Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Krisis eksistensial

Krisis eksistensial adalah bentuk konflik batin yang ditandai oleh kesan bahwa hidup kehilangan arti serta kebingungan mengenai jati diri seseorang. Gejala ini kerap datang bersama kecemasan dan stres, bahkan sedemikian hebatnya hingga mengganggu keseharian dan menyeret jiwa pada jurang depresi. Nada getir yang menolak makna itu mencerminkan jejak-jejak pemikiran dalam arus filsafat eksistensialisme. Unsur krisis eksistensial dapat ditinjau dari sisi emosi, kognitif, dan perilaku. Aspek emosional tampak dalam rasa sakit jiwa, keputusasaan, ketidakberdayaan, rasa bersalah, cemas, atau kesepian. Aspek kognitif berhubungan dengan kehampaan makna, hilangnya nilai pribadi atau iman spiritual, dan renungan tentang kematian. Sedangkan aspek perilaku dapat muncul dalam rupa kecanduan, perilaku anti-sosial, atau tindakan kompulsif.

Wikipedia article
Diperbarui 29 Oktober 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Krisis eksistensial
Perasaan kesepian dan ketidakberartian di hadapan alam kerap hadir dalam krisis eksistensial.

Krisis eksistensial adalah bentuk konflik batin yang ditandai oleh kesan bahwa hidup kehilangan arti serta kebingungan mengenai jati diri seseorang. Gejala ini kerap datang bersama kecemasan dan stres, bahkan sedemikian hebatnya hingga mengganggu keseharian dan menyeret jiwa pada jurang depresi. Nada getir yang menolak makna itu mencerminkan jejak-jejak pemikiran dalam arus filsafat eksistensialisme. Unsur krisis eksistensial dapat ditinjau dari sisi emosi, kognitif, dan perilaku. Aspek emosional tampak dalam rasa sakit jiwa, keputusasaan, ketidakberdayaan, rasa bersalah, cemas, atau kesepian. Aspek kognitif berhubungan dengan kehampaan makna, hilangnya nilai pribadi atau iman spiritual, dan renungan tentang kematian. Sedangkan aspek perilaku dapat muncul dalam rupa kecanduan, perilaku anti-sosial, atau tindakan kompulsif.

Krisis eksistensial dapat menyergap dalam berbagai tahap kehidupan: masa remaja, quarter-life crisis, mid-life crisis, hingga krisis usia senja. Pada usia muda, krisis biasanya berorientasi ke depan: kegelisahan tentang jalan mana yang mesti ditempuh dalam pendidikan, karier, identitas pribadi, dan relasi sosial. Namun pada usia paruh baya dan seterusnya, krisis lebih berorientasi ke belakang, sering dipicu oleh perasaan bahwa puncak kehidupan telah lewat. Di titik ini, jiwa banyak dibayangi penyesalan, rasa bersalah, serta kecemasan akan kematian. Jika krisis pada masa awal pernah terselesaikan dengan baik, biasanya lebih mudah menghadapi atau bahkan menghindari krisis di kemudian hari. Tidak setiap orang akan mengalami krisis eksistensial sepanjang hidupnya.

Problema kehampaan makna senantiasa menjadi pusat dari segala bentuk krisis ini. Ia bisa hadir sebagai persoalan makna kosmis—pertanyaan besar tentang makna kehidupan dan alasan keberadaan manusia. Atau dalam bentuk yang lebih personal dan sekuler: pencarian tujuan serta nilai yang memberi arti bagi hidup individu itu sendiri. Menemukan sumber makna sering kali dapat meredakan krisis, entah melalui altruisme, pengabdian pada jalan religius atau politik, atau usaha mengembangkan potensi diri. Jalan lain mencakup penerimaan terhadap sistem makna baru, belajar merangkul ketidakbermaknaan itu sendiri, menjalani terapi perilaku kognitif, atau melatih kemampuan mengambil perspektif sosial.

Akibat negatif dari krisis eksistensial tampak pada dua ranah. Secara pribadi, ia menghadirkan kecemasan dan meretakkan hubungan. Secara sosial, ia dapat berimbas pada tingginya angka perceraian serta menurunnya produktivitas. Beberapa instrumen, seperti Purpose in Life Test, digunakan untuk mengukur apakah seseorang sedang berada dalam krisis eksistensial. Di luar ranah utama psikologi dan psikoterapi, istilah "krisis eksistensial" juga dipakai untuk menyebut ancaman terhadap eksistensi suatu hal.

