Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Daftar kata serapan dalam bahasa Indonesia

Kata serapan dalam bahasa Indonesia adalah kata yang berasal dari bahasa lain yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia untuk memperkaya kosakata. Setiap masyarakat bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke benda-benda di sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu, tetapi manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru. Salah satu cara memenuhi keperluan itu yang sering dianggap lebih mudah adalah mengambil kata yang digunakan oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal ihwal baru itu.

[[{{Artikel daftar Wikimedia bubuhan kata}}\\:dd]] I am trying to add lint-fix in my package.json. My basic lint is "lint": "eslint --ext .js,.vue src test/unit/specs test/e2e/specs" I did try "lint-fix": "eslint --fix --ext .js,.vue src test/unit/s
Diperbarui 13 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kata serapan dalam bahasa Indonesia adalah kata yang berasal dari bahasa lain (baik itu bahasa daerah maupun bahasa luar negeri) yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia untuk memperkaya kosakata. Setiap masyarakat bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke benda-benda di sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu, tetapi manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru. Salah satu cara memenuhi keperluan itu yang sering dianggap lebih mudah adalah mengambil kata yang digunakan oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal ihwal baru itu.

Bahasa Indonesia telah menyerap banyak kata pinjaman dari bahasa lain, seperti Sanskerta, Tamil, Tionghoa, Jepang, Arab, Ibrani, Persia, Portugis, Belanda, Inggris, Prancis, Yunani, Latin, dan bahasa-bahasa Austronesia lainnya.

Bahasa Indonesia berbeda dari bentuk bahasa Melayu yang digunakan di Brunei, Malaysia, dan Singapura dalam sejumlah aspek, terutama karena pengaruh berbeda yang dialami kedua bahasa tersebut dan juga karena mayoritas penduduk Indonesia berbicara bahasa lain sebagai bahasa ibu mereka. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lingua franca bagi penutur 700 bahasa berbeda di seluruh kepulauan.

Sebaliknya, banyak kata yang berasal dari bahasa Melayu-Indonesia juga dipinjam ke dalam bahasa Inggris. Kata-kata yang dipinjam ke dalam bahasa Inggris (misalnya, bamboo, orangutan, dugong, amok, dan bahkan "cooties") umumnya masuk melalui bahasa Melayu melalui kehadiran kolonial Inggris di Malaysia dan Singapura, mirip dengan cara Belanda meminjam kata-kata dari berbagai bahasa asli Indonesia. Salah satu pengecualian adalah "bantam", yang berasal dari nama provinsi Banten di Jawa Barat (lihat Oxford American Dictionary, edisi 2005). Yang lainnya adalah "lahar" yang merupakan bahasa Jawa untuk aliran lumpur vulkanik. Kata-kata lain yang diambil ke dalam bahasa Inggris modern dari bahasa Melayu/Indonesia mungkin memiliki asal yang berbeda (misalnya, "satay" dari bahasa Tamil, atau "ketchup" dari bahasa Tionghoa).

Selama perkembangannya, berbagai istilah asli dari seluruh kepulauan masuk ke dalam bahasa tersebut. Adaptasi bahasa Melayu oleh Belanda selama periode kolonial mengakibatkan masuknya sejumlah besar kata dan kosakata pinjaman dari Belanda. Peristiwa ini secara signifikan memengaruhi bahasa Melayu asli, yang secara bertahap berkembang menjadi bahasa Indonesia modern. Sebagian besar istilah tersebut didokumentasikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.[1]

Sejarah hubungan dengan penutur

Telah berabad-abad lamanya nenek moyang penutur bahasa Indonesia berhubungan dengan berbagai bangsa di dunia. Bahasa Sanskerta tercatat terawal dibawa masuk ke Indonesia yakni sejak mula tarikh Masehi. Bahasa ini dijadikan sebagai bahasa sastra dan perantara dalam penyebaran agama Hindu dan Buddha. Agama Hindu tersebar luas di pulau Jawa pada abad ke-7 dan ke-8, lalu agama Buddha mengalami keadaan yang sama pada abad ke-8 dan ke-9.

