Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Insiden Tapani

Insiden Tapani tahun 1915 adalah salah satu pemberontakan bersenjata terbesar oleh orang Han dan penduduk asli Taiwan, termasuk Taivoan, melawan pemerintahan Jepang di Taiwan. Nama-nama alternatif yang digunakan untuk menyebut insiden ini termasuk Insiden Kuil Xilai sesuai nama Kuil Xilai di Tainan, di mana pemberontakan mulai, dan Insiden Yu Qingfang sesuai nama pemimpinnya Yu Qingfang. Beberapa kantor polisi Jepang diserbu oleh pejuang pribumi dan Tionghoa Han di bawah pimpinan Jiang Ding dan Yu Qingfang.

Wikipedia article
Diperbarui 1 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Insiden Tapani
Insiden Tapani

Orang Taiwan yang ditawan setelah Insiden Tapani dibawa dari penjara Tainan ke pengadilan
Tanggal1915
LokasiTaiwan
Hasil Kemenangan Jepang
Pihak terlibat
Orang Han Taiwan
Penduduk asli Taiwan
 Kekaisaran Jepang
Tokoh dan pemimpin
Yu Qingfang Kekaisaran Jepang
Kekuatan
1.413[1][2]
Insiden Tapani
Nama Tionghoa
Hanzi: 噍吧哖事件code: zh is deprecated
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Jiaòbānián Shìjìan
- Wade-Giles: Chiao4-pa1-nien2 Shih4-chien4
Min Nan
- Romanisasi POJ: Ta-pa-nî sū-kiāⁿ
Alternative name
Hanzi tradisional: 西來庵事件code: zh is deprecated
Hanzi sederhana: 西来庵事件code: zh is deprecated
Makna literal: Insiden Kuil Xilai
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: Xīlaí'ān Shìjìan
- Wade-Giles: Hsi1-lai2-an1 Shih4-chien4
Nama Jepang
Kanji: 西来庵事件code: ja is deprecated
Kyujitai: 西來庵事件code: ja is deprecated
Alih aksara
- Romaji: Seirai-an jiken

Insiden Tapani[3] tahun 1915 adalah salah satu pemberontakan bersenjata terbesar[4] oleh orang Han dan penduduk asli Taiwan, termasuk Taivoan, melawan pemerintahan Jepang di Taiwan. Nama-nama alternatif yang digunakan untuk menyebut insiden ini termasuk Insiden Kuil Xilai sesuai nama Kuil Xilai di Tainan, di mana pemberontakan mulai, dan Insiden Yu Qingfang sesuai nama pemimpinnya Yu Qingfang.[5] Beberapa kantor polisi Jepang diserbu oleh pejuang pribumi dan Tionghoa Han di bawah pimpinan Jiang Ding dan Yu Qingfang.[6]

Perekrutan

Kuil Xilai, Tainan: lokasi tempat Yu Qingfang menyebarkan gerakan anti-Jepang; awalnya terletak di Jalan Ting-a-ka (kini dekat No. 121, Jalan Qingnian)

Kelompok peserta terbesar berasal dari kepala ho dan kō (golongan bangsawan lokal) di daerah pegunungan Tainan dan prefektur Akou, diikuti oleh banyak pekerja industri kapur barus dari prefektur Nantou. Selain itu, terdapat pula sekelompok cendekiawan dan mantan pejabat dari kota Tainan. Hanya satu orang dari wilayah utara dan tengah Taiwan yang ikut serta dalam pertempuran.[7] Pemberontakan ini juga merekrut pendukung dari daratan Tiongkok, meskipun pandangan umum para peserta tampaknya tidak banyak dipengaruhi oleh peristiwa politik Tiongkok terkini seperti Revolusi Xinhai. Sebaliknya, mereka berupaya membentuk negara kekaisaran dengan Yu atau Luo sebagai kaisar.[8] Para peserta pemberontakan meyakini bahwa pasukan "langit" atau pasukan dari daratan Tiongkok akan datang membantu mereka. Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah pasukan tersebut berasal dari pemimpin Tiongkok Yuan Shikai atau dari Dinasti Qing yang sudah runtuh, serta tidak ada kesepakatan apakah tujuan gerakan itu untuk menjadikan Taiwan bagian dari Tiongkok atau memperoleh kemerdekaan sebagai negara.[9]

Pada puncak pemberontakan, Yu mengeluarkan sebuah maklumat yang menyerupai ideologi legitimasi kekaisaran Tiongkok kuno, dengan dasar pemikiran kepemimpinan Zhonghua atas bangsa lain, Mandat Langit, serta revolusi dinasti. Dalam maklumat tersebut ia menyatakan pembentukan Da Ming Cibeiguo (Kerajaan Welas Asih dan Cahaya Agung). Retorika ini sangat mirip dengan pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok triad atau Perhimpunan Langit dan Bumi.[10]

