Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam Kedua adalah sebuah acara yang diadakan oleh Organisasi Kerja sama Islam (OKI) dari 4–5 Maret 2003 di Doha, Qatar. Konferensi tersebut diadakan menanggapi peningkatan ketegangan di Timur Tengah, dengan tujuan mewakili suara bersatu dari dunia Islam melawan perang dengan Irak. Namun, konferensi tersebut ditandai oleh kontroversi dan nuansa panas, terutama antara Irak dan Kuwait. Disamping ketegangan tersebut, konfernesi tersebut menghasilkan komunike yang mengecam Israel dan menolak serangan militer melawan Irak.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam Kedua | |
|---|---|
| Tuan rumah | Qatar |
| Kota | Doha |
| Peserta | Negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) |
Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam Kedua adalah sebuah acara yang diadakan oleh Organisasi Kerja sama Islam (OKI) dari 4–5 Maret 2003 di Doha, Qatar. Konferensi tersebut diadakan menanggapi peningkatan ketegangan di Timur Tengah, dengan tujuan mewakili suara bersatu dari dunia Islam melawan perang dengan Irak. Namun, konferensi tersebut ditandai oleh kontroversi dan nuansa panas, terutama antara Irak dan Kuwait. Disamping ketegangan tersebut, konfernesi tersebut menghasilkan komunike yang mengecam Israel dan menolak serangan militer melawan Irak.
Konferensi tersebut adalah KTT darurat OKI, dimana para perwakilan dari 56 negara berkumpul untuk mendiskusikan cara untuk menghentikan Perang Irak yang dipimpin oleh AS.[1] Amir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa al-Thani, dipanggil untuk pertemuan tersebut, berharap untuk mengumpulkan suara bersatu dari dunia Muslim melawan perang dengan Irak.[2]
Pertemuan tersebut diadakan di sebuah hotel bintang lima di Doha, tepat berjarak dengan dengan Al Udeid, sebuah pangkalan militer AS. Wakil Ketua Dewan Komando Revolusioner Irak, Izzat Ibrahim al-Duri, memulai pidatonya dengan mengutip sebuah ayat dari al-Qur'an.[2]
Pernyataan akhir berfokus pada pengecaman Israel dan menolak tindakan militer melawan Irak. Konferensit ersebut juga menyerukan agar Irak menghormati resolusi PBB dan KTT Arab dan mengembalikan para tahanan Kuwait yang ditangkap pada 1990.[2]
Konferensi tersebut diwarnai perdebatan panas antara Irak dan Kuwait. Izzat Ibrahim al-Duri dalam pidatonya menuduh Kuwait adalah "agen imperialisme yang mendukung pasukan AS pada skala masif tahun demi tahun di perbatasan Irak".[2] Pernyataan tersebut diulang secara verbal dengan Wkail Perdana Menteri Kuwait, Sheikh Sabah Al-Ahmad. Al-Duri kemudian melecehkan Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, dengan berkata "terkutuklah kumismu!", sebuah peribahasa yang merendahkan martabat menteri tersebut.[3][4][5]