Khairullah Said Wali Khairkhwa adalah Menteri Informasi dan Budaya Afganistan saat ini dan mantan Menteri Dalam Negeri. Setelah kejatuhan pemerintahan Taliban pada 2001, ia ditahan di kamp penahanan Guantanamo Bay Amerika Serikat di Kuba selama 12 tahun. Ia dibebaskan pada akhir Mei 2014 dalam pertukaran tahanan yang melibatkan Bowe Bergdahl dan lima Taliban. Laporan pers menyebutnya sebagai "Mullah" dan "Maulavi", dua gelar kehormatan berbeda yang merujuk kepada ulama Muslim senior.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Khairullah Khairkhwa | |
|---|---|
![]() Khairullah Khairkhwa saat ditahan di Guantanamo Bay | |
| Menteri Informasi dan Budaya | |
| Mulai menjabat 7 September 2021 | |
| Pemimpin Tertinggi | Hibatullah Akhundzada |
| Perdana Menteri | Mohammad Hassan Akhund |
| Menteri Dalam Negeri | |
| Masa jabatan s. 1997 – s. 1998 | |
| Perdana Menteri | Mohammad Rabbani |
| Pemimpin | Mohammed Omar |
| Gubernur Herat | |
| Masa jabatan Maret 2001 – Oktober 2001 | |
| Perdana Menteri | Mohammad Rabbani |
| Pemimpin | Mohammed Omar |
| Jurubicara Keamiran Islam Afganistan | |
| Masa jabatan s. 1995 – s. 1996 | |
| Perdana Menteri | Mohammad Rabbani Abdul Kabir |
| Pemimpin | Mohammed Omar |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 1967 (umur 58–59) Kandahar, Afganistan |
| Partai politik | |
Khairullah Said Wali Khairkhwa (bahasa Pashtun: خیرالله سید ولي خیرخواهcode: ps is deprecated [xairʊˈlɑ saˈjɪd waˈli xairˈxwɑ]; kelahiran 1967) adalah Menteri Informasi dan Budaya Afganistan saat ini dan mantan Menteri Dalam Negeri. Setelah kejatuhan pemerintahan Taliban pada 2001, ia ditahan di kamp penahanan Guantanamo Bay Amerika Serikat di Kuba[1] selama 12 tahun. Ia dibebaskan pada akhir Mei 2014 dalam pertukaran tahanan yang melibatkan Bowe Bergdahl dan lima Taliban.[2] Laporan pers menyebutnya sebagai "Mullah" dan "Maulavi", dua gelar kehormatan berbeda yang merujuk kepada ulama Muslim senior.[3][4][5][6]
Klaim-klaim dari para analis di Guantanamo menyatakan bahwa Khairkhwa memiliki hubungan langsung dengan Osama Bin Laden dan Pangliman Tertinggi Taliban Mullah Muhammad Omar.[7] Kate Clark mengkritik para rekan wartawannya karena mengulang klaim-klaim AS yang kebanyakan berdasarkan pada rumor tanpa dasar atau pengakuan dan pengecaman yang dilakukan saat penyiksaan dan teknik interogasi ekstrem lainnya.[8]
Unlike many Taleban, he was comfortable speaking to a foreigner and, very unusually, happy to be interviewed in Persian (most Taleban would only speak Pashto at the time). Herat, where he was the governor, was noticeably more relaxed than Kabul, Mazar or Kandahar: I filmed openly in the city (then an illegal act), the economy was reasonably buoyant and women came up to chat – a very rare occurrence.
She also noted that, since the list was drawn up, the Obama administration was reportedly considering transferring five Afghan Taliban to custody of the Qatari government in exchange for the release of U.S. POW Bowe Bergdahl. The Wall Street Journal named the five men and all appear on the list released Monday as indefinite detainees: Mullah Mohammad Fazl, Mullah Norullah Noori, Mohammed Nabi, Khairullah Khairkhwa, and Abdul Haq Wasiq.