Kasab merupakan seni kerajinan tradisional khas Aceh yang memanfaatkan teknik menyulam benang emas atau perak pada kain beludru. Seni kerajinan tangan tradisional ini telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK 414/P/2022.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kasab merupakan seni kerajinan tradisional khas Aceh yang memanfaatkan teknik menyulam benang emas atau perak pada kain beludru.[1][2] Seni kerajinan tangan tradisional ini telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK 414/P/2022.[3]
Kasab sebagai kerajinan tangan tradisional Aceh telah dikenali sejak masa kerajaan pada abad 15 M. Sebelumnya, kerajinan ini berupa dekorasi gantung berhiaskan sulaman benang emas. Konon, pada tahun 1602, Sultan Alauddin Syah pernah mengirimkan tiga helai kasab berhias emas kepada Elizabeth I dari Inggris.[2]
Proses pembuatan kasab dilakukan secara manual dengan menerapkan teknik sulam timbul. Dalam proses ini, benang emas atau perak dijahit di atas permukaan kain beludru[4] dengan pola-pola tertentu yang telah dirancang sebelumnya. Teknik ini memberikan kesan dimensi dan kemewahan pada permukaan kain. Karena tidak menggunakan mesin bordir modern, pengerjaan kasab bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu, tergantung pada ukuran kasab.[1]
Motif yang digunakan dalam kerajinan kasab tidak memiliki banyak perubahan, umumnya mencakup unsur flora seperti bunga, buah, daun, kelopak, dan sulur tanaman, ataupun berupa pola geometris seperti lingkaran, garis dan kerucut. Kerajinan kasab yang dihasilkan di Desa Reusak biasanya memiliki motif seperti taloe ie, puta taloe, bungong meutaloe, putik, pucok pakue, pucok reubong, awan si oen, awan meucaneuk, bungong bambang, bungong geulima, bungong seulanga,[1] oun rabub, oun ubi, bohaneuh, sisek meuria, dan oun paku. Beberapa motif juga diciptakan dengan tema fauna, misalnya motif manouk, ticem, gigo daruet, sisek naga, merpati, angsa, dan sebagainya. Selain pemberian motif, kasab juga biasanya dihiasi dengan manik-manik berwarna emas.[2]
Terdapat empat warna dominan yang digunakan dalam kerajinan kasab, yakni kuning, merah, hijau, dan hitam yang pada masa lampau menjadi simbol status sosial masyarakat Aceh. Warna kuning diperuntukkan bagi raja dan mencerminkan kemuliaan, kegembiraan dan status kebangsawanan. Warna merah mewakili hulubalang atau panglima kerajaan yang memiliki semangat, keberanian, dan emosi yang menggebu. Warna hijau digunakan oleh ulama yang membawa nilai spiritualitas, kesuburan, dan identitas keislaman.[1] Adapun warna hitam diperuntukkan bagi masyarakat daerah.[2]
Kerajinan sulam kasab dikembangkan dengan membuat produk seperti tirai,[2] sange (penutup hidangan),[1] tiang, sarung bantal atau guling, dan lainnya.[4] Kerajinan ini berguna sebagai dekorasi dalam upacara adat dan sarana penyampaian informasi dalam prosesi adat.[2]