Kalung lencana atau kalung lencana ordo adalah rantai perhiasan leher yang sering kali terbuat dari emas dan email, bertatahkan ratna mutu manikam, dan disangsangkan di sekeliling leher sebagai tanda keanggotaan ordo aswasada. Kalung lencana adalah salah satu jenis kalung jabatan, peranti paling mentereng yang tercipta dari fenomena corak pengenal yang marak pada Abad Pertengahan dan Awal Zaman Modern. Ordo-ordo yang memiliki beberapa jenjang keanggotaan sering kali menjadikan kalung lencana sebagai atribut khusus untuk jenjang kepangkatan tertinggi. Kalung lencana terbuat dari lempengan-lempengan yang dirangkai menyerupai pending dan biasanya dihiasi lambang-lambang ordo, sementara lencana ordo biasanya dijadikan bandulnya. Kadang-kadang lencana tersebut diberi nama menurut gambar yang terpampang; sebagai contoh, lencana Ordo Sabuk Mojah dinamakan "Georgius" lantaran memuat gambar bendera Santo Georgius.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia



Kalung lencana atau kalung lencana ordo adalah rantai perhiasan leher yang sering kali terbuat dari emas dan email, bertatahkan ratna mutu manikam, dan disangsangkan di sekeliling leher sebagai tanda keanggotaan ordo aswasada. Kalung lencana adalah salah satu jenis kalung jabatan, peranti paling mentereng yang tercipta dari fenomena corak pengenal yang marak pada Abad Pertengahan dan Awal Zaman Modern. Ordo-ordo yang memiliki beberapa jenjang keanggotaan sering kali menjadikan kalung lencana sebagai atribut khusus untuk jenjang kepangkatan tertinggi (biasanya disebut Salib Kebesaran). Kalung lencana terbuat dari lempengan-lempengan yang dirangkai menyerupai pending dan biasanya dihiasi lambang-lambang ordo, sementara lencana ordo biasanya dijadikan bandulnya. Kadang-kadang lencana tersebut diberi nama menurut gambar yang terpampang; sebagai contoh, lencana Ordo Sabuk Mojah dinamakan "Georgius" lantaran memuat gambar bendera Santo Georgius.

Ordo-ordo aswasada perdana adalah ordo-ordo tentara salib. Sebagai ciri khasnya, ordo-ordo ini menjahitkan salib dari kain beledu merah, hijau, atau hitam pada mantel anggotanya. Kemudian hari, anggota ordo-ordo aswasada menggunakan cincin, tekat gambar naga, bahkan sabuk mojah sebagai ciri khas ordonya. Menjelang akhir Abad Pertengahan, kaum kesatria berkuda kian menonjolkan lambang ordonya masing-masing, manakala medali, salib, dan ratna mutu manikam berbentuk satwa mulai dicantolkan pada seuntai kalung yang disangsangkan mengelilingi leher dan disebut kalung jabatan.
Pada abad ke-14, Amadeus VI, Bupati Savoye (tahun 1343–1383) mendirikan Ordo Kalung Lencana,[1] yang didarmabaktikan kepada Santa Perawan Maria.[1] Ciri khasnya yang paling utama dan yang paling tua adalah kalung lencananya. Bandul kalung lencana ini adalah sekeping medali emas berukir gambar peristiwa pewartaan kabar sukacita kepada Santa Perawan Maria oleh Malaikat Agung Gabriel. Medali ini dibingkai ukiran tiga simpul Savoye yang bertumpang-tindih dihiasi salib-salib bakung kecil, dan di pertengahan bagian atas bingkai, di antara dua simpul Savoye, terukir gambar seberkas cahaya beserta seekor burung merpati, lambang Roh Kudus, yang juga terbuat dari emas.
Lantaran sama-sama dijiwai oleh devosi kepada Santa Perawan Maria, kebiasaan mengenakan kalung lencana menyebar ke seluruh Eropa bersamaan dengan kebiasaan mengalungkan rosario di leher. Kebiasaan ini sampai ke Inggris pada abad ke-15.[2]

