Sde Teiman adalah sebuah pangkalan militer Israel yang terletak di Negev, dekat perbatasan dengan Jalur Gaza. Selama perang Israel–Hamas dan genosida Gaza, penggunaannya sebagai kamp konsentrasi meningkat dua kali lipat dan menuai perhatian internasional karena pelanggaran hak asasi manusia sistematis terhadap tahanan Palestina dari Jalur Gaza.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Lokasi | Gurun Negev, Distrik Selatan, Israel |
|---|---|
| Koordinat | 31°16′24″N 34°42′28″E / 31.27333°N 34.70778°E / 31.27333; 34.70778[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Kamp_tahanan_Sde_Teiman¶ms=31_16_24_N_34_42_28_E_type:landmark_region:IL <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">31°16′24″N</span> <span class=\"longitude\">34°42′28″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">31.27333°N 34.70778°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">31.27333; 34.70778</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBA\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt5\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBQ\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwBg\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Kamp_tahanan_Sde_Teiman&params=31_16_24_N_34_42_28_E_type:landmark_region:IL\" class=\"external text\" id=\"mwBw\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwCA\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCQ\"><span class=\"latitude\" id=\"mwCg\">31°16′24″N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwCw\">34°42′28″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDQ\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDg\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwDw\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEA\">31.27333°N 34.70778°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEQ\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEg\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwEw\">31.27333; 34.70778</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFA\"/></span>"}' id="mwFQ"/> |
| Status | Beroperasi |
| Dibuka | 1 Desember 2023 |
| Pengelola | Militer Israel |
Sde Teiman (bahasa Ibrani: שדה תימןcode: he is deprecated ) adalah sebuah pangkalan militer Israel yang terletak di Negev, dekat perbatasan dengan Jalur Gaza. Selama perang Israel–Hamas dan genosida Gaza, penggunaannya sebagai kamp konsentrasi meningkat dua kali lipat dan menuai perhatian internasional karena pelanggaran hak asasi manusia sistematis terhadap tahanan Palestina dari Jalur Gaza.[1][2][3]
Beberapa tahanan Palestina yang dibebaskan telah bersaksi bahwa mereka dan orang lain, termasuk anak-anak, menjadi korban pemerkosaan, pemerkosaan berkelompok, bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya serta penyiksaan psikologis dan fisik oleh tentara dan staf medis Israel baik pria dan wanita.[4][5][6][3] Beberapa laporan juga menceritakan tahanan yang mengalami kelalaian medis atas cedera yang diderita, yang mengharuskan mereka menjalani amputasi lengan dan kaki. Kesaksian mereka telah dikuatkan oleh staf Israel yang membocorkan rahasia serta investigasi CNN.[1] Tahanan yang dianiaya juga termasuk para tenaga kesehatan Palestina yang ditawan selama penyerbuan brutal Israel di rumah sakit Gaza.[7]
