Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kerajaan Sungai Pagu

Kerajaan Sungai Pagu adalah sebuah kerajaan yang berdiri pada sekitar abad 14 di daerah Solok Selatan sekarang. Lengkapnya nama kerajaan ini adalah Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Peninggalan kerajaan ini ialah seribu rumah gadang. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu berpusat di Pasir Talang dan daerah rantaunya yaitu Bandar Sepuluh. Kerajaan ini membentang dari Surian, Pantai Cermin, Solok hingga Rantau XII Koto.

kerajaan di Asia Tenggara
Diperbarui 1 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kerajaan Sungai Pagu
Surau Menara, salah satu peninggalan Kerajaan Sungai Pagu yang masih tersisa

Kerajaan Sungai Pagu adalah sebuah kerajaan yang berdiri pada sekitar abad 14 di daerah Solok Selatan sekarang. Lengkapnya nama kerajaan ini adalah Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Peninggalan kerajaan ini ialah seribu rumah gadang. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu berpusat di Pasir Talang (Solok Selatan) dan daerah rantaunya yaitu Bandar Sepuluh. Kerajaan ini membentang dari Surian, Pantai Cermin, Solok hingga Rantau XII Koto (Sangir, Solok Selatan).[1]

Sekarang ini pemangku jabatan raja Kerajaan Sungai Pagu sedang vakum pasca wafatnya almarhum Zulkarnain Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah, yang pernah mengadakan pertemuan dengan pemangku jabatan raja Kerajaan Pagaruyung yaitu H. Sultan Muhammad Taufik Thaib, SH Daulat Yang Dipertuan Tuanku Mudo Mahkota Alam Minangkabau.[2]

Sejarah

Kerajaan Sungai Pagu telah ada sejak abad ke-14 di daerah Solok Selatans saat ini. Kerajaan ini memiliki nama lengkap Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Dahulu Alam Surambi Sungai Pagu bernama Kualo Banda Lakun. Daerah ini ditempati oleh dua keluarga leluhur yaitu Inyiek Samiek, Inyiek Samilu Aie, dan dubalang Inyiek Sikok Marajolelo di Batang Marinteh Mudiak yang berasal dari Jambi dan Palembang, tepatnya Tebo dan Sungai Musi, salah seorangnya berasal dari Pasimpai (antara Jujuan dan Batang Hari), dia bertiga itulah yang disebut nenek moyang Orang Pauh Duo Yang Batigo.[1]

Asal-usul Masyarakat Kerajaan Sungai Pagu

Penduduk asli Kualo Banda Lakun terdiri dari empat suku pertama yang disebut : Si Tatok, Si Tarahan, Si Anya, Si Pilihan. Merekalah gelombang pertama yang menghuni wilayah Kualo Banda Lakun sebelum kedatangan gelombang-gelombang pendatang berikutnya. Mereka berasal dari bangsa Melayu Kuno.[1]

Nenek moyang yang ikut berpindah adalah:[1]

  1. Niniak Nan Kawi Majo Ano Sadewano
  2. Niniak Ramang Hitam
  3. Niniak Ramang Putiah
  4. Niniak Ratu Sarek
  5. Niniak Indalan
  6. Niniak Kumbo
  7. Niniak Ba’ani
  8. Niniak Candai Halui

Empat orang terakhir yang mempunyai keturunan dan menjadi nenek moyang yang menurunkan suku Malayu Empat Ninik.

Rute yang ditempuh

Mereka menempuh rute perjalan ke Sungai Singkut, Batang Tebo, Batang Jujuan, Sungai Batang Hari, Batang Suliti, Batang Bangko. Mereka membentuk nagari yang pertama yaitu Nagari Pasir Talang. Perjalanan diteruskan ke Sungai Manau. Dapat diartikan bahwa nenek moyang masyarakat Surambi Pagu juga berasal dari Tanjung Bungo, Pagaruyung. Walaupun juga terdapat nenek moyangnya yang berasal dari Pagaruyung, tetapi adat istiadat yang dianut oleh  Kerajan Sungai Pagu terdapat perbedaan dengan adat istiadat yang dianut oleh masyarakat Minangkabau pada umunya. (SPI di Minang).[1]