Para kesatria beberapa ordo aswasada Eropa mengenakan kalung lencana yang beraneka ragam. Kebiasaan mengenakan kalung lencana diprakarsai oleh Adipati Burgundia Philippe III. Kepada para kesatria aggota Ordo Suf Emas, sang adipati memberikan lencana suf emas, yakni seuntai kalung dari "lempengan emas kerawang, bertatah tiruan rijang hitam dan rijang putih dari email, berbandul suf emas".[3]
Kebiasaan ini diikuti Raja Prancis Louis XI ketika mendirikan Ordo Santo Mikhael pada tahun 1469. Para kesatria anggota ordo ini diberinya kalung lencana berupa rencengan cangkang simping. Yang paling terkenal adalah kalung lencana yang dianugerahkan sebagai tanda kehormatan kepada Raoul de Lannoy seusai perang pengepungan Quesnoy.[4] Panjang kalung dijadikan dua kali lipat panjangnya yang semula oleh Raja Prancis Charles VIII. Potret resmi pertama Raja Prancis yang mengenakan kalung lencana ini adalah potret Raja Louis XII pada tahun 1514. Sejak saat itu, semua Raja Prancis mengenakan kalung lencana Ordo Santo Mikhael sampai paguyuban itu dibubarkan pada tahun 1830.[5] Ordo Pembebasan mendaku sebagai penerus Ordo Santo Mikhael pada tahun 1945 dan menciptakan kalung lencana sendiri, karya empu kriya emas Gilbert Poillerat,[6] yang dikenakan Presiden Charles de Gaulle dalam potret resminya, lantaran lebih menyukai Salib Lotharingen pada kalung lencana tersebut daripada lambang-lambang pada Kalung Lencana Kebesaran Legiun Kehormatan.[7]
Karena Ordo Santo Mikhael hanya beranggotakan kaum pria, Permaisuri Anne d'Autriche mendirikan Ordo Kalung Lencana Samawi Rosario Suci pada tahun 1647 dengan bantuan kapelannya, padri Dominikan Prancis François Arnoul, sehingga sekali lagi membuktikan keterkaitan kalung lencana dengan rosario sebagai peranti devosi. Anggaran dasar ordo baru tersebut erat dikaitkan dengan wejangan kepada lima puluh dara bertakwa dan sekalian jiwa budiman, demi memulihkan devosi kepada Bunda Maria dan menganjurkan kekudusan bagi kaum wanita yang berkiprah di lingkungan Gereja Katolik di Prancis.[8]

Sampai dengan masa pemerintahan Raja Henry VIII, Ordo Sabuk Mojah, sama seperti ordo-ordo aswasada kenamaan yang terdahulu, tidak mengenal kalung lencana. Meskipun demikian, Raja Henry VIII ingin dipandang sejajar dalam segala hal dengan raja-raja Eropa Daratan, sebagaimana terjabar di dalam anggaran dasar yang ditandatangani Pejabat Pencatat Ordo pada tanggal 5 Januari 1508 dan dikirimkan kepada Kaisar Romawi Suci Maksimilianus I. Kalung lencana kesatria Sabuk Mojah yang ada sekarang ini, yakni rangkaian simpul-simpul emas dan sabuk-sabuk mojah bertimang emas yang membingkai mawar putih berlapik mawar merah, berasal dari zaman kulawangsa Tudor. Pada tahun 1672, antikuarius Inggris Elias Ashmole memaparkan perubahan kalung lencana Ordo Sabuk Mojah dari bentuknya yang semula dijabarkan Raja Henry VIII, yaitu "seuntai kalung emas, bermata rantai menyerupai sabuk mojah dengan sekuntum mawar merah kirmizi, berbandul citra Santo Georgius".[9] Kebanyakan ordo aswasada Inggris dewasa ini memiliki kalung lencana yang masih dikenakan pada kesempatan-kesempatan istimewa, yakni pada hari-hari kalung lencana. Ordo Bakti Istimewa, Ordo Jasa, Ordo Sahabat Kehormatan, dan Ordo Bakti Kekaisaran adalah pengecualiannya.
Selepas abad ke-17, masa jaya kalung lencana pun berakhir. Kalung lencana hanya dikenakan dalam upacara-upacara kebesaran, sementara dalam kehidupan sehari-hari sudah tergantikan oleh pemakaian bintang yang disematkan di dada dan lencana yang dicantolkan pada pita. Banyak ordo melanggengkan kebiasaan mengenakan kalung lencana, dan jika keanggotaan ordo terbagi menjadi beberapa jenjang kepangkatan maka kalung lencana dijadikan atribut khusus bagi jenjang tertinggi. Pengecualian yang menonjol adalah Portugal.
Pada akhir abad ke-18, rata-rata ordo aswasada Eropa hanya memiliki satu jenjang kepangkatan, yaitu kesatria berkuda, dan meskipun biasanya berkalung lencana, kini salib atau lencana mereka dicantolkan pada seutas pita yang dikalungkan di leher atau disampirkan di pundak kanan. Ketika ordo-ordo menjadi lebih demokratis, keanggotaannya pun mulai dibedakan menjadi beberapa jenjang kepangkatan, dan hanya jenjang tertinggi, yaitu "Kesatria Salib Kebesaran", yang mengenakan kalung lencana. Ordo-ordo Negeri Belanda tidak mengenal kalung lencana, tetapi beberapa ordo Belgia, rata-rata ordo Austria dan Prusia, serta beberapa ordo Portugal memiliki kalung lencana. Di Portugal, semua anggota ordo aswasada mengenakan kalung lencana, hanya saja kalung lencana Kesatria Salib Kebesaran dibuat jauh lebih mentereng.
Sejak permulaan abad ke-19, kalung lencana sudah dipakai sebagai tanda jabatan guru besar ordo aswasada. Napoleon I memperkenalkan kalung lencana Grand Aigle (Elang Kebesaran) untuk menggantikan kalung lencana Salib Kebesaran sebagai tanda pangkat tertinggi di dalam ordo Legiun Kehormatan yang dibentuknya. Napoleon membagi-bagikan 15 kalung lencana emas tersebut kepada sanak saudara dan menteri-menteri besarnya. Kalung lencana Elang Kebesaran tidak bertahan sesudah Napoleon terjungkal dari tampuk kuasa, dan akhirnya dihapuskan pada tahun 1815. Napoleon juga memperkenalkan kalung lencana Grand Collier de la Légion d'Honneur yang merupakan Kalung Lencana Kebesaran pertama yang dikenakan di luar sebuah tarekat religius. Presiden Prancis mengenakan kalung lencana Ordo Legiun Kehormatan. Dewasa ini, pangkat Kalung Lencana Kebesaran kerap diposisikan di atas pangkat Salib Kebesaran, dan dikhususkan bagi presiden serta para kepala negara asing sebagaimana yang dilakukan di negara Brasil.