Dalam satu insiden yang dipublikasikan secara luas, rekaman CCTV yang bocor menunjukkan tentara Israel memperkosa seorang tahanan Palestina secara beramai-ramai dengan tongkat logam yang menyebabkan luka serius pada anus dan paru-parunya.[8][9][10] Menyebarnya video tersebut terjadi beberapa pekan setelah sejumlah tentara yang diduga sebagai pelakunya ditahan untuk diinterogasi, yang kemudian menimbulkan serbuan pengunjuk rasa dan anggota parlemen kanan jauh ke kamp tersebut sebagai bentuk protes pada akhir Juli 2024.[11]
Sebagian dari pangkalan militer tersebut digunakan sebagai fasilitas kamp penahanan setelah disahkannya Undang-Undang Tentara Ilegal oleh Knesset pada Desember 2023.[1] Kamp tersebut dibagi menjadi sebuah area luas berpagar di mana hingga 200 tahanan ditutup matanya dan diborgol, dan sebuah rumah sakit lapangan berupa tenda-tenda tempat puluhan tahanan yang diborgol ditahan.[2] Undang-undang tersebut mengizinkan Tentara Israel untuk menahan orang tanpa surat perintah penangkapan selama 45 hari, setelah itu para tahanan harus dipindahkan ke Layanan Penjara Israel.[1] Hingga 10 Mei 2024, IDF telah mengakui dua kamp serupa: Penjara Ofer dan sebuah penjara di Anatot, keduanya di Tepi Barat yang diduduki.[1] Sde Teiman dibagi menjadi dua bagian: tempat tertutup dan rumah sakit lapangan.[2][1] Terdapat pula bangunan tambahan tempat interogasi berlangsung.[12] Sejak didirikan, ribuan tentara Israel, baik reguler maupun cadangan, telah bertugas sebagai sipir di sana.[13]
Semua warga Gaza yang ditahan oleh Israel sejak serangan yang dipimpin Hamas pada tahun 2023 terhadap Israel diklasifikasikan sebagai tentara ilegal, bukan tawanan perang, yang membuat mereka tak mendapat hak-hak tertentu seperti bantuan pengacara.[2] Sebagian besar tahanan, yang dituduh sebagai anggota Hamas, ditahan tanpa dakwaan pengadilan.[2] Penggolongan ini diterapkan pada semua warga Gaza yang ditahan oleh Israel sejak Oktober 2023, yang menurut The Guardian berjumlah 849 orang hingga April 2024.[2] Seorang dokter yang bekerja di Sde Teiman menyatakan bahwa dia tidak tahu mengapa banyak tawanan yang ditemuinya ditawan oleh militer; di antara mereka yang dirawat adalah seorang yang sedang lumpuh, seorang pria dengan berat 300 pon (140 kg), dan seorang lainnya yang, sejak kecil, harus bernapas dengan bantuan selang di lehernya.[12]
Pada bulan Desember 2023, harian Israel Haaretz melaporkan bahwa ratusan warga Palestina dari Gaza ditahan di Sde Teiman dan beberapa dari mereka meninggal karena alasan yang tidak diketahui. Para tahanan diinterogasi, ditutup matanya, dan diborgol, sementara lampu dibiarkan menyala sepanjang waktu.[14]
Pada tanggal 7 Maret 2024, Haaretz melaporkan bahwa 27 tahanan dari Gaza telah meninggal dalam tahanan Israel sejak dimulainya perang Israel-Hamas, termasuk beberapa dari Sde Teiman.[15] Pada bulan Mei, pejabat penjara mengatakan kepada The New York Times bahwa sekitar 4.000 warga Gaza telah ditahan di Sde Teiman sejak Oktober 2023. Dari jumlah tersebut, 70% telah ditahan untuk penyelidikan lebih lanjut, 1.200 telah dipulangkan ke Gaza, dan 35 telah meninggal.[12]
Pada bulan Oktober 2024, The Guardian melaporkan bahwa pejabat dari badan kemanusiaan utama AS, USAID, menghadiri pertemuan rutin di Sde Teiman. Mulai bulan Juli 2024, Israel membentuk "Dewan Koordinasi Bersama" untuk menyetujui operasi bantuan ke Gaza, sebuah badan yang bertemu di Sde Teiman dan berkoordinasi dengan pejabat AS di sana. Dalam dokumen internal USAID yang dilihat oleh The Guardian, "nama pangkalan tersebut tertaut ke entri Wikipedia bahasa Inggris, yang menampilkan foto-foto tahanan Palestina yang ditutup matanya dan merinci perlakuan buruk terhadap mereka."[16]
