Hiu mata babi, hiu jawa atau mongiwa adalah spesies hiu requiem yang tidak umum dijumpai, dalam famili Carcharhinidae, yang ditemukan di perairan pesisir yang hangat di timur Samudra Atlantik dan barat Indo-Pasifik. Hiu ini menyukai lingkungan dangkal dan keruh dengan dasar yang lunak, dan cenderung menjelajah di dalam area yang cukup terbatas. Dengan tubuh abu-abunya yang gempal, mata yang kecil, serta moncong yang pendek dan tumpul, hiu mata babi terlihat hampir identik dengan hiu banteng yang lebih dikenal. Kedua spesies ini berbeda dalam hal jumlah tulang belakang, ukuran relatif sirip punggung, dan beberapa ciri-ciri halus lainnya. Hiu ini biasanya mencapai panjang 19–25 m (62–82 ft).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Hiu mata babi Rentang waktu: | |
|---|---|
| Hiu mata babi betina sepanjang 2,8 meter dibandingkan dengan manusia setinggi 1,8 meter | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Chondrichthyes |
| Subkelas: | Elasmobranchii |
| Subdivisi: | Selachimorpha |
| Ordo: | Carcharhiniformes |
| Famili: | Carcharhinidae |
| Genus: | Carcharhinus |
| Spesies: | C. amboinensis |
| Nama binomial | |
| Carcharhinus amboinensis | |
| Daerah sebaran hiu mata babi[2] | |
| Sinonim | |
|
Carcharias amboinensis Müller & Henle, 1839
| |
Hiu mata babi, hiu jawa atau mongiwa (Carcharhinus amboinensis) adalah spesies hiu requiem yang tidak umum dijumpai, dalam famili Carcharhinidae, yang ditemukan di perairan pesisir yang hangat di timur Samudra Atlantik dan barat Indo-Pasifik. Hiu ini menyukai lingkungan dangkal dan keruh dengan dasar yang lunak, dan cenderung menjelajah di dalam area yang cukup terbatas. Dengan tubuh abu-abunya yang gempal, mata yang kecil, serta moncong yang pendek dan tumpul, hiu mata babi terlihat hampir identik dengan (dan sering dikelirukan dengan) hiu banteng (C. leucas) yang lebih dikenal. Kedua spesies ini berbeda dalam hal jumlah tulang belakang, ukuran relatif sirip punggung, dan beberapa ciri-ciri halus lainnya. Hiu ini biasanya mencapai panjang 19–25 m (62–82 ft).
Hiu mata babi merupakan predator puncak yang sebagian besar berburu di bagian bawah kolom air. Makanannya bervariasi, terutama terdiri dari ikan bertulang sejati dan ikan bertulang rawan serta mencakup krustasea, moluska, ular laut, dan cetacea. Spesies ini melahirkan anak, dengan embrio yang berkembang dan bertahan hidup hingga lahir melalui hubungan plasenta dengan induknya. Sebanyak tiga hingga tiga belas anak hiu dilahirkan setelah masa kehamilan sembilan atau dua belas bulan. Hiu muda menghabiskan beberapa tahun pertama kehidupannya di habitat pesisir yang terlindung seperti teluk, di mana pergerakan mereka mengikuti pola pasang surut dan musiman. Ukuran dan gigi geligi hiu mata babi membuatnya berpotensi berbahaya, meskipun belum ada catatan serangan hiu ini terhadap manusia. Hiu ini jarang tertangkap dalam jaring hiu yang melindungi pantai maupun oleh operasi perikanan, yang memanfaatkannya untuk diambil daging dan siripnya. IUCN saat ini menilai status spesies ini sebagai rentan.

