Sayyid Jamaluddin Akbar Ibnu Husein nama gelaran : Syekh Jumadil Qubro atau Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini atau Maulana Husein Jumadil Kubro atau Sayyid Jamaluddin Al-Hussein atau As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar atau Sayyid Jumadil Kabir Mojokerto. Menurut peneliti belanda martin bruinessen bahwa, vivek dan Jennifer W. Nourse Jumadil kubra ada hubungannya dengan terakat sufi kubrawi, bahwa kubra dikaitkan dengan namanya. Syeikh jamidul -kubra murid sayidi Ali Hamadani shafi -al kubrawi, Peter Dziedzic, peneliti menjelaskan Sunan Gresik juga belajar dari Ali Hamadani
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar Ibnu husein | |
|---|---|
Makam Syekh Jumadil Kubro Mojokerto | |
| Gelar | Syekh Jumadil Qubro |
| Lahir | Ahmad |
| Dimakamkan di | Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto |
| Wilayah aktif | Jawa Timur |
| Denominasi | Sufi |
| Murid dari | Dan Guru-guru lainnya |
Mempengaruhi | |
| Istri | |
| Keturunan |
|
Sayyid Jamaluddin Akbar Ibnu Husein nama gelaran : Syekh Jumadil Qubro atau Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini atau Maulana Husein Jumadil Kubro atau Sayyid Jamaluddin Al-Hussein atau As-Syekh Sayyid Jamaluddin Akbar atau Sayyid Jumadil Kabir Mojokerto. Menurut peneliti belanda martin bruinessen bahwa, vivek dan Jennifer W. Nourse Jumadil kubra ada hubungannya dengan terakat sufi kubrawi, bahwa kubra dikaitkan dengan namanya.[1][2][3] Syeikh jamidul -kubra murid sayidi Ali Hamadani shafi -al kubrawi,[4] Peter Dziedzic, peneliti menjelaskan Sunan Gresik juga belajar dari Ali Hamadani [5][6]
Menurut wain bahwa kubrawi-hamadani adalah pendiri islam di java, Semua walisongo berdakwah di bawah bimbingan sayyidi Ali Hamadani -al kubrawi dari asia tengah ke indonesia dalam waktu yang berbeda, berbeda garis dan tahapan yang berjenar.[7][8]
Berdasarkan Catatan Serat Panengen, diketahui daftar Putra Putri Syekh Jumadil kubro yaitu :
Dari Istri Fathimah binti Abdul Hamid keturunan Rasulullah Saw dari Sayyidah Ruqoiyah berputra :
Dari Istri Fathimah Kawi binti Syekh Jakfar Siddiq Mekkah berputra :
Menurut cerita, petilasan makam Syekh Jumadil Kubro ada di beberapa tempat. Yaitu Wajo Sulawesi Selatan, Gunung Jali Bojonegoro, Terboyo Semarang, Turi Yogyakarta Namun Makam Asli terletak diMakam Syech Jumadil Kubro Sentonorejo Mojokerto (terdokumentasi berupa foto Di website Museum KITLV belanda). Banyaknya petilasan dan peninggalan Syekh Jumadil Kubro, menjadi bukti penting besarnya khazanah keilmuan Islam yang ada di Pulau Jawa. Karena itu, keberadaannya harus dihargai.
Salah satu bukti literatur keberadaan Syekh Jumadil Kubro terdapat pada The History of Java (hal:127) karya Thomas Stamford Raffles. Buku itu menyebut, Syekh Jumadil Kubro berdakwah di Gunung Jali, sebuah bukit pinggir Bengawan yang kini terletak di perbatasan antara Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Blora.
Selain dalam The History of Java, sumber-sumber literatur ilmiah (bukan dongeng) yang menyinggung, membahas, dan mencantumkan informasi tentang keberadaan Syekh Jumadil Kubro, terdapat pada analisis Abdurrahman Wahid dalam The Passing Over (1998) dan ulasan Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2012).
Syekh Jumadil Kubro yang disebut dalam buku The Passing Over (1998), Atlas Wali Songo (2012), dan History of Java (1817), merupakan ayah dari Syekh Maulana Ibrohim Asmoroqondi yang dimakamkan di Tuban. Maulana Ibrohim Asmoroqondi diyakini berasal dari kata Samarkand.