Laporan Amnesty International yang dirilis pada Juli 2024 memuat laporan penyiksaan dari tahanan Sde Teiman yang konsisten dengan laporan sebelumnya. Mereka mewawancarai seorang anak berusia 14 tahun yang menyatakan bahwa para interogator telah memukulinya, menyundutnya dengan rokok, dan menutup mata serta memborgolnya.[17]
Pada Mei 2024, tiga karyawan Israel di kamp yang tak disebutkan namanya berbicara kepada CNN sebagai pengungkap fakta, yang mana mereka membenarkan dan turut melengkapi laporan penyiksaan dan kondisi buruk yang telah digambarkan oleh beberapa tawanan yang telah dibebaskan. Para pengungkap fakta merinci kandang tempat para tahanan ditutup mata dan tidak diizinkan untuk berbicara atau bergerak. Gambar yang bocor ke CNN menampilkan sekelompok pria berbaris mengenakan pakaian olahraga abu-abu dengan mata ditutup, duduk di atas kasur yang sangat tipis, dikelilingi oleh pagar berkawat duri.[1][18]
Hukuman yang diberikan termasuk pemukulan dan disuruh mengangkat tangan dalam posisi stres, kadang diikat dengan ikat kabel ke pagar, selama lebih dari satu jam.[1][18] Dalam apa yang disebut oleh salah satu tahanan yang dibebaskan sebagai "penyiksaan malam hari," para penjaga akan melakukan penggeledahan rutin dengan anjing dan granat setrum saat para tawanan sedang tertidur.[1] Para tawanan hanya diberi makan sebuah mentimun, beberapa potong roti, dan secangkir keju sehari.[2]
Beberapa tahanan Palestina yang telah kembali ke Gaza melaporkan kepada UNRWA dan New York Times bahwa tongkat logam digunakan untuk melukai dengan menusuk anus tahanan yang sedang diinterogasi dan beberapa tahanan melaporkan penggunaan sengatan listrik, terkadang dipaksa untuk "duduk di atas kursi listrik".[12][19]
Pada tanggal 29 Juli 2024, polisi militer Israel menahan sembilan tentara untuk interogasi sebagai bagian dari penyelidikan atas dugaan kasus penganiayaan terhadap seorang tahanan Palestina, yang menurut The Times of Israel menunjukkan "tanda-tanda penganiayaan serius, termasuk pada anusnya".[11] Sebagai tanggapan, politikus fasis, termasuk Menteri Warisan Amihai Eliyahu dan Anggota Knesset Zvi Sukkot mengajak para pendukung mereka untuk berunjuk rasa di Sde Teiman menentang penahanan kesembilan tentara tersebut.[20] Sukkot, Eliyahu, dan Anggota Knesset Nissim Vaturi bergabung dengan para pengunjuk rasa sayap menerobos Sde Teiman secara ilegal, sementara beberapa jam kemudian pangkalan militer Israel di Beit Lid juga dibobol oleh aktivis sayap kanan setelah diketahui bahwa para penjinayah tersebut ditahan di sana.[20]
Berbagai politikus sayap kanan telah mengutuk penahanan tentara Israel: Menteri Kehakiman Yariv Levin mengatakan bahwa "gambar-gambar kasar tentara yang ditangkap" "tidak dapat diterima"; Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mengatakan bahwa penahanan tentara tersebut "memalukan" dan meminta "otoritas militer untuk mendukung para tentara … Tentara perlu mendapatkan dukungan penuh dari kita"; Menteri Ekonomi Nir Barkat menyatakan: "Saya mendukung para prajurit kita", sambil mengkritik peristiwa tersebut sebagai "persidangan sandiwara"; Menteri Perhubungan Miri Regev berkomentar bahwa penahanan tentara Israel "berbahaya" selama perang berlangsung, dan memperingatkan dakwaan militer yang "menenangkan musuh kita".[21] Secara terpisah, Anggota Knesset Hanoch Milwidsky berkoar di Knesset bahwa adalah boleh untuk melakukan pelecehan seksual terhadap pasukan komandan Hamas dari Nukhba: "...semuanya boleh untuk dilakukan. Semuanya."[22]
