Konservatisme paternalistik adalah suatu aliran dalam pemikiran konservatif yang menekankan bahwa kehidupan sosial dan ekonomi harus melihat masyarakat sebagai suatu kesatuan yang organik, di mana anggota-anggota masyarakat memiliki kewajiban moral terhadap satu sama lain, terutama antara kelompok yang lebih berkuasa dan yang kurang beruntung.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri |
| Konservatisme |
|---|
Konservatisme paternalistik adalah suatu aliran dalam pemikiran konservatif yang menekankan bahwa kehidupan sosial dan ekonomi harus melihat masyarakat sebagai suatu kesatuan yang organik, di mana anggota-anggota masyarakat memiliki kewajiban moral terhadap satu sama lain, terutama antara kelompok yang lebih berkuasa dan yang kurang beruntung.[1][2]
Dalam pandangan ini, mereka yang berada dalam posisi keistimewaan—seperti pemimpin politik atau kelas sosial atas—dikaitkan dengan konsep noblesse oblige yang berarti bahwa kekuasaan dan hak istimewa membawa tanggung jawab untuk membantu kelompok yang kurang beruntung dalam masyarakat.[3]

Konservatisme paternalistik umumnya mencakup beberapa ciri utama:
Konservatisme paternalistik muncul sebagai respon terhadap Revolusi Industri abad ke-19 dan ketidaksetaraan yang ditimbulkannya. Di Inggris, tokoh seperti Benjamin Disraeli mempopulerkan gagasan ini melalui filosofi one-nation conservatism, yang melibatkan upaya untuk meredakan ketegangan kelas dengan kebijakan sosial pro-pekerja dan pendekatan yang lebih inklusif terhadap masalah sosial.[4]
Contoh lain dapat dilihat pada upaya Otto von Bismarck di Jerman, yang memperkenalkan program kesejahteraan negara modern—seperti asuransi sosial untuk pekerja—sebagai bagian dari pendekatan konservatif untuk meminimalkan daya tarik sosialisme di kalangan kelas pekerja, sekaligus menjaga stabilitas sosial.[5]
Konservatisme paternalistik sering dianggap sebagai pengembangan dari konservatisme tradisional yang menekankan pentingnya stabilitas sosial dan kewajiban moral, tetapi berbeda dari liberal konservatisme yang cenderung menekankan pasar bebas dan peran negara yang lebih terbatas dalam ekonomi. Sementara konservatif libertarian sering menekankan kebebasan individu, konservatif paternalistik lebih menyoroti peran negara dalam menjamin kesejahteraan umum dengan cara yang seimbang.[1]
Beberapa kritik menyatakan bahwa pendekatan paternalistik dapat berujung pada pembenaran intervensi negara yang terlalu luas terhadap kehidupan individu, serta berpotensi melemahkan otonomi personal. Kritik lainnya melihat aliran ini sebagai bentuk kompromi antara nilai konservatif tradisional dan tuntutan kesejahteraan sosial.[1]