Kebudayaan di Jawa Timur terbentuk terutama sebagai hasil interaksi dan perpaduan antara nilai serta unsur kebudayaan dari suku Jawa sebagai penduduk asli, dan suku Madura sebagai penduduk pendatang. Sifat kebudayaan di Jawa Timur ialah plural dan beragam dan dapat dibedakan menjadi 9 kebudayaan yang berbeda. Beberapa kebudayaan yang dominan di Jawa Timur ialah kebudayaan Pandalungan, kebudayaan Arek dan kebudayaan Mataraman.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kebudayaan di Jawa Timur terbentuk terutama sebagai hasil interaksi dan perpaduan antara nilai serta unsur kebudayaan dari suku Jawa sebagai penduduk asli, dan suku Madura sebagai penduduk pendatang.[1][2] Sifat kebudayaan di Jawa Timur ialah plural dan beragam dan dapat dibedakan menjadi 9 kebudayaan yang berbeda.[3][4] Beberapa kebudayaan yang dominan di Jawa Timur ialah kebudayaan Pandalungan, kebudayaan Arek dan kebudayaan Mataraman.[4]
Kebudayaan di Jawa Timur awalnya terbentuk oleh persebaran suku Jawa ke daerah-daerah di wilayah Jawa Timur. Luasnya jangkauan persebaran suku Jawa kemudian membentuk nilai-nilai kebudayaan yang bersifat lokal dengan unsur-unsur kebudayaan Jawa sebagai sistem utamanya.[1] Penduduk asli suku Jawa di Jawa Timur yang menerapkan kebudayaan Jawa kemudian mengalami interaksi kebudayaan dengan penduduk pendatang dari suku Madura yang bermigrasi ke daerah Jawa Timur. Interaksi ini membuat kebudayan Jawa dan kebudayaan Madura mengalami perpaduan pada daerah migrasi orang Madura di Jawa Timur.[2] Pada daerah-daerah yang menjadi pusat migrasi suku Madura di Jawa Timur, unsur-unsur kebudayaan Jawa mengalami perubahan dan kebudayaan Madura menjadi kebudayaan yang utama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.[1]
Karakteristik kebudayaan di wilayah Provinsi Jawa Timur bersifat plural dan beragam. Nama 'Jawa Timur' pada nama Provinsi Jawa Timur tidak mewakili suatu kebudayaan yang tunggal karena kebudayaan Jawa bukan satu-satunya kebudayaan yang diterapkan dalam kehidupan masyarakatnya. Di Provinsi Jawa Timur terdapat kebudayaan yang beragam dan menjadi keunikan bagi kebudayaan di Provinsi Jawa Timur dibandingkan dengan kebudayaan di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah.[3]
Di Provinsi Jawa Timur terdapat 9 kebudayaan yang berbeda, yaitu kebudayaan Mataraman / Panaragan, Arek, Samin, Tengger, Osing, Pandalungan, Madura Pulau, Bawean, dan Kangean.[4] Kebudayaan yang dominan di Provinsi Jawa Timur ialah kebudayaan Mataraman, kebudayaan Arek dan kebudayaan Pandalungan.[4]
Kebudayaan Pandalungan terbentuk sebagai perpaduan antara dua kebudayaan yaitu kebudayaan Madura dan kebudayaan Jawa.[5] Perpaduan ini terjadi akibat migrasi dengan tingkatan yang tinggi dari masyarakat di Pulau Madura ke wilayah Jawa Timur. Penyebaran orang Madura merata di sepanjang perairan utara Jawa Timur khususnya di kawasan Tapal Kuda. Wilayah cakupan kebudayaan Pandalungan di Kabupaten Pasuruan bagian timur, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang hingga ke Kabupaten Banyuwangi.[6] Masyarakat dalam kebudayaan Pandalungan dapat dibedakan dengan orang Madura karena tetap menggunakan bahasa Jawa meskipun berdialek bahasa Madura.[7]
Kebudayaan Arek memiliki identitas utama yaitu keberagaman unsur budaya yang berbeda pada tiap kelompok etnik. Interaksi sosial pada kebudayaan Arek mengutamakan konsep egalitarianisme, demokrasi dan persaudaraan.[8] Kawasan kebudayaan Arek meliputi sisi timur dari sungai Brantas. Wilayah cakupannya ialah Kota Surabaya, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, serta sebagian besar Kabupaten Lamongan. [9]
Kebudayaan Mataraman terkesan sangat berbeda dengan dua kebudayaan dominan lain di Provinsi Jawa Timur, yaitu kebudayaan Arek dan kebudayaan Pandalungan.[4] Kawasan kebudayaan Mataraman mencakup daerah pada bagian barat dan bagian selatan Provinsi Jawa Timur.[10] Masyarakat dalam kebudayaan Mataraman menggunakan bahasa Jawa dan menganut nilai-nilai kejawaan yang mirip dengan masyarakat dalam kebudayaan Yogyakarta dan kebudayaan Surakarta akan tetapi lebih egaliter.[11]