Kolesistokinin adalah hormon peptida dari sistem pencernaan yang bertanggung jawab untuk merangsang pencernaan lemak dan protein. Kolesistokinin, yang sebelumnya disebut pankreozimin, disintesis dan disekresikan oleh sel enteroendokrin di duodenum, segmen pertama usus halus. Kehadirannya menyebabkan pelepasan sari pankreas dari pankreas dan empedu dari kantong empedu.
Kolesistokinin (Bahasa Inggris: Cholecystokinin, disingkat CCK atau CCK-PZ; dari bahasa Yunanichole yang berarti "empedu", cysto yang berarti "kantong", dan kinin yang berarti "bergerak"; sehingga artinya menjadi "menggerakkan kantong empedu") adalah hormon peptida dari sistem pencernaan yang bertanggung jawab untuk merangsang pencernaanlemak dan protein. Kolesistokinin, yang sebelumnya disebut pankreozimin, disintesis dan disekresikan oleh sel enteroendokrin di duodenum, segmen pertama usus halus. Kehadirannya menyebabkan pelepasan sari pankreas dari pankreas dan empedu dari kantong empedu.[1][2]
Sejarah
Bukti bahwa usus halus mengendalikan pelepasan empedu ditemukan sejak tahun 1856, ketika seorang ahli fisiologi Prancis yakni Claude Bernard menunjukkan bahwa ketika asam asetat encer digunakan ke lubang saluran empedu, saluran tersebut melepaskan empedu ke duodenum.[3][4] Pada tahun 1903, ahli fisiologi Prancis Émile Wertheimer menunjukkan bahwa refleks ini tidak dimediasi oleh sistem saraf.[5] Pada tahun 1904, ahli fisiologi Prancis Charles Fleig menunjukkan bahwa pelepasan empedu dimediasi oleh suatu zat yang dibawa oleh darah.[6] Terdapat kemungkinan bahwa peningkatan aliran empedu sebagai respons terhadap keberadaan asam di duodenum mungkin disebabkan oleh sekretin, yang telah ditemukan pada tahun 1902. Masalah ini akhirnya diselesaikan pada tahun 1928 oleh Andrew Conway Ivy dan rekannya Eric Oldberg dari Sekolah Kedokteran Universitas Northwestern, yang menemukan hormon baru yang menyebabkan kontraksi kantung empedu dan yang mereka sebut "kolesistokinin".[7] Pada tahun 1943, Alan A. Harper dan Henry S. Raper dari Universitas Manchester menemukan hormon yang merangsang sekresi enzim pankreas dan yang mereka namai "pankreozimin";[8] namun, pankreozimin kemudian diketahui sebagai kolesistokinin.[9][10][11] Dua ahli biokimia asal Swedia yakni Johannes Erik Jorpes dan Viktor Mutt melakukan tugas monumental untuk mengisolasi dan memurnikan kolesistokinin babi dan kemudian menentukan urutan asam aminonya. Mereka akhirnya mempresentasikan urutan asam amino kolesistokinin babi pada tahun 1968.[12]
Struktur
Kolesistokinin adalah anggota keluarga hormon peptida gastrin/kolesistokinin dan strukturnya sangat mirip dengan gastrin, hormon gastrointestinal lainnya. CCK dan gastrin memiliki lima asam amino C-terminal yang sama. CCK terdiri dari berbagai jumlah asam amino tergantung pada modifikasi pascatranslasi dari prekursor 150 asam amino, preprokolesistokinin.[13] Dengan demikian, hormon peptida CCK ada dalam beberapa bentuk, masing-masing diidentifikasi berdasarkan jumlah asam amino yang dikandungnya, misalnya CCK-58, CCK-33, CCK-22 dan CCK-8. CCK58 memiliki konfigurasi heliks-putar-heliks.[14] Aktivitas biologis terletak di ujung C peptida. Sebagian besar peptida CCK memiliki gugus sulfat yang terikat pada tirosin yang terletak tujuh residu dari ujung C (lihat sulfasi tirosin). Modifikasi ini sangat penting untuk kemampuan CCK dalam mengaktifkan reseptor kolesistokinin A. Peptida CCK yang tidak tersulfasi juga ada, yang akibatnya tidak dapat mengaktifkan reseptor CCK-A, tetapi peran biologisnya masih belum jelas.[13][15]
Fungsi
CCK memainkan peran fisiologis penting baik sebagai neuropeptida di sistem saraf pusat maupun sebagai hormon peptida di usus.[16] Ini merupakan neuropeptida yang paling melimpah di sistem saraf pusat.[17][18] CCK telah diteliti secara menyeluruh mengenai perannya dalam pencernaan.[17] Selain perannya dalam pencernaan, CCK terlibat dalam mengatur berbagai fenomena perilaku termasuk rasa kenyang, nafsu makan, kecemasan, termoregulasi, perilaku seksual, memori, dan respons terhadap penyalahgunaan obat, khususnya di korteks dan daerah limbik otak.[19]
