Pepaghian adalah kearifan lokal suku Melayu di Indragiri dalam melaksanakan proses pertanian secara bersama-sama.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Pepaghian adalah kearifan lokal suku Melayu di Indragiri dalam melaksanakan proses pertanian secara bersama-sama.
Pepaghian bukanlah gotong royong, sebab setiap peserta harus mendapatkan hasil kerja yang sama dengan peserta lainnya. Sedangkan pada gotong royong peserta tidak mengharapkan hasil secara pribadi, melainkan cendrung untuk kepentingan bersama.
Beberapa syarat peserta pepaghian adalah, petani peserta harus memiliki lahan sehamparan dengan peserta lainnya. Misalnya sawah, semua lahan anggota kelompok pepaghian itu harus saling terhubung atau berbatasan langsung. Dihindari peserta dengan lahan yang terdapat di belakang lahan orang yang bukan peserta pepaghian kelompok itu. Hal ini lebih untuk menjaga etika sosial.
Mungkin dengan berbagai kendala si A tidak bisa ikut pepaghian kelompok “Docet”. Si B sawahnya berada di belakang sawah si A. Maka dengan kesadaran sendiri si B tidak akan ikut pepaghian kelompok “Docet”, sampai si A menjadi peserta pepaghian kelompok “Docet”. Atau si B bergabung dengan kelompok lain yang sawahnya berhubungan langsung dengan peserta kelompok lain itu.
Syarat lain adalah tahapan pertumbuhan tanaman pada lahan atau pengerjaan lahan semua peserta harus sama. Sebab pepaghian untuk mengerjakan lahan dengan kondisi yang sama. Misalnya, semua lahan peserta hendak dicangkul, atau proses pelumpuran, atau menyiang padi, memupuk, menyabit (panen) dan sebagainya.
Meskipun tidak tertulis, tapi syarat berikutnya yang mutlak harus dipenuhi adalah peserta tidak boleh berhenti di tengah jalan dalam menyelesaikan semua lahan anggota pepaghian. Adalah sangat memalukan, bahkan disebut-sebut orang sekampung hingga 7 turunan, apabila ada peserta pepaghian menarik diri sebagai peserta sedangkan masih ada lahan peserta lainnya yang belum dikerjakan. Lebih-lebih berhentinya itu setelah lahannya selesai dikerjakan. Karena ada hal mustahak yang harus dilaksanakan di tempat lain, maka anggota pepaghian akan memahami apabila menarik diri, tetapi dilanjutkan oleh orang yang telah disiapkan. Sebaiknya kondisi ini disampaikan sedini mungkin kepada peserta lain.
Ketentuan lainnya adalah, seluruh peserta harus membawa sendiri peralatan pekerjaan sesuai jenis pengerjaan di lahan pertanian yang telah disepakati. Tentu saja peralatan itu adalah yang terbaik yang kita miliki, sebab pada saat istirahat tengah hari (Sholat Dzuhur dan makan siang) atau menjelang petang (Sholat Ashar dan minum teh) semua peralatan, misalnya cangkul (karena pepaghiannya mencangkul) ditegakkan di dalam sawah yang sedang dikerjakan. Istirahat dilakukan di atas tebing pinggir sawah itu. Maka semua orang akan melihat kualitas cangkul masing-masing. Biasanya akan ada candaan terhadap cangkul yang aneh.
Peserta juga harus membawa sendiri bokal, yaitu makan siang dan ghuti (kue-kue dan air teh). Bokal biasanya disiapkan oleh orang rumah (istri) atau anggota keluarga lainnya.
Inisiator, biasanya yang dituakan pada kelompok petani lahan sehamparan, menyampaikan kepada calon anggota akan melaksanakan pepaghian, misalnya menugal (menanam dengan cara melobangi lahan yang telah siap tanam dengan tongkat kayu) jagung. Sekaligus menyampaikan jadwal pelaksanaan serta calon anggota lainnya yang akan ikut.
Peserta pepaghian menyampaikan kepada orang rumah agar menyiapkan bokal, sekaligus memberi tahu bahwa pada hari H itu mereka pepaghian, sehingga dihindari untuk mengerjakan hal lain.
Pada hari H, sekitar pukul 07.00 pagi peserta berkumpul di dekat ladang pertama yang akan dikerjakan. Setelah semua hadir, pepaghian dimulai. Setiap pemilik ladang menyediakan bibit jagung. Peserta membagi diri atas penugal dan penanam (memasukkan bibit jagung ke dalam lobang tugal). Pasangan penugal dan penanam akan terus bergerak memasuki ladang-ladang berikutnya.
Sembari bekerja, lebih-lebih di kalangan Suku Talang Mamak, peserta pepaghian akan bersorak-sorai, bergurau, dan sebagainya keriangan, sehingga tidak terasa letak (penat/letih).[1]