Ibrahim Salem, yang muncul dalam salah satu foto pertama yang bocor dari kamp penahanan, ditahan di sana selama 52 hari tanpa dakwaan lalu dibebaskan pada awal Agustus 2024.[4][5] Ia melaporkan penyiksaan yang meluas, termasuk oleh tenaga kesehatan, berupa sengatan listrik selama interogasi, pelecehan seksual, pemukulan bertubi-tubi, penelanjangan, sentuhan di alat kelamin, dan seringnya pemerkosaan dan pemerkosaan berkelompok yang dilakukan oleh perwira baik pria dan wanita.[4] Anak-anak juga menjadi korban pemerkosaan.[5] Dalam satu kejadian, seorang tahanan berusia 40-an diborgol dan dipaksa membungkuk di atas meja sementara seorang tentara wanita memasukkan jari-jarinya dan benda-benda lain ke dalam duburnya. Jika ia bergerak, tentara pria lain yang ada di hadapannya akan memukul dan memaksanya untuk bertahan dalam posisi itu.[5] Menurut Salem, "Sebagian besar tahanan akan keluar dengan luka di dubur [yang disebabkan oleh pemerkosaan berkelompok]."[5] Seorang dokter di Sde Teiman yang memeriksa seorang tahanan yang mengalami pelecehan seksual menyatakan, "Saya tidak percaya seorang sipir Israel dapat bertindak seperti itu".[23] Sebuah video lain yang bocor pada bulan Agustus 2024 menampilkan tentara Israel melakukan kekerasan seksual terhadap seorang tahanan.[24]
Walid Khalili, seorang paramedis dan pengemudi ambulans dari Lembaga Bantuan Medis Palestina yang ditahan di Sde Teiman selama 20 hari tanpa dakwaan, menggambarkan penganiayaan berat oleh tentara Israel. Diculik dari Tel al-Hawa ke kamp konsentrasi, ia dipaksa memakai popok dan ditempatkan di sebuah bangunan besar seperti gudang dengan rantai yang tergantung di langit-langit. Tawanan lain, yang juga memakai popok digantung pada rantai dengan dikait menggunakan borgol logam. Khalili menggambarkan dirinya dirantai, disetrum saat mengenakan pakaian dan ikat kepala yang dihubungkan dengan kabel, dan menjadi sasaran pemukulan. Ia menceritakan, "Dunia berputar, dan saya pingsan. Mereka memukul saya dengan tongkat... Setiap kali ditanya, saya disetrum untuk membangunkan saya. Ia mengatakan kepada saya untuk mengaku dan kami akan berhenti menyiksa Anda." Ia mengalami sengatan listrik setiap dua hari, posisi stres, dan disiram air dingin. Sebelum diinterogasi, ia diberi obat yang tidak dikenal yang membuatnya mengalami halusinasi dan disorientasi. Ia melaporkan bahwa seorang interogator yang fasih berbahasa Arab menanyainya tentang sandera, mengancam akan mencelakai keluarganya jika ia tidak mengaku, dan "mengatakan kepada saya berapa banyak anak yang saya miliki, semua nama mereka, alamat saya." Ia tidak menerima perawatan medis meskipun tulang rusuknya patah, menyaksikan kaki seorang tahanan diamputasi karena diborgol, dan melihat tahanan lain meninggal karena apa yang tampak seperti serangan jantung.[25]