Sistem pencernaan
CCK disintesis dan dilepaskan oleh sel enteroendokrin di lapisan mukosa usus halus (sebagian besar di duodenum dan jejunum) yang disebut sel I, neuron sistem saraf enterik, dan neuron di otak.[1] CCK dilepaskan dengan cepat ke dalam sirkulasi sebagai respons terhadap makanan. Stimulator terbesar pelepasan CCK adalah adanya asam lemak dan/atau asam amino tertentu dalam kimus yang masuk ke duodenum.[13] Selain itu, pelepasan CCK dirangsang oleh peptida monitor (dilepaskan oleh sel asinar pankreas), protein pelepas CCK (melalui sinyal parakrin yang dimediasi oleh enterosit di mukosa lambung dan usus), dan asetilkolina (dilepaskan oleh serabut saraf parasimpatik saraf vagus).[20]
CCK memediasi pencernaan di usus halus dengan menghambat pengosongan lambung. Ia merangsang sel asinar pankreas untuk melepaskan cairan yang kaya akan enzim pencernaan pankreas (oleh karena itu nama alternatifnya adalah "pankreozimin") yang mengkatalisis pencernaan lemak, protein, dan karbohidrat. Dengan demikian, ketika kadar zat-zat yang merangsang pelepasan CCK menurun, konsentrasi hormon tersebut juga menurun. Pelepasan CCK juga dihambat oleh somatostatin dan peptida pankreas. Tripsin, protease yang dilepaskan oleh sel asinar pankreas, menghidrolisis peptida pelepas CCK dan peptida monitor, yang pada akhirnya mematikan sinyal tambahan untuk mensekresikan CCK.[22]
CCK juga menyebabkan peningkatan produksi empedu hati, dan merangsang kontraksi kantong empedu dan relaksasi sfingter Oddi (sfingter Glisson), yang mengakibatkan pengiriman empedu ke bagian duodenum usus halus.[1][2]Garam empedu membentuk lipidamfipatik, misel yang mengemulsikan lemak, membantu pencernaan dan penyerapannya.[1]
Pengaruh kolesistokinin pada saluran pencernaan. Kolesistokinin disekresikan oleh sel-I di usus halus dan menginduksi kontraksi kantung empedu, merelaksasi sfingter Oddi, meningkatkan produksi asam empedu di hati, menunda pengosongan lambung, dan menginduksi produksi enzim pencernaan di pankreas.
Rasa kenyang
Sebagai hormon peptida, CCK memediasi rasa kenyang dengan bekerja pada reseptor CCK yang tersebar luas di seluruh sistem saraf pusat. Mekanisme penekanan rasa lapar diperkirakan adalah penurunan laju pengosongan lambung.[23] CCK juga memiliki efek stimulasi pada saraf vagus, efek yang dapat dihambat oleh kapsaisin.[24] Efek stimulasi CCK berlawanan dengan efek grelin, yang telah terbukti menghambat saraf vagus.[25]
Efek CCK bervariasi antar individu. Misalnya, pada tikus pemberian CCK secara signifikan mengurangi rasa lapar pada tikus jantan dewasa, namun sedikit kurang efektif pada tikus yang lebih muda, dan bahkan sedikit kurang efektif pada tikus betina. Efek penekan rasa lapar dari CCK juga berkurang pada tikus obesitas.[26]
Neurologis
CCK ditemukan secara luas di seluruh sistem saraf pusat, dengan konsentrasi tinggi ditemukan di sistem limbik. CCK disintesis sebagai preprohormon 115 asam amino, yang kemudian diubah menjadi beberapa isoform. Bentuk dominan CCK di sistem saraf pusat adalah oktapeptida tersulfat, CCK-8S.[27]
Anksiogenik
Pada manusia dan hewan pengerat, penelitian dengan jelas menunjukkan bahwa peningkatan kadar CCK menyebabkan peningkatan kecemasan. Lokasi efek CCK yang menimbulkan kecemasan tampaknya berada di pusat dengan target spesifik berupa amigdala basolateral, hipokampus, hipotalamus, periaqueductal grey, dan daerah kortikal.[21][28]
Panikogenik