Hubungan dengan penutur Sanskerta dan Hindi

Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia modern dan Daftar kata serapan dari bahasa Hindi dalam bahasa Indonesia

Beriringan dengan perkembangan agama Hindu itu berlangsung pula perdagangan rempah-rempah dengan bangsa India yang sebagian dari mereka penutur bahasa Hindi, sebagian yang lain orang Tamil dari India bagian selatan dan Sri Lanka bagian timur yang bahasanya menjadi perantara karya sastra yang subur. Bahasa Tamil pernah memiliki pengaruh yang kuat terhadap bahasa Melayu.

Hubungan dengan penutur Tionghoa

Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Tionghoa dalam bahasa Indonesia
Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Hakka dalam bahasa Indonesia

Hubungan ini sudah terjadi sejak abad ke-7 ketika para saudagar Cina berdagang ke Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, bahkan sampai juga ke Maluku Utara. Pada saat Kerajaan Sriwijaya muncul dan kukuh, Cina membuka hubungan diplomatik dengannya untuk mengamankan usaha perdagangan dan pelayarannya. Pada tahun 922 musafir Cina melawat ke Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Sejak abad ke-11 ratusan ribu perantau meninggalkan tanah leluhurnya dan menetap di banyak bagian Nusantara (Kepulauan Antara, sebutan bagi Indonesia).

Yang disebut dengan bahasa Tionghoa adalah bahasa di negara Cina (banyak bahasa). Empat di antara bahasa-bahasa itu yang di kenal di Indonesia yakni Hokkian, Hakka, Kanton, dan Mandarin. Kontak yang begitu lama dengan penutur bahasa Tionghoa ini mengakibatkan perolehan kata serapan yang banyak pula dari bahasa Tionghoa, tetapi penggunaannya tidak digunakan sebagai perantara keagamaan, keilmuan, dan kesusastraan di Indonesia sehingga ia tidak terpelihara keasliannya dan sangat mungkin banyak ia berbaur dengan bahasa di Indonesia. Contohnya anglo, bakso, cat, giwang, kuih, sampan, dan tauhu.

Hubungan dengan penutur Arab dan Persia

Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia dan Daftar kata serapan dari bahasa Persia dalam bahasa Indonesia

Bahasa Arab dibawa ke Indonesia mulai abad ketujuh oleh saudagar dari Persia, India, dan Arab yang juga menjadi penyebar agama Islam. Kosakata bahasa Arab yang merupakan bahasa pengungkapan agama Islam mula berpengaruh ke dalam bahasa Melayu terutama sejak abad ke-12 saat banyak raja memeluk agama Islam. Allah adalah kata untuk Tuhan bahkan dalam terjemahan Alkitab Kristen. Banyak penerjemah Alkitab awal, ketika mereka menemukan beberapa kata Ibrani atau nama diri yang tidak biasa, menggunakan kata-kata serumpun dari bahasa Arab. Dalam terjemahan yang lebih baru, praktik ini telah dihentikan. Mereka sekarang beralih ke nama-nama Yunani atau menggunakan kata Ibrani aslinya. Misalnya, nama Yesus awalnya diterjemahkan sebagai 'Isa, tetapi sekarang dieja sebagai Yesus.

Kata-kata serapan dari bahasa Arab misalnya abad, bandar, daftar, edar, fasik, gairah, hadiah, salji, kafilah, hakim, ahli, ibarat, jilid, kudus, mimbar, sehat, taat, dan wajah. Karena banyak di antara pedagang itu adalah penutur bahasa Parsi, tidak sedikit kosakata Parsi masuk ke dalam bahasa Melayu, seperti acar, baju, domba, kenduri, piala, saudagar, dan topan.

Hubungan dengan penutur Portugis

Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Portugis dalam bahasa Indonesia

Bahasa Portugis dikenali masyarakat penutur bahasa Melayu sejak bangsa Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511 setelah setahun sebelumnya ia menduduki Goa. Portugis dikecundangi atas saingan dengan Belanda yang datang kemudian dan menyingkir ke daerah timur Nusantara. Meski demikian, pada abad ke-17 bahasa Portugis sudah menjadi bahasa perhubungan antaretnis di samping bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Portugis seperti jendela, beranda, algojo, bangku, dadu, gardu, meja, picu, renda, dan tenda.

