Kuala Cenaku adalah salah satu desa di Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia. Desa Kuala Cenaku dilalui dua sungai besar dan dalam, yaitu Sungai Indragiri dan Sungai Cenaku. Kedua sungai ini dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk mencari ikan, mengairi sawah sarana transportasi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kuala Cenaku | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Riau | ||||
| Kabupaten | Indragiri Hulu | ||||
| Kecamatan | Kuala Cenaku | ||||
| Kode pos | 29300 | ||||
| Kode Kemendagri | 14.02.10.2002 | ||||
| Luas | ... km2 | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km2 | ||||
| |||||
Kuala Cenaku adalah salah satu desa di Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia. Desa Kuala Cenaku dilalui dua sungai besar dan dalam, yaitu Sungai Indragiri dan Sungai Cenaku. Kedua sungai ini dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk mencari ikan, mengairi sawah sarana transportasi.
Kepala Desa Kuala Cenaku saat ini adalah Musmulyadi. Dia merakyat, karena nyaris seluruh hidupnya tinggal bersama masyarakat Kuala Cenaku. Dia dijuluki Pak Mok, yaitu bapak yang gemuk, karena memang bobot tubuhnya melebih rata-rata orang Kuala Cenaku.
Sejarah Kuala Cenaku terkait dengan gagalnya Belanda mendirikan kota di Desa Tambak yang sekarang menjadi bagian dari Kuala Cenaku. Sisa-sisa upaya Belanda tersebut masih dapat dilihat sampai sekarang, yaitu bekas armada kapal Belanda yang terdampar di Sungai Indragiri yang akhirnya membentuk sebuah pulau. Pulau itu sekarang bernama Tambak Pulau.
Komunikasi masyarakat di Desa Kuala Cenaku mengandalkan interpersonal yang akrab, dengan tokoh masyarakat dan aparatur seperti Bintara Pembinaan Desa (Babinsa) yang senantiasa melakukan Komsos. [1] Ketersediaan sarana informasi dan telekomunikasi masih belum memadai.
Di Kuala Cinaku terdapat sebuah sebuah pulau kecil bernama Pulau Tabak. Pulau unik ini menjadi destinasi wisata alam, selain lokasi memancing ikan.
Salah satu tradisi petani Kuala Cenaku adalah pepaghian. Mereka menanam padi secara bersama-sama pada sawah masing-masing peserta. Kegiatan ini biasanya dilakukan pagi hari untuk menghindari terik matahari, melibatkan banyak orang, dan diselingi dengan makan bersama di pinggir sawah.
Pemanfaatan kekuatan alam oleh petani Kuala Cenaku dalam mengusir burung ketika padi mulai masak cukup menarik. Orang-orangan sawah, bunyi-bunyian terbuat dari kaleng berisi kerikil kecil (kelentong) serta untaian plastik kresek dapat bergerak sendiri. Hal itu karena ditarik-tarik oleh tali yang diikatkan pada bambu yang ditancapkan di tepian sungai. Aliran sungai akan menggoyang-goyangkan bambu tersebut.
Pemuda Kuala Cenaku cukup aktif. Mereka menjadi anggota utama untuk ronda malam. Mereka sering membuat event budaya, misalnya turnamen olahraga, Silat Pangean hingga kegiatan sosial.
Salah satu masalah sarana transportasi di Kuala Cenaku adalah kerusakan jalan. Jalan desa berlubang, dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan. Untuk memperbaikinya dikerjakan oleh pemerintah desa bersama warga dengan sistem padat karya. Pengawasan dilakukan oleh Badan Perwakilan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPM), dan masyarakat. Hasilnya sebagian jalan sudah diaspal atau rabat beton, waktu tempuh lebih cepat separoh dari sebelumnya.
Ibu rumah tangga di Kuala Cenaku terbiasa menanam dapur hidup dalam pot atau pekarangan rumahnya. Pot yang digunakan kaleng bekas, ember bekas, galon bekas dan sebagainya. Jenis hortikultura yang sering diusahakan adalah cabe, kangkung, tomat, sawi, singkong, bayam, terong dan katu.
Teknologi informasi mempengaruhi tata cara budidaya dan pola tanam petani Kuala Cenaku. Cara bertani tradisional dengan menggunakan cangkul, pupuk kandang, menanam tanpa perbandingan jarak, mulai beralih ke pemakaian alat semprot otomatis, traktor mini, pompa irigasi, dan bahkan monitoring cuaca dari handphone. Sehingga anak muda Kula Cenaku banyak yang menjadi petani.