Fragmen tetrapeptida CCK CCK-4 (Trp-Met-Asp-Phe-NH2) secara andal menyebabkan kecemasan dan serangan panik (efek panikogenik) ketika diberikan kepada manusia dan umumnya digunakan dalam penelitian ilmiah untuk menguji obat anksiolitik baru.[28][29] Visualisasi tomografi emisi positron aliran darah serebral regional pada pasien yang mengalami serangan panik yang diinduksi CCK-4 menunjukkan perubahan pada gyrus cingulate anterior, daerah klaustrum-insular-amigdala, dan vermis serebelum.[27]
Halusinogenik
Beberapa penelitian telah mengaitkan CCK sebagai penyebab halusinasi visual pada penyakit Parkinson. Mutasi pada reseptor CCK yang dikombinasikan dengan gen CCK yang bermutasi memperkuat hubungan ini. Studi-studi ini juga mengungkap potensi perbedaan ras/etnis dalam distribusi gen CCK yang bermutasi.[16]
Interaksi
CCK telah terbukti berinteraksi dengan reseptor kolesistokinin A yang terutama terletak pada sel asinar pankreas dan reseptor kolesistokinin B sebagian besar di otak dan lambung. Reseptor CCKB juga mengikat gastrin, hormon gastrointestinal yang terlibat dalam merangsang pelepasan asam lambung dan pertumbuhan mukosa lambung.[30][31][32] CCK juga telah terbukti berinteraksi dengan kalsineurin di pankreas. [!Kalsineurin]] akan mengaktifkan faktor transkripsi NFAT 1–3, yang akan merangsang hipertrofi dan pertumbuhan pankreas. CCK dapat dirangsang oleh diet tinggi protein, atau oleh penghambat protease.[33] CCK telah terbukti berinteraksi dengan neuron oreksin, yang mengontrol nafsu makan dan kewaspadaan (tidur).[34] CCK dapat memiliki efek tidak langsung pada pengaturan tidur.[35]
CCK dalam tubuh tidak dapat menembus sawar darah otak, tetapi bagian-bagian tertentu dari hipotalamus dan batang otak tidak dilindungi oleh sawar tersebut.
1234Johnson LR (2013). Gastrointestinal Physiology (Edisi Eighth). Philadelphia: Elsevier/Mosby. ISBN978-0-323-10085-4.
12Bowen R (28 Januari 2001). "Cholecystokinin". Colorado State University. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Maret 2016. Diakses tanggal 6 November 2015.
↑Bernard C (1856). Leçons de physiologie expérimentale appliquée à la médecine (dalam bahasa French). Vol.2. Paris, France: J.B. Baillière et fils. hlm.430. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) From p. 430: "En effet, si l'on ouvre le duodenum sur un animal vivant et que l'on touche l'orifice du conduit cholédoque avec une baguette de verre imprégnée d'acide acétique faible, on voit immédiatement un flot de bile lancé dans l'intestin; ce qui ne se fait pas si, au lieu de toucher l'orifice du conduit cholédoque avec un liquide acide, on le touche avec un liquide lègérement alcalin, comme du carbonate de soude par example." (Indeed, if one opens the duodenum on a living animal and touches the orifice of the bile duct with a glass rod impregnated with weak acetic acid, one immediately sees a stream of bile squirted into the intestine; which is not done if, instead of touching the orifice of the bile duct with an acidic liquid, it is touched with a slightly alkaline liquid, such as sodium carbonate for example.)
↑Wertheimer E (1903). "De l'action des acides et du chloral sur la sécrétion biliaire (d'après les expériences de M. Ch. Dubois)"[On the action of acids and chloral on bile secretion (according to the experiments of Mr. Charles Dubois)]. Compte Rendus Hebdomadaires des Séances et Mémoires de la Société Biologie (dalam bahasa French). 55: 286–287. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) From p. 287: "Ces expériences furent ensuite répétées après section préalable des pneumogastriques au cou et des sympathiques dans le thorax: cinq sur douze ont encore donné des résultats positifs." (These experiments [namely, introducing dilute acid into the duodenum in order to determine whether the acid then stimulated the secretion of bile] were then repeated after prior section [i.e., cutting] of the pneumogastric [i.e., vagus nerves] in the neck and the sympathetic [nerves] in the thorax: five out of twelve [experiments] again gave positive results.)