Pemberontakan

Yu Qingfang (kiri), Luo Jun (tengah) dan Jiang Ding (kanan)

Pada bulan Agustus, Yu Qingfang dan Jiang Ding melancarkan serangan mendadak terhadap sejumlah kantor polisi.[11] Mereka mula-mula menyuruh orang berpura-pura sebagai tukang pos yang mengantarkan surat. Begitu para petugas membuka pintu, mereka langsung menyerbu dan membunuh para polisi. Namun, mereka mengalami kesulitan di Kantor Polisi Nanzhuang. Para petugas di sana waspada dan menolak tertipu untuk membuka pintu. Yu Qingfang kemudian menjarah rumah-rumah di sekitar, memperoleh minyak tanah dan bahan bakar lain, lalu membakar Kantor Polisi Nanzhuang. Setelah itu ia menyerang dan membunuh banyak polisi Jepang beserta keluarga mereka, kemudian bergerak menuju Damujiang (kini Distrik Xinhua, Tainan).

Pada 22 Agustus 1915, Yu Qingfang berada di Desa Wanglai (kini Distrik Nanxi, Tainan). Penduduk setempat mengadakan jamuan untuknya. Namun, di tengah suasana mabuk, mereka mengikat Yu dan menyerahkannya kepada tentara Jepang.

Baru pada April tahun berikutnya (1916) Jiang Ding dibujuk untuk menyerah oleh Pemerintah Jenderal Taiwan. Pemerintah mengirim utusan kepadanya dengan janji tidak akan dituntut jika ia menyerah. Karena kekurangan makanan dan senjata, Jiang Ding bersama 272 pengikutnya turun dari pegunungan dan menyerahkan diri. Namun, pada 18 Mei, setelah menerima penyerahan itu, pemerintah mengirim sejumlah besar polisi pada malam hari untuk menangkap Jiang Ding beserta seluruh 272 pengikutnya.[12]

Konsekuensi

Yu Qingfang dan yang lainnya dikawal oleh penjaga melewati Stasiun Tainan

Pengejaran dan operasi militer Jepang berikutnya mengakibatkan pembantaian besar terhadap warga Taiwan yang terlibat pemberontakan. Berdasarkan catatan registrasi rumah tangga dan penelitian, sejak 3 Agustus tercatat 16 orang tewas di Desa Nanxi Mizhi, sementara Desa Zhuwei mengalami pembantaian yang menewaskan laki-laki, perempuan, dan anak-anak dengan total 251 korban. Pembakaran Shazai Tianzhuang di Yujing menewaskan 82 orang. Sejumlah orang yang tidak diketahui jumlahnya dipenggal di lokasi dekat tumpukan Wanrendui di Sekolah Dasar Yujing. Sebanyak 36 orang tewas di Mangzai Mangzhuang, dan 119 orang dibunuh dalam pembantaian di Neizhuangzizhuang dan Mugongzhuang. Puluhan aktivis anti-Jepang dipenggal dan dikuburkan di kuil-kuil setempat.

Di Desa Nanzhuang, 114 orang tewas, sedangkan di Desa Jingpuliao jumlah korban mencapai 109 orang. Sebanyak 45 orang dipenggal di Desa Beiliao, 185 orang dibunuh di Desa Zhutouqi, dan 69 orang tewas dalam pembantaian di Gangzai Linzhuang. Desa Niupu dihancurkan, sementara wilayah Sisheliao di Jiaxianpu menjadi tempat pasukan pemberontak dikejar dan dibubarkan, dengan banyak jasad berserakan. Lokasi pembantaian juga ditemukan di Aliguan, Xiangzikeng Pingding, dan sejumlah tempat lain. Selain itu, empat lokasi pembantaian di Xinhua diyakini sebagai tempat di mana lebih dari 200 penduduk Zuojhen, Nanhua, dan Yujing dibunuh.[13]

Warisan

Historiografi Taiwan modern mencoba untuk menggambarkan Insiden Tapani sebagai suatu pemberontakan nasionalis baik dari perspektif Tiongkok (unifikasi) atau Taiwan (kemerdekaan). Historiografi kolonial Jepang berusaha menggambarkan insiden ini sebagai sebuah contoh berskala besar dari kebanditan yang dipimpin oleh unsur-unsur kriminal. Namun, Insiden Tapani berbeda dari pemberontakan lainnya dalam sejarah Taiwan karena unsur-unsur milenarianisme dan agama rakyat, yang memungkinkan Yu Qingfang untuk menghimpun kekuatan bersenjata yang signifikan yang para anggotanya menyakini mereka kebal terhadap persenjataan modern.[14]

Kesamaan antara retorika para pemimpin pemberontakan Tapani dan Perkumpulan Keselarasan Keadilan dari Pemberontakan Boxer mutakhir di Tiongkok adalah tidak takluk pada otoritas kolonial Jepang, dan pemerintah kolonial kemudian lebih memperhatikan agama populer dan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan administrasi kolonial di Taiwan selatan.