Ahli biologi Jerman Johannes Müller dan Jakob Henle mendeskripsikan hiu mata babi dan menamainya Carcharias (Prionodon) amboinensis dalam publikasi mereka pada tahun 1839 yang berjudul Systematische Beschreibung der Plagiostomen. Penulis-penulis selanjutnya mengklasifikasikan kembali spesies ini ke dalam genus Carcharhinus. Spesimen tipenya adalah awetan betina sepanjang 74 cm (29 in), yang pada awalnya ditangkap di lepas perairan Pulau Ambon di Indonesia, yang menjadi asal-usul dari epitet spesifiknya.[3][4] Beberapa sinonim junior diketahui untuk spesies ini, di antaranya adalah Triaenodon obtusus, yang didasarkan pada janin hiu mata babi yang hampir lahir.[4]
Fosil gigi hiu mata babi diketahui dari zaman Miosen Akhir di Brunei, yang mewakili catatan tertua yang diketahui dari spesies ini.[5][6]
Mengingat hiu mata babi sangat menyerupai hiu banteng, penelitian filogenetik berbasis morfologi menganggap kedua spesies ini berkerabat dekat.[7][8] Baik susunan ini maupun susunan lainnya tidak mendapat dukungan kuat dari penelitian filogenetika molekuler, yang hingga saat ini belum memberikan kesimpulan pasti mengenai hubungan evolusioner hiu ini dengan spesies Carcharhinus lainnya.[9][10]
Analisis genetik hiu mata babi di seluruh wilayah Australia utara menunjukkan bahwa sejarah evolusi spesies ini dipengaruhi oleh perubahan garis pantai selama kala Pleistosen (2,6 juta hingga 12.000 tahun yang lalu). Pola keanekaragaman yang ditemukan pada DNA mitokondrianya sejalan dengan pemisahan dan penggabungan populasinya yang berulang kali terjadi ketika penghalang geografis secara silih berganti terbentuk dan terendam air. Penghalang geografis terbaru adalah jembatan darat yang melintasi Selat Torres yang baru terbuka kembali sekitar 6.000 tahun yang lalu; akibatnya, terdapat pemisahan genetik yang signifikan antara hiu yang ditemukan di lepas pantai Australia Barat dan Wilayah Utara dengan hiu yang ditemukan di lepas pantai Queensland.[11]
Hiu mata babi merupakan spesies bertubuh sangat gempal dengan moncong yang pendek, lebar, dan membulat. Matanya yang kecil dan bundar dilengkapi dengan membran niktitan. Tepi anterior lubang hidungnya memiliki lipatan kulit berukuran sedang. Mulutnya membentuk lengkungan lebar dan memiliki alur di bagian sudut yang hampir tidak terlihat. Terdapat 11–13 (biasanya 12) deret gigi atas dan 10–12 (biasanya 11) deret gigi bawah pada setiap sisi; selain itu, terdapat deretan tunggal gigi kecil pada simfisis atas dan bawah (titik tengah rahang). Giginya lebar dan berbentuk segitiga dengan tepi bergerigi; gigi di rahang bawah sedikit lebih sempit, lebih tegak, dan memiliki gerigi yang lebih halus dibandingkan gigi di rahang atas. Kelima pasang celah insangnya berukuran sedang.[2][4][12]
Sirip punggung pertama berukuran besar dan berbentuk segitiga, dengan ujung yang runcing dan tepi belakang yang cekung; posisinya kira-kira bermula di atas pangkal belakang sirip dada. Sirip punggung kedua tingginya kurang dari sepertiga tinggi sirip pertama, dan posisinya bermula di depan sirip dubur. Tidak terdapat rigi garis tengah di antara kedua sirip punggung tersebut. Sirip dadanya yang panjang berukuran lebar dan sedikit membulat seperti sabit (falkat), kemudian menyempit dan meruncing di bagian ujungnya. Sirip dubur memiliki tepi belakang yang berlekuk tajam. Batang ekor memiliki lekukan yang dalam pada permukaan atasnya di pangkal sirip ekor. Sirip ekor berbentuk tidak simetris, dengan cuping bawah yang berkembang dengan baik dan cuping atas yang lebih panjang serta memiliki lekukan di tepi belakang dekat ujungnya.[2][4][12]
Kulitnya ditutupi oleh dentikel dermal yang agak besar, yang menjadi lebih rapat dan tumpang tindih seiring bertambahnya usia; setiap dentikel memiliki tiga hingga lima rigi horizontal dan lima gigi di bagian belakang.[2] Spesies ini berwarna abu-abu di bagian atas dan putih di bagian bawah, dengan pita pucat yang samar pada bagian lambungnya. Sirip punggung kedua dan cuping bawah sirip ekor berwarna lebih gelap di bagian ujungnya, khususnya pada hiu muda.[4] Seekor individu albino ditangkap di lepas pantai Queensland pada tahun 1987, yang merupakan contoh albinisme pertama yang diketahui pada hiu requiem.[13] Hiu mata babi dewasa umumnya berukuran panjang 19–25 m (62–82 ft), sedangkan individu terbesarnya mencapai panjang 28 m (92 ft).[2]