Para petugas kesehatan Palestina di Jalur Gaza telah ditahan secara sewenang-wenang oleh militer Israel selama penyerbuan mereka di rumah sakit selama perang, dan pemimdahan ke pusat-pusat penahanan di selatan Israel, termasuk Sde Teiman. Human Rights Watch telah mendokumentasikan beberapa kasus ini, di mana petugas kesehatan yang ditahan dipukuli, ditelanjangi, diborgol selama berminggu-minggu, dan menjadi sasaran penganiayaan dan kekerasan seksual, serta ancaman pemerkosaan dan pembunuhan anggota keluarga mereka di Gaza.[7]
Khaled Mahajneh, seorang pengacara yang mengunjungi pusat penahanan, menyatakan bahwa kondisinya "lebih mengerikan daripada apa pun yang pernah kita dengar tentang Abu Ghraib dan Guantanamo." Dia mengaku telah pergi ke pusat penahanan untuk mencari informasi tentang seorang reporter bernama Muhammad Arab dari TV Al Araby yang ditawan saat meliput pengepungan Rumah Sakit Al-Shifa. Khaled menggambarkan wartawan tersebut sebagai "orang yang tidak dapat dikenali", dan menyatakan bahwa ia bersaksi tentang tahanan yang secara rutin disiksa, tentang penjaga yang secara terbuka melakukan kekerasan seksual terhadap tahanan, dan tentang banyak tahanan yang meninggal karena penyiksaan.[26]
Pada bulan April 2024, Haaretz menerima sepucuk surat yang ditulis oleh seorang dokter di rumah sakit lapangan di Sde Teiman kepada Jaksa Agung Israel, Menteri Pertahanan, dan Menteri Kesehatan. Dokter tersebut bersaksi bahwa "tahanan diberi makan melalui sedotan, buang air di popok dan ditahan [dalam] tekanan terus-menerus, yang melanggar etika medis dan hukum."[27][28] Dokter tersebut menuduh bahwa kurangnya staf dan perawatan yang tidak memadai menyebabkan komplikasi dan kematian, menggambarkan amputasi karena cedera borgol sebagai "hal biasa." Keterangan tenaga medis lain yang mengunjungi Sde Teiman memperkuat kebenaran isi surat tersebut kepada CNN. Sumber tersebut juga mencirikan dehumanisasi sistematis terhadap tahanan, dengan menuduh bahwa petugas diminta untuk memanggil dengan tidak menggunakan nama melainkan nomor seri tawanan.[28]
Laporan pengungkap fakta yang berbicara kepada CNN memperkuat laporan sebelumnya tentang tahanan yang terluka yang secara fisik diikat di ranjang, memakai popok, diberi makan melalui sedotan, dan ditutup matanya.[1] Mereka juga menambahkan bahwa penanganan medis sering dilakukan oleh mereka yang tidak berkualifikasi, operasi sering dilakukan tanpa pembiusan, dan pasien tidak diizinkan menerima obat pereda nyeri.[2][1] Beberapa tawanan bahkan dilaporkan ditangkap di rumah sakit di Gaza saat menjalani perawatan.[2] Menurut pengungkap fakta, tim medis diminta untuk tidak mendokumentasikan perawatan atau menandatangani surat-surat, yang menguatkan laporan April 2024 oleh Physicians for Human Rights di Israel bahwa anonimitas digunakan untuk menghindari potensi penyelidikan;[1][18][29] selama kunjungan New York Times tahun 2024, surat kabar tersebut mencatat bahwa tiga dokter menghubungkan penggunaan anonimitas mereka dengan rasa takut akan pembalasan dari "Hamas dan sekutunya".[12] Pelapor lebih lanjut menyatakan bahwa pasien dibelenggu ke tempat tidur mereka dan operasi dijalankan tanpa ketersediaan obat pereda nyeri yang memadai.[30]
Menanggapi tuduhan yang dibuat oleh para pengungkap fakta, militer Israel menyatakan bahwa mereka memperlakukan tahanan "dengan tepat dan hati-hati," dan bahwa "insiden pemborgolan yang melanggar hukum tidak diketahui oleh pihak berwenang."[2][1] Mayjen Yifat Tomer-Yerushalmi, advokat jenderal militer, menyatakan bahwa penyelidikan polisi militer telah dibuka terkait tuduhan pelanggaran di Sde Teiman.[31][32]
