Krisis diplomatik Amerika Selatan 2008 adalah kebuntuan diplomatik yang melibatkan negara-negara Amerika Selatan, yaitu Ekuador, Kolombia, dan Venezuela. Krisis ini dimulai dengan penyerbuan militer Kolombia ke wilayah Ekuador di seberang Sungai Putumayo pada 1 Maret 2008, yang mengakibatkan tewasnya lebih dari dua puluh militan, termasuk Raúl Reyes dan enam belas anggota Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) lainnya. Penyerbuan ini menyebabkan meningkatnya ketegangan antara Kolombia dan Ekuador serta pergerakan pasukan Venezuela dan Ekuador ke perbatasan mereka dengan Kolombia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Krisis diplomatik Amerika Selatan 2008 | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
Didukung oleh: |
Didukung oleh: | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
|
| ||||||

Krisis diplomatik Amerika Selatan 2008 adalah kebuntuan diplomatik yang melibatkan negara-negara Amerika Selatan, yaitu Ekuador, Kolombia, dan Venezuela. Krisis ini dimulai dengan penyerbuan militer Kolombia ke wilayah Ekuador di seberang Sungai Putumayo pada 1 Maret 2008, yang mengakibatkan tewasnya lebih dari dua puluh militan, termasuk Raúl Reyes (nama samaran Luis Edgar Devia Silva) dan enam belas anggota Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) lainnya. Penyerbuan ini menyebabkan meningkatnya ketegangan antara Kolombia dan Ekuador serta pergerakan pasukan Venezuela dan Ekuador ke perbatasan mereka dengan Kolombia.
Perselisihan militer dan diplomatik meningkat, duta besar dipanggil kembali dan penangkapan dilakukan di seluruh dunia setelah penyitaan komputer laptop oleh orang Kolombia dari kamp FARC yang ditemukan oleh militer Kolombia berisi sejumlah besar surat dan dokumen yang berkaitan dengan aktivitas FARC dan hubungannya dengan pemerintah Ekuador dan Venezuela.[1]
Krisis yang terjadi saat ini diakhiri pada pertemuan puncak Rio Group pada tanggal 7 Maret 2008, dengan rekonsiliasi publik dari ketiga negara yang terlibat.[2]