Kampanye Romawi di Germania adalah serangkaian konflik antara Orang-orang Jermanik dan Kekaisaran Romawi. Ketegangan dimulai pada 17/16 SM lewat Clades Lolliana, saat Legiun ke-5 di bawah Marcus Lollius dikalahkan oleh suku Sicambri, Usipetes, dan Tencteri. Sebagai tanggapan, Kaisar Augustus memperluas infrastruktur militer di Galia. Jenderalnya, Drusus, mulai membangun benteng di sepanjang Sungai Rhein pada 13 SM dan melancarkan serangan balasan pada 12 SM.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kampanye Romawi di Germania (12 SM – 16 M) adalah serangkaian konflik antara Orang-orang Jermanik dan Kekaisaran Romawi. Ketegangan dimulai pada 17/16 SM lewat Clades Lolliana, saat Legiun ke-5 di bawah Marcus Lollius dikalahkan oleh suku Sicambri, Usipetes, dan Tencteri. Sebagai tanggapan, Kaisar Augustus memperluas infrastruktur militer di Galia. Jenderalnya, Drusus, mulai membangun benteng di sepanjang Sungai Rhein pada 13 SM dan melancarkan serangan balasan pada 12 SM.
| Kampanye Romawi di Germania | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Perang Romawi–Germanik | |||||||
Peta Germania pada tahun 50 Masehi | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
| Orang-orang Jermanik (termasuk Cherusci di bawah pimpinan Arminius) | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
| ||||||
| Kekuatan | |||||||
| Legiun Romawi (XVII, XVIII, XIX) di bawah Varus | Pasukan gabungan Orang-orang Jermanik | ||||||
| Korban | |||||||
| Kehilangan tiga legiun (XVII, XVIII, XIX) (Pertempuran Hutan Teutoburg) | Tidak diketahui | ||||||
Drusus memimpin tiga kampanye lagi melawan suku-suku Jermanik dari tahun 11 hingga 9 SM. Pada 10 SM, ia dipuji karena menjadi orang Romawi yang mencapai wilayah paling timur di Eropa Utara. Jenderal-jenderal berikutnya terus melancarkan serangan hingga tahun 16 M, terutama Varus pada tahun 9 M, yang pasukannya disergap dan nyaris hancur oleh Arminius dalam Pertempuran Hutan Teutoburg. Arminius, pemimpin Cherusci dan mantan sekutu Romawi, menyebabkan ekspansi Romawi ke Germania Magna terhenti. Kampanye setelahnya bertujuan membalas bencana ini, yang dikenal sebagai “Clades Variana.” Ekspedisi besar terakhir dipimpin oleh Germanicus pada tahun 16 M.
Pada 27 SM, Augustus menjadi princeps dan mengirim Agrippa untuk memadamkan pemberontakan di Galia. Selama kerusuhan itu, senjata diselundupkan dari Germania ke Galia. Saat itu, kehadiran militer Romawi di wilayah Rhein masih lemah dan hanya melakukan ekspedisi hukuman terhadap serangan. Setelah Galia berhasil ditenangkan, Agrippa memperbaiki infrastruktur, terutama jaringan jalan. Antara tahun 19–17 SM, beberapa benteng dibangun di sepanjang Rhein karena Augustus ingin memperluas wilayah ke Germania. Pada 17/16 SM, suku Sicambri, Usipetes, dan Tencteri mengalahkan Legiun ke-5 dan merebut lambang elangnya, yang mendorong Augustus memperkuat pasukan di Galia. Dari tahun 16–13 SM, Augustus mendirikan tempat pencetakan uang di Lugdunum, mengatur sensus, dan mempersiapkan pangkalan militer untuk kampanye mendatang.
Nero Claudius Drusus, jenderal berpengalaman sekaligus anak tiri Kaisar Augustus, diangkat sebagai gubernur Galia pada tahun 13 SM. Setahun kemudian, wilayah Galia mengalami pemberontakan akibat kebijakan sensus dan pajak yang diterapkan oleh Augustus. Selama sebagian besar tahun itu, Drusus melakukan kegiatan pengintaian, memperkuat jalur suplai dan komunikasi, serta membangun sejumlah benteng di sepanjang Sungai Rhein seperti Argentoratum (sekarang Strasbourg), Moguntiacum (Mainz), dan Castra Vetera (Xanten). Drusus memulai operasi militernya setelah suku Sicambri dan Usipetes menyerbu wilayah Galia. Ia berhasil memukul mundur mereka, lalu melakukan serangan balasan dengan menyeberangi Rhein dan menginvasi tanah suku Usipetes. Setelah itu, ia menyerbu wilayah Sicambri, mengobrak-abrik tanah mereka, dan kemudian menaklukkan suku Frisii di wilayah yang sekarang menjadi Belanda. Ia juga melancarkan serangan terhadap suku Chauci di wilayah yang kini dikenal sebagai Saxony Bawah, Jerman. Setelah kampanye itu, menjelang musim dingin, ia kembali ke Roma.