Definisi

Dalam ranah psikologi dan psikoterapi, istilah "krisis eksistensial" menunjuk pada sebuah bentuk konflik batin. Ia ditandai oleh kesan bahwa hidup ini kehilangan makna, disertai gelombang pengalaman yang getir: stres, kecemasan, keputusasaan, hingga depresi.[1][2][3][4][5][6][7] Sering kali dampaknya begitu mendalam hingga mengganggu kelancaran hidup sehari-hari.[5] Sifat batiniahnya membuat krisis eksistensial berbeda dari krisis lain yang terutama lahir karena faktor luar, semisal krisis sosial atau finansial. Namun demikian, keadaan luar tetap bisa memicu atau memperparahnya, meski inti pergelutan tetap berlangsung dalam diri.[3] Jalan yang paling kerap ditempuh untuk mengatasi krisis eksistensial ialah menghadapi pergulatan batin itu sendiri dan menyingkap sumber makna baru dalam kehidupan.[4][5][8]

Akar permasalahan yang menyalakan api konflik ini adalah perasaan bahwa hasrat untuk hidup penuh arti selalu terhalang oleh ketiadaan makna—diperparah oleh kebingungan tentang apa itu makna, dan pertanyaan diri yang tak kunjung selesai. Dalam arti ini, krisis eksistensial adalah krisis tentang makna itu sendiri. Pemahaman ini banyak diwarnai oleh arus filsafat eksistensialisme.[3] Salah satu inti eksistensialisme ialah bahwa manusia rindu menjalani hidup yang bermakna, tetapi justru mendapati dirinya terjerumus dalam dunia yang absurd, dingin, dan acuh tak acuh.[9][10][11][3] Istilah "krisis eksistensial" sendiri memang jarang muncul dalam literatur eksistensialis klasik, tetapi istilah-istilah sejiwa kerap dibicarakan, seperti ketakutan eksistensial, kehampaan eksistensial, keputusasaan, neurosis, penyakit eksistensial, kecemasan, dan keterasingan.[9][10][11][3][4][12][13][14]

Setiap penulis memusatkan definisinya pada sisi yang berbeda. Ada yang melihat krisis eksistensial terutama sebagai krisis identitas. Dari sudut ini, ia lahir dari kegamangan atas pertanyaan “Siapakah aku?”, dan tujuannya ialah mencapai kejelasan tentang diri serta kedudukannya di dunia.[2][3][5] Sebagai krisis identitas, ia mengandung pergulatan analisis diri yang intens, sering kali melalui pencarian cara-cara baru memandang diri.[2][3][5] Krisis ini adalah perjumpaan pribadi dengan pilar-pilar kondisi manusia: eksistensi, kematian, kebebasan, dan tanggung jawab.[3][5] Ada pula yang menekankan benturan dengan keterbatasan manusia, seperti kefanaan dan ketiadaan kendali.[4][5] Ada pula yang menyoroti sisi spiritual, dengan menunjukkan bahwa bahkan orang-orang yang tampak berhasil di permukaan bisa saja terhantam krisis hebat bila tak memiliki kedalaman rohani yang memadai.[4]

Istilah "krisis eksistensial" paling sering dipakai dalam konteks psikologi dan psikoterapi.[3][1][5] Namun, dalam makna harfiahnya, istilah ini juga digunakan untuk menyebut krisis eksistensi, yakni ancaman terhadap keberadaan sesuatu. Dalam arti ini, sebuah negara, perusahaan, atau lembaga sosial dapat disebut mengalami krisis eksistensial bila ketegangan politik, ancaman militer, beban utang, atau perubahan sosial mengancam keberlangsungannya.[15][16][17]

Komponen

Krisis eksistensial kerap dipahami sebagai fenomena yang rumit, sebuah anyaman batiniah yang terdiri dari beragam lapisan. Beberapa pendekatan membaginya menjadi tiga ranah utama: emosi, kognisi, dan perilaku.[3] Dimensi emosional merujuk pada apa yang dirasakan seseorang ketika dilanda krisis ini: nyeri batin, keputusasaan, ketidakberdayaan, rasa bersalah, kecemasan, dan kesepian.[3][5][6][18] Pada sisi kognitif, mereka yang terdampak sering dihadapkan pada kehilangan makna dan tujuan, sekaligus kesadaran akan kefanaan diri.[5][4][3] Dari segi perilaku, krisis eksistensial bisa mewujud dalam kecanduan, perilaku antisosial, ritual-ritual kompulsif, rusaknya relasi, dan merosotnya kesehatan.[3][4] Walau ketiga dimensi ini hampir selalu hadir, wujudnya bisa sangat berbeda antara satu orang dengan yang lain. Kendati demikian, ketiganya kerap dipandang sebagai fondasi untuk menyusun definisi krisis eksistensial yang lebih utuh.[3]

