Kebudayaan Nias adalah kebudayaan khas yang berkembang di Pulau Nias oleh suku Nias. Pembentukan kebudayaan Nias merupakan akibat isolasi sosial penduduk di Pulau Nias dari pulau-pulau lain di Indonesia, terutama Pulau Sumatera. Suku Nias meyakini bahwa mereka adalah manusia sempurna yang berbeda dengan manusia lainnya, sehingga menghasilkan karakteristik kebudayaan Nias yang tertutup dari masyarakat lainnya dan memiliki hukum adat yang ketat. Keunikan kebudayaan Nias ialah penerapan sistem patrilineal dalam kemargaan yang jumlahnya mencapai 120 marga. Selain itu, keunikan lain dari kebudayaan Nias ialah musik tradisional Nias yang hanya dikembangkan di Pulau Nias.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kebudayaan Nias adalah kebudayaan khas yang berkembang di Pulau Nias oleh suku Nias.[1] Pembentukan kebudayaan Nias merupakan akibat isolasi sosial penduduk di Pulau Nias dari pulau-pulau lain di Indonesia, terutama Pulau Sumatera. Suku Nias meyakini bahwa mereka adalah manusia sempurna yang berbeda dengan manusia lainnya, sehingga menghasilkan karakteristik kebudayaan Nias yang tertutup dari masyarakat lainnya dan memiliki hukum adat yang ketat.[2] Keunikan kebudayaan Nias ialah penerapan sistem patrilineal dalam kemargaan yang jumlahnya mencapai 120 marga (lihat daftar marga Nias).[3][4] Selain itu, keunikan lain dari kebudayaan Nias ialah musik tradisional Nias yang hanya dikembangkan di Pulau Nias.[5]
Kebudayaan Nias merupakan kebudayaan khas suku Nias yang terbentuk akibat isolasi sosial penduduk asli Pulau Nias terhadap pulau-pulau lain di wilayah Indonesia. Isolasi sosial tersebut terjadi karena lokasi Pulau Nias yang terpencil dengan laut dalam sebagai pemisah utamanya dari Pulau Sumatera. Leluhur suku Nias pada zaman kuno diperkirakan berasal dari Daratan Utama Asia di wilayah bagian selatan Tiongkok. Mereka tiba di Pulau Nias tanpa singgah ke pulau lain. Perkiraan ini teramati dari warna kulit orang dari suku Nias yang lebih kuning dibandingkan dengan suku-suku lain di Indonesia disertai dengan mata sipit dan rambut lurus. Bersama dengan kedatangan leluhur suku Nias ke Pulau Nias, kebudayaan kuno yang dianut juga ikut dilestarikan secara terisolasi dari kebudayaan lain.[1]
Suku Nias meyakini bahwa manusia pertama turun dari surga dan menetap di Pulau Nias. Bersamaan dengan turunnya manusia pertama, ia membawa kebudayaan yang berlaku bagi suku Nias sebagai hukum adat. Keyakinan ini membuat suku Nias meyakini bahwa sukunya merupakan suku unggulan karena memiliki sifat kesempurnaan manusia. Di sisi lain, mereka meyakini bahwa manusia lain tidak memiliki sifat kesempurnaan manusia. Karena keyakinan ini, suku Nias berpandangan bahwa pergaulan kepada suku lain tidak diperlukan. Pandangan ini yang kemudian menimbulkan karakteristik ketertutupan pada masyarakat Nias dan pengetatan terhadap kesucian adat suku Nias.[2]
Dalam kebudayaan Nias berlaku sistem kemargaan yang menggunakan sistem patrilineal.[3][4] Penyematan marga pada anak didasarkan dari jalur keturunan ayah. Setiap anak laki-laki maupun anak perempuan dari suku Nias harus menggunakan nama marga ayahnya sebagai nama marganya.[4] Jumlah marga yang terdapat di suku Nias tercatat sebanyak 120 marga.[3]
Salah satu keunikan yang menjadi warisan budaya dari para leluhur suku Nias ialah musik tradisional Nias. Musik menjadi bagian dari kehidupan keseharian suku Nias selain berkebun, mendirikan rumah, menjaga hewan peliharaan dan berpesta. Peran musik tradisional Nias sebagai hiburan bagi suku Nias. Musik tradisional Nias menjadi musik yang unik karena hanya dikenal dan dikembangkan di Pulau Nias.[5]
Musik tradisional Nias utamanya digunakan oleh suku Nias untuk keperluan keagamaan dan upacara adat, khususnya owasa dan fangowalu. Ada juga musik tradisional Nias yang dimainkan hanya untuk hiburan, ekspresi diri dan komunikasi. Salah satu musik tradisional Nias yang disebut moli-moli hanya dimainkan untuk memberi nasihat. Ada pula musik tradisional Nias yang dimainkan ketika berburu burung dan mengusir hewan.[6]