Pada musim semi tahun berikutnya, Drusus meluncurkan kampanye keduanya. Ia kembali menaklukkan Usipetes dan mendorong pasukannya hingga Sungai Weser (Visurgis). Ia melintasi wilayah Cherusci, yang membentang dari Sungai Ems hingga Elbe, dan mencapai titik paling timur yang pernah dicapai jenderal Romawi saat itu. Namun, karena kekurangan logistik dan datangnya musim dingin, ia memutuskan untuk kembali. Di perjalanan pulang, pasukannya nyaris hancur dalam penyergapan oleh suku Cherusci di Arbalo. Tahun-tahun berikutnya, Drusus kembali memimpin kampanye militer di wilayah Jerman. Ia memimpin ekspedisi melawan suku Chatti dan Cherusci, bahkan mencapai Sungai Elbe. Namun, pada tahun 9 SM, setelah berhasil menaklukkan wilayah luas dan bertempur sengit melawan suku-suku lokal, Drusus mengalami kecelakaan jatuh dari kuda dan terluka parah. Luka tersebut terinfeksi dan berkembang menjadi gangren. Ia wafat setelah 30 hari dalam keadaan sakit. Saudara tirinya, Tiberius, tiba tepat waktu untuk menyaksikan detik-detik terakhir Drusus.


Setelah kematian Drusus, Tiberius mengambil alih komando dan melanjutkan kampanye di Germania. Ia berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah antara Rhein dan Elbe, terutama melawan suku Sicambri yang memberontak. Banyak dari mereka kemudian dipindahkan ke wilayah Romawi di sebelah barat Rhein agar bisa lebih mudah diawasi. Meskipun propaganda Romawi mengklaim bahwa wilayah Germania telah ditaklukkan sepenuhnya, kenyataannya perlawanan dari suku-suku lokal masih berlanjut. Beberapa jenderal lain seperti Lucius Domitius Ahenobarbus dan Marcus Vinicius juga memimpin ekspedisi ke wilayah Jerman. Infrastruktur seperti jalan dan jembatan dibangun, termasuk pontes longi (jalan lintas rawa). Namun, suku Cherusci dan lainnya tetap menolak kekuasaan Romawi. Pada awal abad pertama Masehi, Tiberius kembali memimpin ekspedisi, kali ini bersama anak angkatnya, Germanicus. Mereka melakukan serangkaian kampanye militer untuk menghukum dan mengendalikan suku-suku yang memberontak.


Pada tahun 9 M, gubernur Publius Quinctilius Varus membawa tiga legiun Romawi ke Germania. Ia berusaha memaksakan sistem administrasi dan pemungutan pajak ala Romawi. Namun, Arminius dari suku Cherusci, yang semula menjadi sekutu Romawi, ternyata sedang merencanakan pemberontakan. Dalam perjalanan kembali ke markas, pasukan Varus disergap oleh gabungan suku-suku Jerman dalam Pertempuran Hutan Teutoburg. Tiga legiun Romawi dihancurkan, dan Varus bunuh diri. Kekalahan ini mengguncang Roma. Augustus mengirim kembali Tiberius untuk mengamankan perbatasan Rhein. Tiberius memperkuat benteng-benteng dan memulai serangan balasan, tetapi bersifat defensif dan tidak bertujuan menaklukkan kembali wilayah Jerman. Pada akhirnya, Germanicus memimpin kampanye balasan antara tahun 14 hingga 16 M, dan berhasil meraih kemenangan dalam beberapa pertempuran besar, termasuk di Idistaviso. Namun, karena mahalnya biaya dan risiko perang, serta mungkin karena perintah Augustus yang ingin menghentikan ekspansi, wilayah Jerman akhirnya tidak dianeksasi. Roma mundur dari Jerman dan mempertahankan batasnya di Sungai Rhein.
Tiberius memutuskan untuk menangguhkan semua kegiatan militer di luar Sungai Rhine, membiarkan suku-suku Jerman saling berselisih atas wilayah mereka dan bertempur satu sama lain. Dia lebih memilih untuk menjalin aliansi dengan suku-suku tertentu untuk mempertahankan konflik antar mereka. Secara keseluruhan, ia mencapai lebih banyak tujuan melalui hubungan diplomatik daripada keterlibatannya langsung. Secara umum, terlalu berisiko untuk melangkah lebih jauh ke Jerman, dan terlalu mahal dari segi sumber daya ekonomi dan militer bagi Roma untuk dapat pulih bahkan jika mereka menaklukkan seluruh wilayah antara Rhine dan Elbe.
Kemungkinan ada upaya baru untuk menginvasi Germania pada masa pemerintahan Claudius, dengan ekspedisi Corbulo pada tahun 47, yang terhenti setelah sukses awal melawan suku Frisii dan Chauci. Tidak sampai masa pemerintahan Domitian bahwa wilayah baru berhasil diperoleh, antara lembah tinggi Rhine dan Danube, setelah kampanye yang dilaksanakan oleh jenderalnya antara tahun 83 dan 85 (yang dikenal dengan Agri Decumates). Pada tahun 85, wilayah di sisi barat Rhine disusun menjadi provinsi Romawi Germania Inferior dan Germania Superior, sementara provinsi Raetia didirikan di selatan, yang kini mencakup Bavaria, Swiss, dan Austria pada tahun 15 SM. Kekaisaran Romawi tidak akan melakukan penyerbuan besar lainnya ke Germania Magna hingga masa pemerintahan Marcus Aurelius (161–180) selama Perang Marcomannic.