Emosional

Pada lapisan emosi, krisis eksistensial berjalin erat dengan pengalaman getir: rasa takut, cemas, panik, hingga putus asa.[5][6][18] Ia bisa dipandang sebagai luka batin, tempat harapan dan kepercayaan terkikis perlahan.[3] Luka ini sering menjelma sebagai rasa putus asa dan ketidakberdayaan.[5][13] Keputusasaan itu lahir ketika manusia tak lagi menemukan makna hidup, yang beriringan dengan lenyapnya motivasi dan sirnanya kegembiraan dari dalam diri.[4] Sedangkan kesan tak berdaya muncul karena tak ditemukannya jalan praktis untuk menanggapi krisis maupun keputusasaan yang menyertainya.[3][5] Ketidakberdayaan ini terutama menyangkut kerentanan emosional:[3] individu bukan hanya dibanjiri emosi negatif, tetapi juga merasa tak sanggup mengendalikannya. Rasa rapuh dan hilang kendali ini bisa menumbuhkan kesan-kesan buruk baru, bahkan menjelma menjadi kepanikan atau duka mendalam.[3][19]

Namun di sisi lain, sering kali muncul pula kesadaran samar bahwa penderitaan ini, dalam kadar tertentu, adalah tanggung jawab diri sendiri.[3][6] Hal ini tampak, misalnya, ketika hilangnya makna dikaitkan dengan pilihan-pilihan keliru di masa lalu yang membangkitkan rasa bersalah. Tetapi, ia juga bisa mengambil bentuk yang lebih abstrak: sebuah rasa bersalah eksistensial, kabur dan melayang, tak terikat pada kesalahan tertentu.[20][6] Pada krisis di usia senja, rasa bersalah ini sering berdampingan dengan kecemasan akan kematian.[3] Namun sebagaimana rasa bersalah, kecemasan itu bisa mengambil rupa yang lebih abstrak: kegelisahan tak bernama yang berakar pada rasa kurang dan hampa.[3][6]

Sebagai krisis identitas, krisis eksistensial kerap mengguncang rasa keutuhan diri.[3][2][5] Ini sering dipicu oleh kesan bahwa hidup tak lagi bermakna, beriringan dengan surutnya motivasi. Rasa keutuhan diri erat terkait dengan relasi intim manusia dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia.[3] Kehampaan makna biasanya merusak jalinan relasi ini. Hilangnya tujuan yang jelas mengancam integritas pribadi dan dapat melahirkan rasa tidak aman, keterasingan, hingga penelantaran diri.[3][5] Luka pada relasi dengan orang lain sering terasakan sebagai bentuk kesepian.[3][21]

Bergantung pada pribadi dan krisis yang dialaminya, beberapa aspek emosional ini bisa lebih menonjol atau lebih samar.[3] Meskipun semuanya menyakitkan, dalam pengalaman tersebut sering tersembunyi potensi positif yang dapat mendorong perkembangan diri.[4][22] Melalui pengalaman kesepian, misalnya, seseorang bisa meraih pemahaman lebih dalam tentang hakikat dan arti penting hubungan manusia.[3]

Lihat pula

  • Portal Psikologi
  • Portal Filsafat
  • Absurdime — pandangan tentang keterasingan manusia di tengah semesta yang tak masuk akal
  • Mengapa ada sesuatu, dan bukan ketiadaan? — pertanyaan purba tentang asal mula wujud
  • Antinatalisme — gagasan filosofis yang menimbang kelahiran sebagai beban penderitaan
  • "Malam Gelap Jiwa" — metafora mistis tentang pencarian rohani yang penuh kesunyian dan cobaan
  • Depersonalisasi — pengalaman asing terhadap diri sendiri, seolah jiwa terpisah dari tubuh
  • Duḥkha — penderitaan universal dalam ajaran Buddhis, yang menjadi ciri keberadaan
  • Kematian ego — lenyapnya identitas pribadi dalam pengalaman mistis atau transendental
  • Situasi batas — momen eksistensial ketika manusia berhadapan dengan hakikat terdalam dirinya
  • Kajian akademik tentang mistisisme — telaah ilmiah atas pengalaman spiritual yang sukar dijelaskan
  • Disintegrasi positif — teori perkembangan jiwa melalui krisis dan perpecahan batin
  • The Sickness unto Death — karya Søren Kierkegaard tentang keputusasaan dan iman
  • Krisis spiritual — pergulatan jiwa dalam menghadapi kehampaan makna dan panggilan transendensi