Hubungan dengan penutur Belanda

Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia

Belanda mendatangi Nusantara pada awal abad ke-17 ketika ia mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1606, kemudian ia menuju ke pulau Jawa dan daerah lain di sebelah barat. Sejak itulah, secara bertahap Belanda menguasai banyak daerah di Indonesia. Bahasa Belanda tidak sepenuhnya dapat menggeser kedudukan bahasa Portugis karena pada dasarnya bahasa Belanda lebih sukar untuk dipelajari, lagipula orang-orang Belanda sendiri tidak suka membuka diri bagi orang-orang yang ingin mempelajari kebudayaan Belanda termasuklah bahasanya. Hanya saja pendudukannya semakin luas meliputi hampir di seluruh negeri dalam kurun waktu yang lama (350 tahun penjajahan Belanda di Indonesia). Belanda juga merupakan sumber utama untuk menimba ilmu bagi kaum pergerakan. Maka itu, komunikasi gagasan kenegaraan pada saat negara Indonesia didirikan banyak mengacu pada bahasa Belanda. Kata-kata serapan dari bahasa Belanda seperti handuk, kualitas, laci, balkoni, abonemen, bangkrut, dongkrak, ember, formulir, dan tekor.

Hubungan dengan penutur Inggris

Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia

Bangsa Inggris tercatat pernah menduduki Indonesia meski tidak lama. Raffles menginvasi Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1811 dan dia bertugas di sana selama lima tahun. Sebelum dipindahkan ke Singapura, dia juga bertugas di Bengkulu pada tahun 1818. Sesungguhnya pada tahun 1696 pun Inggris pernah mengirim utusan Ralph Orp ke Padang (Sumatera Barat), tetapi dia mendarat di Bengkulu dan menetap di sana. Di Bengkulu juga dibangun Benteng Marlborough pada tahun 1714-1719. Itu bererti sedikit banyak hubungan dengan bangsa Inggris telah terjadi lama di daerah yang dekat dengan pusat pemakaian bahasa Melayu. Walaupun hanya menjajah Indonesia selama 8 tahun, bahasa Indonesia menyerap 1.610 kata dari bahasa Inggris lebih banyak daripada bahasa Arab (1.495 kata) tapi lebih sedikit daripada bahasa Belanda (3.228 kata) ini terjadi karena penggunaan bahasa Inggris yang mendunia.

Hubungan dengan penutur Jepang

Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Jepang dalam bahasa Indonesia

Pendudukan Jepang di Indonesia yang selama tiga setengah tahun tidak meninggalkan warisan yang dapat bertahan melewati beberapa angkatan. Kata-kata serapan dari bahasa Jepang yang digunakan umumnya bukanlah hasil hubungan bahasa pada masa pendudukan, melainkan imbas kekuatan budaya, ekonomi dan teknologinya.

Hubungan dengan penutur Yunani

Artikel utama: Daftar kata serapan dari bahasa Yunani dalam bahasa Indonesia

Kosakata dalam bidang perpolitikan dan nama satuan banyak diserap dari bahasa Yunani. Seperti demokrasi dan filosofi, untuk satuan seperti meter, gram, liter, dan lain-lain. Juga nama-nama unsur dari Hidrogen sampai Oganeson.

Hubungan dengan penutur Ibrani

Kata serapan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Indonesia umumnya masuk melalui perantara bahasa Arab, atau berbagi akar Semit yang sama. Kata serapan dari bahasa Ibrani kebanyakan umumnya digunakan dalam keagamaan dan diskusi teologis, khususnya Kekristenan atau deskripsi sejarah dan budaya Yahudi. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Ibrani seperti betel, haleluya, hosanna, imanuel, kosher, mazmur, mesias, rabi, sabat, shalom, tabernakel, Tanakh, Talmud, dan Yahwe.

Perbendaharaan kata serapan

Di antara bahasa-bahasa di atas, ada beberapa yang tidak lagi menjadi sumber penyerapan kata baru yaitu bahasa Tamil, Parsi, Hindi, dan Portugis. Kedudukan mereka telah tergeser oleh bahasa Inggris yang penggunaannya lebih mendunia. Walaupun begitu, bukan bererti hanya bahasa Inggris yang menjadi rujukan penyerapan bahasa Indonesia pada masa yang akan datang.

Penyerapan kata dari bahasa Cina sampai sekarang masih terjadi di bidang pariboga termasuk bahasa Jepang yang agaknya juga potensial menjadi sumber penyerapan.