Para penduduk asli Taiwan melanjutkan dengan perjuangan bersenjata dengan kekerasan melawan Jepang sementara perlawanan Tionghoa Han dengan kekerasan berhenti setelah Tapani.[15]


Lihat juga

  • Insiden Musha

Catatan

  1. ↑ Maritime Taiwan: Historical Encounters with the East and the West. M.E. Sharpe. 2009. hlm. 134–. ISBN 978-0-7656-4189-2.
  2. ↑ Shih-Shan Henry Tsai (18 December 2014). Maritime Taiwan: Historical Encounters with the East and the West: Historical Encounters with the East and the West. Taylor & Francis. hlm. –. ISBN 978-1-317-46516-4.
  3. ↑ https://www.academia.edu/10986929/Taiwan_under_Japanese_Rule._Showpiece_of_a_Model_Colony_Historiographical_Tendencies_in_Narrating_Colonialism._In_History_Compass._2014_online_
  4. ↑ International Business Publications, USA (3 March 2012). Taiwan Country Study Guide: Strategic Information and Developments. Int'l Business Publications. hlm. 73–. ISBN 978-1-4387-7570-8. [pranala nonaktif permanen]
  5. ↑ Shih-shan Henry Tsai (2 September 2005). Lee Teng-Hui and Taiwan's Quest for Identity. Springer. hlm. 12–. ISBN 978-1-4039-7717-5.
  6. ↑ https://web.archive.org/web/20070924110630/http://iao.sinica.edu.tw/significant-research-results-pdf/090-094-em19.pdf. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 September 2007.
  7. ↑ Katz, Paul R. (2005). When Valleys Turned Blood Red: The Tapani Incident in Colonial Taiwan. Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 79–85. ISBN 9780824829155.
  8. ↑ Katz, Paul R. (2005). When Valleys Turned Blood Red: The Tapani Incident in Colonial Taiwan. Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 76, 78, 88, 102, 110. ISBN 9780824829155.
  9. ↑ Katz, Paul R. (2005). When Valleys Turned Blood Red: The Tapani Incident in Colonial Taiwan. Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 65, 89, 107. ISBN 9780824829155.
  10. ↑ Katz, Paul R. (2005). When Valleys Turned Blood Red: The Tapani Incident in Colonial Taiwan. Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 107–109. ISBN 9780824829155.
  11. ↑ Governmentality and Its Consequences in Colonial Taiwan: A Case Study of the Ta-pa-ni Incident
  12. ↑ "回顧義戰噍吧哖事件100週年 - 國立臺灣圖書館" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 28 September 2020. Diakses tanggal 2020-08-02.
  13. ↑ 陳信安 (31 Oktober 2012). 《以文化觀光思維建構「1915 年焦吧哖事件」文化路徑紀念場域之研究 》. 行政院國家科學委員會專題研究計畫.
  14. ↑ Katz, Paul R. (2005). When Valleys Turned Blood Red: The Tapani Incident in Colonial Taiwan. Honolulu: University of Hawaii Press. hlm. 110. ISBN 9780824829155.
  15. ↑ Steven Crook (5 June 2014). Taiwan. Bradt Travel Guides. hlm. 16–. ISBN 978-1-84162-497-6.

Referensi

  • Katz, Paul R. (2 March 2007). "Governmentality and Its Consequences in Colonial Taiwan: A Case Study of the Ta-pa-ni Incident of 1915". The Journal of Asian Studies. 64 (02): 387–424. doi:10.1017/s0021911805000823.

Pranala luar

  • Governmentality and Its Consequences in Colonial Taiwan: A Case Study of the Ta-pa-ni Incident Diarsipkan 2015-04-09 di Wayback Machine.
  • When Valleys Turned Blood Red: The Ta-pa-ni Incident in Colonial Taiwan
  • Taiwan in Time: Magic amulets, tax breaks and a messiah
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ta-pa-ni Incident.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Perekrutan
  2. Pemberontakan
  3. Konsekuensi
  4. Warisan
  5. Lihat juga
  6. Catatan
  7. Referensi
  8. Pranala luar

Artikel Terkait

Serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki

penggunaan senjata nuklir terhadap Jepang dalam Perang Dunia II

Imperium Jepang

kekaisaran di wilayah Asia-Pasifik dari 1868 hingga 1947

Menyerahnya Jepang

peristiwa yang menandai berakhirnya Perang Dunia II pada 2 September 1945

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026