Komedo merupakan lesi non-radang berupa penyumbatan keratin dan sebum pada bukaan folikel rambut. Komedo biasa mengandung bakteri, khususnya Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, atau Malassezia furfur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. |
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
| Komedo | |
|---|---|
| Spesialisasi | Dermatologi |
Komedo merupakan lesi non-radang berupa penyumbatan keratin dan sebum pada bukaan folikel rambut (pori-pori kulit). Komedo biasa mengandung bakteri, khususnya Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, atau Malassezia furfur.[1]
Penyebab dan risiko yang ditimbulkan komedo sangat beragam. Faktor yang berkemungkinan seseorang berisiko mengalami penyumbatan pori-pori adalah genetik. Faktor lain yaitu adanya kondisi yang menyebabkan resistensi insulin (seperti diabetes melitus tipe dua) dan tingginya kadar dehidroepiandrosteron (DHEA) serum. DHEA merupakan prekursor hormon testosteron dan DHT. Pada sindrom ovarium polikistik (PCOS), dihidrotestosteron (DHT) merupakan salah satu bentuk hormon androgen poten yang diubah menjadi DHEA. Hal ini menjelaskan orang dengan sindrom ovarium polikistik dapat memiliki acne.[2] Faktor lain yang dapat berperan misalnya produk-produk berminyak (seperti pomade), pakaian, dan keringat. Faktor seperti pola makan (produk turunan susu) masih belum diketahui apakah dapat memengaruhi acne.[2][3]
Penyebab acne vulgaris yang menyebabkan munculnya komedo ini sampai sekarang masih belum diketahui. Patogenesis (mekanisme) penyakit acne vulgaris bersifat kompleks. Hingga kini, ada empat unsur yang mendasari patomekanisme terbentuknya acne, yaitu:
Patomekanisme acne dianggap diawali dengan adanya mikrokomedo yang diakibatkan oleh proliferasi berlebih lapisan epidermis pada bagian atas folikel rambut (infundibulum) bersamaan dengan meningkatnya adhesi (penempelan) keratinosit (sel kulit tanduk). Hingga kini, masih belum diketahui apa yang memprakarsai dan menstimulasi proliferasi berlebih dan peningkatan adhesi antarkeratinosit ini. Kedua hal ini menyebabkan obstruksi (penyumbatan) yang memungkinkan keratin, sebum, dan bakteri berakumulasi sehingga terjadi dilasi (pelebaran) pada bagian infundibulum folikel.
Selanjutnya, produksi sebum di dalam folikel berperan dalam patomekanisme acne vulgaris. Kandungan utama sebum, trigliserida, akan dipecah oleh bakteri flora normal folikel P. acnes menjadi asam lemak bebas (free fatty acids). Asam lemak ini justru mendorong pertumbuhan P. acnes dan berimbas pada reaksi peradangan. Reaksi peradangan ini nantinya akan menghasilkan gejala-gejala dan tanda-tanda peradangan kulit seperti kemerahan, rasa nyeri, dan nanah.[4][3]
Komedo muncul pada beberapa jenis penyakit kulit. Penyakit paling umum adalah akne vulgaris (istilah umum: adalah jerawat. Kondisi yang menyerupai acne-tetapi bukan merupakan acne sejati--seperti erupsi kulit imbas produk kosmetik, tidak memiliki lesi komedo, walaupun penampakannya mirip akne. Erupsi kulit (istilah umum: beruntusan) ini acapkali muncul misal setelah menggunakan produk kulit di wajah yang tidak cocok. Acne jenis lain seperti imbas obat-obatan steroid seperti Sindrom Cushing dan kondisi lain akibat berlebihnya hormon kortisol dalam tubuh, hiperkortisisme, juga memiliki gejala serupa akne vulgaris, tetapi tidak memiliki komedo. Sehingga, kondisi tersebut tidak dapat disebut sebagai akne vulgaris atau jerawat. Kondisi lain adalah nevus comedonicus yang menyerupai penyakit langka yang menyerupai komedo terbuka, tetapi sesungguhnya bukan komedo.[4]
Penyakit lain yang memiliki lesi kulit berupa komedo adalah hidradenitis suppurativa. Pada penyakit ini, komedo yang muncul biasa berupa komedo terbuka yang seolah membentuk terowong (open-ended comedones) dan biasa muncul pada lipatan kulit seperti ketiak.[4]
Komedo dibagi menjadi dua:[1][3]
| Klasifikasi |
|---|