Dalam ilmu kimia, molaritas salah satu ukuran konsentrasi larutan. Molaritas suatu larutan menyatakan jumlah mol suatu zat per liter larutan. Misalnya 1.0 liter larutan mengandung 0.5 mol senyawa X, maka larutan ini disebut larutan 0.5 molar. Umumnya konsentrasi larutan berair encer dinyatakan dalam satuan molar. Keuntungan menggunakan satuan molar adalah kemudahan perhitungan dalam stoikiometri, karena konsentrasi dinyatakan dalam jumlah mol. Kerugian dari penggunaan satuan ini adalah ketidaktepatan dalam pengukuran volum. Selain itu, volum suatu cairan berubah sesuai temperatur, sehingga molaritas larutan dapat berubah tanpa menambahkan atau mengurangi zat apapun. Selain itu, pada larutan yang tidak begitu encer, volume molar dari zat itu sendiri merupakan fungsi dari konsentrasi, sehingga hubungan molaritas-konsentrasi tidaklah linear.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Molaritas | |
|---|---|
| Simbol umum | c |
| Satuan SI | mol/m3 |
| Satuan lainnya | mol/L |
| Dimensi SI | |
| Turunan dari besaran lainnya | c = n/V |
Molaritas (juga disebut konsentrasi molar, konsentrasi jumlah, atau konsentrasi zat) adalah ukuran konsentrasi dari spesies kimia, khususnya zat terlarut dalam larutan, dalam hal jumlah zat per satuan volume larutan. Dalam kimia, satuan molaritas yang paling umum digunakan adalah jumlah mol per liter, yang memiliki lambang satuan mol/L atau mol/dm3 dalam satuan SI. Larutan dengan konsentrasi 1 mol/L dikatakan sebagai 1 molar, biasanya ditulis sebagai 1 M.
Molaritas atau konsentrasi molar paling sering dinyatakan dalam satuan mol zat terlarut per liter larutan.[1] Untuk penggunaan dalam aplikasi yang lebih luas, ia didefinisikan sebagai jumlah zat terlarut per satuan volume larutan, atau per satuan volume yang tersedia untuk spesies itu, diwakili oleh huruf kecil :[2]
Di sini, adalah jumlah zat terlarut dalam mol,[3] adalah jumlah partikel penyusun yang ada dalam volume (dalam liter) larutannya, dan adalah konstanta Avogadro, sejak 2019 didefinisikan sebagai tepat 6,02214076×1023 mol−1. Rasio adalah kerapatan bilangan .
Dalam termodinamika, penggunaan molaritas sering kali tidak sesuai karena volume sebagian besar larutan sedikit bergantung pada suhu akibat ekspansi termal. Masalah ini biasanya diselesaikan dengan memasukkan faktor koreksi suhu, atau dengan menggunakan ukuran konsentrasi yang tidak tergantung suhu seperti molalitas.[3]
Kuantitas resiprokal mewakili pengenceran (volume) yang dapat muncul dalam hukum pengenceran Ostwald.
Jika sebuah entitas molekul terdisosiasi dalam larutan, maka konsentrasinya mengacu pada rumus kimia asli dalam larutan, dan molaritasnya kadang-kadang disebut konsentrasi formal atau formalitas (FA) atau konsentrasi analitis (cA). Misalnya, jika larutan natrium karbonat (Na2CO3) memiliki konsentrasi formal c(Na2CO3) = 1 mol/L, molaritasnya adalah c(Na+) = 2 mol/L dan c(CO2−3) = 1 mol/L karena garam tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion ini.[4]
Dalam Sistem Satuan Internasional (SI), satuan koheren untuk molaritas adalah mol/m3. Namun, satuan ini tidak sesuai untuk sebagian besar keperluan laboratorium dan sebagian besar literatur kimia secara tradisional menggunakan mol/dm3, yang sama dengan mol/L. Satuan tradisional ini sering disebut molar dan dilambangkan dengan huruf M, misalnya:
Untuk menghindari kebingungan dengan awalan SI mega, yang memiliki singkatan yang sama, huruf kecil ᴍ atau huruf miring M juga digunakan dalam beberapa jurnal dan buku teks.[5]
Sub-kelipatan seperti milimolar terdiri dari satuan yang didahului oleh awalan SI:
| Nama | Singkatan | Konsentrasi | |
|---|---|---|---|
| (mol/L) | (mol/m3) | ||
| milimolar | mM | 10−3 | 100=1 |
| mikromolar | μM | 10−6 | 10−3 |
| nanomolar | nM | 10−9 | 10−6 |
| pikomolar | pM | 10−12 | 10−9 |
| femtomolar | fM | 10−15 | 10−12 |
| attomolar | aM | 10−18 | 10−15 |
| zeptomolar | zM | 10−21 | 10−18 |
| yoktomolar | yM | 10−24 (6 partikel per 10 L) |
10−21 |
| rontomolar | rM | 10−27 | 10−24 |
| quektomolar | qM | 10−30 | 10−27 |
Mengubah ke konsentrasi bilangan dengan
dengan adalah konstanta Avogadro.
Mengubah ke konsentrasi massa dengan
dengan adalah massa molar konstituen .
Mengubah ke fraksi mol dengan
dengan adalah massa molar rata-rata larutan, adalah kepadatan larutan.
Hubungan yang lebih sederhana dapat diperoleh dengan mempertimbangkan molaritas total, yaitu jumlah konsentrasi molar dari semua komponen campuran:
Mengubah ke fraksi massa dengan
Untuk campuran biner, mengubah ke molalitas dengan
dengan pelarut adalah zat 1, dan zat terlarut adalah zat 2.
Untuk larutan dengan lebih dari satu zat terlarut, konversinya adalah
Jumlah molaritas memberikan molaritas total, yaitu kepadatan campuran dibagi dengan massa molar campuran atau dengan nama lain kebalikan dari volume molar campuran. Dalam sebuah larutan ionik, kekuatan ionik sebanding dengan jumlah konsentrasi molar garam.
Jumlah produk antara jumlah ini sama dengan satu:
Konsentrasi molar tergantung pada variasi volume larutan terutama karena ekspansi termal. Pada interval suhu yang kecil, ketergantungannya adalah
dengan adalah konsentrasi molar pada suhu referensi, adalah koefisien ekspansi termal dari campuran.
Volume larutan tersebut adalah 104,3mL (volumenya dapat diamati secara langsung); kepadatannya diukur menjadi 1,07 (111,6g/104,3mL)
Oleh karena itu, molaritas NaCl dalam larutan tersebut adalah
Demikian pula, konsentrasi hidrogen padat (massa molar = 2,02 g/mol) adalah
Konsentrasi osmium tetroksida murni (massa molar = 254,23 g/mol) adalah
Konsentrasi molarnya adalah