Hiu mata babi paling dapat diandalkan untuk dibedakan dari hiu banteng berdasarkan jumlah tulang belakang prekaudal (sebelum sirip ekor) (89–95 pada C. amboinensis berbanding 101–123 pada C. leucas). Secara eksternal, ia memiliki perbedaan ukuran yang lebih besar antara kedua sirip punggungnya (rasio tinggi sirip pertama dengan kedua >3,1:1 berbanding ≤3,1:1 pada C. leucas) dan lekukan di tepi sirip duburnya membentuk sudut lancip (berbanding siku-siku pada C. leucas). Spesies ini juga biasanya memiliki jumlah deret gigi yang lebih sedikit di rahang bawah (10–12 di setiap sisi berbanding 12–13 pada C. leucas).[2][4]
Walaupun tersebar luas di perairan laut tropis dan subtropis di Eurasia, Afrika, dan Oseania, hiu mata babi tampaknya tidak umum ditemukan di mana pun. Catatan yang ada saat ini tidak merata, dan cakupan penuh sebarannya mungkin tersamarkan akibat kekeliruannya dengan hiu banteng.[1] Di Atlantik timur, spesies ini dapat ditemukan di lepas pantai Tanjung Verde dan Senegal, serta dari Nigeria hingga Namibia;[2] ada satu catatan dari Mediterania yang berasal dari lepas pantai Crotone, Italia.[14] Spesies ini terdapat di sepanjang pinggiran benua Samudra Hindia, mulai dari Afrika Selatan bagian timur hingga ke Semenanjung Arab (termasuk Madagaskar, Seychelles, dan Mauritius), ke Asia Tenggara hingga Australia utara. Sebarannya meluas ke Samudra Pasifik, ke utara hingga ke Filipina dan Tiongkok bagian selatan, serta ke timur hingga Nugini dan sejumlah pulau di Mikronesia.[2] Data penandaan dan genetik menunjukkan bahwa hiu mata babi, terutama hiu muda, bukanlah ikan yang bermigrasi (migratori) kuat dan cenderung menetap di daerah setempat. Jarak terjauh yang tercatat pernah ditempuh oleh seekor hiu dewasa adalah 1.080 km (670 mi).[11][12]
Hiu mata babi mendiami perairan pesisir hingga kedalaman 150 m (490 ft), serta lebih menyukai lingkungan dengan sedimen halus dan air yang keruh. Ia terkadang memasuki muara, tetapi berbeda dengan hiu banteng, spesies ini tidak berenang masuk ke sungai dan menghindari air payau.[2][15] Pergerakan dan penggunaan habitat hiu mata babi muda telah banyak diteliti di Teluk Cleveland di timur laut Queensland. Hiu muda hidup di teluk ini sepanjang tahun, dan sebagian besar berdiam di sisi timur di mana aliran masuk dari tiga sungai menghasilkan arus yang kuat dan kekeruhan yang tinggi. Setiap wilayah jelajah individunya relatif kecil, dengan rata-rata luas 30 km2 (12 sq mi), dan ukurannya semakin membesar seiring dengan bertambahnya usia. Hiu muda pada umumnya menetap di perairan dengan kedalaman kurang dari 40 m (130 ft), sedangkan hiu yang paling muda menghabiskan sebagian besar waktunya di bagian dangkal teluk. Mereka berenang ke dalam zona intertidal saat air pasang dan meninggalkannya saat air surut; pergerakan ini mungkin berkaitan dengan pemanfaatan peluang mencari makan di hamparan lumpur yang terendam, atau untuk menghindari pemangsaan maupun persaingan dengan menjauhi perairan lebih dalam yang dihuni oleh hiu-hiu yang lebih besar. Terdapat pula siklus pergerakan tahunan di mana hiu muda bergerak lebih dekat ke muara sungai selama musim kemarau dan menjauhinya selama musim hujan; mengingat musim hujan membawa aliran air tawar yang lebih tinggi ke dalam teluk, hiu tersebut mungkin merespons secara langsung atau tidak langsung terhadap penurunan salinitas dan kadar oksigen terlarut yang diakibatkannya.[16][17]
Hiu mata babi sebagian besar merupakan hewan penyendiri (soliter), meskipun terkadang beberapa individu dapat ditemukan di lokasi yang sama.[15] Di Selat Mozambik, jumlahnya melebihi hiu banteng di sisi timur sedangkan yang terjadi adalah sebaliknya di sisi barat, yang menunjukkan kemungkinan adanya eksklusi kompetitif di antara spesies-spesies yang serupa ini.[4] Parasit yang didokumentasikan dari hiu mata babi meliputi myxosporea Kudoa carcharhini,[18] kopepoda Pandarus smithii dan P. cranchii,[19] serta cacing pita Callitetrarhynchus gracilis,[20] Cathetocephalus sp.,[21] Floriceps minacanthus,[22] Heteronybelinia australis,[23] Otobothrium australe, O. crenacolle,[24] dan Protogrillotia sp.[20] Hiu mata babi muda berpotensi rentan terhadap pemangsaan oleh hiu yang lebih besar. Kematian alami untuk hiu muda di Teluk Cleveland telah diukur tidak lebih dari 5% per tahun; tingkat ini sebanding dengan hiu banteng muda, dan jauh lebih rendah daripada hiu sirip hitam (C. limbatus) muda atau hiu lemon (Negaprion brevirostris) muda.[25]