Mereka melewati wilayah Kubung Tiga Belas atau Solok sekarang, Batang Bangkaweh, Linjung Koto Tinggi, Sariak Alahan Tigo, Gumanti Sasapan Bungo, Bukit Bakeh. Salah seorang dari mereka meninggal di Bukit Sipadeh Tingga, kecamatan Pantai Cermin sekarang. Inyiak Syamsudin Sadewano dikalahkan oleh rival politiknya dan melarikan diri ke Ampiang Parak (Surantih, Pesisir Selatan) yang waktu itu termasuk wilayah kekuasaan Kesultanan Inderapura. Semenjak kepergiannya Sungai Pagu dilanda krisis ekonomi karena selalu gagal panen. Maka dikirimlah seorang utusan yang bernama Datuk Sutan Mamat ke Bandar Sepuluh untuk menjemput Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah untuk diangkat menjadi Raja di Alam Surambi Sungai Pagu. Semenjak itu Bandar Sepuluh menjadi rantau bagi kerajaan ini.[1]

Gelombang Perjalanan Masyarakat Awal Sungai Pagu

Penduduk Alam Surambi Sungai Pagu adalah suku Minangkabau yang termasuk kedalam Ras Austronesia, Mereka pergi ke Sungai Pagu terdiri dari tiga tahap, yaitu:[1]

Gelombang pertama

Gelombang pertama tidak diceritakan dari mana datangnya, jalan mana yang ditempuhnya, kelompok penduduk ini disebut Sitatok-Sitarahan-Sianya-Sipilihan. Sungai Pagu mereka namakan Banda Lakun, wilayah yang dihuninya adalah : Taratak Paneh, Taratak Baru, Taratak Bukareh (Kanagarian Alam Pauh Duo), Gaduang dan Balun.

Gelombang kedua

Gelombang kedua datang dari daerah antara Sungai Musi dan Batang Hari (Melayu Muda), datang ke Alam Surambi Sungai Pagu dari arah hilir memudiki Batang Hari. Kelompok ini belum memiliki suku dan mendirikan sebuah kerajaan dengan Raja yang bergelar “Bagombak Putiah Bajangguik Merah” tiga kali berturut-turut yang bermukim di Koto Tuo, Banuaran (Alam Pauh Duo), yaitu:[1]

Niniak Nan Kawi Majoano

Niniek Duano Gaja Gilo

Niniak Parendangan

Wilayah Kerajaan ini meiputi; Kisaran Camin Tolam ke Rantau 12 Koto, Koto Ubi, Koto Hilalang, Langkok Kadok Langkok Jarang, Batu Angek Batu Kangkuang, sampai ka Limun Batang Asai, lapeh ke Rejang Lebong-Bengkulu, tahantak ka Gunuang Medan, manyisir ka Lubuak Pinang Lako, sarato Lubuak Pinang Malam, lalu ka Talao Aia Sirah.[1]

Gelombang ketiga

Gelombang ketiga datang dari Luhak nan tigo, datang ke Sungai Pagu dari arah Hulu Batang Suliti. Di mana kelompok penduduk inilah berdirinya Alam Surambi Sungai Pagu, wilayahnya meliputi dari Balun Batu Hilir, terus ke Languang dan Koto Baru, sampai ke batang Marinteh Mudiak (Alam Pauah Duo), terus ke Sako Luhak nan Tujuh, serambinya di Pesisir Bandar Sepuluh, rantaunya Dua Belas Koto.[1]

Hubungan dengan Kerajaan Lain

Hubungan dengan Minangkabau dan kerajaan Pagaruyung

Adat di kerajaan ini agak sedikit berbeda dengan kebudayaan di Minangkabau secara umum atau di kerajaan Pagaruyung secara khusus sehingga ia dikenal sebagai ”ikua darek kapalo rantau” (ujung bagi wilayah Luhak, kepala bagi wilayah rantau Minangkabau).