Pada tanggal 23 Mei 2024, kelompok hak asasi manusia Israel mengajukan petisi kepada Mahkamah Agung Israel untuk menutup pusat penahanan di Sde Teiman.[33] Pada tanggal 5 Juni, pemerintah Israel memberi tahu pengadilan bahwa mereka berencana untuk memindahkan sebagian besar tahanan keluar dari Sde Teiman;[34] Amnesty International mencatat pada bulan Juli bahwa "hanya sedikit yang tampak berubah".[17] Pada bulan September 2024, Mahkamah Agung menolak untuk memerintahkan penutupan pusat penahanan tersebut.[35]
Menurut Times of Israel, menyusul laporan penyiksaan tahanan, pada tanggal 25 Mei 2024, seorang tentara wanita IDF yang tidak disebutkan namanya mengklaim bahwa sipir wanita di Sde Teiman telah menjadi sasaran "beberapa bentuk pelecehan seksual" dari para tahanan, mulai dari mencium mereka dan melontarkan komentar yang tidak senonoh hingga meludahi lantai saat mereka berbicara.[36] Menurut Haaretz, mengutip kesaksian dari para penjaga Israel di Sde Teiman, para penjaga wanita membuat klaim yang tidak berdasar tentang pelecehan seksual yang mengakibatkan penyiksaan, pemukulan, dan pemerkosaan terhadap para tahanan sebagai hukuman.[37] Kesaksian dari para korban Palestina atas kekerasan seksual, pemerkosaan, penyiksaan, dan mutilasi alat kelamin juga terkait dengan para penjaga dan tentara wanita Israel yang terlibat dalam tindakan tersebut.[5][38]
Pada tanggal 7 Februari 2025, Pengadilan Militer Israel menjatuhkan hukuman tujuh bulan penjara kepada seorang prajurit cadangan IDF pria setelah ia mengaku bersalah atas tiga tuduhan penyiksaan terhadap tahanan Gaza dan satu tuduhan perilaku yang tidak pantas. Hal ini terkait dengan empat insiden antara Januari dan Juni 2024 yang melibatkan pemukulan terhadap tawanan, penggunaan senjatanya terhadap tawanan, dan pemaksaan terhadap tawanan untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang merendahkan dan melolong seperti anjing. Terdakwa itu juga dijatuhi hukuman percobaan dan diturunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa.[39] Pada 19 Februari, jaksa penuntut Israel mendakwa lima orang tentara cadangan IDF atas penganiayaan berat dan dugaan pemerkosaan kelompok terhadap seorang tawanan Palestina pada 5 Juli 2024. Para terdakwa ini termasuk seorang mayor, kapten, sersan mayor, sersan kelas satu, dan seorang kopral.[40]
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mathew Miller menyebut laporan tentang pelecehan seksual terhadap tahanan Palestina di Sde Teiman oleh tentara Israel sebagai "mengerikan" dan menyerukan penyelidikan cepat dan menuntut pertanggungjawaban dari mereka yang terlibat. Pernyataannya pada 8 Agustus 2024 menambahkan bahwa "Tidak boleh ada toleransi terhadap pelecehan seksual, pemerkosaan, terhadap tahanan mana pun, titik."[41]
Pada bulan Oktober 2024, The Guardian mengungkapkan bahwa badan bantuan internasional Amerika USAID bertemu dengan mitranya dari Israel di Sde Teiman, dimulai setidaknya pada bulan Juli 2024 dengan pembentukan "Dewan Koordinasi Bersama" Israel di penjara tersebut, yang bertugas mengawasi semua bantuan ke Gaza.[16]
Alice Jill Edwards, Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Penyiksaan dan Tentara Ilegal, menyerukan penyelidikan[34][42] lalu mengutuk dugaan pelecehan seksual tersebut sebagai "sangat mengerikan."[43]
Kamp tahanan tersebut dijuluki "Guantanamo-nya Israel."[44][45]