaili yang ada di Lembah Palu mempercayai adanya Bayasa sebagai penghubung manusia dan alamat semesta. Bayasa adalah dukun pria yang berperan sebagai perempuan dan bertugas untuk memimpin upacara adat dan tokoh spiritual kerajaan. Ada pula istilah lenda yang bermakna transpuan atau waria.[11]
Pada penelitian Hendrikus Chabot yang ia lakukan pada tahun 1935-1945, ia menemui seorang perempuan bersarung maskulin yang memosisikan dirinya sebagai laki-laki. Dikisahkan perempuan itu terbuka menjadi translaki dan keluarganya pun menerima keputusannya.[12]
Dalam kebudayaan masyarakat Marind-Anim di Papua, terdapat ritual inisiasi pendewasaan yang perlu dilakukan anak lelaki sebelum mereka menganjak dewasa. Anak laki-laki itu perlu diasingkan dari keluarganya, diteriaki dan dikejar oleh para pria dewasa, kemudian dilantik menjadi wokraved yang mewajibkan anak lelaki itu mengecat seluruh tubuhnya menjadi hitam, memosisikan dirinya sebagai perempuan, dan perlu melakukan hubungan homoseksual dengan mentor ritual ini.[13]
Anak laki-laki yang menjadi wokraved perlu tinggal di rumah pengasingan yang disebut gotad, anak laki-laki tersebut diajari mengenai pentingnya alat reproduksi, seks, cara berperang, cara berburu, mengetahui batas tanah dan kepimilikan, hukum adat, kepercayaan, struktur tradisional dan cara menghargai leluhur.
Dalam hikayat-hikayat Melayu, raja seringkali digambarkan sebagai seseorang yang suka berlela, menunjuk-nunjuk, dan flamboyan. Tak jarang, raja-raja Melayu dahulu juga menyimpan lelaki muda yang disebut sebagai sida-sida.
Sida-sida adalah perempuan atau lelaki muda yang dikebiri, dan ditugas untuk melayani nafsu seksual serta mendampingi ratu, raja, serta keluarganya. Sida-sida lelaki perlu berdandan dan bertingkah layaknya perempuan, dan sida-sida perempuan perlu bertingkah jantan seperti lelaki. Selain itu, sida-sida dipercayai bertugas menjaga 'batas' fisik dan spiritual istana antara manusia dan dewa.[14][15]
Apabila sida-sida ini telah beranjak dewasa atau tua, sida-sida dapat berganti peran menjadi mak nyah atau mak andam yang tugasnya mendadani pengantin serta menengahi mempelai pria dan mempelai wanita.
Silewe Nazarata adalah salah satu dewa dari trias dewa primer kepercayaan masyarakat Nias, bersama dengan dewa alam atas Lowalangi, dan dewa alam bawah Lature Dano. Silewe Nazarata digambarkan sebagai hermafrodit atau bukan lelaki maupun perempuan.[16]
Masyarakat Toraja Aluk Todolo meyakini peran to burake tambolang yang merupakan seorang laki-laki yang juga merangkap peran sebagai perempuan. To burake tambolang bukanlah transgender ataupun transpuan, seorang to burake tambolang dituntut mampu memerani laki-laki dan perempuan secara bersamaan karena masyarakat Toraja Aluk Todolo meyakini adanya sifat dualitas di alam semesta.[17]