Hubungan dengan Minangkabau dan Kerajaan Inderapura

Sebagian besar wilayah yang merupakan rantau orang Sungai Pagu yang disebut Bandar Sepuluh menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Inderapura yang sekarang berada dalam pemerintahan Pesisir Selatan. Ada ungkapan yang menyatakan hubungan Kerajaan Sungai Pagu dengan kerajaan lain sebagai berikut:[1]

Berembun ke Batang Hari

Bertampuk ke Bukit Gombak

Bertangkai ke Jambu Lipo

Bersayap ke Indragiri

Bersirip ke Indropuro

Semenjak kepergian Inyiak Syamsuddin Sadewano, Kerajaan Sungai Pagu dilanda oleh krisis ekonomi akibat gagalnya panen didaerah kerajaan. Oleh kondisi tersebut, diutuslah Datuk Sutan Mamat ke Bandar Sepuluh untuk membujuk Bagindo Sutan Besar Tuanku Raji Disambah agar menerima pengangkatan Raja di Alam Surambi Sungai Pagu. Setelah itu Badar Sembilan menjadi bagian wilayah kerjaan ini.[1]

Struktur pemerintahan dan persukuan

Pemerintahan kerajaan terdiri dari empat posisi raja yang berbeda masing-masing kewenangannya. Raja dijuluki sebagai Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah (Rajo Alam). Ia didampingi oleh Tuanku Rajo Bagindo (masalah adat, tambo dan ekonomi), Tuanku Rajo Malenggang (pajak) dan Tuanku Rajo Batuah (masalah agama dan pertambangan).[1]

Sedangkan untuk struktur suku di kerajaan, terdapat beberapa suku, sebagai berikut: Suku Malayu, Suku Panai, Suku Tigo Lareh Bakapanjangan (Suku Nan Tigo Lareh),  dan Suku Kampai. Keempat suku ini merupakan suku utama di Kerajaan Sungai Pagu.[1]

1. Suku Melayu

Suku Malayu ini berasal dari 4 ninik dari Ninik nan salapan. Juga 17 ninik dari ninik 59 (kurang aso 60). Balahan (unit kelompok sosial) sukunya:

  • Suku Malayu Ampek Paruik,
  • Suku Bariang Ampek paruik,
  • Suku Koto Kaciak Ampek Paruik dan
  • Suku Durian Limo Ruang.[3]

Suku Malayu ini menjadi basis Raja Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sutan Besar Tuangku Rajo Disambah. Kebesarannya (Hasmurdi, 2000)sebagai payung sakaki tombak sabatang, payung panji KASSP. Penghulu induknya 17 sultan dari nan 59 dengan puluhan datuk pecahannya yang mempunyai hak kebulatan untuk rajo nan-4.

2. Suku Panai

Suku Panai di antaranya turun dari 3 ibu dan nan-59. Dalam pengembangannya memiliki balahan suku

  • Suku Panai Tanjung
  • Suku Panai Tangah,
  • Suku Panai Lundang.[3]

Pada suku ini berbasis Tuanku Rajo Batuah, dengan kebesarannya “tabung baparuik dan mamagang cupak usali yaitu syarak basandi kitabullah”. Penghulu induknya 3 sultan dari nan-59 dengan belasan datuk pecahannya yang punya hak kebulatan untuk rajo nan-4.

3. Suku Tigo Lareh bakapanjangan (Suku Nan Tigo Lareh)

Suku ini di antaranya turun dari 15 ibu dari ninik 59. Pecahan sukunya

  • Suku Sikumbang Ampek Ibu,
  • Suku Caniago nan Anam,
  • Suku Jambak nan Limo,
  • suku Balai Mansiang Ampek Piak dan
  • Suku Koto Tigo Ibu.[3]

Marsadis Dt St. Mamat (1980) untuk dua suku terakhir disebut turunan inyiak Talawi dan Inyiak Perpatih nan Sabatang. Suku ini basis rajo: Tuanku Rajo Malenggang. Penghulu induknya 15 sultan dari ninik 59 dan puluhan datuk yang mempunyai hak kebulatan untuk raja nan-4.

4. Suku Kampai

Suku ini di antaranya turunyan dari 24 dari ninik 59. Pecahan sukunya:

  • Suku Bendang nan Ampek
  • Suku Kampai Tangah Nyiur Gading nan Salapan
  • Suku Kampai Air Angek nan-5, dan
  • Suku Kampai Sawah Laweh nan Tujuah.[3]

Suku Kampai ini berbasis rajo adat: Tuanku Rajo Bagindo dengan kebedaran “kain langko puris/ pemegangkitab tambo alam /pemegang adat jo limbago”. Sekarang ialah Bustam Dt. Sj Bagindo. Penghulu induknya 24 dari ninik 59 dengan puluhan datuk yang memiliki hak kebulatan untuk raja nan-4.