Referensi

  1. 1 2 "APA Dictionary of Psychology: existential crisis". American Psychological Association. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-08-20. [...] in existentialism, a crucial stage or turning point at which an individual is faced with finding meaning and purpose in life and taking responsibility for his or her choices.
  2. 1 2 3 4 Andrews, Mary (April 2016). "The existential crisis". Behavioral Development Bulletin. 21 (1): 104–109. doi:10.1037/bdb0000014.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Butenaitė, Joana; Sondaitė, Jolanta; Mockus, Antanas (2016). "Components of existential crises: a theoretical analysis". International Journal of Psychology: A Biopsychosocial Approach. 18: 9–27. doi:10.7220/2345-024X.18.1.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Yang, William; Staps, Ton; Hijmans, Ellen (2010). "Existential crisis and the awareness of dying: the role of meaning and spirituality". Omega. 61 (1): 53–69. doi:10.2190/OM.61.1.c. PMID 20533648.
  6. 1 2 3 4 5 6 Bugental, J. F. (1965). "The existential crisis in intensive psychotherapy". Psychotherapy: Theory, Research & Practice. 2 (1): 16–20. doi:10.1037/h0088602.
  7. ↑ James, Richard (2007-07-27). Crisis Intervention Strategies. Cengage Learning. hlm. 13. ISBN 978-0-495-10026-3.
  8. ↑
  9. 1 2 Crowell, Steven (2020). "Existentialism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University.
  10. 1 2 Abbagnano, Nicola. "Existentialism". www.britannica.com.
  11. 1 2 Burnham, Douglas. "Existentialism". Internet Encyclopedia of Philosophy.
  12. ↑ "APA Dictionary of Psychology: existential dread". dictionary.apa.org.
  13. 1 2 "APA Dictionary of Psychology: existential neurosis". dictionary.apa.org.
  14. ↑ "APA Dictionary of Psychology: existential vacuum". dictionary.apa.org.
  15. ↑ Menéndez, Agustín José (May 2013). "The Existential Crisis of the European Union". German Law Journal. 14 (5): 453–526. doi:10.1017/S2071832200001917.
  16. ↑ Carapico, S (2011). "No Exit: Yemen's Existential Crisis". Middle East Report Online.
  17. ↑ Caplan, L (2012). "An existential crisis for law schools". New York Times.
  18. 1 2
  19. ↑ Rehberger, Rainer (2014). "Viewing Camus's The Stranger from the perspective of W. R. D. Fairbairn's object relations". Fairbairn and the Object Relations Tradition. Routledge. hlm. 461–470.
  20. ↑ Hoffman, Louis (2018). "Existential Guilt". Encyclopedia of Psychology and Religion. Springer. hlm. 1–3.
  21. ↑
  22. ↑

Bacaan lanjutan

  • J. Watson, Caring Science as Sacred Science 2005. Chapter 4: "Existential Crisis in Science and Human Sciences".
  • T.M. Cousineau, A. Seibring, M.T. Barnard, P-673 Making meaning of infertility: Existential crisis or personal transformation? Fertility and Sterility, 2006.
  • Sanders, Marc, Existential Depression. How to recognize and cure life-related sadness in gifted people, 2013.

Pranala luar

  • Alan Watts on meaningless life, and its resolution


Basis data pengawasan otoritas: Nasional Sunting di Wikidata
  • Republik Ceko

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Komponen
  3. Emosional
  4. Lihat pula
  5. Referensi
  6. Bacaan lanjutan
  7. Pranala luar

Artikel Terkait

Absurdisme

ketidakselarasan antara keinginan manusia untuk menemukan arti dari kehidupan dengan ketidakmampuan manusia untuk menemukan arti-arti tersebut

Risiko eksistensial dari kecerdasan buatan

kekhawatiran bahwa kemajuan kecerdasan buatan (AI) suatu hari dapat mengakibatkan kepunahan manusia atau bencana global.

Nihilisme

filosofi negasi terhadap konsep, makna, atau kehidupan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026