Meskipun hiu mata babi akan memangsa dari bagian mana pun di kolom air, ia cenderung berburu di dekat dasar laut.[15] Sebagai predator puncak, makanan utamanya terdiri dari ikan teleostei seperti ikan gulamah, ikan sebelah, dan ikan layur, serta dalam jumlah yang lebih sedikit pada ikan bertulang rawan, sefalopoda, dan krustasea dekapoda. Hiu ini juga tercatat memakan gastropoda, ular laut, lumba-lumba, dan bangkai paus.[4][26] Hiu lain dan pari memiliki porsi yang jauh lebih menonjol dalam makanan hiu mata babi di Afrika Selatan dibandingkan dengan hiu dari wilayah lain; jenis yang dikonsumsi meliputi hiu requiem, hiu kucing, hiu malaikat, pari kekeh, pari duri, dan pari elang.[15]
Hiu mata babi bersifat vivipar; seperti pada hiu requiem lainnya, setelah embrio yang berkembang menghabiskan persediaan kuning telurnya, ia dipertahankan hingga lahir oleh induknya melalui hubungan plasenta yang terbentuk dari kantung kuning telur yang kosong.[4] Betina dewasa memiliki satu ovarium fungsional dan dua uterus (rahim) fungsional. Rincian reproduksi bervariasi antar wilayah: di lepas pantai Afrika Selatan, masa kehamilan berlangsung sekitar 12 bulan, dengan perkawinan dan kelahiran yang keduanya terjadi pada akhir musim panas. Jumlah anak berkisar antara tiga hingga tujuh ekor (rata-rata lima) dan bayi yang baru lahir memiliki panjang sekitar 75–79 cm (30–31 in).[1][15] Di lepas pantai Australia utara, masa kehamilan berlangsung selama 9 bulan, dengan kelahiran terjadi pada bulan November dan Desember. Jumlah anak berkisar antara enam hingga 13 ekor (rata-rata 9) dan bayi yang baru lahir memiliki panjang sekitar 59–66 cm (23–26 in).[27]
Hiu muda dapat ditemukan di lingkungan pesisir dangkal seperti teluk hingga setidaknya berusia tiga tahun, yang menunjukkan bahwa spesies ini menggunakan habitat terlindung ini sebagai tempat asuhan.[28] Seiring bertambahnya usia, hiu ini berkelana semakin jauh dari daratan ke perairan yang lebih dalam, semakin sering, hingga akhirnya mereka menyebar.[16][29] Ini adalah spesies yang berumur panjang dan tumbuh lambat; jantan tumbuh lebih cepat dan mencapai ukuran akhir yang lebih kecil daripada betina. Kematangan seksual dicapai pada panjang sekitar 21 m (69 ft) dan usia 12 tahun untuk jantan, dan panjang 22 m (72 ft) dan usia 13 tahun untuk betina. Rentang hidup maksimum setidaknya 26 tahun untuk jantan dan 30 tahun untuk betina.[27][30]
Berukuran besar dan memiliki gigi yang menakutkan, hiu mata babi dianggap berpotensi membahayakan manusia, dan telah terlibat dalam setidaknya satu serangan terhadap manusia. Pada bulan Juli 2020, di Pulau Fitzroy di lepas pantai timur Queensland, Australia, penyelam bebas Anika Craney digigit di bagian bawah kakinya oleh apa yang kemudian diidentifikasi sebagai hiu mata babi.[31][32] Craney selamat dari insiden tersebut meskipun mengalami cedera serius, termasuk arteri kakinya yang terputus. Spesies ini jarang tertangkap pada rawai dan dalam jaring insang, serta dimanfaatkan untuk daging dan siripnya.[12] Namun sebagai predator, hiu ini dapat mengakumulasi racun ciguatera yang diproduksi oleh dinoflagelata di dalam jaringannya. Pada bulan November 1993, sekitar 500 orang di Manakara, Madagaskar, keracunan, 98 di antaranya berakibat fatal, setelah memakan daging hiu mata babi. Ini merupakan wabah ciguatera massal pertama yang tercatat disebabkan oleh hiu, dan juga yang pertama dengan jumlah korban tewas yang signifikan.[33] IUCN telah mendaftarkan hiu mata babi secara keseluruhan sebagai rentan, sembari mencatat bahwa kelangkaannya mungkin membuatnya rentan terhadap penangkapan ikan berlebihan.[1] Di KwaZulu-Natal, Afrika Selatan, sejumlah kecil hiu mata babi tertangkap dalam jaring hiu yang dipasang untuk melindungi pantai. Tingkat tangkapan dan ukuran rata-rata hiu yang ditangkap keduanya menurun antara tahun 1978 dan 1998, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa populasi lokal mungkin menyusut. Oleh karena itu, IUCN telah memberikan spesies ini penilaian regional sebagai Hampir Terancam di Samudra Hindia bagian barat daya.[1]