Di antara penutur bahasa Indonesia beranggapan bahwa bahasa Sanskerta yang sudah ’mati’ itu merupakan sesuatu yang bernilai tinggi dan klasik. Alasan itulah yang menjadi pendorong penghidupan kembali bahasa tersebut. Kata-kata Sanskerta sering diserap dari sumber yang tidak langsung, yaitu Jawa Kuno. Sistem morfologi bahasa Jawa Kuno lebih dekat kepada bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta-Jawa Kuna misalnya acara, bahtera, cakrawala, darma, gapura, jaksa, kerja, lambat, menteri, perkasa, sangsi, tatkala, dan wanita.

Bahasa Arab menjadi sumber serapan ungkapan, terutama dalam bidang agama Islam. Kata rela (senang hati) dan korban (yang menderita akibat suatu kejadian), misalnya, yang sudah disesuaikan lafalnya ke dalam bahasa Melayu pada zamannya dan yang kemudian juga mengalami pergeseran makna, masing-masing adalah kata yang seasal dengan rida (perkenan) dan kurban (persembahan kepada Tuhan). Dua kata terakhir berkaitan dengan konsep keagamaan. Ia umumnya dipelihara betul sehingga makna (kadang-kadang juga bentuknya) cenderung tidak mengalami perubahan.

Sebelum Ch. A. van Ophuijsen menerbitkan sistem ejaan untuk bahasa Melayu pada tahun 1910, cara menulis tidak menjadi pertimbangan penyesuaian kata serapan. Umumnya kata serapan disesuaikan pada lafalnya saja.

Meski kontak budaya dengan penutur bahasa-bahasa itu berkesan silih berganti, proses penyerapan itu adakalanya pada kurun waktu yang tmpang tindih sehingga orang-orang dapat mengenali suatu kata serapan berasal dari bahasa yang mereka kenal saja, misalnya pompa dan kapten sebagai serapan dari bahasa Portugis, Belanda, atau Inggris. Kata alkohol yang sebenar asalnya dari bahasa Arab, tetapi sebagian besar orang agaknya mengenal kata itu berasal dari bahasa Belanda.

Kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam kosakata Indonesia umumnya terjadi pada zaman kemerdekaan Indonesia, tetapi ada juga kata-kata Inggris yang sudah dikenal, diserap, dan disesuaikan pelafalannya ke dalam bahasa Melayu sejak zaman Belanda yang pada saat Inggris berkoloni di Indonesia antara masa kolonialisme Belanda.. Kata-kata itu seperti kalar, sepanar, dan wesket. Juga badminton, kiper, gol, bridge.

Sesudah Indonesia merdeka, pengaruh bahasa Belanda mula surut sehingga kata-kata serapan yang sebetulnya berasal dari bahasa Belanda sumbernya tidak disadari betul. Bahkan sampai dengan sekarang yang lebih dikenal adalah bahasa Inggris.

Daftar kata serapan dalam bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa asing maupun bahasa daerah.[2]

Asal Bahasa Jumlah Kata
Belanda 3.280 kata
Arab 1.495 kata
Inggris 1.610 kata
Sanskerta 677 kata
Tionghoa 290 kata
Portugis 131 kata
Tamil 83 kata
Parsi 63 kata
Hindi 7 kata

Sumber

Sitasi

  1. ↑ Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Balai Pustaka: 1999, halaman 1185 s.d. 1188 berisikan Pendahuluan buku Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1996.
  2. ↑ Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (1996) yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (masa kini bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa).

Bibliografi

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Balai Pustaka: 1999, halaman 1185 s.d. 1188 berisikan Pendahuluan buku Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1996 (dengan sedikit penyaduran tanpa mengubah maksud dan tujuan seseungguhnya dari buku ini).

Lihat pula

  • Bahasa Indonesia
  • Bahasa Melayu
  • Daftar kata serapan

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah hubungan dengan penutur
  2. Hubungan dengan penutur Sanskerta dan Hindi
  3. Hubungan dengan penutur Tionghoa
  4. Hubungan dengan penutur Arab dan Persia
  5. Hubungan dengan penutur Portugis
  6. Hubungan dengan penutur Belanda
  7. Hubungan dengan penutur Inggris
  8. Hubungan dengan penutur Jepang
  9. Hubungan dengan penutur Yunani
  10. Hubungan dengan penutur Ibrani
  11. Perbendaharaan kata serapan
  12. Daftar kata serapan dalam bahasa Indonesia
  13. Sumber
  14. Sitasi
  15. Bibliografi
  16. Lihat pula
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026