↑Fleig C (1904). "Du mode d'action des excitants chimiques des glandes digestives"[On the mode of action of the chemical stimulants of the digestive glands]. Archives Internationales de Physiologie et de Biochimie (dalam bahasa French). 1: 286–346. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) From pp. 316-317: "Expérience. — Chien 13 k. chloralosé. On isole une anse de duodéno-jejunum, … C'est là pour le moment une question non résolue et qui ne m'a donné aucun résultat." (Experiment: A dog of 13 kg. was anaesthetized with chloral hydrate. One isolates a section of the duodenum-jejunum; one introduces into it a solution of 0.5% HCl, and one collects the venous blood from the section as usual. Infusion of the [venous] blood which is administered during 30 minutes (about 100 cc.) to a dog of 7 kg. having a canula in the bile duct and [having] the cystic duct bound. The flow of bile is increased to double ([see] fig. 44). But is this humoral action due to the same secretin that acts on the pancrease or [is it due to the action of] a special "crinine" [i.e., a hypothetical hormone that's involved in digestion, like Fleig's "sapocrinine" (see p. 293)] on the liver? For the moment it's an unresolved question and [one] that has given me no result.)
↑Jorpes E, Mutt V (Januari–Februari 1966). "Cholecystokinin and pancreozymin, one single hormone?". Acta Physiologica Scandinavica. 66 (1): 196–202. doi:10.1111/j.1748-1716.1966.tb03185.x. PMID5935672.
↑Reeve JR, Eysselein VE, Rosenquist G, Zeeh J, Regner U, Ho FJ, etal. (Mei 1996). "Evidence that CCK-58 has structure that influences its biological activity". The American Journal of Physiology. 270 (5 Pt 1): G860 –G868. doi:10.1152/ajpgi.1996.270.5.G860. PMID8967499.
12Lenka A, Arumugham SS, Christopher R, Pal PK (Mei 2016). "Genetic substrates of psychosis in patients with Parkinson's disease: A critical review". Journal of the Neurological Sciences. 364: 33–41. doi:10.1016/j.jns.2016.03.005. PMID27084212. S2CID31298855.
↑Liddle RA (September 1995). "Regulation of cholecystokinin secretion by intraluminal releasing factors". The American Journal of Physiology. 269 (3 Pt 1): G319 –G327. doi:10.1152/ajpgi.1995.269.3.G319. PMID7573441.
↑Shillabeer G, Davison JS (Februari 1987). "Proglumide, a cholecystokinin antagonist, increases gastric emptying in rats". The American Journal of Physiology. 252 (2 Pt 2): R353 –R360. doi:10.1152/ajpregu.1987.252.2.R353. PMID3812772.
↑Holzer P (Juli 1998). "Neural injury, repair, and adaptation in the GI tract. II. The elusive action of capsaicin on the vagus nerve". The American Journal of Physiology. 275 (1): G8-13. doi:10.1152/ajpgi.1998.275.1.G8. PMID9655678.
↑Kobelt P, Tebbe JJ, Tjandra I, Stengel A, Bae HG, Andresen V, etal. (Maret 2005). "CCK inhibits the orexigenic effect of peripheral ghrelin". American Journal of Physiology. Regulatory, Integrative and Comparative Physiology. 288 (3): R751 –R758. doi:10.1152/ajpregu.00094.2004. PMID15550621.
↑Fink H, Rex A, Voits M, Voigt JP (November 1998). "Major biological actions of CCK--a critical evaluation of research findings". Experimental Brain Research. 123 (1–2): 77–83. doi:10.1007/s002210050546. PMID9835394. S2CID11251325.
↑Galés C, Poirot M, Taillefer J, Maigret B, Martinez J, Moroder L, etal. (Mei 2003). "Identification of tyrosine 189 and asparagine 358 of the cholecystokinin 2 receptor in direct interaction with the crucial C-terminal amide of cholecystokinin by molecular modeling, site-directed mutagenesis, and structure/affinity studies". Molecular Pharmacology. 63 (5): 973–982. doi:10.1124/mol.63.5.973. PMID12695525. S2CID38395309.