Gelar Tuanku Rajo Bagindo, Rajo nan-4 di dalam Kelarasan Sungai Pagu (Kecamatan Sungai Pagu dan XII Koto, Keresidenan Padang Darat) pernah mendapat pengakuan kebesaran tuan Gubernur dan dihormati dengan dibebaskan dari kewajiban rodi (Kutipan SK. Tuan Gub. SB di Padang; n. 564 tanggal 17 September 1888). Para penghulu-penghulu KASSP dalam sukunya mempunyai hak kebulatan untuk memperkuat posisi dan peranan rajo nan-4. Penghulu-penghulu dapat memperkuat kedudukan raja yang berbasisi sukunya maupun raja nan-4 sesuai dngan kapasitas dan fungsinya yakni ada sebagai (1) sandi, (2)urang gadang, (3) manti, (4) jorong, (5) ampang limo,(6) hulu balang, (7) juaro, (8) kadhi, (9) urang tuo, (10) kehakiman dan, (11) khalifah.

Batas wilayah

Alam Surambi Sungai Pagu meliputi

  • dari Balun Batu Ilie,
  • lalu ke Languang dan Koto Baru,
  • sampai ke Pauh Duo nan Batigo, Batang Marinteh Mudiak,
  • lalu ke Sako Luhak Nan Tujuh, sampai ke Pesisir Banda nan Sepuluh,
  • kalang Hulu Salido tumpuan Aie Haji.

Luhak Nan Tujuh

  1. Sungai Durian
  2. Sungai Talu
  3. Sawah Siluak
  4. Lolo/Alai
  5. Mudiak Lawe
  6. Sipotu
  7. Sungai Cangkar.[4]

Banda nan Sepuluh

Banda Sepuluh merupakan wilayah ekpansi dari Kerajaan Sungai Pagu, yang semuanya merupakan wilayah Kabupaten Pesisir Selatan sekarang dan pernah menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Inderapura sebelumnya.

Yang termasuk wilayah Bandar Sepuluh adalah:

  1. Aie Haji
  2. Sungai Tunu
  3. Palangai
  4. Punggasan
  5. Lakitan
  6. Kambang
  7. Ampiang Parak
  8. Surantiah
  9. Batang Kapeh
  10. Bungo Pasang.[4]

Daerah jajahan

Pada waktu zaman Niniak Sutan Parendangan, Bagombak Putiah Bajangguik Merah, daerah jajahannya meliputi

  • Kisaran Camin Tolam,
  • Duo Baleh Koto,
  • Koto Ubi (Ranah Lubuk Besar),
  • Koto Hilalang
  • Batu Angik Batu Kangkung,
  • Batang Asai,
  • Rejang Bengkulu
  • Gunuang Medan
  • Lubuak Pinang Lako
  • Lubuak Pinang Malam,
  • Talao Aie Sirah.[4]

Masuknya agama Islam

Peninggalan sejarah semasa awal masuk Islam di Minangkabau seperti Masjid Kurang Aso 60 di Pasir Talang yang dibangun pada abad XVI.[5]

Peninggalan Sejarah

  1. Rumah gadang dengan beragam model
  2. Istana Puti Sigintir,
  3. Istana Tuangku Rajo Malenggang dan Rajo Putiah di Pasir Talang dan
  4. Istana Tuanku Rajo Bagindo di Balun[6]
  5. Masjid 60 kurang Aso.[7][5]

Lihat pula

  • Bandar Sepuluh
  • Nagari Punggasan
  • Nagari Kambang
  • Nagari Indropuro

Pranala luar

  • Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu Ikua Darek Kerajaan Minangkabau
  • Situs Resmi Kabupaten Solok Diarsipkan 2012-10-19 di Wayback Machine.
  • Tambo Alam Surambi Sungai Pagu, IKASUPA Jakarta 2004
  • Kutipan SK. Tuan Gub. SB di Padang; n. 564 tanggal 17 September 1888
  • Marsadis Dt. St. Mamat (1980),
  • Hasmurdi (2000),
  • Mudjadid (1999),
  • IKASUPA (2003)

