Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kalulis

Kalulis merupakan jenis perahu tradisional dari Indonesia bagian timur. Ia terutama dibangun di Kepulauan Kei, arah tenggara dari pulau Seram. Perahu ini kebanyakan digunakan untuk transportasi antarpulau, tetapi mereka tidak cocok untuk perjalanan jarak jauh antara Maluku, Sulawesi, dan Jawa. Ia juga dikenal sebagai perahu kalulis, ang kalulis, kalulus, dan kulis.

Perahu tak berlunas dari Indonesia Timur
Diperbarui 19 Agustus 2024

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kalulis
"Prahu kalulis" beralih ke halaman ini. Untuk perahu yang digunakan kerajaan Majapahit, lihat Kelulus.
Sebuah sketsa Alfred Wallace, sebuah kalulis yang digunakan Tim Severin.

Kalulis merupakan jenis perahu tradisional dari Indonesia bagian timur. Ia terutama dibangun di Kepulauan Kei, arah tenggara dari pulau Seram. Perahu ini kebanyakan digunakan untuk transportasi antarpulau, tetapi mereka tidak cocok untuk perjalanan jarak jauh antara Maluku, Sulawesi, dan Jawa.[1] Ia juga dikenal sebagai perahu kalulis, ang kalulis, kalulus, dan kulis.[2]

Deskripsi

Perahu-perahu ini cukup dangkal dan lebar, dan dilengkapi dengan sistem layar tanja pada 1 atau 2 tiang,[3] mungkin di tiang tripod.[2] Ia dikemudikan menggunakan kemudi lateral ganda, dan memiliki sebuah rumah geladak.[3] Perahu-perahu ini memiliki pasak internal dan memiliki lug (kupingan) pada semua papan.[4] Di masa lalu, mereka diikat bersama-sama menggunakan serat melalui lug berukir pada interior papan, tetapi teknik ini telah menghilang di pulau Kei selama 1940-an. Panjangnya antara 4,5–14 m, dengan rasio lebar-ke-panjang bervariasi antara 1:2,33 hingga 1:3. Kedalaman rata-rata kalulis dengan panjang 5,25–7,5 m adalah 1,3 m.[5]

Alfred Wallace dilihat dari samping buritan.

Sejak 1945, mereka telah dilengkapi dengan rusuk kayu (gading) dan memiliki 5-8 papan. Bahan perahu modern berbeda dari perahu lama: Tali yang awalnya terbuat dari sabut kelapa (tali utis) dan gemutu (tali nauk) digantikan dengan tali polipropilena. Layar yang terbuat dari anyaman daun sagu atau karoro (kain goni, sorat pisang dari Jawa), sekarang dibuat dengan kapas atau kain polipropilena, kadang-kadang dengan lembaran polietilena.[6] Perahu modern menggunakan sistem layar gap dan gunter (layar nade). Kemudi lateral ganda (cangkilan) umumnya telah digantikan oleh kemudi tengah.[7] Karena mereka tak memiliki lunas, stabilitas adalah masalah, sehingga mereka tidak cocok untuk pelayaran antara pulau-pulau utama di Indonesia.[3]

Peran

Mereka digunakan untuk perjalanan jarak menengah antara Geser, Gorom, Watubela, Teor, Kei, Tayandu, Aru, dan pesisir Papua. Perahu-perahu ini digunakan untuk mengangkut penumpang dan kargo, dan kadang-kadang untuk memancing, berburu kura-kura, dan mengumpulkan agar-agar. Perahu-perahu ini adalah andalan tradisional untuk perdagangan sagu antar pulau.[6]

Replika

  • Salah satu replika kalulis yang dibangun oleh Tim Severin bernama Alfred Wallace. Perahu ini digunakan dalam "The Spice Islands Voyage", petualangan terakhir Severin, menghidupkan kembali petualangan naturalis Alfred Russel Wallace di Nusantara. Perahu 14 meter itu jauh lebih kecil daripada yang biasanya digunakan oleh Wallace. Severin memang memiliki beberapa adaptasi modern: Sistem komunikasi satelit, generator angin dan motor sembilan tenaga kuda untuk keadaan darurat.[3]

Lihat pula

  • Knabat bogolu
  • Kelulus
  • Jong
  • Orembai
  • Benawa

Referensi

  1. ↑ Ellen, R. F. (2003). On the Edge of the Banda Zone: Past and Present in the Social Organization of a Moluccan Trading Network. University of Hawaii Press. hlm. 157. ISBN 9780824826765.
  2. 1 2 Lundberg, Anita (2003). "Time Travels in Whaling Boats". Journal of Social Archaeology. 3: 312–333.
  3. 1 2 3 4 Severin, Tim (1999). The Spice Islands Voyage: The Quest for Alfred Wallace, The Man Who Shared Darwin's Discovery of Evolution. Da Capo Press. ISBN 978-0786707218.
  4. ↑ Aglionby, J. (1991). Oxford University Expedition to Kei Kecil, Maluku Tenggara, Indonesia, 1990. Oxford: Aglionby.
  5. ↑ Ellen (2003). p.154.
  6. 1 2 Ellen (2003). p.157.
  7. ↑ Ellen (2003). p.158.

Bacaan lanjutan

  • Ellen, R. F. (2003). On the Edge of the Banda Zone: Past and Present in the Social Organization of a Moluccan Trading Network. University of Hawaii press. ISBN 9780824826765.
  • l
  • b
  • s
Kapal, perahu, dan jenis layar tradisional Indonesia
Jenis layar dan sistem layar
  • Layar jung
  • Layar lete
  • Layar nade
  • Layar tanja
  • Sistem layar pinisi
Kapal dan perahu
perang dan niaga
(dari urutan tahun)
Kuno
  • Cerucuh
  • Kapal Borobudur
  • Jong
  • K'un-lun po
  • Lancang
  • Perahu
  • Sampan
Abad ke-14
  • Benawa
  • Ghurab
  • Jongkong
  • Kelulus
  • Lancaran
  • Malangbang
  • Pelang
  • Tongkang (perahu layar)
Abad ke-15
  • Pencalang
Abad ke-16
  • Banting (perahu)
  • Ghali
  • Juanga
  • Kalulis
  • Lepa-lepa
  • Londe
  • Penjajap
Abad ke-17
  • Knabat bogolu
  • Kora-kora
  • Kotta mara
  • Orembai
Abad ke-18
  • Chialoup
  • Jukung tambangan
  • Lepa
  • Padewakang
  • Perahu toop
Abad ke-19
  • Bajak
  • Bangkong
  • Golekan
  • Janggolan
  • Jellore
  • Lambo
  • Leti leti
  • Lis-alis
  • Palari
  • Sampan panjang
  • Solu
Perahu nelayan
  • Bagan (perikanan)
  • Bago
  • Jolloro
  • Jukung
  • Kakap
  • Paduwang
  • Pajala
  • Patorani
  • Peledang
  • Perahu mayang
  • Sandeq

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Deskripsi
  2. Peran
  3. Replika
  4. Lihat pula
  5. Referensi
  6. Bacaan lanjutan

Artikel Terkait

Sriwijaya

Kerajaan 671-1025 di Asia Tenggara

Kapal

kendaraan air besar, namun pada zaman dahulu merujuk pada kendaraan air spesifik dari India

Pinisi

tipe sistem layar dari Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026