Di bidang ilmu lambang, sebagian besar anggota ordo aswasada dibenarkan memampang kalung lencana ordo pada lambang kebesarannya (jika yang bersangkutan memang berhak mengenakan kalung lencana). Sering kali ada aturan ketat mengenai cara memampang kalung lencana pada lambang kebesaran. Biasanya kalung lencana ditampilkan melingkari perisai, tetapi bisa juga sebagian kalung tersembunyi di balik perisai. Kadang-kadang hanya sebagian dari kalung beserta lencana yang ditampilkan menjuntai di bawah perisai.
Kalung-kalung lencana dari berbagai macam ordo aswasada kadang-kadang ditampilkan bersama-sama pada lambang kebesaran lengkap, ditata melingkari perisai pada lambang kebesaran beberapa kepala negara monarki. Meskipun lambang kebesaran lengkap yang baku rata-rata menampilkan gambar kalung lencana tertentu, bukan berarti gambar kalung lencana lain (yang layak dikenakan si pemilik lambang kebesaran) tidak boleh dipampang atau menggantikan gambar tersebut. Beberapa lambang kebesaran lengkap menampilkan lebih dari satu untai kalung lencana, sementara lambang-lambang kebesaran lengkap selebihnya cuma menampilkan seuntai kalung lencana; Lambang kebesaran kepala negara Norwegia hanya menampilkan gambar kalung lencana Ordo Santo Olaus melingkari perisai, sementara lambang kebesaran kepala negara Denmark menampilkan kalung lencana dari dua ordo aswasada negara itu, yakni Ordo Gajah dan Ordo Dannebrog. Pada lambang kebesaran negara Swedia yang lebih besar, yang ditampilkan adalah kalung lencana Ordo Serafim. Kalung lencana Ordo Leopold juga ditampilkan pada lambang kebesaran nasional Belgia.
Bilamana seorang anggota ordo aswasada tutup usia, biasanya kalung lencana tidak ikut dikubur bersama jenazahnya, tetapi dapat dipajang beralaskan bantal di atas peti matinya (bersama tanda-tanda jasa dan pangkat lain yang pernah diterima mendiang) selama upacara duka berlangsung. Banyak ordo aswasada mewajibkan pengembalian kalung lencana dan mungkin juga tanda-tanda pangkat lainnya kepada pihak berwenang yang menganugerahkannya bilamana anggota yang menerimanya sudah tutup usia. Sering kali ordo aswasada mewajibkan tanda penghargaan itu dikembalikan secara langsung kepada ordo oleh seorang kerabat laki-laki mendiang.
Banyak ordo juga menjadikan kalung sebagai perhiasan yang dikenakan saat menghadiri upacara-upacara resmi. Kalung lencana dikenakan oleh semua kesatria berkuda di dalam ordo aswasada yang hanya memiliki satu jenjang kepangkatan, tetapi hanya dikenakan oleh kesatria-kesatria berkuda yang paling tinggi pangkatnya di dalam ordo aswasada yang memiliki lebih dari satu jenjang kepangkatan. Meskipun demikian, di dalam beberapa ordo, kalung lencana merupakan suatu pangkat tersendiri yang lebih tinggi daripada pangkat Kesatria Salib Besar, yaituː





* berarti kalung lencana harus dipulangkan kepada ordo apabila anggota penerimanya sudah meninggal dunia
† berarti ordo sudah tidak beroperasi tetapi belum resmi dibubarkan