  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Sumatra
Aceh
  • Aceh
  • Daya
  • Jeumpa
  • Lamri
  • Linge
  • Pedir
  • Peureulak
  • Samudera Pasai
  • Tamiang
Bengkulu
  • Pat Petulai
  • Selebar
Jambi
  • Jambi
  • Kantoli
  • Koying
Lampung
  • Keratuan Balaw
  • Keratuan Di Puncak
  • Keratuan Darah Putih
  • Keratuan Melinting
  • Keratuan Semaka
  • Tulang Bawang
  • Sekala Bekhak
Kepulauan Riau
  • Bintan
  • Johor
  • Riau-Lingga
Riau
  • Indragiri
  • Kampar Kiri
  • Kandis
  • Koto Alang
  • Kuantan
  • Kuntu Kampar
  • Melaka
  • Pelalawan
  • Rokan IV Koto
  • Siak
  • Tambusai
Sumatera Barat
  • Pasumayan Koto Batu
  • Bungo Satangkai
  • Dusun Tuo
  • Minanga
  • Dharmasraya
  • Pagaruyung
  • Inderapura
  • Samaskuta
  • Siguntur
  • Sontang
  • Sungai Pagu
Sumatera Selatan
  • Kerajaan Palembang
  • Kesultanan Palembang Darussalam
  • Sriwijaya
Sumatera Utara
  • Aru
  • Asahan
  • Barus
  • Batu Bara
  • Deli
  • Dolog Silou
  • Kota Pinang
  • Langkat
  • Padang
  • Panei
  • Pannai
  • Purba
  • Raya
  • Serdang
  • Siantar
  • Silimakuta
  • Tanah Jawa

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Pratama, Fikri Surya (2024). Sejarah Peradaban Islam di Minangkabau. Bogor: Guepedia. ISBN 978-623-421-643-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Saputra, Iqbal Ajie. "Menelusuri Jejak Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, Solok Selatan - Harian Haluan - Halaman 2". Menelusuri Jejak Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, Solok Selatan - Harian Haluan - Halaman 2. Diakses tanggal 2026-02-01.
  3. 1 2 3 4 "SEJARAH DAN KEBUDAYAAN KERAJAAN ALAM SURAMBI SUNGAI PAGU, SOLOK SELATAN HISTORY AND CULTURE OF THE KINGDOM OF ALAM SURAMBI SUNGAI PAGU , SOUTH SOLOK" (PDF). Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. 1 (2): 164–183. 2015.
  4. 1 2 3 "Sejarah Alam Surambi Sungai Pagu". Paco Paco (dalam bahasa Inggris). 2009-10-14. Diakses tanggal 2026-02-01.
  5. 1 2 Redaksi (2023-06-30). "Pesona Sejarah dan Mitos Unik yang Menarik di Masjid Kurang Aso 60". Genta Andalas. Diakses tanggal 2026-02-01.
  6. ↑ Saputra, Iqbal Ajie. "Menelusuri Jejak Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, Solok Selatan - Harian Haluan - Halaman 3". Menelusuri Jejak Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, Solok Selatan - Harian Haluan - Halaman 3. Diakses tanggal 2026-02-01.
  7. ↑ "Mei 2010 – Kualo Banda Lakun – Alam Surambi Sungai Pagu". Kualo Banda Lakun - Alam Surambi Sungai Pagu. Diakses tanggal 2026-02-01.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Asal-usul Masyarakat Kerajaan Sungai Pagu
  3. Gelombang Perjalanan Masyarakat Awal Sungai Pagu
  4. Gelombang pertama
  5. Gelombang kedua
  6. Gelombang ketiga
  7. Hubungan dengan Kerajaan Lain
  8. Hubungan dengan Minangkabau dan kerajaan Pagaruyung
  9. Hubungan dengan Minangkabau dan Kerajaan Inderapura
  10. Struktur pemerintahan dan persukuan
  11. 1. Suku Melayu
  12. 2. Suku Panai
  13. 3. Suku Tigo Lareh bakapanjangan (Suku Nan Tigo Lareh)
  14. 4. Suku Kampai
  15. Batas wilayah
  16. Luhak Nan Tujuh

Artikel Terkait

Asia Tenggara

bagian tenggara benua Asia

Pesta Olahraga Asia Tenggara

Kompetisi multi-olahraga negara-negara di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya sebagai Pusat Pendidikan Buddha di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya muncul pada akhir abad ke-7 menandai keberadaannya sebagai salah satu kekuatan maritim tertua dan berpengaruh di Asia Tenggara. Berasal

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026